Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 28


__ADS_3

Sementara itu di mansion keluarga Fernandez, mereka tengah menikmati waktu bersama. Namun ada beberapa personil yang kurang. Dewa sedang ada urusan diluar. Arjun sedang syuting. Sedangkan Bima tengah mangadakan pertemuan penting dengan kliennya.


Mereka menonton TV kesukaan Aisha. Dikarenakan doraemon belum tayang, akhirnya mereka menonton drama korea. Selain itu Aisha juga menaruh minat pada drama india juga china. Namun karena gadis itu sedang ingin menonton drama korea, pada akhirnya Yudhi, Nakul dan Johan hanya bisa menganggukan kepala. Meskipun tidak tahu apa yang ditontonnya.


Hanya Aisha yang menikmati, kadang tersenyum, tertawa sampai tiba tiba menangis. Yudhi yang geram hampir saja membanting televisi yang lancang membuat adiknya menitikan air mata.


"Sudahlah kak, aku ini hanya terhanyut dalam alur ceritanya. Lihat saja, istrinya sangat cantik, manis dan baik tapi apa yang dilakukan pria itu? Jahat kan? " Kata Aisha sambil menghampus air matanya.


"Tidak perlu membanting televisi... " Lanjut gadis itu.


Yudhi hanya menghela napas dan mengangguk patuh layaknya anak yang dinasehati ibunya.


Setengah jam bergulir semenjak kejadian akan membanting tv, masalah baru datang. Salah satu penjaga masuk dengan wajah pias. Tangan yang gemetar disertai keringat dingin.


"Ada apa? " Tanya Yudhi.


"Tuan muda Dewa kecelakaan " Ujarnya yang sontak membuat semua orang di ruang keluarga membelalak keget. Berlari menuju ruang tamu tanpa banyak bicara lagi.


"Bagaimana bisa begini nak? " Tanya Johan yang langsung terarah pada kaki putranya. Dewa malah tersenyum, mengatakan kalau dia baik baik saja.


"Aku tidak papa ayah. Kakiku hanya terkilir dan terluka sedikit, sudah diobati dokter Nathan tadi " Melirik kearah kakinya yang berbalut perban.


"Apa tidak sebaiknya dirawat dirumah sakit saja? " Usul Aisha.


"Iya, itu benar. Lebih baik kita membawa nga kerumah sakit " Ucap Yudhi. Tapi Dewa menggeleng keras, ia benar benar tidak nyaman berdiam diri dalam rumah sakit. Hanya berbaring, makan, tidur dan makan lagi. Membosankan.


"Tidak, aku dirumah saja. Lagipula dokter Nathan berkata jika tidak perlu dirawat dirumah sakit " Tidak apalah sedikit menutup kebenaran, dokter Nathan memang berkata tidak perlu dirawat. Namun, ia menganjurkan apabila sakit maka harus menginap dirumah sakit.


"Yasudah, tapi ayah akan menyuruh dokter Nathan merawatmu disini " Johan yang khawatir, tak ingin mengambil resiko.


"Baiklah, aku ikut ayah saja " Kenapa tidak kepikiran daritadi, keluarga mereka kan kaya raya, jadi dokter saja pasti hanya bisa menganggukan kepala.


Satu jam berlalu sejak kepanikan yang tadi sempat menyergap beberapa saat. Semua telah kembali normal seperti semula. Para pengawal dan pelayan mengerjakan tugasnya masing masing. Tukang kebun merawat tanaman. Para mafia banyak yang berangkat ke markas besar karena suatu urusan. Bahkan Jack turut ikut dalam rombongan. Sisanya berada disini untuk berjaga jaga.


Nakul tengah membantu Dewa membersihkan dirinya. Johan menyusun laporan perusahaan yang harus segera dituntaskan. Aisha tengah memasak makan siang. Sementara Yudhi sendiri, entahlah. Menurut kabar yang baru saja terdengar, harimau kesayangan nya mati sehingga mungkin dia sedang memakamkannya.


Sepuluh menit, lima belas menit, sampai dua puluh menit kemudian, semuanya berjalan dengan semestinya. Lancar jaya tanpa kendala. Namun di menit ke tiga puluh, suara riuh memenuhi udara. Hingga sampai pada telinga.


"Ada apa itu? " Gumam Aisha lirih. Bahkan tidak sadar spatula di tangannya telah jatuh ke lantai.


Para pengawal dan anak buah yang masih tersisa berhamburan keluar. Menenteng senjata masing masing. Ketua pelayan menginstruksi bawahannya agar bersembunyi di tempat yang telah tersedia. Tempat yang memang dibangun untuk persembunyian para pelayan di situasi genting seperti ini.

__ADS_1


Sementara Aisha yang sedari tadi masih terpaku melihat keadaan, mulai tersadar dan berlari ke kamarnya. Berniat mengambil pistol dan turut membantu. Ia berlari menapaki anak tangga.


Sampai pada tangga teratas, Yudhi mencekalnya.


"Sembunyilah bersama para pelayan " Aisha ingin menolak, tapi melihat tatapan serius kakaknya, membuatnya diam dan mengangguk patuh.


"Tapi bagaimana dengan yang lain... "


"Kami bisa mengatasinya, kau tenang ya. Bersembunyilah dan jangan keluar sebelum ini semua selesai " Itulah rangkaian peringatan yang dilayangkan Yudhi sebelum akhirnya dia ikut membombardir musuh di depan.


Aisha yang menghadapi dilema besar, masih berdiri mematung di anak tangga paling tinggi. Menatap para anak buah ayahnya yang tengah baku tembak dibawah sana. Ia bingung, antara harus ikut membantu atau menuruti perkataan kakaknya. Dan setelah beribu pertimbangan, gadis manis dengan rambut tergerai sampai ke bahu itu memilih bersembunyi di kamarnya.


Satu jam berlalu, tak ada tanda tanda apapun. Sudah tak terlalu terdengar jelas bunyi hantaman dan tembakan peluru yang menghujam musuh.


Aisha tidak tahu, jika keluarganya sudah ada dalam ancaman Arthur. Ya, Arthurlah yang menyerang kediaman Fernandez.


"Menyerahlah, mari bersatu padu membalas dendam pada Pither. Maka putramu akan selamat " Ancam Arthur mengintimidasi. Semakin mempererat tangannya yang melingkar pada leher Dewa. Tangan satunya ia gunakan untuk memelintir tangan pria itu ke belakang.


Semua orang terdiam. Jika saja sambungan telefon rumah tidak diputus Arthur, maka saat ini gerombolan anggota GE pasti sudah menghajar mereka. Namun jangankan jaringan telefon, listrik di kota ini saja dimatikan oleh Arthur. Tidak sulit baginya melakukan itu.


"Kenapa kau menginginkan itu? " Johan angkat bicara. Berusaha menelisik maksud pria di depannya. Apakah memang juga sama sama dendam pada Pither, atau ada rencana terselubung lain.


Arthur tertawa renyah " Karena ada yang bilang, jika musuh dari musuh adalah teman "


"Baik, aku setuju. Sekarang lepaskan putraku " Dewa yang mengalami cedera kaki hanya bisa pasrah. Ingin melawan, tapi kondisi kakinya tidak mendukung. Apalagi cengkeraman harimau dibelakangnya yang kian menguat saat ia meronta.


"Satu lagi " Semua orang terdiam, menunggu Arthur mengitarakan maksud selanjutnya.


"Aku ingin menikahi putrimu " Ujarnya.


"ARTHUR ANDERSON!!! " Semua orang berteriak marah padanya. Bahkan Yudhi hampir saja melesatkan peluru dari pistolnya. Saking geramnya karena perkataan Arthur.


"Jangan gila Arthur! Aku akan mengirimu ke alam baka sekarang juga " Murka Yudhi menggelora. Amarah mengalir dari dalam dadanya layaknya lahar panas yang menyembul dari gunung berapi.


"Apa yang salah dengan perkataan ku? Aku masih single dan putrimu juga, aku ingin meminangnya menjadi istriku. Lalu apa salahnya? " Kata Arthur santai.


"Manusia gila! Bodoh! Keterlaluan! " Johan spontan menarik pelatuk pistol menuju kearah pria kurang ajar di depannya. Namun melenceng, Arthur berhasil menghindar dari hujaman peluru Johan.


"Turuti perkataanku atau putramu ini akan mati " Jika saja Arthur tidak memelintir tangan Dewa, pria itu pasti sudah melawan. Ilmu beladiri yang diatas rata rata rasanya sudah cukup baginya. Tapi jangankan melancarkan aksinya, saat ini untuk berkata kata saja rasanya pita suaranya tersendat.


"Ja-jangan turuti dia kak... Jangan ko-korbankan Aisha untukku " Ada apa ini. Kenapa rasanya sangat sukar mengeluarkan suara. Begitulah yang dipikirkan Dewa. Kakinya rasanya ingin copot karena terlalu lama berdiri.

__ADS_1


Dalam dilema besar, Johan dan lainnya hanya bisa terdiam. Mematung di tempat dengan tatapan menunduk. Di satu sisi ada Dewa, di satu sisi ada Aisha. Mereka sama sama anggota keluarga yang penting. Tak ada perbedaan. Pilih kasih bukan ciri khas Johan. Tapi, dia tidak ingin mengorbankam masa depan Aisha yang masih sangat muda.


"Aku terima lamaranmu! " Tanpa disadari sepasang manik mata dengan bulu mata lentik memerhatikan mereka dalam diam. Aisha yang berdiri di anak tangga teratas, menyaksikan dengan mata kepala sendiri apa yang baru saja terjadi. Dan dengan sigap ia memutuskan, apa yang menurutnya benar.


"Aisha " Gumam semua orang.


Perlahan, Aisha menapaki anak tangga menuju lantai dasar. Menatap sekilas pada Dewa yang telah tak berdaya. Lalu beralih menatap pada kakak dan ayahnya. Melemparkan senyum manis seolah berkata, aku ikhlas menerimanya.


Semua orang berkaca kaca, menyaksikan ketabahan hati Aisha yang sesungguhnya. Gadis yang identik dengan sifat yang ceria itu menunjukan sisi lainnya, yang hanya orang terdekat yang tahu.


Ia melangkah mendekati Dewa. Melirik sekilas pada pria yang beberapa saat lalu melamarnya. Lamaran yang tidak wajar, hampir tidak mungkin ada lamaran secara paksa semacam ini. Membuat Aisha tersenyum getir dalam hati.


Lalu ia menatap Dewa


"Jangan bodoh Sha.. tarik kata katamu itu " Perintah Dewa yang hampir tak terdengar telinga.


Aisha tak membalasnya, ia hanya tersenyum manis lalu berkata pada pria di depannya. Tanpa melirik bahkan menoleh sekilaspun.


"Aku menerima lamaran ini. Lepaskan kakakku! "


"Apa perkataanmu bisa di pegang? " Arthur menatap sinis.


"Aku berjanji. Dan selama aku hidup, aku tidak pernah melanggar janjiku. " Apapun akan aku laksanakan demi keamanan keluargaku. Jasa jasa mereka tak akan tergantikan dengan harta seluruh dunia sekalipun. Begitulah keyakinan yang membuat Aisha mengambil keputusan secepat kilat.


"Baik, aku pegang janjimu. Sebagai jaminannya, anak buahku akan berjaga disini." Menatap wajah manis yang tertunduk " Agar kau tidak bisa kabur."


Seusai melepaskan Dewa, Arthur mengambil langkah lebar keluar ruangan. Disusul Rey yang mengekor dibelakang. Gadis itu membantu kakak nya duduk di sofa.


"Apa yang kau lakukan Sha? "Lirih Dewa menahan tangis. Sakit di sekujur tubuhnya, tidak lebih sakit daripada menerima fakta pengorbanan adiknya.


Sementara Johan, Nakul dan Yudhi masih ternganga tanpa bisa berkata apa apa. Masih terlalu terkejut dengan apa yang didengarnya, janji Aisha tidak main main.


"Kakak... aku tidak papa " Menepuk bahu Dewa. Meyakinkan padanya jika tidak akan terjadi apa apa.


Bukannya tenang, tangisan Dewa malah semakin pilu. Disusul tersungkurnya Yudhi ke lantai. Johan yang terduduk lemas di sofa. Dan Nakul yang masih terpaku disana.


"Apa yang kau lakukan anakku? " Johan.


"Tariklah kata katamu Sha! " Nakul.


Sedangkan Yudhi, tetap sama. Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya yang belum mengatup sempurna.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2