Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 98


__ADS_3

Suara hentakan kaki yang berasal dari sepatu fantovel mahal terdengar menggema di lobby kantor. Suara bising yang berasal dari obrolan para karyawan yang tengah bekerja tiba - tiba terhenti kala melihat kedatangan bos mereka yang tampak sedang dalam kondisi mood yang buruk.


"Ayo cepat Alice!" Seorang wanita berbalut dress dan blazer hitam mendorong wanita di depannya agar berjalan lebih cepat. Ia sedang kesusahan membawa tumpukan berkas yang berat.


"Diamlah!" Sahut wanita sebelahnya.


Bugh


"Aww!"


"Apa kau tidak punya mata!" Bentak Arthur yang memenuhi seluruh penjuru ruangan. Keheningan yang semula tercipta kini lenyap sebab para karyawan mulai mendekat dan berkerumun ke asal suara.


Wanita dengan name tag 'Alice' yang tersungkur di depan Arthur mengaduh keras sambil memegang kakinya. Tubuh kekar yang baru saja ia tabrak membuatnya jatuh hingga membuat kakinya sakit.


"Kau yang berjalan tidak melihat ada orang, kenapa menyalahkan aku!" Alice yang masih belum paham situasi dan masih belum menatap orang di depannya tak mau disalahkan. Karena ia merasa tak bersalah.


Kenapa dia ini bodoh sekali!


Batin temannya sambil menatap Alice tanpa berani menolong. Bekerja selama sepuluh tahun disini sudah membuatnya hafal bagaimana mimik wajah tuannya saat marah. Daripada terkena imbasnya lebih baik dia diam dan menatap tak tega pada teman barunya yang baru saja ia kenal.


"Beraninya kau bicara seperti itu padaku!" Suara bentakan yang kedua kembali meluncur dari pita suara Arthur disertai tatapan mata elangnya yang seolah siap mencabik - cabik siapapun yang ada di depannya. Entahlah, iblis apa yang merasuki pria itu hingga kini yang ia inginkan hanyalah melampiaskan amarahnya pada orang lain.


Kedua mata Alice seketika menatap pria yang menjulang tinggi diatasnya. Matanya membulat penuh, keringat dingin membasahi dahinya hingga tangannya pun ikut gemetar takut. Perempuan itu tidak terlalu hafal pada suara bos nya dikarenakan ia adalah karyawan baru yang baru bekerja selama tiga minggu.


"Ma-af tuan, saya tidak tahu kalau itu anda. Maafkan saya tuan." Dengan bersusah payah ia bangkit dari lantai. Melirik kesal pada wanita di sampingnya, kenapa tak memberi tahu kalau itu adalah atasan mereka. Sekarang hanya ada dua kemungkinan. Dimaafkan tapi dihukum dengan berat atau bersiap angkat kaki dari perusahaan raksasa ini.


"Tidak ada kata maaf untuk penghinaan ini! Kau kupecat sekarang juga!" Arthur yang emosi, tanpa berpikir panjang menyuruh karyawan tak berdosa yang dengan susah payah mengikuti seleksi diantara ribuan orang agar ia menjadi salah satu pekerja disini.


"Tolong jangan pecat saya tuan! Maafkan kebodohan saya ini, saya janji tidak akan mengulanginya lagi. " Seketika cairan bening mulai menggenangi pipinya. Sudah susah payah ia berhasil memasuki gedung ini. Dan hanya karena kecerobohan yang sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan nya, tentu Alice akan sangat sedih apabila ia harus angkat kaki darisini.


Suara bisik - bisik para pekerja pria maupun wanita masih terdengar disana. Mereka merasa iba pada gadis yang berdiri dan sedang menerima putusan akhir dari bos besar yang galak itu.


"Kalau ada tuan Reynard, pasti wanita itu akan selamat" Bisik salah satu karyawan.


"Minggir lah! " Arthur meneruskan langkahnya, ia tak mau membuang waktu dengan hal tak penting yang akan membuat mood nya semakin hancur.


"Tuan saya mohon.. " Alice masih setia pada posisinya, menghalangi langkah kaki Arthur yang membuat pria itu menggeram kesal.


"Kau..!" Baru saja ia kembali akan mengeluarkan amarahnya, namun ia urungkan.


"Ikutlah keruanganku!" Ucapnya kemudian lalu berlalu darisana dengan langkah lebar. Perginya Arthur diikuti bubarnya karyawan yang telah kehilangan objek tontonan mereka.


Dengan tangan yang gemetar Alice masih berdiri pada tempatnya. Antara takut dan bingung harus berbuat apa.


"Apa yang kau lihat! Pergilah sana!" Salah satu temannya kembali mendorong bahu perempuan itu.


"Ikutlah bersamaku, aku sangat takut sekali."


"Jangan gila kau Alice, jika kau kehilangan pekerjaan ini bagaimana nasib keluargamu. Kalau kau tetap disini, kau benar - benar akan kehilangan pekerjaanmu. Tapi kalau kau kesana, setidaknya masih ada kesempatan tuan akan memaafkan mu." Perempuan itu berlalu dari hadapan Alice dan langkah cepat. Sungguh tidak setia kawan dengan teganya meninggalkan temannya saat situasi menegangkan seperti ini.


"Menyebalkan sekali! Awas kau nanti kalau minta bantuanku. " Gerutu Alice dengan kesal sambil melangkah menuju lift.


***


"Kau mau kemana?" Tegur Myara saat melihat Aisha akan beranjak dari duduknya. Perempuan itupun mengurungkan niatnya dan kembali duduk diatas ranjang.


"Aku akan kebawah sebentar, biarkan aku pergi." Ucapnya dengan nada memelas.


Aisha harus pergi mencari Arthur, dari kemarin pria itu tidak bisa dihubungi. Apalagi ia tak sempat bertanya pada Reynard mengingat suami Myara itu harus pergi untuk menggantikan Arthur keluar negeri.


Kemarin saat Aisha meneruskan perjalanan nya setelah mengurus administrasi di rumah sakit tempat Rithik dirawat, tiba - tiba dalam perjalanan mobil yang dikendarainya mogok hingga mengharuskan ia menunggu sampai malam. Belum lagi daya tahan tubuhnya yang belum stabil membuatnya mual dan pusing.


"Tidak boleh! Semalam kau masuk angin dan masih mual - mual kan, kepalamu juga pasti masih pusingkan?. Aku tidak mau bayi dalam perutmu kenapa - napa. " Tutur Myara dengan khawatir. Membayangkan semalam sahabatnya yang terkapar lemas diatas ranjang dan tidak berhenti muntah saja membuatnya kasihan.


"Aku mohon Myara, aku ingin menemui Arthur. Lagipula aku sudah sehat. Biarkan aku pergi.. " Aisha menangkup tangan Myara seraya memohon dengan tatapannya.


"Dengarkan aku Sha, kau harus banyak beristirahat. Jangan stres dan pikirkan kandunganmu. Arthur sudah dewasa, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri, tapi bagaimana dengan janin dalam perutmu yang mungkin baru segumpal darah?. " Tutur Myara dengan lembut. " Kau boleh pergi kalau sudah baikan." Lanjutnya lagi.


Calon ibu itu membenarkan ucapan sahabat baiknya. Memang benar, saat ini anaknya dalam perut yang mungkin baru berupa segumpal darah atau daging lebih penting. Tapi Aisha merasa sudah baikan. Perutnya tidak mual dan rasa pusingnya berangsur hilang semenjak meminum obat dari dokter semalam.


"Baiklah, aku tidak akan pergi. "


"Nah begitu baru benar, tapi maaf aku sepertinya harus pergi sekarang. Ayahku menyuruhku membeli obat untuknya. Tapi aku akan segera kembali kau tenang saja ya." Tangan Myara menyahut ponsel dan sling bag diatas meja. Kali ini ia benar - benar harus mengatur waktunya dengan baik karena banyak tanggung jawab yang ia pegang.


"Apa ayahmu sedang sakit? Kalau begitu lebih baik kau pulang saja. Ayahmu tentu lebih penting daripada aku Myara?!" Ucapnya panik.


Aisha merasa tidak enak hati karena membebani semua orang. Myara pasti sangat kesusahan jika harus kesana kemari untuk mengurus dua orang apalagi mengingat jarak rumah keduanya yang lumayan jauh.


"Mana bisa, Aunty Rania sedang mengantarkan Eylina ke Italia. Siapa yang akan menjagamu disini?. Aku pergi ya, jaga dirimu baik-baik." Peringat wanita itu sesaat sebelum ia menghilang dibalik pintu.


Pandangan mata Aisha beralih kearah jendela yang tirainya sengaja dibuka untuk memudahkan matahari menjangkau kamarnya.


"Kalau aku tetap diam disini aku tidak akan tenang. Aku harus ke kantor Arthur, lagipula tubuhku sudah lebih baik dari kemarin."


Perlahan ia bangkit dari duduknya dan berjalan pelan menuju lantai pertama.


Kondisi rumah besar ini memang selalu sepi dan kosong walaupun banyak pelayan dan penjaga yang menggantungkan nasibnya dengan bekerja disini. Namun mereka punya tempat sendiri dan tidak diizinkan memasuki rumah utama tanpa keperluan penting kecuali pelayan senior.


Perut Aisha yang kelaparan membawanya menuju meja makan. Tampak makanan yang terhidang disana. Membuat ia menelan ludahnya ingin segera melahap makanan itu dalam perut.


"Nyonya sudah turun? Bagaimana keadaan nyonya, apa masih sakit? " Salah satu pelayan senior menyapa Aisha. Wanita itu tersenyum dan membalas sapaan bibi pelayan.

__ADS_1


"Aku baik bi, sudah tidak mual dan pusing lagi." Ujar Aisha sembari menyendokkan sesuap nasi dan lauk kedalam mulutnya. Namun baru satu suapan saja rasanya ia ingin memuntahkan makanan itu. Rasanya sangat hambar. Tidak mungkin masakan bibi pelayan yang biasanya enak bisa seperti ini. Ini pasti karena lidahnya yang masih pahit karena sakit hingga membuatnya tidak bisa merasakan sedapnya rasa masakan.


Perempuan itu tetap mengunyah dan menelan makanan yang sudah masuk dalam mulutnya. Tidak enak apabila ia memuntahkannya apalagi dihadapan bibi pelayan yang sudah bekerja keras membuat masakan sebanyak ini.


"Apa tidak enak nyonya? Apa nyonya tidak menyukai masakan saya?" Tanyanya dengan cemas.


"Tidak Bi, masakan bibi enak seperti biasanya. Tapi aku sudah kenyang. Lagipula kenapa bibi masak sebanyak ini?" Sejak turun dari kamarnya Aisha merasa bingung, kenapa ada banyak sekali makanan yang tersaji diatas meja.


"Maaf nyonya, ini hanya antisipasi saya saja. Biasanya saat hari ulang tahun tuan Arthur, teman - teman kantornya akan banyak yang datang makan bersama disini. Saya khawatir kalau nanti tidak sempat membuat makanan mengingat para pelayan lain juga banyak pekerjaan."


"Ulang tahun?" Dahi Aisha berkerut heran menunjukan ketidak tahuannya.


"Iya, nyonya tidak tahu? Tepat hari ini tuan genap berusai 30 tahun. "


"Yaampun, aku bahkan tidak tahu kapan ulang tahun suamiku sendiri. Bibi bahkan lebih tahu dari aku. " Aisha menepuk dahinya. Ia merasa benar benar menjadi seorang istri yang tidak berguna yang bahkan tidak tahu kapan tanggal lahir suaminya sendiri setelah sekian lama tinggal berdua.


"Bibi, siapkan bahan bahan, aku akan membuat kue spesial untuk suamiku." Aisha beranjak dari duduknya dan berjalan kearah dapur.


"Tapi nyonya.."


***


Dan disinilah ia sekarang, di depan bangunan yang menjulang tinggi dengan logo Anderson Group diatas nya. Bangunan kokoh dan bergaya elegan inilah yang menjadi tempat bekerja suaminya. Angin yang semilir apalagi matahari yang mulai terbenam seakan ikut menyaksikan kehadirannya.


"Arthur, kita akan selesaikan masalah ini hari ini. Kau pasti sangat senang saat aku membawakan kue yang aku masak sendiri untukmu. Apalagi.. " Aisha tersenyum senang melihat kado berbalut kertas perak dengan pita diatasnya. Yang tentunya adalah kado spesial bagi suaminya tercintanya yang sudah marah kepadanya akhir - akhir ini.


Dalam hati perempuan itu berharap, salah paham ini akan berakhir dan Arthur akan kembali padanya setelah mendengar berita kehamilannya.


Setelah membayarkan uang pada sopir taksi, ia mulai melangkah memasuki gedung tinggi itu. Dengan hanya berbalut dress hitam dan flat shoes Aisha mulai memasuki lobby. Beberapa karyawan tengah berkemas dan sebagian lainnya harus lembur bekerja. Entah mengapa saat ia masuk, seketika perhatian berpusat padanya. Semua orang tentu tahu kalau wanita itu adalah istri sah dari pemilik tempat ini.


"Kenapa mereka menatapku seperti itu? Ah sudahlah ,biarkan saja."


Aisha memilih cuek dan melanjutkan langkahnya.


Setelah menunggu beberapa saat, kedua langkah kaki Aisha tiba di lantai tertinggi tempat ruangan owner berada.


Dengan rasa senang sekaligus gugup ia berjalan pelan, hingga tibalah di depan ruangan Arthur. Yang disampingnya terdapat meja seorang staff wanita yang bertugas disana.


"Selamat sore nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya staff itu dengan sopan. Tentunya ia sangat mengenal siapa wanita elegan di depannya.


"Aku ingin bertemu tuan Arthur, apa ada di dalam?"


"Ada, tapi.."


"Baiklah, aku titip ini dulu. Aku akan mengambilnya nanti." Aisha meletakan hadiah spesial yang sudah ia siapkan untuk suaminya. Mulai memasang lilin angka diatas kue yang telah ia bawa.


Perlahan tapi pasti kedua kaki jenjangnya melangkah menapaki lantai yang dingin menuju pintu ruangan CEO.


Manik indah wanita itu membola menyaksikan apa yang dilihatnya saat ini.


Arthur tampak memangku seorang wanita yang entah datang darimana.


"Arthur!" Tanpa sadar kue yang dibawa Aisha jatuh berceceran diatas tanah.


Tanpa aba aba ia mendekat dan mendaratkan tamparan di pipi wanita tidak tahu diri yang lancang mendekati suaminya.


Plak!


Satu tampatan keras dari wanita ahli beladiri memang rasanya berkali kali lipat lebih sakit daripada wanita pada umumnya. Hal itu dirasakan Alice, apalagi perempuan di hadapannya ini dalam kondisi marah besar.


"Wanita tidak tahu diri!" Aisha mendorong dan menjauhkan wanita itu hingga ia tersudut di ujung ruangan.


Matanya merah dan berair, rasanya sakit sekali melihat pria yang begitu ia cintai dekat dengan wanita lain. Mungkin ini adalah kali pertama ia menampar seseorang.


Dan lihatlah pria sialan itu, ia hanya duduk diam menyaksikan dari kursi kebanggaannya seolah ini adalah tontonan yang menarik baginya.


"Apa yang kau lakukan bersama suamiku hah!!"


"Nyonya anda salah paham! Bukan seperti itu!" Alice dapat melihat rasa kekecewaan dan rasa sakit hati yang begitu dalam dari wanita di hadapannya. Sungguh, ia merasa sangat bersalah.


"Lalu seperti apa?! Dan kau, apa yang kau lakukan bersama dia?! Apa sikapmu berubah karena kau punya wanita lain?!"


Air mata Aisha sudah tak terbendung. Memang ia marah, tapi rasa sakit hati dan kesedihannya lebih besar dari amarahnya saat ini. Ia merasa dikhianati.


Arthur ternyata tidak pernah berubah.


Aisha pikir sejak pertama kali pria itu mengatakan cinta padanya, maka dia benar - benar akan berubah dan memperbaiki dirinya.


Tapi ternyata dugaannya salah. Bohong kalau ia tak tahu segala sifat buruk suaminya di masa lalu.


Segala sifat dan kenakalan Arthur yang dulu suka bermain wanita sudah ia ketahui sejak awal - awal ia menginjak kediaman Anderson.


Awalnya sedih, tapi melihat Arthur yang mulai berubah dan tidak pernah mencari kesenangan dengan wanita lain setelah mereka menikah, membuat hatinya mulai menerima kekurangan suaminya.


Semua manusia punya masa lalu.


Arthur beranjak dari duduknya. Menatap perempuan yang sebenarnya selalu ia rindukan namun ia membantahnya.


"Kalau iya memangnya kenapa? Kau juga selingkuh dengan pria brengs*ek itu.


Kau bersenang senang sampai malam dengannya. Kau bahkan mengabaikan suamimu dan tidak bercerita apapun. Apa itu yang disebut seorang istri yang baik?." Ucap Arthur.

__ADS_1


"Huh, seorang wanita hebat dalam segala hal, yang katanya tidak pernah dekat dengan lelaki manapun?! Lalu apa yang kau lakukan akhir akhir ini?! Kau dan wanita lain diluar sana sama saja! Semua wanita di dunia sama saja! Tidak ada yang bisa setia, semuanya murahan!!"


Arthur berkata dengan datar namun dipenuhi emosi yang meluap.


Memang selama ini wanita yang ia temui bermuka dua, tidak ada yang bisa setia.


Pikirannya tiba - tiba kembali ke masa lalu, dimana kekasih yang ia cintai juga mengkhianatinya.


Aisha rasanya ingin menjadi tuli saja menerima segala hinaan dan tuduhan yang dilayangkan padanya.


Semua wanita tidaklah sama.


Tapi ia terlanjur sakit hati mendengar setiap cacian yang keluar dari mulut orang yang sangat dicintainya.


Percayalah, disaat orang yang kau cintai menyakitimu walau hanya sekali, maka rasanya akan lebih menyakitkan dibandingkan seribu musuh yang menyerangmu bersamaan.


"Kalau aku memang selingkuh kenapa?! Apa bedanya kau dengan aku yang murahan ini?


Setidaknya aku dapat menjaga kehormatanku sampai aku menikah, tidak sepertimu yang sudah kotor sebelum bersama denganku!"


Perempuan itu berucap dengan emosi.


Ia tidak peduli akan hubungan nya dengan Arthur kedepan.


Biar saja pria itu larut dalam kesalahpahaman!Ia tidak peduli!.


Yang ia inginkan adalah menjaga janin yang sedang berkembang dalam rahimnya.


Baru saja Arthur akan menyahut, Aisha sudah berlalu dengan langkah lebar dari ruangannya.


Gadis itu menghapus air matanya agar tak ada orang yang melihat padanya meski itu sia - sia saja.


Sementara tinggalah Arthur dengan raut wajah yang sulit ditebak dan Alice yang ketakutan di sudut ruangan menyaksikan adegan menegangkan yang baru saja dialaminya.


***


Aisha keluar dari gedung, tidak tahu arah tujuannya kemana. Yang jelas ia tak sudi jika harus kembali kerumah Arthur yang pasti akan semakin menyiksanya.


Ia tidak pernah dihina separah ini, yang ia dapatkan dari kecil adalah kasih sayang dan kehormatan yang tinggi.


Memangnya apa yang bisa dijadikan bahan hinaan sedangkan ia nyaris mendekati kata sempurna.


Cantik, pintar, kaya dan elegan.


Perempuan itu menyusuri jalanan yang sudah gelap sembari memegang perutnya yang entah kenapa terasa sangat sakit.


Kepalanya juga pusing hingga rasanya ia ingin muntah.


"Sakit sekali.. " Rintih Aisha dengan air mata yang tak henti mengalir.


Ia tak menemukan rumah sakit ataupun taksi yang bisa ia naiki.


Belum lagi tas dan ponselnya tertinggal di meja staff wanita tadi.


"Aww.. " Aisha berjongkok dan menangis, ia takut buah hatinya kenapa - napa.


Namun ia sudah tak kuat berjalan untuk menuju rumah sakit terdekat. Hanya ada mobil yang berlalu lalang tanpa ada satupun orang yang peduli padanya.


"Sakit.. Aww.., bertahanlah sayang." Gumam Aisha seraya mengelus perutnya.


"Kakak, ayah seandainya kalian disini." Isak tangisnya semakin terdengar.


Rasanya kepalanya berputar yang membuat penglihatannya buram.


Ia memejamkan mata.


Hingga tak berapa lama kemudian ia mendengar deru kendaraan yang berhenti tak jauh darinya.


Samar - samar ia melihat pria berjas hitam mendekat, menghapus air matanya dan hendak membantunya berdiri. Setelah itu Aisha tak melihat apapun karena tiba - tiba ia tak sadarkan diri.


Flashback on..


Ting!


Satu pesan masuk dalam ponsel Arthur yang tergeletak diatas meja.


Pria itu sedang mendengarkan ocehan permintaan maaf wanita di depannya.


Awalnya ia hanya cuek membaca pesan itu, namun entah kenapa tiba - tiba senyum simpul terbentuk di bibirnya.


Ia menarik tangan Alice yang sedang berlutut memohon keringanan hukuman di depannya.


Entah iblis apa yang merasuki pikirannya sehingga ia berpikir, jika Aisha membuatnya cemburu kenapa ia juga tidak melakukannya agar wanita itu tahu bagaimana rasanya sakit hati.


"Eh, ada apa tuan?!" Tanya Alice bingung.


Bersambung...


* Aku minta maaf karena baru update 🙏


*Memang hanya satu episode tapi sudah 2500 kata lebih ya, biasanya hanya 1000 kata lebih.

__ADS_1


*Jika kecewa dengan cerita ini tolong cukup dibatin dalam hati jangan tulis di komen nanti aku sedih 😭


__ADS_2