Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 29


__ADS_3

Malam yang larut berselimut sepi. Sunyi tanpa ada satupun bunyi. Bahkan suara serangga yang biasanya menemani malam tidak terdengar sama sekali. Menyisakan seorang gadis yang tengah terlelap dalam buaian mimpi. Setelah perdebatan panjang dengan anggota keluarga, rasanya tubuhnya terasa letih. Apalagi saat Bima pulang, dia bahkan akan berangkat ke mansion Arthur dan membunuhnya.


Malam ini udara begitu dingin. Untung saja Aisha tidur dengan berbalut selimut tebal.


Dia tidur dengan sangat nyenyak sampai lupa pada dunia. Perlahan, matanya mengerjap. Ada yang aneh dengan ruangan ini. Dan jujur, ia merasa tidak nyaman.


Kenapa gelap sekali?


Aliran listrik kota ini sedang mati. Padahal tadi siang sudah diperbaiki. Dan sialnya lagi, trauma Aisha belum sembuh.


Membuat setitik kristal bening bercucuran dari pelupuk matanya. Ia menyembunyikan kepalanya dalam selimut dan berdoa dalam hati. Kalau mau menjerit histeris seperti dulu, kasihan para pelayan dan pengawal yang kelelahan.


Beruntungnya, tak lama kemudian Yudhi datang dengan senter yang sangat terang. Hampir menyinari seluruh ruangan.


Pria itu naik ke ranjang. Mendekap adiknya erat, menyalurkan ketenangan. Kebiasaan yang hampir empat belas tahun ia lakukan.


"Aku takut sekali... " Lirih gadis itu.


Yudhi yang memang sudah hafal hanya mengelus punggung adiknya. Entah mengapa belum ada psikolog yang bisa menyembuhkannya. Mereka berkata trauma Aisha akan sembuh dengan sendirinya, seiring berjalannya waktu. Namun nyatanya sampai sekarang itu tidak pernah terjadi.


"Tunggu sebentar lagi, lampunya akan menyala " Dan benar saja, beberapa menit kemudian pendar lampu menerangi kamar. Yudhi menghapus sisa air mata adiknya.


"Kenapa kau memutuskan hal bodoh seperti itu? " Ada nada sendu dalam pertanyaannya. Pria itu menatap nanar. Aisha dapat meraba luka yang ada dalam lubuk hatinya.


"Maafkan aku kak, tapi kalau aku tidak melakukan ini mereka akan membunuh kak Dewa " Mendekap Yudhi erat, mencari kehangatan disana.


"Seharusnya kau tidak melakukan itu " Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada ini. Begitulah arti airmuka Yudhi yang ditafsirkan Aisha.


Ia juga tidak sudi menikahi Arthur. Pria yang sama sekali tidak dikenalnya, tidak pernah bertemu sebelumnya. Apalagi dia masih muda, banyak mimpi yang belum terwujud. Yang lebih menjengkelkan lagi, Arthur melamarnya dengan cara yang tak lazim. Aisha selalu memimpikan lamaran yang romantis, dipenuhi suka cita dan kebahagiaan. Bunga bertaburan dimana mana. Lalu si pria berlutut dan menggenggam tangannya. Mengatakan 'Maukah kau menjadi pendamping hidupku? '. Lalu mereka akan bertunangan, baru menikah. Begitulah khayalan gadis itu.


Tapi apa dayanya saat ini, bahkan ia dilamar oleh pria gila yang entah bagaimana pola pikirnya. Sifatnya, sikapnya, dan latar belakangnya. Finansial tak dipermasalahkan olehnya, Aisha hanya ingin suami baik yang bisa menjaganya. Hanya itu saja. Sungguh ironis takdirnya, Arthur bahkan melamarnya dengan sebuah ancaman.


Mirisnya hidupku....

__ADS_1


***


Seperti yang telah di agendakan, hari ini Aisha akan berjumpa calon suaminya. Dia yang meminta, karena ingin mengajukan beberapa syarat. Ada beberapa pertanyaan juga tentunya.


Sebuah meja di ruangan VVIP. Hanya ada lima meja disana. Empat meja telah diisi manusia. Aisha sendiri saat ini telah berada dalam meja nomor tiga, berhadapan dengan Arthur. Entah mengapa jantungnya berdegup tak karuan. Namun hal demikian tak terjadi pada pria di hadapannya. Pria itu hanya diam, dengan aura dingin dan tegasnya. Pertemuan perdana dengan calon suami. Mendebarkan juga rupanya.


Padahal biasanya aku tetap mengendalikan keadaan dalam situasi seperti ini.


Aisha biasanya tetap ceria dan cerewet saat berjumpa orang yang dingin. Misalnya klien ayahnya saat ia sedang berkunjung ke perusahaan. Bukannya dia takut, hanya saja bingung memulai percakapan darimana.


"Aku ada beberapa syarat " Membuka percakapan.


"Katakan! "


"Pertama, aku ingin membawa peliharaanku saat sudah menikah nanti " Aisha tidak bisa jika tanpa Pushy, Sugar, dan para singanya. Bisa mati kesepian dirinya.


Sebenarnya ada niatan untuk mengajak Yudhi juga kerumah barunya. Sungguh, tanpa adanya pria itu rasanya Aisha bukan apa -apa. Tapi mustahil juga kan ia meminta kakaknya tinggal dirumah suaminya nanti.


"Tidak masalah. Ada lagi? "


"Jika sudah tidak ada yang ingin dibicarakan. Rasanya tidak ada gunanya saya disini " Sudah akan beranjak dari duduknya. Namun Aisha mencegahnya dengan kata kata.


"Duduklah, aku ada pertanyaan " Berkata lirih sambil melirik Jack yang berada di meja sebelah. Pria itu hanya mengamati dan tidak mau ikut campur. Semua adegan yang dialami nonanya, tak luput dari pengawasannya.


"Katakan! "


"Kenapa kau ingin menikahiku? " Uneg - uneg yang berseliweran dalam benaknya akhirnya terucap juga.


Sesekali dia melirik ekspresi pria dihadapannya. Tetap datar, tak ada perubahan. Setelah meneguk secangkir kopi baru dia mengeluarkan suara.


"Kau tidak perlu tahu soal itu. Ada lagi? "


Huh! Menyebalkan, lebih menyebalkan daripada Jack.

__ADS_1


"Apa kau merokok? " Arthur sedikit terkejut dengan pertanyaan nyeleneh gadis itu. Pertanyaan yang keluar dari jalur pembahasan. Bukannya bertanya masalah pernikahan dia malah bertanya seputar kebiasaan pribadinya.


"Tidak " Datar. Aisha bernapas lega. Wajah yang tadinya murung mulai berangsur ceria.


"Apa kau minum alkohol? " Pertanyaan kedua.


"Ya" Huh! padahal aku berharap dia tidak minum minuman keras. Begitulah isi hati Aisha. Hati yang kecewa, ia tutupi dengan senyumnya.


Ya sudahlah! Lagipula dia kan dari Amerika, minuman pasti sudah melekat menjadi kebiasaannya.


Masih ada pertanyaan ketiga sebenarnya, tapi dia agak ragu mengajukan soal ini. Takut apabila calon suaminya tersinggung. Namun karena rasa penasaran yang membuncah di hati, gadis itu bertekad menanyakan apa yang ingin dia ketahui.


"Apa... kau pernah bermain wanita? " Bertanya dengan ragu. Melihat mimik wajah Arthur, Aisha menelan salivanya. Apakah dia sudah menyinggung lagi? Huh, dasar mulut ini.


"Tidak ada jawaban. " Lalu Arthur beranjak dari duduknya. Melangkah keluar ruangan meninggalkan Aisha seorang diri. Namun sebelum benar - benar jauh, ia berhenti dan berkata.


"Seminggu lagi pernikahan akan berlangsung."


Lalu melenggang pergi setelah melontarkan kata kata yang membuat rasa dongkol di hati Aisha.


Hanya itu saja! Dia bahkan tidak mengucapkan sampai jumpa. Tidak menatapku juga saat sedang bicara. Calon suami macam apa itu!


Gerutunya dalam hati.


Hey bagaimana dia bisa menatapmu, kau saja menutupi wajahmu dengan masker.


Iya juga ya, bagaimana dia bisa menatapku. Aku kan pakai masker dan tidak melepasnya daritadi. Bahkan aku tidak makan ataupun minum.


"Nona mari kita pulang... " Ujar Jack yang melihat ekspresi nonanya. Spekulasi Jack berkata, bahwa gadis itu sedang menggerutu kesal dalam hati karena sikap Arthur. Bagaimana tidak, datang ke kafe mahal hanya bicara beberapa kalimat. Jack saja rasanya ingin membogem wajah sok berkuasa nya itu.


Aisha hanya mengangguk lalu mensejajari langkah Jack keluar kafe. Mencoba mengusir rasa kesal dengan berbincang sedikit pada Jack. Sia - sia saja, pria itu hanya menyahut sekenanya.


Huh! Semuanya lelaki memang sama. Mengesalkan!

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2