Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 42


__ADS_3

Kembali lagi ke kota Mindat. Pertempuran masih terus berlanjut. Matahari sudah naik tepat diatas kepala. Tapi tak menyurutkan semangat mereka.


Yudhi, Arthur dan Bima berada pada ruangan yang sama. Disusul Reynard yang baru saja menyusul di belakang. Keempat mafia itu berpencar, menyapu ruangan satu persatu. Menggeledah sana sini mencari keberadaan Pither.


"Sialan! Dimana pecundang itu! " Arthur berapi api. Nafas yang sudah memburu dengan tangan terkepal erat dibawah sana.


"Ck, jangan teriak teriak. Lebih baik kita berpencar sekarang. Jika semua ini tidak segera di akhiri, kita bisa mati konyol disini " Seru Yudhi. Yang dibalas anggukan oleh semua. Dia benar, pasukan mulai menipis. Cadangan peluru dan senjata lain mulai habis. Belum lagi bala bantuan dari Kicak yang bertambah banyak. Mungkin sekarang bisa dikatakan mereka sedang terpojok.


"Aku akan kesana! " Yudhi menunjuk arah kiri " Kalian berpencar kearah lain saja "


Semua mengangguk setuju. Lalu kaki kaki berlari menuju arah yang berbeda.


Sementara itu, seorang pria paruh baya dengan jenggot diwajahnya, tengah ada pada sebuah ruangan. Dia terluka parah. Begitupun putranya yang tengah berbaring di lantai dingin.


Pither mendapat luka tembak di lengan kiri. Namun luka itu juga telah diobati. Sementara putranya terkena hujaman peluru pada perutnya. Seorang dokter yang tergabung dalam Esponder sedang mengobatinya. Memberi pertolongan pertama yang ala kadarnya. Berupaya mengeluarkan peluru dengan alat yang dia bawa.


Pither menatap nanar pada orang yang akan dinobatkan menjadi penerusnya. Mengelus kepalanya perlahan " Papa akan pergi keluar. Kau tetaplah disini "


"Papa, disini sa-saja. Aku akan menghadapi me-reka. " Ucapnya terbata. Sembari menahan rasa sakit luar biasa di perutnya.


"Dengarkan aku." Menarik napas sebentar "Tidak apa jika aku mati, tapi kau harus bertahan agar hidup. Kau adalah putraku. " Pither orang yang licik, sejak kecil ia telah membubuhkan racun dalam hati putranya. Membimbingnya ke jalan yang tidak seharusnya. Istri yang mencoba menasihati malah dicampakan. Ia menelantarkan sang istri dan putrinya.


"Dokter, selamatkan nyawa putraku " Menepuk bahu dokter itu. Sang mantan dokter yang beralih profesi menjadi mafia itu hanya mengangguk. Kembali meneruskan pengobatannya tanpa banyak bicara. Walaupun presentase kemungkinan dia selamat hanya lima persen. Tapi ia tetap menjalankan apa yang ia bisa.


Pither yang telah naik pitam kini keluar bermodal pistol dan nyali yang masih tersisa. Ia kembali menutup pintu. Lalu keluar untuk turut menumpas musuhnya.


Seorang dengan pakaian serba hitam menerobos masuk ke dalam. Menenteng senapan dan pistol di masing masing tangan. Semua yang menghadang ia bantai namun tidak sampai mati.


Senyum licik tersungging di dalam penutup wajah. Orang misterius yang tak lain adalah Aisha itu dihadang oleh salah satu anggota Regdator yang menyangka dia adalah musuh.


"Tenanglah, aku bukan musuh kalian. Aku teman " Ucapnya meyakinkan. Namun pria itu tak mudah percaya.


"Apa buktinya? "


Haduh aku ini nona kalian tahu. Batin Aisha dalam hati. Lalu gadis itu mengeluarkan sapu tangan berlambang Golden Eagle dari sakunya. Untung saja dia sempat membawanya tadi.


"Aku sniper dari utusan tuan Yudhi " Lelaki itu menimbang sejenak.


"Baiklah, kenapa kau menutup wajahmu? "Kata pria itu.


"Ck, mubazir waktu. Minggir sana, aku akan menjalankan tugasku " Aisha mendorong bahu pria itu. Lansung berlari sembari menembak lawan yang menghadang. Tujuan utama saat ini adalah menemukan Pither.


Satu hal yang ia tahu, jika kau menebang ranting pohon, pohon itu akan tetap berdiri kokoh. Namun jika kau menebang batangnya, maka sekali serangan saja dia akan ambruk seketika.

__ADS_1


Jadi poin utama saat ini adalah Pither dan Kicak. Pither ada disini, tapi entah dimana keberadaan Kicak bin cicak buntung itu. Entah dia ikut kemari atau tidak.


Gadis itu mengedarkan pandangan menyisir ruangan. Yang tampak pada matanya hanyalah para anak buahnya dan anggota lawan yang tengah baku tembak. Mayat - mayat terbaring di lantai begitu banyak. Banyak juga diantara mereka yang memilih beradu dengan tangan kosong daripada senjata.


Aisha menyusuri jalan yang ada. Menggeledah satu persatu ruangan yang kemungkinan dijadikan pilihan persembunyian Pither. Lalu berpindah ke satu tempat lagi. Terus menerus begitu hingga dia tiba pada suatu ruangan yang lumayan luas.


"Pither! " Gumam gadis itu lirih saat menyaksikan dengan mata kepala Pither yang sedang bergelut dengan Arjuna.


"Kakak! " Gumamnya dalam hati. Tidak kusangka dia yang malah bertarung dengannya. Apa yang lain tidak tahu jika ternyata Pither ada disini. Ia menepis pikiran ketika melihat Arjun yang mulai terpojok. Ia tersungkur ke lantai dengan tangan bertumpu untuk menahan berat badannya. Darah segar mengucur deras dari sudut bibirnya.


Kurang ajar dia. Tanpa sadar apa yang dia perbuat telah membangunkan singa betina. Aisha yang naik darah mengambil langkah lebar menghampiri Arjuna. Meraih tangan nya dan membantunya berdiri. Kemudian menuntun Arjuna agar bersandar pada dinding.


Luka mu cukup parah kak.


Gadis itu berbalik. Pither yang sudah mau pergi dicekalnya. Pria itu malah tersenyum sinis, mengolok lewat tatapan mata.


"Mau apa kau bodoh! " Menghempaskan tangan yang mencekalnya erat " Pria pecundang yang bahkan tidak berani menampakan wajahnya mau menantangku? Hahaha " Tertawa sarkas.


"Tutup mulutmu bodoh! "


Pither malah semakin terbahak. Ia mengangkat tangannya dekat telinga " Apa yang aku dengar tadi? Kau banci ya, suaramu seperti wanita begitu mau melawanku? "


Pria itu semakin terpingkal. Gelak tawanya memenuhi udara yang rasanya menyedot oksigen disekitar. Aisha mencoba menahan emosi sekuat yang ia bisa.


"Kurang ajar, lawan aku! " Dan pertarungan terjadi. Perempuan versus laki laki pecundang. Memang mungkin secara tenaga Pither lebih baik, tapi tidak dengan kelincahan dan ketangkasan yang gadis itu warisi dari gen ibunya.


Anggap saja aku adalah reinkarnasi ibuku yang melawanmu Pither. Kau telah merenggut kasih sayangnya dariku. Sekarang rasakan akibatnya.


Mereka saling bertarung. Beberapa kali Pither terhuyung ke lantai dengan wajah bersimbah darah. Aisha sempat jatuh sekali, tapi dia tidak berdarah. Semua hantaman Pither padanya ia tangkis dengan hebatnya.


Arjuna yang mengamati dari jauh terkesiap. Siapa kira kira orang itu sebenarnya. Anggota Regdator atau GE, dia masih berkecamuk menganalisa siapa dia.


Ingin membantu, tapi untuk bangun saja rasanya tenaganya telah tiada. Akhirnya ia tidak sadarkan diri setelah kekurangan darah karena luka tembak pada lengan.


Waktu telah bergulir. Aisha dan Pither yang masih adu tangkas disana. Gadis itu cerdik, dia hafal betul titik lamah manusia yang ia pelajari saat pendidikan dulu. Hanya dengan menyerang beberapa saraf pada beberapa anggota tubuh saja, Pither tak dapat berkutik lagi. Ia jatuh tersungkur ke lantai. Moncong pistol Deagle telah terarah tepat pada kepalanya.


"Kau tahu, berapa banyak kejahatan yang telah kau lakukan! Apa tidak bosan menumpuk dosa. Banyak nyawa telah melayang karena tangan kotormu! " Jika diingat ingat, bahkan jumlah nyawa yang ia lenyapkan tak terhitung jumlahnya. Bukan hanya rakjat jelata, tapi paling dominan adalah para petinggi negara, para pemimpin, konglomerat dan pebisnis sukses. Itu semua ia lakukan hanya demi ambisi menumpas seluruh keturunan Johanes Fernandez. Mengisi kas sampai penuh untuk memenuhi apa saja yang ia perlukan. Dari mulai senjata, anggota hingga lainnya. Hanya demi hasrat semata.


Pria itu hanya membisu. Membuang muka dan tersenyum sinis. Cih.


Bahkan saat nyawa terancam saja dia masih keras kepala.


Aku kasihan padamu paman. Tapi kau sudah melewati semua batasan yang ada!.

__ADS_1


Gadis itu sudah akan menarik pelatuk pistol. Dengan rasa campur aduk antara benci dan iba. Tapi tiba tiba bayangan saat ia berumur tujuh tahun dulu berseliweran di kepala. Hingga ia telah memutuskan semuanya.


"Bersiaplah menyambut alam yang baru " Tapi tiba tiba ia teringat sesuatu. Membuat tekadnya yang sudah membara kembali sirna.


Ada apa denganku, apa aku sudah sakit jiwa. Bagaimana mungkin aku akan mengotori tanganku sendiri. Bahkan aku belum pernah melenyapkan siapapun.


Dan Aisha baru ingat, sumpah kakak kakaknya dan Johan 15 tahun yang lalu. Jika ia membunuh Pither maka selain tangannya kotor dia juga akan mengecewakan semuanya.


Gadis itu menjatuhkan senjata yang dipegang. Selama ini ia hanya melukai lawan. Tidak boleh membunuh. Itu pantangan yang telah ia tanamkan dalam hati sejak lama.


Lalu menatap kearah salah satu anggota Regdator, " Panggil semuanya kesini "


Pria itu patuh dan langsung menjalankan tugas.


Tak lama kemudian, The Pandawa gengs, Johan, Arthur dan Reynard berlari kearah mereka. Terkesiap dengan pemandangan yang ada di depan mata.


Pither yang bersimbah cairan merah segar yang terkulai tak berdaya di lantai. Dengan seseorang yang berdiri di depannya.


Aisha berbalik menghadap mereka, berusaha mengubah suara agar terlihat bariton layaknya suara laki laki. "Tuntaskanlah sumpah yang telah kalian lontarkan "


Ketujuh pria itu semuanya telah bertekad akan menumpas penjahat didepannya ini. Telah lama menanti, dan sekarang waktunya telah ada di depan mata. Inikah akhir hayat Pither?


Aisha membantu Arjun yang baru saja sadar untuk bergabung. Sekarang Arthur Johan, Yudhi, Bima, Arjun, Nakula dan Dewa berdiri menjulang di hadapan mereka. Mengacungkan pistol masing masing kearahnya.


Jika manusia melakukan kesalahan, dia akan diberi kesempatan kedua. Jika masih belum berubah maka bisa diberikan kesempatan ketiga. Tapi jangankan tiga, beribu kesempatan telah ditawarkan pada Pither. Johan dulu pernah menawarkan perdamaian. Johan tahu, Pither sakit hati karena ia menikahi Alina. Jadi dia berniat melupakan semua dan kembali merajut pertemanan.


Namun bukannya menerima, Pither malah berbalik menyerangnya. Mengusik usaha dan keluarga Fernandez. Kini pengampunan telah tiada.


Bukan hanya pembalasan dendam, tapi ini adalah upaya membebaskan dunia dari belenggu kejahatan. Semesta akan goyah jika kekejaman Pither masih merajalela.


Ketujuh moncong pistol sudah terarah pada pria itu. Dan dorr!!


Ketujuh peluru melesat dari tempatnya. Menghujam di berbagai anggota badan. Hingga Pither terpejam dan menghembuskan napas terakhirnya.


"Maafkan aku Wil. Kau dulu adalah sahabatku tapi sekarang kau melebihi semua batasanmu" Johan ambruk terduduk di samping jasad sahabatnya.


Anak anaknya juga Arthur hanya tercenung disana. Pada akhirnya sumpah mereka telah terlunaskan setelah sekian lama.


Jasad Pither segera dibawa para anggota. Mungkin dia adalah dalang kekacauan dimana mana. Namun Johan masih punya hati sehingga berniat memakamkan nya dengan layak.


Yudhi mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari orang yang telah berhasil melumpuhkan Pither. Tapi Aisha telah menghilang bak ninja entah kemana.


Bersambung....

__ADS_1


Pither telah tiada, tapi bukan berarti musuh lainnya telah sirna ^_^


__ADS_2