Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 93


__ADS_3

"Bagaimana?" Saat ini wanita itu sedang berada di sebuah kafe untuk menemui orang suruhannya. Aisha yang mendapat telpon sontak meluncur ke tempat ini hanya untuk mendekat informasi lebih lanjut dari orang suruhannya.


"Tenang saja nona, semuanya sudah beres. Wanita itu sudah aman dan kembali ke tempat tinggalnya. Bahkan kami belum berbuat apapun." Lapor si pria bertopi dengan gayanya yang sopan dan berkelas. Tentu saja untuk tugas yang tak seberapa semacam ini sudah biasa ia lakukan. Dan tak butuh waktu lama.


Dahi Aisha sedikit berkerut. Semudah itukah Billy melepas tawanannya? Sepertinya ada yang janggal disini. Tapi ya sudahlah, yang penting gadis itu selamat tanpa ada halangan.


"Ada lagi nona?" Tanya nya kembali saat melihat Aisha terdiam sejenak.


"Iya, bagaimana keadaan kakakku?" Sejujurnya Aisha ingin menemui kakaknya. Kalau tidak ingat pria itu sedang ada di Eropa saat ini. Dan karena tidak ingin mengumbar masalah rumah tangganya, Aisha memilih diam.


"Tuan baik, mereka juga sudah bertemu."


"Syukurlah." Untuk saat ini Aisha dapat betrnapas lega, satu masalah selesai. Tinggal satu masalah lagi, yaitu masalahnya sendiri.


Setelah membahas beberapa hal kini pria kepercayaan nya itu pamit undur diri. Tidak baik terlalu lama mereka bertemu untuk menghindari kemungkinan yang buruk.


Dan sekarang tinggal memikirkan bagaimana caranya minta maaf pada suamiku itu. Huh, Maria aku sudah berkorban banyak untukmu.


***


Aisha tengah menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Sembari memikirkan bagaimana caranya menjelaskan pada suaminya yang hanya menggunakan logika untuk berpikir itu. Terkadang ia kesal pada Arthur, bisa bisanya pria itu menyangka dia selingkuh. Ya, Aisha tahu ia juga salah dengan menuruti permintaan konyol Billy. Tapi seharusnya lelaki itu tidak langsung menuduhnya. Tidak bisakah dia berpikir panjang dulu?. Tidak habis pikir.


Entah ada angin apa tiba tiba Aisha ingin memakan brownies yang dijual di toko langganan nya. Tanpa sadar kedua tangannya mengarahkan kemudi kearah yang ia inginkan.


Aisha tak menyangka, ia segila ini menginginkan makanan. Memasuki area pertokoan yang terdiri dari berbagai macam bangunan estetik, lalu kedua kakinya memasuki toko kue ternama yang ada disana.


Wanita itu kalap dan membeli banyak makanan dalam sekejap. Ya, hitung hitung sebagai cadangan.


Tak lama kemudian ia keluar toko, namun tanpa sengaja kedua manik mata indahnya menangkap hal yang membuat langkahnya terhenti.


Siapa itu?


Agar memperjelas pandangan Aisha menyipitkan matanya. Sembari langkah kakinya mendekat kearah kafe yang didominasi kaca sehingga pengunjung yang berada di pinggir akan nampak dengan jelas.


Ar-Arthur, apa aku tidak salah lihat?


Lelehan air mata mengalir. Hatinya merasa sakit melihat pemandangan di depannya. Arthur dan seorang wanita cantik dan seksi yang ia tebak adalah seorang supermodel di negara ini.


Aisha kembali menajamkan pandangannya, memastikan apakah ini nyata atau hanya mimpi belaka. Siapa tahu ia mimpi di siang bolong.


Tapi ini nyata. Aisha membatin dalam hati.


Satu tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya yang terasa sesak. Hingga kerajang belanja jatuh berceceran.


Entahlah, inikah rasanya menaruh cemburu.


Rasanya ada sebuah pisau yang menusuk tepat ditengah dadanya yang membuatnya sulit bernapas.

__ADS_1


"Tidak, Arthur adalah seorang pembisnis. Terkadang dia harus menemui beberapa klien kan?" Walaupun merasa curiga sekaligus kecewa dalam waktu yang bersamaan, namun wanita itu masih mendengarkan kata hatinya. Arthur mencintainya, tidak mungkin ia berkhianat. Pengusaha tersohor seperti suaminya itu memang sibuk dan padat jadwal.


Bisa jadi wanita cantik itu adalah klien nya yang sedang mengajak kerjasama atau mungkin model yang akan bermain dalam iklan produk terbarunya.


Aku percaya padamu Arthur, semarah apapun kau padaku, kau tidak mungkin mengkhianatiku.


Aisha mencoba berpikir positif. Menghempaskan segala pikiran pikiran buruk yang berseliweran dalam benaknya.


Hatinya ingin mendekat dan menghampiri, minimal sekedar bertanya sedang membicarakan apa mereka.


Namun pikirannya mengatakan jangan sampai menambah amarah Arthur dengan menggangu meeting pentingnya.


Hari ini Aisha belajar satu hal baru. Jangan menyembunyikan sesuatu dari pasangan apapun alasannya. Ya, dia salah.


Dan dia juga mengetahui hal baru, bahwa cemburu itu salah satu rasa yang paling menyakitkan dalam hidup manusia.


***


Pulang dengan mood yang buruk dan pikiran yang berkelana entah kemana, wanita cantik itu bahkan mengabaikan sapaan dari para pelayan yang biasanya ia balas dengan ramah.


Entahlah, Aisha merasa aneh dengan dirinya.


Saat ini gadis itu tengah membersihkan dirinya dalam kamar mandi. Menyegarkan badan sekaligus pikiran dengan mengguyur tubuh dibawah guyuran air dingin.


Segar rasanya.


Menampilkan suami tampannya yang tengah berdiri tak jauh darinya. Sudut bibir itu mengukir senyum indah. Ya Tuhan, entah kenapa disaat seperti ini Aisha merasa terhipnotis dan ingin mendekap Arthur dalam pelukannya. Padahal mereka sedang ada masalah.


Arthur bersikap acuh, pria itu melangkah mendekati lemari pakaian dan mengambil beberapa pakaian.


Sadar dari lamunannya, Aisha buru buru berbalik. Ia mengernyit sambil mendekat.


"Kau mau kemana? Kenapa membawa banyak baju? Tunggu, Arthur aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Aisha merasa diacuhkan. Ia menggoyangkan lengan suaminya merasa kesal.


"Arthur, aku bicara padamu!" Serunya kesal.


Namun pria tampan itu memilih melanjutkan kegiatannya tanpa menghiraukan perkataan istrinya. Sibuk memindahkan pakaian kedalam koper besar.


Oh andai si bodoh itu tahu bagaimana sakitnya perasaan wanita ketika ucapannya dianggap angin lalu.


"Arthur, aku ingin bicara.." Aisha setengah berlari mengikuti langkah suaminya yang lebar.


"Dengarkan aku!" Kesal Aisha berduri tegak di hadapan tubuh kekar itu.


Raut wajah Arthur yang tadinya datar berubah kesal. Dalam wajahnya Aisha dapat melihat adanya ribuan pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Namun dasar tabiat buruknya, dari kecil memang pria itu lebih mengutamakan emosi daripada menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.


Arthur tak suka banyak bicara pada orang saat marah. Lelaki itu juga seorang pendendam. Lengkap sudah.

__ADS_1


"Kau sudah terlalu banyak bicara, menyingkir dari jalanku." Dingin Arthur bicara. Buliran air mata sudah bersiap dan menggenang di pelupuk mata, saat ini wanita itu terlalu sensitif untuk menerima perkataan pahit dari orang yang ia cintai.


"Kenapa kau mengatakan itu? Aku ingin menjelaskan semuanya. Aku tidak selingkuh dengan Billy. Duduklah dan aku akan ceritakan padamu." Gadis itu berupaya mengajak suaminya duduk dan bicara. Tangan kecilnya menarik lengan kekar Arthur. Namun pria itu tak beranjak.


Arthur menarik salah satu sudut bibirnya, tidak ada maling yang mau mengakui kejahatannya.


Saat pria itu kembali melangkah Aisha kembali menghadang.


"Kau mau kemana? Arthur, kalau ada masalah itu diselesaikan! Bukan hanya diam dan membisu seperti batu!"


"Aku akan keluar kota untuk waktu lama, lakukan apapun yang kau mau. Kalau mau, kau bisa membawa siapapun kesini. Termasuk lelaki manapun itu. " Dan pria itu keluar sambil menyeret koper besarnya.


Genangan air mata sudah membasahi pipi mulus Aisha tanpa permisi. Ia merasa sakit, kesal dan jengkel. Arthur bersikap seolah olah ia adalah seorang j*alang yang sudi membawa lelaki asing kedalam rumah. Setahunya, kalau ada masalah harus diselesaikan dengan baik baik. Bicara dari hati ke hati dengan kepala dingin dan menanggalkan emosi.


Tapi Arthur, pria itu sungguhlah aneh dan lain dari yang lain.


Aisha banjir air mata bahkan ia lupa kalau tak ada makanan yang masuk ke perutnya.


****


Di sebuah rumah sakit ternama di Eropa. Berbagai fasilitas canggih tersedia di bangunan mewah bergaya klasik ini.


Kalau tidak salah bangunan ini dibangun pada masa - masa awal kejayaan negara ini, dengan menggelontorkan dana dalam jumlah yang tak terhitung nilainya.


Di salah satu ruangan VVIP, seorang pria tengah terbaring dengan berbagai obat obatan di samping meja nakasnya.


Yudhi yang memiliki asam lambung tinggi ditambah beban pikiran dan pekerjaan nya sempat membuat daya tahan tubuhnya terganggu. Apalagi dia juga menghabiskan banyak waktu untuk mencari pujaan hatinya yang hilang.


Namun kondisinya berangsur membaik setelah mendapat perawatan dokter terbaik.


Ditambah lagi kehadiran sosok yang ia cari cari.


"Bagaimana? Merasa lebih baik?" Tanya Maria yang masih setia duduk disamping pria itu.


"Iya." Ia tersenyum. Menatap gadis dengan senyum tulus yang selalu mengisi hari harinya.


Tadinya Yudhi ingin segera pulang dan melanjutkan pencarian. Namun ia begitu terkejut saat tiba tiba sang kekasih datang, rasanya jantungnya berhenti berdetak.


Ya walaupun ia tak menampik bahwa ada kejanggalan dari kejadian yang menimpa Maria.


Apakah aku harus membuat sekuel tentang mereka suatu hari nanti??


Bersambung..............


Udah lama nggak nulis, maaf kalau hambarπŸ™πŸ™


Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan batin πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2