Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 97


__ADS_3

Tidak disangka Arthur kembali ke kebiasaan lamanya, pria itu memang payah dalam urusan cinta dan hubungan.


Andai saja orang tahu, bahwa CEO perusahaan raksasa Anderson Groub mempunyai masa lalu yang buruk soal hubungan dengan wanita.


"Ayo kita pulang, jangan seperti orang bodoh disini." Rey sudah bisa mengendalikan emosinya, lelaki itu mengurangi nada bicaranya dan merangkul bahu Arthur.


"Aku tidak mau pulang, kau saja sana!" Jawab Arthur dengan nada selayaknya orang yang mabuk berat.


Mengacuhkan perkataan bos sekaligus temannya, Rey menggeret lengan Arthur dan memapahnya keluar dari tempat laknat itu.


Karena tidak mungkin membawa Arthur pulang kerumahnya dalam kondisi mabuk berat seperti ini, pria itu memilih membawa bosnya ke apartemen lamanya yang tidak jauh darisana.


Sesampainya di depan pintu apartemen dan membuka kunci, Rey memapah Arthur kedalam kamar tamu, kamar yang dulunya sering digunakan pria itu saat menginap disini.


Perlahan Rey melepas jas, ikat pinggang serta sepatu milik sahabatnya yang sudah digunakan seharian dengan telaten. Layaknya seorang ibu yang sangat menyayangi putranya.


Manik mata pria itu memperhatikan Arthur yang tidak karuan, ada rasa iba dalam hatinya.


"Ck, Arthur kau tidak pernah berubah. Rupanya cintamu dan wanita itu belum bisa merubahmu sepenuhnya"


Reynard termenung, langkah pria itu menuju balkon kamar. Cahaya bulan yang indah apalagi taburan bintang di angkasa yang indah dipandang mata.


Ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu.


Saat itu adalah masa masa menyenangkan dalam hidup empat sahabat karib yang sedang menikmati masa mudanya.


Hari hari mereka lewati dengan kebahagiaan, canda tawa dan sedikit kenakalan seperti anak muda pada umumnya.


Saat itu Reynard dan Arthur masih cukup muda.


Mungkin sekitar umur 20 tahunan. Meskipun masih muda, namun Rey dan Arthur sudah berkecimpung di dunia kerja sejak usia mereka masih remaja.


Yang paling susah diajak berkumpul adalah Arthur mengingat pria itu mengemban tanggung jawab besar mengurus perusahaan.


mungkin itulah yang menyebabkannya menjadi pria kutu buku yang dilihat sebelah mata oleh para wanita pada zamannya.


Arthur lebih suka membaca, mengatur kinerja para karyawannya. Yang membuatnya saat itu tidak suka minum alkohol, tidak suka bermain wanita bahkan hampir dikira gay karena kepolosan nya.


Namun anehnya, ada satu gadis muda cantik yang begitu mengejar - ngejar dirinya. Wilhelmina, itulah namanya.


Putri seorang pengusaha yang lumayan terkenal dengan paras bak bidadari tersasar di bumi. Tidak ada mata lelaki yang akan berpaling jika melihat Wilhelmina. Hingga pada akhirnya hebohlah dunia maya karena kabar mengejutkan Wilhelmina yang berpacaran dengan Arthur, si cupu yang dijauhi semua orang karena gaya berpakaian dan sikap polosnya yang tidak umum bagi mereka.


Hingga tibalah hari pernikahan itu. Gedung besar yang disulap ala kerajaan bak negeri dongeng yang akan digunakan sebagai tempat peresmian hubungan mereka.

__ADS_1


Namun sebelum acara dimulai, Arthur memergoki dengan mata kepalanya sendiri Wilhelmina kekasih yang begitu ia cintai malah bercumbu dengan sahabatnya sendiri, John. Otak licik wanita macam Wilhelmina yang sudah tau bahwa Arthur akan menjadi orang yang berpengaruh di masa depan membutakan hatinya dan membuatnya rela melakukan apapun demi tujuan nya.


Harta dan tahta.


Dua hal yang menjadi ujian terberat bagi manusia.


Sejak saat itulah hati yang hangat dan lembut itu menjadi dingin dan sekeras batu.


Di mata Arthur wanuta di dunia ini sama saja. Tidak ada yang setia dan pantas dicinta.


Tragedi itu begitu mengubah Arthur si cupu yang dijauhi orang menjadi pria gagah yang dikerubungi wanita.


Namun pria itu hanya menganggap mereka semua mainan yang dapat ia buang jika telah usang.


Ia mulai kehilangan jati diri dan menjadikan minuman sebagai teman. Menjadikan hotel dan club sebagai persinggahan saat melepas kepenatan dari dunia.


Hingga datanglah Aisha, gadis manis yang menjadi pelengkap hidupnya yang membuat bongkahan es besar itu perlahan mencair dan kembali ke bentuk nya semula.


"Dan sekarang, kau kembali mengulangi hal itu Arthur. Aku tahu betul bagaimana hancurnya kau saat Wilhelmina meninggalkanmu, kau suka mabuk, bermain dengan banyak wanita bahkan meninggalkan pekerjaan mu hanya untuk hal yang tidak berguna. " Gumam Reynard ditengah heningnya malam.


Arthur mungkin masih menyimpan kekecewaan pada mantan calon istrinya dulu yang membuatnya berpikir bahwa Aisha juga telah mengkhianatinya.


"Tapi kau salah, Aisha adalah gadis terbaik yang bisa menjadi pendamping mu, selamanya."


Aisha berjalan mondar mandir di depan ruangan UGD rumah sakit, wanita itu cemas bahkan lupa kemana tujuannya sebelumnya.


Pria tadi mengalami sebuah tembakan yang tak terlalu parah di tangan kiri, namun wajahnya yang babak belur sehingga dia tidak tahu seperti apa wajah nya.


"Lama sekali.." Gerutunya kesal. Sudah satu jam lebih dia menanti dokter dan para perawat yang menangani laki laki tadi. Tapi tidak ada tanda tanda akan keluarnya salah satu dari mereka.


Aisha takut, kalau pria itu mati, bisa-bisa ia akan ikut terjerat kedalam masalah mengingat disana tidak ada seorangpun selain dirinya.


"Bagaimana dokter?" Seorang dokter pria yang keluar dari ruangan langsung menjadi sasaran berondong pertanyaan nya.


Lelaki berjas putih itu melepas stetoskop pada lehernya yang telah menggantung seharian.


Ia bernapas lega. "Untung nyonya cepat membawanya kemari, tenang saja lukanya sudah kami tangani dan tidak terlalu parah. Hanya beberapa luka di bagian wajah yang lumayan parah." Selepas mengatakan itu pria itu pun berlalu dari hadapannya.


Perempuan cantik itu bisa menghembuskan napas lega, syukurlah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan sehingga setelah ini ia hanya harus menghubungi keluarga korban.


Karena rasa penasarannya mendorongnya untuk masuk kedalam.


Dia sudah di depan pintu, decitan suara pintu yang terbuka terdengar jelas di telinga.

__ADS_1


Pemandangan pertama yang dilihat matanya adalah seorang pasien yang terbaring lemah disana, dengan lengan kiri yang diperban dan wajah yang sudah tidak karuan.


Aisha mendekat," Apa kau baik baik saja?" Tanya nya pelan.


Pria itu diam tak bergeming, kedua bola matanya sibuk mengamati wajah cantik yang sangat ia kenal. Ia pastikan sekali lagi dengan menajamkan pandangannya, tidak salah lagi. "Aisha Fernandez." Ujarnya dengan nada tegas.


Membuat Aisha sedikit terkejut mengetahui orang yang ia tolong mengenali wajahnya. Apakah ia sepopuler itu? Wkwk


"Bagaimana kau bisa tahu namaku?"


Rithik menarik salah satu sudut bibirnya, sekarang ia sadar bahwa wanita di depannya ini mungkin tidak terlalu hafal wajahnya atau mungkin tak mengenalinya karena wajahnya yang babak belur. Padahal dulu mereka adalah musuh besar dari kedua kubu yang berbeda.


"Come on, siapa yang tidak mengenal istri dari pengusaha besar di New York. Aku akan merasa bersalah jika tidak mengenalimu"


Ujarnya.


Benar juga, Aisha membatin. Menjadi istri Arthur Anderson yang diperkenalkan di publik membuat sedikit banyak orang mulai mengenal bahkan mendekatinya hanya untuk memperluas koneksi mereka.


"Emm, kondisimu tidak ada yang perlu di khawatirkan. Berikan nomor keluargamu, aku akan menghubunginya, aku harus segera pergi sekarang." Tangan Aisha meraih ponsel yang berada dalam slingbag nya.


Namun Rithik memilih diam, setelah mengetahui kebenaran dari ibunya yang telah membuka matanya membuatnya memutuskan akan berusaha menghapus segala macam dendam yang ada. Apalagi ternyata wanita ini dan keluarganya tak sepenuhnya bersalah, justru sekarang Rithik merasa ia yang sudah dimanfaatkan. Walaupun hatinya belum mencair, tapi matanya mulai terbuka bahwa kesalahan ada pada ayahnya.


"Tidak perlu, kau bisa pergi. Aku bisa mengurus diriku sendiri." Tukas Rithik datar.


"Tapi.." Kalimat Aisha terjeda, ia kembali mengamati wajah pria di depannya. Terlihat familiar andai saja tidak ada luka pada wajahnya, tapi siapa?


"Rithik!" Gumam Aisha yang membuat pria itu tersenyum simpul. Ternyata mata wanita itu masih jeli dan ingatannya masih tajam.


"Akhirnya kau ingat, sekarang aku punya hutang budi padamu. Tenang saja, aku akan membayarnya." Rithik bukanlah tipe orang yang suka mempunyai hutang budi. Hutang harta mudah dibayar, tapi tidak dengan hutang budi yang menyangkut harga diri.


"Kau, kenapa kau tidak menyerang ku?!" Aisha mulai waspada, siapa tahu kecelakaan ini adalah siasat untuk menjebaknya. Tidak mungkin harimau diam saja melihat ada rusa yang berada di dekatnya kan.


"Kalau kau tidak ingin itu terjadi, maka pergilah dari sini!" Rithik menjawab dingin.


"Tapi.."


"Pergilah!"


Aisha merengut kesal mendapat bentakan dari pria yang sedang terluka itu, namun wanita itu tetap melangkah keluar darisana demi keselamatan nya dan janin yang ia bawa.


Ada rasa heran dan curiga, sepanjang perjalanan keluar dari gedung tinggi itu ia tak henti memikirkan apa alasan monster gila itu berubah seperti saat ini?


Bersambung...

__ADS_1


Mohon maaf cuma bisa up sedikit, terimakasih yang sudah mau menunggu 🙏


__ADS_2