
"Aku tidak marah padamu. " Ujar Arthur lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Sepertinya dia sangat lelah, bahkan ia tidak mandi dulu. Aisha akan menegurnya, tapi melihat raut wajah suaminya yang nampak begitu penat membuat ia mengurungkan niatnya.
"Lalu kenapa wajahmu seperti marah padaku?" Tanya Aisha. Tidak ada sahutan, karena ternyata suaminya itu sudah terlelap dalam mimpinya. Gadis itu menggelengkan kepalanya dan ikut merebah disamping Arthur.
***
Siang ini, Aisha pulang dari kampus agak awal. Karena hari ini ada beberapa jam yang kosong, membuatnya dapat pulang ke mansion dan memasak. Sekotak makanan telah ia siapkan, rencananya, Aisha akan mengantarkan makan siang ke kantor Arthur dan membujuknya. Memang pria itu berkata bahwa ia tidak marah, namun tetap saja Aisha merasa sikapnya itu berubah padanya.
"Sudah siap! " Seru Aisha girang seraya menatap hasil mahakarya nya.
"Wah! Wah, untuk siapa ini? " Aunty Rania yang baru saja turun dari lantai atas, menghampiri Aisha ke dapur.
"Hem, ini untuk.. " Pipi Aisha bersemu merah mendapat tatapan menggoda dari Rania.
"Ah, sudahlah. Aku sudah tau untuk siapa. Cepatlah berangkat, jangan sampai dia nanti keburu makan diluar. " Goda Rania sembari mengedipkan matanya. Wanita itu lega, menyaksikan kedekatan Arthur dan Aisha yang semakin meningkat setiap harinya. Sebuah senyuman tersungging saat menatap punggung Aisha yang mulai menjauh.
"Mereka semakin dekat. Ah, aku sungguh tidak sabar mendengar tawa bayi di mansion yang membosankan ini. " Gumam Rania tersenyum senang.
***
Aisha memasuki lobby kantor Arthur. Menenteng kotak makanan dengan rasa senang. Ia melirik ke meja resepsionis, nampaknya posisi Vania telah digantikan orang lain. Dasar Arthur, padahal dia sudah mengatakan bahwa insiden kala itu bukan sepenuhnya salah Vania.
Saat gadis itu akan menaiki lift, matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang aneh. Ia menyipitkan mata, memastikan apakah penglihatannya masih berfungsi. Tampak olehnya Vania yang memakai pakaian cleaning service. Tangan mulusnya memegang segagang pel, bahkan Aisha sulit mengenalinya karena wanita itu tidak ber make up.
__ADS_1
Ya Tuhan, itu Vania. Aku tidak menyangka Arthur akan menurunkan posisinya. Aisha ingin berbincang sejenak dengan Vania, berniat meminta maaf atas apa yang terjadi padanya. Namun karena tak ingin membuat wanita itu malu, akhirnya ia mengurungkan niatnya dan menaiki lift menuju meja kerja Arthur.
"Semoga Arthur akan menyukai masakanku." Gumam Aisha meyakinkan hatinya saat ia sudah berada di depan pintu ruangan suaminya. Dirinya akan masuk, namun karena pintu ruangan itu tidak tertutup dengan rapat, membuat telinganya dapat menangkap apa yang dibicarakan Arthur dan seseorang di dalam.
"Sudahlah Arthur, mungkin ada benarnya apa yang istrimu katakan. Cobalah untuk percaya apa yang dia pikirkan, apalagi kau mencintainya kan? " Seru seseorang yang Aisha kenal sebagai suara Reynard.
"Benarkan? " Ulangnya.
"Tidak, siapa yang mencintainya. Kau tahukan kenapa aku menikahinya? " Ujar Arthur.
Rey menyesap segelas wine yang ada di meja. "Ya, tentu saja. Kau menikahinya sebagai jaminan agar Johan dan para putranya tidak berkhianat padamu. Kau tidak ingin, setelah kalian berhasil menghabisi Pither nanti GE malah akan menyerangmu. "
Tubuh Aisha menegang disana. Seketika gadis itu berlalu darisana tanpa mendengarkan apa yang dibicarakan mereka selanjutnya. Ia menitipkan kotak makanan yang ia bawa di meja salah satu pegawai yang tak jauh dari ruangan Arthur.
Kedua langkah kaki Aisha menyusuri jalanan kota New York. Entah kemana kakinya melangkah, ia juga tidak tahu. Yang jelas ia ingin pergi sejauh mungkin untuk saat ini.
Tak terasa air mata berlinang begitu saja, telaga bening tercipta.
Aisha tidak menyangka alasan Arthur menikahinya hanya sebatas strategi semata. Gadis itu jadi merasa, bahwa ia adalah barang yang dijadikan jaminan agar ayahnya tidak berkhianat.
Berkhianat bukan sifat Ayah dan organisasinya. Seharusnya Arthur tidak perlu menikahiku hanya karena dia tidak ingin dikhianati.
Dalam hatinya yang sedang sensitif, Aisha merasa bahwa kini adalah saatnya ia pergi. Toh, Pither Wilson sudah tidak ada. Jika pernikahan mereka memang hanya karena kesepakatan saja, maka berarti ini semua telah usai.
__ADS_1
***
Arthur keluar dari ruangannya setelah berbincang dengan Reynard. Tangannya menggenggam ponsel, memeriksa beberapa pesan yang masuk dengan kaki yang terus melangkah menyusuri jalan .
"Maaf tuan, ada titipan. "Langkah Arthur terhenti di depan meja salah satu pegawai yang ia lewati. Wanita itu menyerahkan sekotak makanan pada Arthur.
"Dari siapa ini? " Dahi Arthur mengernyit heran, sebelumnya tidak ada yang pernah mengirimkan makanan padanya.
"Saya kurang tahu tuan, mungkin keluarga anda. "
"Bagaimana ciri cirinya? " Tanya Arthur.
"Kulitnya putih, berhidung mancung, rambut hitam dan bermata kecoklatan. " Terang pegawai itu. Arthur seketika membuka ponselnya untuk menghubungi Aisha, karena ia hafal, bahwa satu satunya pemilik mata coklat di keluarganya hanyalah gadis itu.
"Kemana dia? Kenapa tidak menemuiku dulu?" Arthur mendesah sebal karena ponsel istrinya tidak aktif. Beralih menghubungi aunty Rania.
"Hallo " Suara Rania terdengar dari seberang.
"Apa Aisha ada di rumah? " Arthur langsung ke inti pembicaraan.
"Dia sudah pergi ke kantormu sejak satu setengah jam yang lalu. Aisha membawakan makan siang untukmu. Apakah dia --"
"Terimakasih aunty, Aku tutup dulu. " Sambungan terputus. Arthur bergegas menuju mobilnya.
__ADS_1