
Pergumulan nya dengan Arthur hanya sekali namun memakan banyak waktu sehingga tanpa terasa sore sudah menjelang. Sekitar pukul empat sore Aisha telah tapi dengan balutan dress berwarna coklat dengan aksesoris di beberapa tempat.
"Sudah siap?" Wangi semerbak menyeruak indera penciuman perempuan cantik tersebut. Ia berjalan mendekati suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Hanya menggunakan handuk yang menutup dari pinggang hingga lutut.
"Hem.. wangi sekali. Apa kau memakai sabun yang berbeda?" Seraya mengendus bau tubuh suaminya yang dirasanya lain.
"Iya, aku bosan dengan merk yang lama. Jadi aku menggantinya." Ujarnya.
"Tetap pakai ini saja, wanginya lebih harum."
"Jangan memancing!" Pria itu kembali merasakan hawa panas menerpanya ketika istrinya itu tak mau lepas darinya.
"Atau kita tunda saja jalan jalannya?" Serunya dengan tangan yang mulai bergerilya.
"Eh tidak- tidak! Arthur hentikan! Aku ingin jalan jalan sore ini..." Rengeknya menghentikan tangan nakal suaminya. Arthur mendesah, lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Aisha.
"Kalau begitu jangan menggoda! Turunlah duluan, aku akan memakai pakaian." Tukasnya. Aisha mengangguk, sejujurnya ia belum puas mengendus aroma wangi yang menyuar dari badan sang suami.
Aisha turun kebawah dan menyuruh sopir menyiapkan mobil untuk mereka tumpangi.
"Apa nona yakin kami diajak?" Tanya pelayan bernama Rosy. Dirinya terkejut sekaligus senang. Pertama kalinya kali ini ia bergilir menemani sang majikan pergi berbelanja. Karena pelayan lain tengah sibuk menyiapkan sesuatu di belakang.
"Ya, karena yang lain tengah sibuk dan hanya kalian berdua yang tersisa." Pandangnya pada Rosy dan Willy.
"Baik nona, terimakasih." Seru keduanya gembira.
***
Menghabiskan waktu yang cukup lama dalam kamar karena tidak menemukan kemeja favoritnya, Arthur menapaki anak tangga dengan tergesa. Khawatir istrinya menunggu terlalu lama.
"Sayang kau sudah siap?" Sambut Aisha menggelayut pada bahu Arthur. Pria itu menepiskan senyuman.
"Sudah, ayo kita berangkat."
"Tunggu! kenapa kau memakai kemeja ini? Ini sudah tidak muat padamu." Sembari merapikan pakaian suaminya yang sudah tak sanggup membendung isi di dalamnya. Semakin hari tubuh pria tampan itu nampak semakin berisi. Bukan karena gemuk, tapi karena masa ototnya semakin membentuk.
"Huh, aku terlalu rajin olahraga akhir akhir ini membuat otot ku semakin tercetak jelas." Arthur terkekeh, menyelipkan senyum menggoda membuat Aisha mencebik kesal. Ia paham betul kemana arah pembicaraannya.
"Sudahlah, kita akan membeli beberapa kemeja, jas dan dasi yang baru nanti. Ayo berangkat!" Girang Aisha menuntun suaminya menuju mobil hitam yang sudah terparkir rapi di halaman luas mansion Anderson.
Sesampainya di teras rumah Arthur mengernyitkan dahinya. Bertanya dalam hati mengapa ada dua buah kendaraan yang disiapkan.
"Kenapa ada dua mobil? Apa Rey sudah datang?" Matanya berkeliling mencari keberadaan asisten sekaligus tangan kanannya tersebut. Namun ia tak menemukannya.
"Tidak, aku membawa beberapa pelayan untuk membawakan barang belanjaan kita nanti. Rencananya aku akan memborong banyak benda kali ini. " Aisha sengaja memisahkan mobilnya dengan para pelayan bukan karena ia adalah majikan. Tapi tahu bahwa suaminya sangat tak menyukai satu mobil dengan orang lain.
__ADS_1
Arthur mengalihkan pandangannya kearah dua wanita yang baru turun dari dalam mobil. Menundukan pandangannya tanda hormat pada majikan mereka. Namun alis Arthur menaut tajam diiringi dengan napasnya yang terbuang kasar melihat siapa yang dipilih Aisha.
"Kenapa malah memilih dia?" Gumamnya memerhatikan Willy atau Wilhelmina dengan perasaan yang kacau.
"Sayang, aku rasa kita tidak perlu membawa pelayan. Aku masih cukup kuat membawa barang barang belanjaanmu sendiri." Seru Arthur.
"Tidak apa apa sayang, aku tidak mau kau kerepotan. Lagipula aku ingin bergandengan denganmu sepanjang belanja." Bergandengan tangan dengan suaminya yang merupakan pengusaha besar di mall merupakan momen langka yang tidak boleh disia siakan. Pria sibuk semacam Arthur. Kapan lagi dia bisa menghabiskan waktu dengan CEO padat jadwal itu.
Aisha mengernyitkan dahinya kala Arthur malah memandang kearah lain. Kearah pelayan. Membuatnya menerka sesuatu dalam benaknya namun segera ditepisnya.
"Ayo sayang..." Bergelayut manja pada lengan Arthur. Wanita itu tak sadar sedang menyayat hati wanita lain yang tengah meratapi nasibnya.
Perjalanan ke mall tengah yang terletak di tengah kota New York memakan waktu sekitar 20 menit perjalanan. Mobil masih melaju dengan pelan diikuti satu mobil lagi di belakang. Di sepanjang perjalanan Aisha tak henti mengoceh. Bercerita panjang lebar pada Arthur namun pria itu hanya menanggapinya setengah setengah.
"Kenapa Arthur dari tadi diam saja? Seperti ada yang aneh padanya?" Aisha mengatupkan kedua bibirnya dan menjauhkan tangannya yang semula bergelayut manja. Sedikit kesal. Dipandanginya gedung gedung yang berlarian dibelakang ketika laju kendaraan semakin dipercepat.
...****...
"Sayang bagaimana dengan warna ini?" Aisha yang semua memiliki mood yang buruk seolah sirna. Mata perempuan memang aneh, tatkala melihat barang barang yang terjajar rapi dan siap dijajakan dengan harga yang lumayan mahal. Seperti Aisha yang maniknya berbinar kala menempelkan beberapa baju yang sekiranya pas di tubuh suaminya.
"Sayang ini.." Arthur menggaruk telinganya yang tak gatal.
"Tuan tidak suka warna maroon." Kalimat yang terlontar dari mulut Willy membuat Aisha menoleh dan menatap aneh padanya.
"Tapi aku tidak meminta pendapatmu Willy." Mood ibu hamil yang naik turun membuat Aisha tanpa sadar berujar demikian.
"Maafkan saya nona, saya lancang." Ujar Willy.
Sedangkan Arthur hanya bisa menghela napasnya tak berdaya. Bingung dengan apa yang dirasakannya kali ini.
"Ya Tuhan aku memang pria brengsekk."
Batin Arthur dengan rasa putus asanya.
Gundah menyelimuti hati dan pikiran Arthur yang berkecamuk.
Ada apa dengan dirinya ini? Hatinya seolah mengkhianatinya. Dia tak tahu dan bingung dengan perasaannya sendiri.
Ia sangat sangat mencintai Aisha dan yakin akan hal itu. Hatinya sudah sepenuhnya menjadi kepunyaan perempuan manis berkulit putih dan bermata coklat. Yang dengan tingkahnya yang manis mampu meluluhkannya dan membuatnya jatuh hati.
Tapi kenapa ketika melihat Wilhelmina.....
Wanita yang telah lama menghilang dari kehidupannya usai menorehkan luka yang dalam.
Seharusnya ia membenci wanita beranak dua itu dengan seluruh raganya dan mengusirnya dari kediamannya.
__ADS_1
Tapi sekarang bahkan Arthur takut dan tidak kuat berlama lama bicara berdua dengan pengkhianat itu.
Saat melihat raut wajahnya yang memelas mengemis belas kasihan membuatnya iba.
Ia butuh pencerahan. Perasaan apa ini? Apakah ini cinta yang masih sedikit tersisa atau rasa takut menoleh pada masa lalu.
...******...
JANGAN BERPRASANGKA YA GUYS, WILLY TIDAK AKAN PERNAH MEREBUT.
POKOKNYA KALIAN AKAN TAHU NANTI DI AKHIR CERITA.
CATATAN AUTHOR (WAJIB BACA):
Hai semuanya mohon maaf kalau kalian kurang berkenan dengan hadirnya karakter Willy. Disini Willy/ Wilhelmina ini hadir agar cerita tidak terlalu membosankan.
Dan kalau kalian kurang setuju dengan konflik orang ketiga author mohon maaf, karena dari awal novel ini terpikirkan memang konflik itu yang sudah direncanakan.
Dan di lingkungan author rata rata konflik rumah tangga karena orang ketiga (contohnya para tetanggaku)😭 jadi bingung kalau harus mengganti konflik lagi.
Dan seperti kebanyakan novel, pastinya pemeran utama wanita pasti akan bahagia bersama pemeran utama pria di akhir cerita.
Author juga minta maaf karena menghilang beberapa bulan. Niatnya beberapa bulan lalu mau tamat, tapi banyak urusan + satu keluarga author kena covid bergantian 😭
Mohon doanya, semoga novel ini cepat tamat dan tidak menggantung lagi.
Terimakasih 🙏
****
Disini Arthur memang terlihat belum move on dari Wilhelmina/Willy bukan berarti dia nggak setia guys.
Jadi sikap Arthur kali ini adalah karena dia orang yang sangat setia pada Willy dulunya.
Kalau kalian pernah merasakan yang author rasakan pasti kalian tahu sudah bertahun tahun berkomitmen bersama, sudah benar benar percaya pada pasangan dan yakin pada seseorang. Lalu tiba tiba orang itu pergi begitu saja tanpa alasan yang kuat.
Walaupun bertahun tahun tetap saja masih kepikiran. Terus kita akan bingung sebenarnya kita masih cinta, sakit hati, dendam atau trauma?
Tapi kita tidak tahu jawabannya. Dan setiap bertemu orang itu pasti ada perasaan sedih dan ingin kembali tapi kalian nggak mau karena takut tersakiti.
Itu yang dirasakan Arthur, Arthur itu lagi bingung sama perasaannya. Setiap dia lihat Wilhelmina dia pasti sedih dan teringat kenangan mereka bersama. Tapi kadang dia juga marah karena pengkhianatan wanita itu.
Tetapi dia juga nggak mau menyakiti orang yang bersamanya saat ini yaitu Aisha.
Ini yang author rasakan berdasarkan pengalaman pribadi. Jadi mohon pengertiannya kalau sikap Artur begitu yaa. Tenang aja bang Arthur itu tipe orang setia kalau dia benar-benar CINTA🥰🥰.
__ADS_1