
Pagi hari yang cerah disertai mentari hangat yang siap menyambut manusia. Hari ini cuaca sedang baik, langit berwarna biru dengan awan putih yang berserakan.
Aisha kini berada dalam dapur. Entah mengapa, pagi ini ia begitu ingin memasak sendiri. Walupun pelayan sudah melarangnya, dia tetap bersikukuh.
Hari ini aku begitu rindu masakan Indonesia.
Dia memang terlahir dari keluarga kaya, tapi bukan berarti setiap hari selalu disuguhkan makanan barat ya.
Setelah menyiapkan beberapa bahan yang ada, gadis itu mulai bertempur dengan peralatan masaknya. Tampak begitu lihai sepertinya. Setelah beberapa saat, beraneka hidangan telah siap. Para pelayan hanya diperbolehkan membantu memindahkan sarapan ke meja.
"Anda masak sebanyak ini nona? " Pelayan Lia yang bertanya, sembari menatap hasil kerja kedua tangan nona yang tampak begitu menggoda selera.
"Iya. Kebanyakan ya? " Balas Aisha sambil membawa semangkuk makanan favoritnya.
"Tidak nona, biasanya juga seperti ini. Tapi saya hanya kagum ternyata nona bisa menyelesaikan semua seorang diri. " Lia dan lainnya turut menata masakan di meja makan " Seharusnya tidak perlu, disini sangat banyak pelayan " Sambungnya lagi.
"Tidak apa Lia. Aku biasa melakukan ini di tempatku dulu. " Setelah dirasa semua rapi, gadis itu naik menapaki anak tangga menuju kamarnya. Berganti pakaian karena hari ini ia ingin pergi ke mall. Membeli beberapa perlengkapan kuliah dan buku tentunya.
Arthur menuruni tangga, sembari merapikan kancing pada pergelangan tangannya. Pria itu duduk di kursi meja makan. Dahinya mengernyit, masakan apa ini. Tidak biasanya ada masakan seperti ini.
"Selamat pagi tuan " Sapa salah satu pelayan yang berdiri tak jauh dari tempat Arthur duduk.
"Masakan apa ini? " Tanya Arthur, lalu menatap makanan serba sehat yang dibuat Aisha. Ada sayur mayur, jus, ikan dan beberapa masakan khas nusantara yang tersusun rapi disana.
"Itu masakan Indonesia tuan " Jawab pelayan itu sambil menunduk.
"Siapa yang memasaknya? " Belum sempat wanita itu menyahut, nona muda sudah turun dari kamarnya. Menenteng sebuah sling bag lalu duduk di meja makan.
Gadis manis itu tersenyum cerah, secerah matahari yang menyinari dunia " Selamat pagi, kenapa semua tegang begitu? "
Bersikap biasa seperti saat dirumahnya. Lalu mengambil dua piring, meletakan nasi dan beberapa lauk pauk yang ada. Lalu menyodorkan salah satu piring itu kedepan suaminya.
"Kau mau mencoba masakan negaraku? " Arthur diam, memandang makanan yang belum pernah menyapa lidahnya seumur hidupnya. Tidak tahu bagaimana rasanya.
"Ini enak lho, tapi kalau tidak mau yasudah. Aku akan makan sendiri saja. Kalau kau mau ambillah. Oh ya, aku juga memasak makanan barat yang biasa kau makan. Jadi biar aku yang habiskan ini " Sudah meraih piring yang tadi dia sodorkan pada Arthur. Namun pria itu mencekal tangannya.
"Kau yang menyiapkan semua ini? " Tanya Arthur yang dibalas anggukan Aisha.
__ADS_1
"Kenapa? Memangnya dirumah ini para pelayan sudah habis "
"Sudahlah Arthur, aku biasa melakukan ini. Sekarang coba rasakan ini " Menyodorkan sendok berisikan sesuatu disana " Ini namanya tumis kangkung, sangat baik untuk kesehatan. "
Arthur mengerutkan dahinya, lalu meraih sendok dari tangan Aisha. Mengamatinya sejenak " Apa tadi, tumis kingkong? Apa kakakmu tidak mampu memberi makanan yang layak. Kenapa kau mau makan daun seperti ini? "
Aisha menepuk dahinya, kesal karena perkataan sang suami. Lagipula sayuran yang berwarna hijau itukan sangat sehat untuk tubuh kita.
"Makan saja, itu enak tahu. Aku sangat menyukainya. Oh ya, namanya tumis kangkung, bukan kingkong. " Kata Aisha lalu menyantap makanan yang ada dalam piringnya.
Yang kingkong itu kau.
Arthur menatap heran pada hidangan di depannya. Tapi ia tetap menyambar sendok, memasukan sesuap daun itu kedalam mulutnya.
Emm, enak juga. Setelah dirasa ternyata rasanya nikmat. Bumbu bumbu yang dipadukan Aisha sangat pas di lidah. Sehingga ia menghabiskan semuanya.
***
Hari mulai siang, Aisha kini berada di parkiran salah satu mall terbesar di kota ini. Gadis itu keluar, menutup pintu mobil lalu memandang bangunan megah di depannya.
"Kalau terlalu lama, kau boleh pergi duluan " Ucap Aisha pada sopir. Pria itu hanya menganggukan kepala. Tapi tidak mungkin juga dia menurutinya, bisa - bisa nanti kepalanya copot ditebas pedang Arthur.
"Jika kau tidak menggunakan ini dan malah menggunakan kartu yang diberikan kakakmu, aku akan mengukum mu "
Huh dasar, sekarang aku punya empat kartu seperti ini. Satu dari ayah, dua dari kakak dan satu lagi dari dia. Mau digunakan untuk apa coba!.
Lalu gadis itu menyerahkan kartu ke kasir. Transaksi selesai. Ia keluar darisana. Sesaat ia merasa aman, namun tak lama kemudian ia seperti merasa ada yang mengawasi. Aisha menyeringai.
Seorang pria berbalut pakaian hitam bersembunyi di balik dinding. Saat target menangkap keberadaannya tadi ia sedikit terkejut. Tiba tiba ia merasa bahunya ditepuk dari belakang, pria itu berbalik dan membulatkan mata.
"Apa kau ingin bertemu denganku? " Aisha bertanya dengan wajah manisnya. Seolah tahu apa yang pria itu pikirkan.
"Ti, tidak " Gelagapan.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu. Ya sebenarnya aku hanya ingin tahu saja, kenapa kau mengikutiku. Kau tidak akan memukul wanita di tempat umum kan? " Gadis itu tertawa. Seolah yang di depannya ini bukan bahaya. Pria itu hanya membisu. Pikirannya berkelana, bagaimana gadis ini tahu dia ada disini.
"Aku tahu kau mengikutiku karena caramu yang masih amatir. Pergilah, dan katakan pada tuanmu jangan mengusikku dan keluargaku " Tanpa banyak bicara, lelaki tadi beringsut pergi dari sana. Aisha hanya tersenyum, menatap kepergian orang itu.
__ADS_1
Aku tahu, permainannya memang belum berakhir. Kami hanya menekan tombol pause saja. Orang itu pasti akan melanjutkan permainan selanjutnya.
Tersenyum misterius, lalu perempuan itu mengayunkan kakinya menuju arah pintu keluar.
***
Reynard tengah sibuk pada ruangan nya. Tumpukan berkas dan map tersusun rapi diatas meja. Pria itu mendesah samar, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Memejamkan mata sejenak sembari mengendurkan saraf. Beginilah hidupnya, setiap hari disibukan dengan laptop, kertas dan pulpen. Memastikan semua yang ada berjalan dengan semestinya.
Tiba tiba pintu terbuka dengan kerasnya. Menampilkan sesosok wanita cantik dengan polesan make up tebal. Disusul seorang security di belakang.
"Maaf tuan, kami sudah melarang wanita ini masuk. Tapi dia tetap bersikeras " Lapor security itu. Reynard hanya mengangguk, menggerakan tangan ke udara, mengisyaratkan agar pria itu keluar.
Setelah lelaki tadi keluar, wanita itu mendekat. Senyum tersungging di bibir merahnya. Lalu duduk di hadapan Reynard.
"Mau apa lagi kau kesini? "Tanya pria itu datar.
Perempuan dengan pakaian minim itu meletakan tas diatas meja, dengan gerakan sensualnya. Lalu meraih tangan Reynard.
"Aku merindukanmu, kapan kita kencan lagi? " Ucapnya menggoda. Rey hanya mendengus kesal. Geram karena sikap perempuan di hadapannya. Lalu menarik tangannya yang digenggam.
"Aku sudah katakan padamu Stella, hubungan kita sudah berakhir. Aku tidak mau melihat wajah munafikmu lagi! " Sentak Rey murka. Namun wajahnya tetap dingin seperti biasa.
"Kenapa kau tega sekali padaku? Aku sudah memberikan semuanya untukmu Rey " Sudah banjir air mata. Bersandiwara jika dia sangat terluka dan kehilangan.
"Aku mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu " Lirihnya lagi sambil tertunduk. Mendengar kata - kata sakral yang terlontar dari mulutnya, Reynard terbahak - bahak.
"Apa kau bilang tadi? Menikah, Cih! Aku tidak akan menikah, apalagi menikahi wanita seperti dirimu! " Pernikahan adalah suatu pantangan bagi Reynard. Menikah hanya membuat dia repot, tanggung jawab yang dia pikul sudah terlalu banyak. Hingga pria itu enggan menaruh beban lagi pada bahunya.
Wanita tadi berapi api, dia bangkit dari duduknya dan hendak melayangkan tangan ke pipi Rey. Namun Rey dengan sigap menepisnya. Menghempaskan tangan itu keudara.
"Kalaupun aku menikah, aku tidak akan menikahi wanita murahan sepertimu. Wanita yang bahkan rela bergonta - ganti lelaki tiap malam hanya karena uang! " Hinaan yang menancap telak. Wanita itu tertunduk, malu yang dirasakan tak terhingga. Dia memang melakukan itu, hanya demi finansial semata. Yang bahkan Reynard sudah punya segalanya.
"Pergi dari sini! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi. Pergi atau aku akan menggunakan kekerasan untuk menyeretmu keluar " Ancaman yang diucapkan Rey cukup membuat nyali wanita itu menciut. Dia yang tadinya datang jauh - jauh kemari ingin berbaikan dengan Rey, harus pulang dengan tangan hampa.
Seusai kepergian wanita itu, Reynard beranjak dari duduknya. Berjalan mendekati sofa dan menjatuhkan diri disana.
Istirahat sejenak sebelum menyambut pekerjaan, mungkin itu dapat membantu menetralkan pikiran.
__ADS_1
Bersambung....