Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 38


__ADS_3

Sampailah mereka di New York, Amerika. Gedung pencakar langit menjulang tinggi dimana mana. Hanya beberapa mobil yang tampak berlalu lalang. Hari mulai senja, Aisha dan Arthur berada dalam mobil sekarang. Lagi lagi tidak ada yang bicara. Gadis itu memilih melihat keluar jendela. Dedaunan yang sedang gugur tampak begitu mempesona, warna nya yang coklat sampai orange.


Teringatlah dia pada kuliahnya " Arthur, lalu bagaimana dengan kuliahku? " Panik.


Arthur menoleh sejenak, "Aku sudah mengurus surat perpindahan kuliah mu "Menjawab santai. Jika hanya masalah itu, bagi orang seperti Arthur hanya tinggal menjentikan jari saja. Tinggal terima beres.


"Oh, di mansion mu ada siapa saja? " Basa basi sedikit. Ada keinginan untuk mengenal latar belakang suaminya lebih dalam lagi.


"Hanya ada aku " Menjawab sekenanya. Lalu kembali menghadap ke depan. Memerhatikan jalan yang tampak lenggang.


Memang susah diajak bicara.


Wajahnya berubah masam mendengar perkataan acuh Arthur. Tidak betah rasanya jika hanya diam membisu seperti patung. Reynard tampak lebih mudah diajak berinteraksi. Raut wajahnya yang ceria membuktikan semua.


Sebuah mansion megah siap menyambut para tuan rumah. Lagi - lagi mansion itu bernuansa putih. Namun ada sedikit sentuhan klasik disana.


Aisha turun dari mobil. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pepohonan dan bunga yang tampak terawat rapi. Rumah besar yang megah bak istana. Para pelayan dan pengawal yang berbaris berurutan menyambut majikannya. Saking tak terhitung jumlahnya, barisan mereka mirip ekor ular saja. Dengan seragam berwarna hitam pula.


Gadis itu hanya mengangguk kala suaminya memanggil. Sepasang suami istri itu berjalan berdampingan memasuki mansion. Tidak seperti saat hari pernikahan nya dulu. Dimana Aisha ditinggal hingga masuk kedalam diantar pelayan.


Mereka membungkukan kepala penuh hormat saat sang tuan rumah lewat di depan. Sebuah tata krama yang berlaku selama berada dalam lingkungan ini.


"Dimana kamarku? " Tanya Aisha ketika mereka sudah melewati ruang tamu.


"Kenapa, nggak sabar? " Kata Arthur menggoda. Disertai seringai licik di wajahnya.


"Apasih, katakan dimana kamarku? " Sebal. Lalu kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Mansion ini memiliki tiga lantai. Dengan desain interior mahal di setiap penjuru.


"Kamarmu ada di lantai tiga. Pintu warna putih. Kalau pintu warna hitam itu kamarku " Kata Arthur.


"Oke " Lalu melenggang pergi meninggalkan Arthur yang masih berdiri disana.


Sampai pada kamar yang ditunjukan, Aisha langsung merebahkan diri ke ranjang. Rasanya lelah setelah seharian ini dia tidak beristirahat. Tadi seusai dari taman kota, bahkan dia belum sempat minum. Makan siang juga terlewat padahal hari sudah masuk malam.


Hingga tanpa sadar, ia terlelap disana. Ranjang orang kaya memang ajaib ya, padahal baru dua menit dia berleha leha. Mandi juga belum. Lagipula kalau dia mandi, tidak ada baju ganti. Dan Aisha terbuai dalam mimpi. Memasuki alam bawah sadar yang penuh ilusi.


Sementara sang suami tengah berada dalam kamarnya. Kamar luas yang desain nya hampir sama dengan kamar sebelumnya. Ia meneguk segelas vodka di tangan kiri. Lalu kembali mengetikan sesuatu pada keyboard laptop.


Tak lama ponsel nya berdering keras. Menandakan ada panggilan masuk.


Arthur mengambil ponsel diatas meja. Nomor tidak dikenal. Tapi dari angka terdepan ia tahu itu nomor dari Indonesia.


Menyeret tombol hijau keatas, suara bariton tegas langsung menyapa pendengaran " Gara - gara kau rencana yang aku susun gagal semua. Coba saja kalau kau tidak menikahi adiku segala, sekarang aku pasti sudah membunuh bedebah itu " Suara Yudhi di seberang. Tidak ada sapaan atau sekedar kata hallo, membuat Arthur kesal saja.

__ADS_1


"Maksudmu? " Memutar bola matanya malas. Lalu bersandar pada sandaran sofa.


Kembali mendengar ocehan Yudhi dari benua yang berbeda.


"Bedebah itu ada di Myanmar. Kota Mindat. Aku akan berangkat besok, kalau kau masih hidup maka susul kesana " Jawaban yang menyenangkan sekaligus menjengkelkan. Menyenangkan karena tahu keberadaan musuhnya. Itu juga berkat kerja keras Aisha.


Tapi menjengkelkan karena kata kata Yudhi yang menancap telak. Jika dia masih hidup besok? Memangnya Arthur akan mati apa.


Menarik napas dalam, " Aku akan datang besok. Apa info ini akurat? "


"Tentu saja bodoh! Jika bukan karena dia, kita tidak akan tahu semua ini. Aish-" Haduh dia hampir keceplosan. Dia baru saja akan mengatakan kalau Aisha yang melakukan ini semua. Hingga mereka dapat melacak posisi Pither setelah sekian lama.


Dengan modal akting tingkat dewa yang diajarkan Arjuna, akhirnya dapat mengelabuhi si Kicak yang gila.


"Apa yang kau bilang? "


"Tidak, maksudku bagaimana keadaan Aisha. Awas saja jika kau menyakiti nya! " Ancam Yudhi di seberang sana.


"Aku memperlakukan dia dengan baik " Dengan tidak memukul dan memaafkan kesalahan pertamanya, itu adalah standar perlakuan baik Arthur. Jika tidak pasti dia tadi akan mengurung Aisha dalam rumah. Jika tidak teringat tujuannya.


"Aku tidak percaya padamu "


"Terserah " Panggilan terputus. Arthur mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Hatinya merasa gundah karena keadaan. Rasa sakit hati pada Pither telah menjadi titik balik perubahan baginya. Dari Arthur si anak baik yang penurut dan disayangi keluarga. Menjadi Arthur pemarah, arogan dan sok berkuasa. Memang dia memperoleh kasih sayang dari adik perempuan ayahnya. Tapi tidak melenyapkan dendam kesumat Arthur yang telah tumbuh membara di dada.


***


Aisha pun bangun. Mengumpulkan nyawa yang berceceran karena terlalu larut dalam tidur nyenyak semalam. Entah mengapa badan terasa remuk semua.


Ia berjalan mendekati lemari, membukanya perlahan. Dan didalam sana dress dan perlengkapan telah tersedia. Sebagian punyanya dan sebagian lagi tampak masih baru. Masa bodo lah paling juga Arthur yang menyuruh pelayan membelinya.


Gadis itu mengayunkan kaki kearah kamar mandi. Menguncinya dan masuk dalam bath up. Entah siapa yang menyiapkan, tetapi air hangat plus aroma terapi telah siap menyambutnya. Ia berendam sejenak disana. Mendongakan kepalanya keatas merasakan sentuhan air hangat yang menyapu kulit. Sambil sesekali menggosok tubuh yang terasa lengket.


Jorok sekali, bagaimana aku bisa lupa tidak mandi semalam. Malah langsung tidur saja.


Gerutu nya dalam hati.


Setelah menyelesaikan segala ritual mandi pagi. Membilas tubuhnya dibawah guyuran air shower. Lalu menyambar handuk di gantungan untuk mengeringkan badan.


Aisha kini telah rapi dengan dress hitam santai. Melangkah menuruni tangga dengan perlahan. Sampai pada ruang makan, dia berjumpa Reynard.


Gadis itu tersenyum simpul dan menyapa Rey sekenanya " Tuan Reynard, kapan datang kesini? "


Reynard mendongakan kepala. Sebenarnya masih jengkel pada Arthur karena dia ditinggal disana. Tapi tidak mungkin dia melampiaskan jengkel nya pada Aisha kan.

__ADS_1


" Semalam nona. " Jawab Rey lalu kembali menyambung acara sarapannya.


"Panggil saja aku Aisha " Tersenyum. Duduk di kursi. Meraih piring lalu meletakan sandwich disana. "Bisa santai saja denganku? Jangan kaku seperti Arthur. Aku jadi tidak nyaman "


Bicara sambil memasukan sepotong sandwich dalam mulut. Mengunyahnya hingga halus.


"Baiklah, Emm Aisha. Tapi kau juga harus memanggilku Reynard saja " Reynard tersenyum singkat. Mulai cepat beradaptasi dengan keberadaan istri bosnya. Bahkan ia telah menganggap Aisha seperti kakak ipar sendiri.


"Dimana Arthur? " Tiba tiba teringat pada suami menyebalkannya.


"Oh, dia sedang ada di ruang kerja. Kami akan keluar negeri "


"Kemana Rey? "


"Myanmar " Ups, dia keceplosan. Padahal Arthur melarang keras dia membeberkan pada Aisha.


"Emm, maksudku - "


"Tidak papa Rey, aku paham kalian sangat sibuk. " Dia juga teringat, pasti mereka akan menggempur Pither bersamaan. Dia juga teringat Kicak. Geram di hatinya saat mengingat kejadian waktu dia harus menyamar demi mengggali informasi.


Bagaimana reaksi si cicak buntung itu ya. Waktu itu, apa dia tahu kalau aku yang menyamar dan membodohinya.


Pikiran Aisha berkelana kemana mana. Kicak saat itu tidak sadarkan diri. Dan menurut argumen yang dikatakan salah satu temannya di lab yang sama, obat itu mungkin akan berpengaruh pada memori otak. Sehingga kemungkinan besar Kicak tidak akan ingat apa yang terjadi pada hari itu.


Bersambung....


*


*


*


Kenapa Arthur tidak ingat sama Aisha? Kan dia pernah bertemu kakak dan ayahnya?


Kenapa juga Aisha tidak ingat Arthur, padahal kan dulu sudah pernah kenalan?


Karena... biar dramatis saja nantinya. Dalam otakku sudah ada gambaran episode - episode kedepan. Dan pokoknya mereka akan saling mengenali satu sama lain nanti.


Anggap saja Arthur berpikir bahwa yang mati (El Taylor) itu adalah sepupunya Aisha / kakak kakaknya. Karena Arthur tahu bahwa El adalah anak dari Mr. Taylor (Tanpa tahu kalau dia anak angkat), dia juga tahu kalau Johan dan Mr. Taylor sahabat karib. Jadi kesimpulannya, dia beranggapan bahwa yang menolongnya kala itu adalah sepupu Aisha dan the Pandawa gengs dan keponakannya Johan. Ribet kan?. Nah kenapa Aisha nggak ingat?. Karena kejadian itu sudah luaaammaaaa sekali, dia sempat koma juga kan, jadi mungkin tidak kepikiran sampai kesana.


Intinya, alur cerita aku buat begini untuk mendukung episode episode yang akan datang. Karena nanti akan ada sedih dan penyesalan juga, tidak bahagia melulu.Tanpa konflik cerita tidak ada artinya. Sudah ya.


Ruwet yoben, mugo -mugo paham maksudku. Pokoke ngko bakal tak jelasne neng episode seteruse๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

__ADS_1


Matur suwun ^_^


Ha ha ha ha ha ha ha


__ADS_2