Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 67


__ADS_3

"Yes! Yes! Yes! Yuhuu! " Arthur bersorak ria dalam kamarnya. Bahkan ia melompat girang saking senangnya. Membuat Aisha yang baru saja datang seraya membawa secangkir teh mengernyit heran.


"Kau kenapa Arthur? " Tanya Aisha saat melihat suaminya yang mirip orang menang undian. Arthur berbalik menghadap istrinya. Sesegera mungkin ia membenahi raut wajahnya agar nampak normal.


"Tidak apa apa. Aku hanya senang karena sekarang yang menderita karena menikah bukan hanya aku saja. Tapi Rey juga. " Ujar Arthur tanpa sadar.


Aisha mendelik kesal, "Jadi kau menderita menikah denganku! "


"Eh, tidak. Maksudku iya, maksudnya sekarang Rey akan menderita karena tidak bisa bebas lagi. Itu maksudku. " Seru Arthur.


"Hemm, dia tidak akan menderita. Karena Myara itu gadis yang baik. " Sahut Aisha seraya mendekati suaminya.


"Ini minumlah, aku membuatnya untukmu. Ini teh herbal, sangat baik untuk kesehatan daripada kau minum vodka atau sejenisnya. " Menyodorkan secangkir teh yang tadi sudah ia buat.


"Terimakasih. " Ujar Arthur seraya meminum teh itu.


*


*


Di meja makan, ketiga orang itu berkumpul setelah tragedi Rey dan Myara tadi. Rey nampak masih murung dengan wajah yang tertekuk kesal. Dia masih tidak terima jika harus bertanggung jawab atas kejahatan yang sama sekali belum pernah ia lakukan.


"Ini gara gara kau Arthur! " Suara Rey mengejutkan Arthur dan Aisha yang sedang mengunyah makanan dengan santainya.


Arthur meneguk segelas air putih untuk melarutkan makanannya, "Aku? Kau yang salah kenapa menyalahkanku? " Arthur membela dirinya yang sebenarnya memang bersalah.


"Iya, karena kau mencampurkan obat dalam minumankukan! Kau tega Arthur sangat tega.." Rey mengusap wajahnya kasar.


"Arthur, aku mohon padamu batalkan pernikahan ini ya.. ya.. aku mohon.. " Sekarang bukannya marah Rey malah merengek layaknya anak kecil tidak mau disuntik. Ia mengatupkan kedua tangannya didepan dada dan menyetel wajah paling memelas yang ia miliki.


"Bwahahahah, Rey kau seperti, seperti ayam yang tidak diberi makan seminggu. " Arthur tertawa, membuat Reynard memperbaiki ekspresi wajahnya yang kembali datar.


Pria itu beralih memandang Aisha, berharap gadis cantik itu bersedia menolongnya dari lingkaran pernikahan yang sudah bagaikan lingkaran kematian bagi Rey.


"Sha.. tolong aku ya, kau kan--"


"Sudahlah Rey, terima saja nasibmu. Mungkin saja Tuhan memang telah menggariskan ini dalam takdirmu. Yaitu kau akan menikahi gadis yang baik seperti Myara. Dia jelas jauh lebih baik daripada para wanitamu diluar sana. Ingat Rey, kau tidak akan pernah bisa melawan garis takdir yang ditentukan Tuhan." Tutur Aisha yang sudah bagaikan siraman qalbu bagi barangsiapa yang mendengarnya. Arthur sampai terkejut mendengarnya.


"Kau tidak demam kan? " Tanya Arthur seraya mengecek suhu dahi Aisha dengan punggung tangannya. Dikhawatirkan istrinya yang cerewet itu demam atau gegar otak.


"Tentu saja tidak! " Cebik Aisha kesal. "Terkadang kita harus serius dalam beberapa hal. " Sambungnya.


"Oh ya, gadis yang manja sepertimu bisa serius juga? " Ujar Arthur meremehkan.


"Tentu saja, kau kira aku ini apa? Aku bahkan bisa sangat serius dalam mengajari tata cara bersikap yang sopan dan tidak sombong padamu. " Aisha tertawa ringan tanpa memerhatikan raut kesal suaminya disana. Gadis itu beralih menatap Rey yang begitu terpukul.


"Apa kalian percaya aku punya jodoh? " Rey meletakan kepalanya diatas meja. Memainkan piring nasi dengan jemarinya. Ia tampak seperti orang putus asa yang baru saja diputuskan pacarnya.


"Kalau aku tidak percaya sih, karena waktu pembagian jodoh kau malah asik bercanda dengan harimaumu. Jadi kau tidak kebagian jodoh. " Ujar Arthur dengan entengnya.


Aisha mencubit lengan suaminya yang sudah bicara sembarangan. "Jangan dengarkan dia Rey, kau tentu saja memiliki jodoh. Semua orang punya jodohnya masing masing. Dan... mungkin saja gadis yang akan kau nikahi memang jodoh yang dikirim Tuhan padamu." Tutur Aisha bijak, berusaha meyakinkan hati Reynard kalau semuanya pasti akan berjalan dengan baik.

__ADS_1


"Tapi aku tidak mau menikah.. Arthur kau poligami saja ya, ambil saja gadis itu, aku tidak mau."


"Enak saja! Dia sudah menikah, kenapa harus menikah lagi! " Aisha memelototkan matanya pada Rey yang sudah bicara asal asalan.


"Ya tidak apa apa kan, Prabu Siliwangi saja punya banyak istri. " Ujar Rey yang membuat Aisha mengernyit heran.


"Darimana kau tahu tentang Prabu Siliwangi?" Tanya Aisha.


"Aku membaca buku mu yang tertinggal di ruang tengah. Saat di Indonesia aku juga pernah menonton serial nya. "


"Sudah, jangan kaitkan dengan apapun lagi! Dia itu raja. Arthur bukan, jadi dia tidak akan poligami. " Balas Aisha.


"Memangnya siapa yang menjamin jika aku tidak akan poligami? " Sahut Arthur dengan senyum jahilnya. Sama sekali tak terselip pikiran dia akan poligami. Punya satu saja sudah pusing tujuh keliling, apalagi dua atau selebihnya.


Aisha melotot horor padanya, "Kalau kau berani memikirkan hal itu saja, aku pastikan kau akan jadi makanan Simmba! " Ancam Aisha sambil mengepalkan tangannya. Membuat Arthur seketika terdiam dan melanjutkan makannya. Sejinak jinaknya Simmba, jika Aisha menyuruhnya, dia pasti akan menurut. Entah apa yang terjadi antara istrinya dan singa itu.


"Lalu bagaimana denganku... " Rey masih memelas. Memandang Arthur dan Aisha bergantian.


"Kau akan menikah lusa! " Sahut mereka bersamaan yang membuat Rey seketika merengut kesal. Gagal sudah rencananya tidak menikah seumur hidup.


***


Hari yang ditentukan pun tiba. Hari ini adalah hari dimana Reynard si penjahat wanita akan merajut hubungan yang serius. Dimana jika sebelumnya dia hanya mempermainkan perempuan, kini Rey akan benar benar membuat hubungan. Pernikahan, sebuah ikatan suci yang menyatukan dua insan.


Di salah satu ballroom mewah milik Arthur, pernikahan itu digelar. Memang acara ini dadakan, tapi berkat perintah dari Arthur, semua berjalan dengan lancar. Persiapan sangat baik. Meskipun tidak banyak, namun para keluarga dan kerabat dari pihak perempuan turut datang. Sedangkan Rey, pria itu tidak punya keluarga. Dia yatim piatu. Oleh sebab itu, ia hanya mengundang beberapa teman kerja nya saja.


Arthur masuk kedalam salah satu kamar dimana sahabat sekaligus sekretarisnya itu tengah bersiap siap disana.


"Bagaimana calon suami? Kau gugup? " Goda Arthur dengan jahil.


"Ada apa dengan kakimu? Kena kutu air? " Sahut Arthur.


"Ah, sudahlah, bicara denganmu tidak akan ada habisnya! Pokoknya ini adalah salahmu!" Rey masih kesal. Namun apalah dayanya, hari ini telah tiba. Rencana kaburnya kemarin, juga sudah dipergoki bos galaknya. Jadilah Rey disini sekarang.


Arthur melangkahkan kakinya mendekati Rey yang tampak masih membenahi dasi di depan cermin. Raut wajahnya serius, ia memegang bahu Rey dengan kedua tangannya. Menatapnya lekat.


"Dengar Rey, jangan mencoba kabur lagi!. Aku tahu kau tidak menyukai pernikahan ini, tapi setidaknya cobalah terima gadis itu dalam hidupmu. Kau ingat peristiwa yang menimpaku dulu? Aku tidak ingin menikah, tapi aku sekarang sudah beristri. Dan semakin aku menjalani hidup dengannya, aku merasa terbiasa. " Arthur menarik napas sejenak.


"Aku yakin, kau akan bisa menerima gadis itu. Kau tidak ingat pesan ibumu dulu? Dia sangat ingin melihatmu menikah dan mempunyai anak, tapi sayangnya, Tuhan berkata lain."


Penuturan Arthur serasa masuk menerobos kedalam relung hati Rey. Pasalnya, pria dingin yang dikenalnya sejak kecil itu tidak pernah bicara sebijak ini padanya. Rey jadi merasa, bahwa kehadiran Aisha di dalam hidup sahabatnya, secara perlahan namun pasti, telah membawa perubahan baik. Ya, walaupun tidak banyak.


Jika Arthur saja bisa nyaman dengan seorang gadis, lantas kenapa ia tidak? Apalagi Myara tak kalah cantik dengan Aisha. Dia juga sepertinya memiliki sifat yang baik.


"Hmm, aku mengerti. Kau pergilah, aku tidak akan kabur. Aku akan turun nanti. " Seru Rey yang diangguki Arthur. Pria tampan itu melangkah keluar dari kamar tempat Rey bersiap. Lalu menaiki lift menuju tempat resepsi.


***


Resmi sudah Myara dan Reynard terikat dalam sebuah hubungan yang dikenal dengan pernikahan. Hal yang tidak pernah terbayang dalam benak Rey, akhirnya menjadi kenyataan. Sedangkan Myara, gadis itu masih bimbang dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia senang, namun di sisi lain ia merasa takut jika Rey tidak akan menerimanya. Myara juga tidak tega jika harus meninggalkan sang ayah sendirian di rumahnya.


Mereka kini berada di pelaminan. Para tamu undangan yang hadir memberikan ucapan. Banyak teman kerja Rey yang bertanya kenapa ia menikah dadakan. Hal itu membuat Myara menunduk bingung.

__ADS_1


"Kami saling mencintai, memang apalagi! Tidak mungkinkan aku menikah karena dijodohkan! " Ujar Rey pada salah satu rekan kerjanya yang menanyakan alasan ia menikah tiba tiba. Hal itu membuat Myara tersenyum tipis. Namun sesaat kemudian wajahnya kembali datar, ia sadar bahwa Rey hanya berbohong untuk menjaga nama baiknya.


"Baiklah, semoga kalian bahagia. Aku kesana dulu." Ujar pria itu lalu melenggang pergi darisana.


Myara melirik Rey sejenak. Memerhatikan lelaki tampan yang kini telah resmi menjadi pendampingnya. Sadar ada yang memerhatikan dirinya, Rey menoleh kearah istrinya.


"Kenapa melihatku? " Tanya nya dengan wajah datar.


"Maaf, " Lirih Myara sambil tertunduk.


"Kau tidak salah, ini salahku. Aku yang melewati batas saat itu. Maafkan aku karena telah menjeratmu dalam pernikahan ini." Menatap gadis di sebelahnya.


"Mulai sekarang, jalani saja pernikahan ini senyaman yang kau inginkan. " Ujar Rey.


"Emm, iya. "


Sedangkan di salah satu meja, Arthur dan Aisha duduk berhadapan. Sesekali menoleh pada dua pengantin yang tengah menerima ucapan selamat dari para tamu.


"Apakah yang kita lakukan ini benar? " Tanya Aisha dengan raut wajah ragunya. Walaupun Myara memiliki perasaan pada Rey, tapi ia takut bahwa pria itu tidak mau menerima dan nantinya malah akan menyakiti sahabatnya.


"Menurutmu? " Tanya Arthur balik seraya meneguk segelas kecil wine.


"Aku... aku tidak tahu. Aku hanya berharap, mereka akan bahagia menjalaninya. Dan semoga saja Rey tidak akan melukai hati Myara. " Tutur Aisha sembari memandang kearah dua orang yang ia bicarakan.


"Rey tidak akan menyakitinya. Aku yakin itu." Seru Arthur.


Ditengah perbincangan mereka, tiba tiba muncul seorang pria yang menyapa Aisha.


"Aisha, kau Aisha kan! " Ujar pria itu girang. Tanpa disuruh ia duduk diantara mereka. Tepatnya disamping gadis itu.


"Maaf, siapa ya? " Mengerutkan dahi heran, karena ia tidak mengenali siapa lelaki di sebelahnya ini.


"Kau lupa padaku? Ah, tega sekali kau. Aku Billy. Teman kuliahmu di Indonesia dulu." Pria bernama Billy itu menggenggam tangan Aisha. Gadis itu reflek menjauhkan tangannya. Ia menatap Arthur yang sudah memasang wajah garang.


"Billy, iya aku ingat. Sedang apa kau disini?"


"Ayahku diundang ke pesta ini, dan dia mengajakku. Lalu kau sendiri sedang apa?" Tanya Billy dengan antusias. Kapan lagi dia akan bertemu gadis cantik yang dulu menjadi primadona kampus di universitasnya. Sudah cantik, manis, baik, dan soal otak jangan ditanya lagi.


"Emm, ini pernikahan sahabatku. " Jawab Aisha dengan canggung.


"Hey kenapa canggung begitu, bagaimana kalau kita berdansa bersama? " Pria itu tidak tahu, bahwa pria yang berada di sebelah kirinya adalah suami Aisha. Arthur sudah menarik tangan Aisha untuk berdiri.


"Maaf, kami harus pergi. " Ketus Arthur menjawab sambil menggenggam erat jemari istrinya. Mempertegas bahwa gadis manis itu adalah miliknya seorang.


"Siapa dia Sha? " Tanya Billy pada Aisha yang masih meraih ponselnya diatas meja.


"Dia suamiku Bil. Maaf aku harus pergi. " Ujar Aisha setelah memasukan ponsel dalam tasnya. Lalu menatap suaminya. "Ayo, Arthur kita pergi. "


"Tunggu, kapan kalian menikah? " Billy ikut bangkit berdiri. Arthur yang semula sudah mengayunkan kakinya, berbalik menghadap pria itu. Ia masih jengkel dan ingin mempertegas bahwa Aisha adalah istrinya.


"Kami menikah beberapa bulan yang lalu. Dan maaf, hanya orang orang penting saja yang diundang. Dan sekarang... " Arthur merangkul pinggang Aisha. "Dia resmi menjadi istriku."

__ADS_1


Billy tercengang mendengar fakta terbaru yang menyapa gendang telinganya. Dia tidak salah dengarkan? Rasanya seperti dihujam batu ketika tahu bahwa gadis yang berhasil menarik perhatiannya sejak kuliah itu telah resmi dipinang orang lain.


"Kami pergi dulu. " Ujar Arthur sebelum Billy sempat membalas perkataannya. Pria itu berlalu pergi masih dengan menautkan jarinya ke jemari Aisha.


__ADS_2