
Arthur telah siap mengenakan jas hitamnya. Aura ketampanan yang memancar seperti biasa. Segala sesuatu telah dipersiapkan dengan matang. Strategi sudah ada. Pither juga sudah dipastikan masih ada disana. Anggota gabungan Regdator dan Golden Eagle sudah mengepung kota itu. Jadi kecil kemungkinan dia bisa lari menyelamatkan diri.
Ia mengambil pistol Deagle di dalam laci meja. Tak lupa membawa cadangan peluru. Lalu mengayunkan kaki keluar kamar.
Menapaki anak tangga untuk turun kebawah. Pria itu melihat Reynard yang telah siaga di lantai dasar. Disertai senyuman seperti biasa.
"Selamat pagi bos "Sapa Rey dengan senyum renyah nya.
"Hemm "
"Kita pergi? " Merapikan kemejanya. Menyugar rambut dengan jemari tangan. Memperbaiki penampilan. Padahalkan dia akan berangkat bertempur, seperti akan ke peragaan busana saja. Katanya sih biar keren seperti film action yang sering dia tonton.
"Iya " Jawab Arthur.
Mereka sudah akan melangkah keluar, namun terhenti karena suara Aisha. Kedua pria tampan itu berbalik badan menghadapnya.
"Arthur, mau kemana? " Tanya Aisha yang baru saja dari taman belakang.
"R " Kata pria itu. Aisha mengernyitkan keningnya. Sukar menangkap maksud perkataan laki - laki aneh yang sayangnya sudah meraih gelar sebagai suaminya.
"R? Apa itu R? " Sejauh yang ia tahu, mereka akan berangkat ke Myanmar. Kenapa inisialnya jadi R? Atau Pither kabur ke Rusia? Rumania? Atau Republik Rakyat China?
"Ra-ha-si-a " Jawaban yang penuh penekanan. Disusul tawa menggelegar Reynard sembari memegang perutnya. Geli sendiri menyaksikan kelakuan dua pasutri ini. Seperti Tom and Jery jika diamati.
"Dasar aneh! " Aisha mendengus kesal.
"Hey bos, dia sudah tahu kita akan pergi ke Myanmar " Ujar Rey seraya menepuk bahu bosnya. Lagipula kenapa harus dirahasiakan coba. Tidak mungkin juga kan Aisha akan mencegah mereka.
"Kau yang memberitahunya! " Mendelik kesal. Rey hanya acuh lalu mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Arthur... aku boleh ikut ya? " Suara manja Aisha. Ingin sekali dia turut hadir disana. Paling tidak turut andil membaca situasi atau menyusun strategi baru apabila keadaan yang tidak diinginkan terjadi.
"Tidak, tidak boleh. Apa kau sudah gila berpikir bahwa aku akan mengajakmu? "
"Kau tetap dalam mansion. Jangan kabur lagi"
Seru pria itu lalu melenggang pergi dari sana. Menuju mobil anti peluru yang akan melesat ke bandara.
Rey yang masih terpaku disana, mendekati Aisha " Kau dirumah saja, jangan pikirkan perkataan Arthur " Aisha hanya mengangguk patuh. Lalu Reynard ikut berlalu dari hadapan gadis itu.
Bagaimana aku lupa bahwa aku sudah menikah.
Gadis itu hanya menghela napas malas. Aneh rasanya tidak bergabung dalam organisasi seperti saat dia masih lajang dulu.
Tapi ya sudahlah. Mungkin ini bagian dari garis takdir yang telah disusun Tuhan untuknya.
***
"Good morning sir! " Sapa pria itu ramah. Arthur dan Reynard membalas tersenyum.
"Morning "
Kedua laki laki dengan watak yang berbeda itu melangkah menyusuri koridor bandara. Menuju jet pribadi milik Arthur.
Saat telah berada disana, para pramugari melayani mereka dengan pelayanan terbaik. Ruangan yang nyaman dengan berbagai fasilitas yang memadai. Tak lama kemudian, jet mewah itu lepas landas menuju negara tujuan.
***
Beberapa jam telah bergulir. Tak terasa mereka telah sampai pada kota tujuan. Di sebuah kota terpencil di Myanmar. Ada sebuah desa dekat hutan. Mata mata melaporkan bahwa mereka mendirikan sebuah markas yang tak terlalu besar. Tempat persembunyian Pither selama ini yang aman dari jangkauan siapapun.
__ADS_1
Sebenarnya bisa saja Arthur dan lainnya mendatangi rumahnya di Italia. Hanya ada istri dan anak Pither. Bisa saja mereka menyekap dan mengancam membunuh mereka apabila Pither tidak muncul.
Tapi sampai sekarang itu tidak dilakukan. Kenapa?. Karena bahkan Pither tidak peduli pada istri dan anak perempuan nya. Mencampakkannya. Dia hanya membawa anak laki lakinya sebagai penerus nanti. Yang bahkan anak itu mewarisi tabiat buruk ayahnya.
Rombongan anggota Regdator dan Golden Eagle kini telah mengepung seluruh kota. Terutama desa dekat hutan. Semua menenteng pusaka andalan masing masing. Strategi telah disetujui kedua belah pihak. Tugas tugas juga telah dibagi rata. Tinggal melancarkan aksi sesungguhnya saja. Semua telah siap siaga. Jiwa pemberani dan ksatria bangkit seketika.
Serang!
Seusai memperoleh komando lewat walkie talkie, pasukan yang disiagakan mengepung desa mulai maju. Mendekati markas dan mulai membombardir musuh.
Arthur dan Reynard berpencar dalam dua arah. Arthur masuk kedalam, sedangkan Reynard siaga di depan sembari menumpas para anggota Esponder. Dentuman bom yang serasa membengkakan telinga tercipta. Peluru menancap telak pada sasaran dan sebagian melenceng pada benda lainnya. Mayat mayat anggota terkulai di tanah dengan mengenaskan. Bunyi pelatuk pistol sudah tidak asing lagi. Latar suasana yang mencekam bagi siapa saja.
Memang desa ini tidak ada penduduknya, karena si bedebah Pither itu telah menumpas mereka. Menjarah hartanya dan merebut paksa tanahnya. Menutup saluran informasi juga, agar tidak ada penyelamat yang datang. Mengingat ini adalah desa paling terpencil dan jauh dari peradaban. Medannya saja masih sangat rawan. Kalau begini tidak mungkin GE dan Regdator tidak murkakan. Jelas jelas pria itu telah sangat kejam pada semua orang.
The Pandawa gengs dan Johan berpencar sendiri sendiri. Melaksanakan tugas yang telah dipikulkan.
Yudhi dan Bima turut menerobos kedalam. Mencari keberadaan Pither yang jadi musuh utama. Sedangkan Arjuna ada di bagian samping. Berjaga apabila ada celah kabur darisana. Nakul dan Dewa bersiaga di bagian belakang dan depan. Sementara Johan ikut membombardir musuh di bagian samping markas.
Arthur menerobos masuk kedalam markas. Semua yang menghalau ia bantai secara beruntun. Salah satu anak buah Esponder yang cukup senior menghadangnya. Dan akhirnya, terjadilah pergulatan diantara keduanya.
Pria itu menarik pelatuk pistol Deagle favoritnya, peluru itu menancap telak pada perut sang mafia. Tapi dia masih bertahan, ia menanggalkan pistolnya dan maju menghadapi Arthur. Keputusan yang salah apabila menantang singa yang sedang murka. Jika singa sedang murka, jangan sesekali mendekatinya apalagi menarik ekornya. Tapi pria yang diketahui bernama James itu terus menyerang hingga titik darah penghabisan.
"Kau cukup solid ternyata " Arthur tertawa sarkas. Satu bogeman keras kembali mendarat pada rahang lawannya yang sudah berlumur darah.
Pria tampan itu maju, menarik kerah kaos sang anak buah lalu berkata, " Jika kau mengatakan dimana pria sialan itu, aku akan mengampunimu. Jika tidak, kau akan mati ditanganku " Ancaman yang tidak main main.
"Tidak, aku tidak akan mengatakan apapun " Jawaban yang lirih namun masih mencapai gendang telinga Arthur. Arthur berdecak kesal. Kenapa Pither yang jahat bisa punya anak buah seloyal dia.
"Keras kepala! " Menghempaskan tubuh yang berlumur darah hingga membentur lantai berdebu.
__ADS_1
Pria itu melanjutkan langkah kakinya. Mengayunkan kaki menyusuri lorong lorong yang ada. Entah dimana Pither itu bersembunyi. Tapi yang jelas, Arthur tak akan meloloskannya begitu saja.
Bersambung...