
Di sebuah laboratorium rahasia yang terletak dibawah tanah, seorang gadis dan beberapa rekannya tengah mengerjakan tugas masing masing. Ruangan yang amat luas dengan berbagai macam bahan - bahan kimia, alat - alat canggih yang tersususun rapi.
"Sebenarnya apa yang kau buat Sha? " Aisha yang tengah asik mengerjakan sesuatu dikejutkan dengan suara bariton Arjuna. Ia menoleh sebentar.
"Yaampun kak! Mengangetkan saja! "Ujar gadis itu memegang dadanya yang berdetak kencang karena terkejut.
"Salah sendiri melamun!"
"Aku tidak melamun, aku itu sedang fokus. Sedang apa disini? " Tanya Aisha heran.
"Ayah memanggilmu untuk diskusi. Kau tahukan? " Kata Arjun lalu duduk di salah satu kursi besi disana.
Aisha mengangguk paham " Iya, aku tahu" Lalu ia melepaskan jas putihnya. Hanya mengenakan kaos hitam polos dengan celana jeans miliknya.
"Tapi... sepertinya kali ini kau tidak akan bertugas untuk itu " Ucap Arjuna. "Maksudku, untuk menjadi mata - mata "Ujar Arjun ragu, sebab ia tahu, bahwa adiknya sangat suka menjadi mata - mata yang menurutnya menyenangkan. Menyamar menjadi seseorang dan mengumpulkan informasi, mengikuti target dan lainnya itu sangat keren menurut sudut pandang Aisha.
"Kenapa memangnya? " Kening Aisha berkerut.
"Kerena misi kali ini terlalu berbahaya untukmu. Kami tidak ingin mengambil resiko. Lagipula, Pither itu licik "
"Sudahlah kak, jika dia licik maka kita harus lebih licik lagi. Bukankah itu yang selalu diajarkan ayah? " Masih bersikeras, ia tidak mau hanya duduk diam dirumah saja.
"Sha dengarlah, kali ini yang akan kau selidiki adalah para pemberontak negara yang hebat"
Gadis itu sedikit tersentak ketika mendengar penuturan kakaknya.
"Maksudmu kak? " Tanyanya dengan antusias.
"Sudahlah, kau akan tahu nanti. Ayo kita ke ruang diskusi " Ajak Arjun lalu melenggang pergi meninggalkan adiknya dengan seribu tanda tanya. Apa maksud Arjun mengatakan kata 'pemberontak negara'. Itulah yang berseliweran di kepala Aisha.
Sudahlah, nanti juga tahu sendiri...
Kini ketujuh orang itu tengah berdiskusi di dalam sebuah ruangan tanpa jendela. Hanya ada ventilasi udara dan ruangan itu pun kedap suara.
Belum mulai berbincang, mereka masih menunggu Jack yang entah kenapa terlambat.
Tak lama kemudian, pintu diketuk dan dari layar monitor terlihat pria dengan kepala plontos dibalik pintu. Johan pun menekan tombol diatas meja agar Jack dapat masuk.
"Maafkan saya tuan, ada hal penting yang harus saya urus tadi " Ia merasa tidak enak, sebab ini adalah kali pertama Jack terlambat seumur hidup pria itu mengabdi pada keluarga Fernandez.
"Tidak apa Jack, duduklah " Johan pun paham bahwa jika Jack terlambat, pasti ada yang sangat genting mengingat pria itu sangat on time.
Setelah semuanya berkumpul, mulailah Johan membuka diskusi mereka. Semua bergantian mengutarakan usul masing masing. Tentang bagaimana caranya menghentikan kejahatan yang diperbuat Pither Wilson. Dia sudah mirip orang gila yang membunuh orang tanpa dosa. Seperti psikopat yang haus akan darah.
__ADS_1
Ambisi Pither yang ingin menjadi organisasi terbaik dan menguasai dunia, melunturkan jiwa kemanusiaan nya. Apalagi ditambah dengan sakit hati karena Alina yang entah mengapa sangat susah dihilangkan. Bahkan istrinya yang sekarang telah ia campakan dengan begitu keterlaluan.
"Sudah dipastikan, kita harus menghentikan semua ini!! Aku tidak tahan dengan kelakuan bedebah itu!!! " Amarah Johan yang meluap, membuatnya menggebrak meja yang tak bersalah.
Aisha yang berada disebelahnya mengelus bahu ayahnya. Berusaha merendam emosi. "Tenanglah ayah... "
Dan saat suara lembut putrinya menyapa gendang telinga, emosi Johan seketika reda dan dia kembali duduk di tempat semula.
"Ayah, biarkan aku yang menjadi mata - mata" Pinta Aisha dengan mengiba. Sebab ia yakin pada pikirannya, bahwa jika seorang perempuan yang menyamar, presentase keberhasilannya akan lebih besar daripada pria.
"Tidak nak, itu sangat berbahaya " Untuk kesekian kali Johan mengucapkan hal yang sama. Membuat anaknya mengerucutkan bibir karena kesal. Padahalkan Aisha pandai beladiri. Aktingnya juga cukup bagus karena selalu adu akting dengan Arjun.
"Aku mohon ayah.. lagipula menurutku jika aku yang melakukan ini mereka tidak akan curiga. Aku rasa aku terlalu imut untuk dicurigai " Berusaha mencairkan suasana dengan kata kata manisnya. Membuat semua orang tersenyum ceria.
"Baiklah, tapi kau harus sangat berhati hati " Peringat Johan pada putrinya. Sementara kakak - kakaknya yang lain turut mengiyakan dengan anggukan kepala. Jika gadis itu sudah bersikeras, siapa yang akan menang melawan?.
Yes! Akhirnya!. Dalam hati, Aisha girang bukan kepalang. Menurutnya, menjadi mata mata atau intel adalah tugas yang seru dan keren. Kenapa?. Sebab ia bisa menguji kemampuan aktingnya untuk membuktikan pada Arjun bahwa ia juga bisa menjadi aktris hebat. Hanya untuk pembuktian saja, sama sekali tak terbesit di pikiran Aisha untuk menjadi selebriti seperti Arjuna yang kemana - mana dikerubuti wartawan.
Sementara di ruangan lain, Arthur tengah bersandar pada sebuah kursi kayu. Kepalanya mendongak keatas dengan kaki yang ia silangkan dan tangan yang bersedekap di dada. Di sebelahnya berdiri sang tangan kanan setia, siapa lagi jika bukan Reynard.
"Bagaimana, masih belum mau mengaku? " Tanya Arthur pada seorang pria yang terjerembab dibawah kakinya. Dengan wajah berlumuran darah, tangan yang diikat dan bibir yang sobek, membuatnya ia tidak bisa dikenali. Arthur tengah mengintrogasi salah satu mata - mata yang menyusup ke mansion nya.
"Katakan! Jangan diam saja! " Sentak pria bule itu yang membuat pria dibawahnya terlonjak kaget. Suara sentakan Arthur lebih menggelegar daripada petir yang menyambar.
Membuat Arthur geram.
"Seret dan lempar dia ke kandang harimau! " Titah Arthur. Kedua pengawal yang berdiri diambang pintu pun dengan segera melaksanakan perintah tuannya. Menyeret paksa pria yang telah berbuat bodoh itu secara paksa.
"Ampun! ampun tuan! Ampuni saya tuan" Dengan segenap suara yang tersisa pada pita suara, ia memohon pengampunan. Namun karena terlanjur geram, Arthur hanya terdiam dengan mata terpejam seperti menikmati alunan musik.
Menyadari mereka hanya tinggal berdua, Rey duduk di kursi sebelah Arthur. Mengambil ancang - ancang bicara sambil memperbaiki posisi duduknya. Agak ragu dengan apa yang akan dirinya utarakan.
"Arthur " Panggil Rey ragu. Melihat Arthur terpejam, malah makin meninggikan rasa was - was yang menyergapnya.
"Hemm" Masih belum membuka mata.
"Emm.. aku punya sebuah ide untukmu "
"Hemm"
Rey sebal. Dasar pria aneh! Apa pita suaramu putus hingga tidak bisa menjawabku! Hanya hem, hem saja.
Ia mengelus dada sambil menarik napas terdalam " Bagaimana kalau kita bersatu dengan Golden Eagle? "
__ADS_1
Mendengar kata - kata tangan kanannya, mata Arthur terbuka lebar "Jangan gila! Tidak ada yang lebih hebat dari Regdator! Kenapa harus minta bantuan pada semut, jika gajah saja mampun menginjak mangsa? " Jawab Arthur dengan sombong nya.
Dasar sombong! Belum tahu sih siapa itu GE!
Maki Rey dalam batin.
"Arthur apa kau tahu, mereka punya anggota dan persenjataan yang memadai. Mereka juga cerdik. Dan yang paling penting dari deretan kepentingan lainnya adalah... " Sengaja menjeda kalimatnya, ingin melihat ekspresi Arthur.
Dan ia berhasil, Arthur yang antusias menoleh tetap dengan wajah datar yang menyebalkan,
" Apa? "
"Penasaran ya? " Goda Rey "Kau pasti sangat penasaran kan?? Iya kan? "
"Diamlah, katakan saja jika kau masih ingin melihat dunia! " Ancamannya membuat Rey menelan saliva dengan susah payah. Berusaha menyembunyikan gurat takut diwajahnya.
"Mereka memiliki musuh utama yang sama dengan kita. "
"Hanya itu saja? " Melengos tanda meledek. Jika hanya informasi kecil semacam itu, ia juga tahu. Kejahatan Pither pastinya melahirkan banyak rival baru baginya.
"Bukan hanya itu, mereka mempunyai six powers yang menakjubkan. Kalau kau tahu, kau akan terpana Arthur.. "
"Apa itu six powers? " Tanya Arthur menatap lekat Rey.
"Six powers itu adalah enam orang dengan bakat tersendiri yang menakjubkan. Masing masing dari mereka memiliki bakat dan potensinya sendiri - sendiri, namun tidak mengurangi bakat yang lain tentunya. "
Jawab Rey dengan wajah yang mulai serius.
"Cari data tentang mereka! " Titah Raja Arthur.
"Hey bos galak! Apa kau tahu? Menggali informasi tentang mereka itu sangat - sangat sulit. Informasi yang didapat mata - mata paling handal kita saja hanya secuil, mereka sengaja menutupi identitas masing masing. Terutama six powers nomor enam. "
Ujar Rey.
"Ada apa dengan six powers nomor enam? " Apakah nomor enam itu begitu spesial, sampai sampai sangat sukar menguak identitasnya, begitulah yang berkecamuk dalam benak pria itu.
"Dia luar biasa " Hanya itu kalimat yang dilontarkan Rey lalu bangkit dari duduknya. Ia pribadi juga tak terlalu tahu tentang urutan nomor yang satu itu.
"Aku permisi bos, aku akan mencari informasi nya untukmu. Besok aku akan kembali. Oh ya, pikirkan saranku tadi " Ujar Reynard lalu melenggang pergi meninggalkan Arthur yang sedang beradu dengan otaknya.
Siapa itu six powers nomor enam?.
Six powers adalah julukan untuk enam orang terbaik dalam organisasi mafia Golden Eagle. Urutannya sesuai dengan umur masing - masing. Nomor satu ditempati Yudhistira, disusul dengan Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa hingga yang paling misterius yang menjadi teka - teki kalangan dunia gelap adalah nomor enam. Terkenal akan bakat dan kemampuan yang dimiliki, nomor enam kerap kali dicari - cari keberadaannya. Yang tak lain orang itu adalah Aisha Fernadez. Jika orang sampai mengetahui ini, maka mereka pasti tidak akan percaya bahwa gadis kecil nan manis itu ternyata adalah bagian dari six powers. Bahkan para anggota GE tak ada satupun yang mengetahuinya terkecuali Johan, The Pandawa gengs dan Jack.
__ADS_1
Bersambung....