Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 62


__ADS_3

Setelah kepergian Aisha, Myara duduk termenung di dalam kamar. Merenungkan apa yang terjadi di lantai bawah sembari menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.


Apa yang dikatakan Aisha ya? Bagaimana mungkin ayah dapat dengan mudah mengubah keputusannya. Ini fenomena langka sekali.


Gadis itu mendongak, menatap langit langit kamarnya yang berwarna putih. Tiba tiba, tak lama kemudian derik pintu terbuka menyapa pendengarannya. Myara seketika bangkit dan duduk. Ditatapnya orang yang baru saja masuk dengan mata lebar.


"A-ayah. " Mendekati ayahnya yang berwajah datar. Myara mengira bahwa pasti temannya itu berbicara sesuatu yang buruk yang membuat ayahnya murka.


"Maafkan aku ayah, aku sudah membawa temanku kemari. Maaf kalau dia berkata yang menyinggung ayah. " Ujar Myara menunduk takut. Namun tanpa ia duga, Holmes malah memeluknya erat. Erat sekali, hingga Mya kesulitan bernapas.


"Kau memang pandai putriku. Kau sudah memilih orang yang tepat untuk mendampingimu. Kenapa kau tidak bilang kepada ayah kalau kau sudah punya kekasih?" Seru Holmes setelah ia melerai pelukannya. Myara ternganga tanpa dapat berucap apa apa. Otaknya lamban untuk mencerna perkataan ayahnya.


"Maksud ayah apa? " Tanya Myara.


"Iya, kau berhasil memikat orang hebat seperti tuan Reynard. Kau memang putri ayah yang pandai. " Puji Holmes lagi. Lalu mengecup puncak kepala putrinya lembut.


"Ayah akan pergi ke kantor karena ada urusan, mungkin sampai malam. Jadi jangan menunggu ayah untuk makan malam ya. Ayah pergi. " Ujar Holmes lalu melenggang pergi darisana. Meninggalkan putrinya yang tengah beradu dalam pikirannya.


Kekasih? Tuan Reynard? Apa maksudnya ini?


Gumam Mya dalam hati. Kembali duduk di sofa dengan tangan yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Atau jangan - jangan --" Myara mulai menerka nerka arah pembicaraan ayahnya.


"Aisha!!! " Teriak Myara memenuhi ruangan.


***


Aisha berjalan santai memasuki ruang tamu. Bersenandung ria sambil memikirkan ekspresi Myara kalau tahu apa yang ia katakan pada ayahnya.


Pasti dia akan berteriak frustasi sambil meneriaki namaku. Haha, maaf Mya. Ini satu satunya jalan untuk menyelamatkanmu. Gumam Aisha sepanjang langkah kakinya menyusuri ruangan. Saat asik dalam pikiran, suara sapaan seorang pria mengejutkannya.


"Hai Sha! " Sapa Rey dengan senyum yang mengembang.


"Hallo Rey, kau membuatku kaget saja. Apa yang kau bawa itu? " Tanya Aisha saat melihat Rey menenteng dua koper besar di tangannya.


"Oh ini, aku akan tinggal di mansion ini untuk sementara. Arthur yang menyuruhku, kau tidak keberatankan? " Ujar Reynard.


"Tentu saja tidak, aku malah senang kalau mansion ini banyak penduduknya. Sayang sekali kalau tempat seluas ini banyak ruangan yang kosong. " Seru Aisha. " Aku keatas dulu ya? " Sambungnya lagi.


"Oke " Balas Rey.


Aisha berlalu darisana. Seketika raut wajah Rey yang semula ceria menjadi datar seperti biasa. Ia menghembuskan napas kasarnya.


Maafkan aku Sha, sebenarnya kedatanganku kesini untuk mengawasi dan mengujimu. Batin Rey penuh sesal dalam hati.

__ADS_1


Flashback on


Di ruang kerja Arthur, Rey tengah menghadap pada bosnya. Dengan seberkas laporan di tangan, ia menyerahkan benda itu pada Arthur. Sambil mengetukan jarinya ke meja, ia menunggu Arthur yang tengah membacanya.


"Apa maksudnya ini? " Tanya Arthur dengan dahi yang berkerut heran.


"Itu adalah hasil pemeriksaan dokter keluarga Anderson. Hasil itu menunjukan bahwa pria yang memukulmu tidak mengalami luka tembak sama sekali. Tapi istrimu berkata bahwa--" Rey tak ingin menyambung kata katanya. Ia sejujurnya tak ingin menaruh curiga pada Aisha, gadis baik yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri.


"Jadi.. dia berbohong? " Ujar Arthur sedikit ragu.


"Aku tidak mau mencurigai istrimu Arthur. Aku akan menyelidiki ini. Bisa jadi pria itu pingsan karena dipukul oleh diakan?. Mungkin Aisha lupa atau entah bagaimana. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi, jadi kau tidak perlu risau akan ini. " Seru Rey mencoba menenangkan Arthur. Pria itu mengangguk, menbenahi posisi duduknya dan kian menatap Rey serius.


"Lagipula ini tidak terlalu penting Ar, yang terpenting adalah mencari tahu siapa yang merencanakan penyerangan itu bukan? " Sambung Reynard.


Kalau dia menatapku selekat ini, rasanya ingin kucolok matanya.


"Meskipun itu tak terlalu penting, tapi aku ingin informasi yang paling detail. Kau akan tinggal disini mulai sekarang. " Rey dengan sigap menyetujui perintah Arthur. Lagipula tidak ada ruginya kan, tinggal gratis di rumah mewah dengan banyak pelayan yang siap melayani setiap keperluannya. Apartemen mewah Rey kalah luas berkali kali lipat dari mansion Arthur.


"Iya - iya, aku akan tingga di gubugmu ini. Sukanya memaksa saja! " Cebik Rey pura pura kesal. Membuat Arthur yang sudah serius maksimal malah berdecak sebal karenanya.


"Sialan kau! Kalau mansion Arthur Anderson kau anggap gubug, berarti apartemen mungilmu itu adalah lubang semut! " Ujar Arthur. Mereka pun akhirnya tertawa bersamaan. Beginilah sahabat, suka dan duka dilewati bersama dengan canda tawa.


***


Aisha baru saja menutup pintu kamarnya. Melepas tas ranselnya dan membuka kancing jaketnya. Namun suara bariton milik suaminya kembali membuatnya terlonjak kaget untuk kedua kalinya.


"Ya Tuhan, kau membuatku terkejut, " Aisha mengelus dadanya dengan kaki yang melangkah mendekati sofa. "Aku kan sudah bilang, akan membeli beberapa bahan untuk praktek di kampus." Seru Aisha sambil menanggalkan jaketnya.


"Kenapa sampai sore? " Suara Arthur mulai melunak. Ia meraih secangkir kopi dan meneguknua setengah tandas. Meletakannya lagi diatas meja.


"Karena beberapa bahan sulit dicari! " Elak Aisha.


"Bahan apa? Mana buktinya! " Cecaran pertanyaan Arthur membuat Aisha berbalik menghadapnya. Mendengus dan menatap kesal pada suaminya itu.


"Hey tuan muda, kau jadi cerewet sekali ya sekarang. Kau tidak percaya padaku? " Tanya Aisha sambil bersedekap dada.


"Kau belum tahu satu hal tentangku gadis manja! Aku hanya percaya pada bukti, bukan rangkaian kata. " Arthur menjawab dengan ketusnya.


"Ya Tuhan.. " Gumam Aisha. Lalu merogoh isi dalam tasnya, memperlihatkan beberapa bahan kimia dan kabel pada suaminya.


"Sudah percaya? Sekarang aku ingin mandi"


Ujar Aisha lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri disana.


***

__ADS_1


Jam menunjukan pukul 10.00 malam. Arthur yang masih bekerja di ruang tengah terlihat menguap berkali kali karena kantuk yang melandanya. Wajar saja, sejak pagi hingga sore tadi, jadwalnya sangat padat. Dari mulai rapat, meeting dengan klien dan juga ada beberapa laporan perusahaan yang harus ia periksa. Pria itu masih berkutat dengan laptopnya disana.


Sedangkan di dalam dapur, aunty Rania sedang bersama Aisha. Rania menyodorkan secangkir americacino pada Aisha.


"Harus aku aunty? " Tanya Aisha..


"Ya sayang, kau adalah istrinya. Jadi kau sedikit demi sedikit harus tahu apa yang disukai suamimu. " Tutur aunty Rania lembut.


"Kenapa bukan aunty saja? Kalau aku yang mengantar, nanti dia akan mengajakku berdebat.. " Rengek Aisha dengan wajah memelasnya. Rania mengusap pipinya lembut.


"Dia tidak akan mengajakmu berdebat. Ingat, bersikap manis dan tersenyumlah. Oke? " Ujar Rania.


Bersikap manis? Huh! Kalau aku manis padanya dia akan terbang ke udara karena terlalu percaya diri. Gerutunya dalam hati.


"Baiklah "


"Gadis pintar! Aunty akan naik keatas, kau temani Arthur sampai dia selesai ya. " Tutur Rania yang diangguki Aisha. Wanita itu berjalan duluan menapaki anak tangga menuju kamarnya.


Dengan langkah perlahan, Aisha mendekati suaminya yang tengah duduk di sofa. Ia meletakan cangkir itu di depan meja Arthur dan ikut duduk di sebelahnya.


"Ada apa? " Tanya Arthur datar sembari melirik istrinya.


"Aunty- eh, maksudnya, aku membuatkan minuman untukmu. " Ujar Aisha sambil mendekatkan minumannya. Arthur meraihnya dan memperhatikan cangkir itu.


"Kau tidak mencampurkan sesuatu disinikan?"


"Kau! " Aisha menarik napas dalam. Bersikap manis, dan tersenyum. Baiklah, aku bisa.


"Tidak Arthur... aku membuatkan ini khusus untukmu. Agar aku tidak mengantuk saat bekerja nanti. " Ujar Aisha dengan sangat manisnya. Mungkin jika ditakar terdapat satu ton gula dalam bibirnya. Membuat Arthur malah curiga dan menatap lekat padanya.


Tumben sekali dia manis padaku. Pasti ada maunya. Meskipun begitu Arthur tetap menyesap minuman buatan Aisha hingga hampir habis. Lalu ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Beberapa menit berlalu, Arthur menoleh kearah istrinya yang masih setia menemani disana. Ia mengernyit heran.


"Sedang apalagi kau disini? " Tanya Arthur pada Aisha yang sudah berair matanya. Bahkan saat ia menatap Arthur, ia harus mengerjapkan matanya berkali kali agar tidak buram.


"Menunggumu selesai bekerja." Balas Aisha singkat.


Arthur menarik salah satu sudut bibirnya nakal, " Memangnya mau apa menungguku selesai bekerja? " Ujarnya sembari mendekat kearah Aisha. Menutup laptop dan meletakannya diatas meja.


Ia semakin dekat, semakin dekat hingga pada akhirnya wajahnya berjarak lima centi dari gadis itu.


"A-aku, aku hanya ingin saja. Memang tidak boleh? " Ucap Aisha terbata. Berusaha mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya. Namun sia sia, Arthur malah semakin dekat dan. Cup. Satu kecupan singkat mendarat di pipi Aisha. Seolah seluruh kantuknya lenyap, Aisha membelalakan matanya kaget. Arthur hanya terkekeh pelan lalu menjauhkan tubuhnya. Ia sangat suka menggoda istrinya seperti ini. Wajah terkejutnya, seolah menjadi obat pelipur lelah bagi Arthur yang sudah bekerja seharian.


Aisha membenahi raut wajahnya. Ia menyambar salah satu berkas yang ada di meja untuk mengalihkan pikirannya. Membacanya sejenak. Aisha memang tidak mengambil jurusan bisnis, tapi pengalaman membantu ayah dan kakaknya rasanya cukup untuk menambah wawasannya tentang dunia bisnis.


Beberapa jam berlalu, Arthur yang telah usai dengan pekerjaannya sudah menutup laptop. Meletakannya di meja. Manik matanya menoleh menatap kearah istrinya yang sudah terlelap dengan pulas, sebuah map masih ia dekap dengan tangannya. Arthur menggelengkan kepalanya. Ia meraih map itu dan meletakannya di meja. Lalu ia merengkuh tubuh Aisha dan menggendongnya ala bridal style. Membawanya menapaki anak tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2