
Arthur masih diam dalam posisinya. Tidak bergerak sedikitpun yang menciptakan keheningan dalam ruangan.
Pikirannya yang kacau membuatnya tidak sadar akan apa yang telah ia lakukan.
Timbul penyesalan dalam hatinya yang merasa bahwa kali ini ia telah keterlaluan.
Sedangkan Alice masih berdiri mematung di sudut ruangan. Rasa tamparan yang diberikan Aisha masih terasa pada pipinya yang memerah.
Padahal ia tidak salah apa - apa, tapi karena kebodohan Arthur sepertinya ia akan ikut terseret dalam permasalahan rumah tangga mereka.
"Tu-tuan.." Pelan ia memanggil, melangkah mendekati tuannya yang melamun.
"Pergilah!"
"Baik." Alice menundukan pandangannya dan berlalu pelan darisana.
Arthur mengusap wajahnya kasar, "Sial!!"
Teriaknya kesal yang memenuhi penjuru ruangan.
Dengan langkah lebar ia pergi darisana. Jauh dalam lubuk hatinya yang terdalam, Arthur sangat takut istrinya akan benar benar pergi darinya.
Kendaraan roda empat yang ditumpangi Arthur yang semula melaju kencang kini mengurangi kecepatan nya. Ia telah tiba di depan rumah.
Langkah lebarnya memasuki hunian itu menciptakan suara dari sepatu yang ia kenakan. Membuat para penjaga diluar ruangan seketika menghentikan obrolan mereka.
"Dimana Aisha?!" Tanyanya sambil mencengkeram salah satu kerah baju bawahannya.
Pria itu nampak berwajah dingin dengan dahi yang berkerut seolah sedang menahan sesuatu.
"Nyonya belum pulang sejak tadi siang." Jawabnya datar namun penuh kesopanan.
Arthur melepaskan tangannya, ia mendengus kesal serta mengumpat dalam hati.
Kenapa ia begitu bodoh hari ini?
Ini sudah malam, bagaimana kalau wanita itu benar benar pergi darinya. Hal yang sangat Arthur takutkan meskipun ia sedang marah saat ini.
Tapi aku yakin dia bisa menjaga dirinya sendiri.
Batin Arthur mencoba menghibur dirinya.
Aisha wanita tangguh, kalau hanya preman atau lelaki kurang ajar saja pasti ia sanggup menanganinya.
"Dimana Rey dan istrinya?" Tanyanya lagi.
Bahkan ia lupa kalau Rey sudah berpamitan padanya kemarin kalau ia harus segera pergi untuk menggantikan Arthur yang saat ini tidak mungkin melakukan pekerjaan kantor apalagi yang berurusan dengan tender besar.
Bukannya memenangkan tender, yang ada pria itu akan membuat kekacauan yang nantinya pasti akan merepotkan Reynard juga.
Hal ini pernah terjadi bertahun - tahun lalu saat Arthur sakit hati hingga semua beban pekerjaan dihandle olehnya.
"Bukannya anda sudah tahu kalau tuan Reynard sedang ada pertemuan penting membahas kerjasama ke luar negeri tuan? Saya tidak tahu kemana nona Myara berada." Jawabnya
"Sial! Kenapa aku jadi lupa semuanya!" Umpat Arthur. Lalu laki laki itu kembali kedalam mobilnya. Melajukan kendaraan mewah itu dengan kecepatan tinggi yang kedua pria tadi juga tak tahu kemana arah tujuannya.
"Kasihan juga ya bos kita." Celetuk salah satu diantara mereka.
"Kenapa?"
"Kau tidak sadar kalau bos sedang ada masalah dengan rumah tangganya? Puluhan tahun aku bekerja, dia akan jadi pelupa dan mudah marah serta bertindak tanpa berpikir jika sedang ada masalah."
"Sudahlah lupakan, apa pedulimu."
***
Saat kedua mata yang indah itu mengerjap pelan, yang dilihat Aisha hanyalah ruangan luas bernuansa hitam yang membawa kesan mewah di dalamnya.
__ADS_1
Ranjang yang ia tiduri saat ini saja bernilai jutaan dollar.
Dilihat dari interiornya saja ia sudah bisa memastikan ini bukan rumah suaminya atau rumah sakit.
"Siapa yang membawaku kemari?" Ingin rasanya ia bangun, namun entah mengapa perempuan itu merasa begitu lemas seolah tak punya tenaga, hanya sekedar duduk saja ia tidak bisa.
Tapi di satu sisi ia bersyukur, setidaknya bukan Arthur yang membawanya pulang. Saat ini dalam hati Aisha ia sangat marah dan kesal akan perilaku suaminya.
Tidak ada keinginan berjumpa bahkan ia kesal mengingat wajahnya.
"Apa ada orang disini?" Bibir pucat Aisha yang tak terpoles apapun berkata lirih berharap ada orang yang mendengarnya.
Decitan suara yang berasal dari daun pintu menyita perhatiannya.
Seseorang baru saja masuk dengan langkah tegap dan tatapan yang tegas.
Dan yang paling membuatnya terkejut adalah ketika menyadari siapa pria yang tengah berjalan kearahnya ini.
"Kau?! Kenapa aku ada disini?" Aisha bangkit duduk dengan susah payah.
Melayangkan tatapan penuh tanya dan mengharap jawaban dari lelaki gagah di depannya.
"Taruh disana!" Perintah Rithik pada pengawal laki laki yang ternyata dari tadi mengikuti di belakangnya. Ia menaruh nampan yang ia bawa keatas nakas. Setelahnya pria itu berbalik badan dan pergi darisana.
Aisha menatap Rithik penuh selidik.
Taktik apalagi ini? Ia tidak yakin bahwa orang yang dulu sangat membenci keluarganya bisa melupakan dendam kesumatnya secepat itu.
"Rencana apalagi ini?! Apa kau sedang menculikku?! " Walaupun Aisha berbicara dengan keras namun karena ia masih lemas sehingga suaranya terdengar lirih dan parau.
Rithik belum menjawab. Ia mengamati wanita di depannya lamat lamat sambil membatin entah apa.
Pria ini sungguh sangat misterius.
"Aku sedang bertanya padamu!"
"Seharusnya kau berterimakasih. Aku menemukan mu di pinggir jalan. Kau sudah menolongku dan aku tidak suka berhutang budi. Jadi sekarang.. "
"Apa? Aku akan pergi darisini!" Perempuan itu berusaha bangun meskipun sangat sulit. Tubuhnya memintanya untuk berbaring sejenak tapi ia tidak menghiraukan itu.
"Bagaimana kau akan pergi sedangkan tubuhmu yang lemah itu tidak bisa berdiri."
Aisha mengalihkan pandangannya kearah lain. Tak dapat dipungkiri bahwa ia tak akan bisa pergi sendiri darisini kecuali Rithik mau mengantarnya.
"Biarkan aku pulang. Katakan apa yang kau mau?"
Pria itu hanya diam, semakin menambah aura misterius dalam wajahnya yang kaku dan dingin.
Sebenarnya Rithik ada ketertarikan pada wanita ini jika saja tidak mengingat masalah yang ada diantara mereka. Apalagi ia sudah memiliki tunangan.
Ia menyukai gadis yang tangguh dan pintar sepertinya.
"Kau akan pergi saat sudah sembuh." Ujarnya lalu melenggang pergi darisana.
***
Sesuap demi sesuap makanan perlahan masuk kedalam mulut Aisha. Sebenarnya ia ingin sekali memuntahkan makanan yang masuk dalam mulutnya saat itu juga. Rasanya sangat hambar.
Apalagi yang menyuapinya adalah wanita suruhan Rithik yang sama sekali tidak dikenalnya.
"Namamu siapa nona?" Tanya perempuan berambut coklat itu mencairkan suasana.
Aisha belum menjawab, mulutnya masih sibuk mengunyah.
"Aisha." Jawabnya singkat sesaat setelah menelan nasi itu dalam perutnya.
Perempuan tadi meraih segelas air putih diatas nampan yang telah ia siapkan. Lalu mengulurkan gelas itu pada Aisha untuk diminumnya.
__ADS_1
Aisha meneguknya tanpa banyak bicara, lalu mengembalikan gelas itu ke tempat semula.
"Nama yang bagus. Oh ya, kenapa kau bisa berada disini? Tuan Rithik itu siapamu? Apa dia kakakmu? Atau pacarmu? Tapi setahuku tuan tidak pernah punya kekasih. Apa jangan jangan..." Entah spekulasi apa yang ada dalam perempuan berseragam pelayan itu.
Yang jelas dari raut wajahnya Aisha dapat melihat kecurigaan yang mendalam.
Aisha bingung akan menjawab, ia bukan siapa siapa Rithik. Apalagi pacarnya. Ia justru adalah musuhnya, tapi tidak mungkin juga ia menyampaikan hal itu.
"Dan aku dengar dari dokter kau sedang hamil ya? Apa itu anak -"
"Ini anakku dengan suamiku. Aku hanya teman lamanya saja." Itulah jawaban dari pertanyaan beruntun wanita itu setelah Aisha berpikir beberapa saat.
Kalau dilihat lihat dari penampilan, wanita ini sangat cantik. Kulit kecoklatan eksotis, rambut coklat dan mata biru indah yang terang. Dia seperti anak orang kaya. Pakaian pelayan sungguh tak pantas baginya.
"Oh, maaf,aku kira kau mengandung anak tuanku." Balas wanita itu.
"Kau jangan bercanda, itu mustahil."
"Iya memang mustahil, apalagi tuan sudah bertunangan." Sautnya lagi. "Apa kau sudah kenyang, aku akan pergi melihat anakku sebentar. Dia pasti sudah bangun."
Aisha terkesiap mendengar penuturan wanita di sampingnya. "Kau sudah punya anak? Lalu kenapa bekerja disini? Dimana suamimu." Tanya Aisha.
Bukannya menjawab wanita itu malah menunduk, ada kesedihan yang tertangkap dalam bola matanya.
"Emm, aku permisi dulu, minumlah obatmu."
"Tunggu, siapa namamu?" Cekalan tangan Aisha membuat wanita itu berhenti dan menoleh.
"Willy"
"Nama yang indah" Pujinya pelan.
*****
Suara langkah kaki Willy menggema di lorong gelap yang tengah ia lewati. Sepi, tidak ada satupun orang disana karena memang ia diberi tempat tinggal terpisah khusus. Ruangan yang berbeda dari para pelayan lain yang tinggal sekamar, karena ia membawa dua anak yang tentunya tidak bisa jika harus berada dalam satu ruangan dengan pelayan lainnya.
Pelan decitan pintu tua itu terbuka, sebuah senyuman tersemat di kedua pipinya hingga menampakan sebuah lekukan yang manis, ketika ia melihat anak pertamanya sedang belajar dengan tekun diatas ranjang kecil itu.
"Devan... " Suara lembut wanita itu menyapa pendengaran seorang anak laki laki tampan disana hingga mengalihkan perhatiannya.
Devan langsung bangkit, ia tersenyum bahagia kala melihat ibunya yang sudah kembali dari rumah utama.
"Mami sudah kembali, tadi Krystal bangun dan menangis, tapi mami tenang saja aku sudah menenangkannya. Sekarang adikku sudah tidur lagi." Devan dengan panjang lebar menceritakan apa yang terjadi seharian ini saat maminya sibuk bekerja. Hari ini adalah hari libur sekolah, jadi Devan bisa meringankan beban ibunya dengan menjaga adiknya yang masih bayi.
Willy tak menyurutkan senyum di wajahnya ketika putranya bercerita. Rasanya penat seharian ini lenyap seketika tatkala melihat putra dan putrinya yang selalu ada menemaninya.
Devan adalah anak yang pintar di kelas, ia selalu memperoleh peringkat pertama.
Sayangnya terkadang anak itu harus terlambat atau bahkan tidak mengikuti beberapa kegiatan di sekolah karena kesulitan ekonomi.
"Emm... mami ada sesuatu yang ingin Devan tanyakan. " Raut wajah Dev yang semula ceria berubah menjadi masam. Sang ibu mengerutkan keningnya, ia tahu pasti apa yang akan anaknya sampaikan. Namun Willy tetap menampakan wajah lembutnya agar putra pertamanya tidak bersedih.
"Katakan saja sayang, ada apa? Apa ada masalah di sekolah, teman temanmu membully mu lagi? katakan pada mami." Ujarnya penuh kasih sayang.
"Bagaimana dengan acara di sekolah Minggu depan? apa Dev tidak akan ikut lagi mami? Dev ingin sekali ikut kegiatan bersama teman teman Minggu depan. " Anak tampak itu menunjukan wajahnya tanpa berani menatap ibunya.
Willy menghela napas panjang tanpa memudarkan senyumnya, saat ini ia sedang bingung memberikan jawaban yang tepat pada anaknya. Karena sejujurnya uang gajiannya bulan lalu hampir habis untuk membeli keperluan Krystal, membayar uang sekolah Dev belum lagi kebutuhan lain yang memakan banyak uangnya.
Namun gurat sedih dan penuh harapan pada putranya membuatnya tak tega untuk berkata tidak. Karena memang sebelum- sebelumnya Devan selalu absen jika ada kegiatan di sekolah yang harus mengeluarkan biaya. Entah kenapa kali ini bocah itu begitu ingin mengikuti yang satu ini.
Usapan tangan lembut mendarat pada kepala Devan, membuat anak itu kembali memberanikan diri memandang wajah wanita yang sudah melahirkannya.
"Tentu saja Devan akan ikut, mami kan sudah berjanji padamu." Ujar sang ibu sambil mendekap putranya. Entah bagaimana jadinya nanti, yang jelas saat ini Willy tidak ingin menyurutkan keceriaan putranya.
"Yeay, terimakasih mami!!" Devan menghambur senang dan kembali mendekap ibunya dengan erat.
Apapun akan mami lakukan untuk kebahagiaan mu dan adikmu nak. Batin Willy dalam hati.
__ADS_1