
Satu minggu berlalu sejak Mr. Taylor datang ke Indonesia. Semenjak saat itu pula ia tidak pernah absen pulang pergi ke rumah sakit setiap harinya. Perihal kantor dan organisasi ia pasrahkan pada orang kepercayaan. Hari ini di ruang rawat Aisha hanya ada Mr. Taylor dan Yudhi, yang lainnya biasanya akan bergantian berjaga pada malam hari. Usul dari dokter menyatakan bahwa mereka bisa membawa Aisha pulang untuk dirawat dirumah tentunya dengan membeli semua peralatan medis, namun usul itu ditolak karena dokter Nathan sebagai direktur rumah sakit tidak bisa ikut kerumah. Sementara Johan tetap bersikeras ingin dokter terbaik seperti Nathan yang membantu kepulihan putrinya. Banyak dokter lain yang sebanding dengan dokter Nathan, namun entah apa yang ada pada pikiran Johan.
Mr. Taylor tak ada hentinya menatap dan menggenggam jemari putrinya. Nalurinya berkata jika tak lama lagi anak itu akan kembali bangun.
"Bangunlah, kau tidak merindukan daddymu ini? Padahal daddy sudah membeli boneka doraemon kesukaanmu. Kau tahu, bahkan daddy membawa kue coklat favoritmu. " Pria itu berbisik pelan dekat telinga Aisha. Dengan harapan ia dapat mendengar segala yang dia ucapkan. Lalu pria dengan tatapan teduh itu menaruh boneka kartun berwarna biru yang tersenyum di samping brankar Aisha.
"Lihat, ini yang kau sukai kan. Kau pernah bilang pada daddy jika kau sedang marah maka kau ingin boneka ini kan?. Jangan marah lagi, maafkan daddy yang tidak bisa melindungi mu. Sekarang bangun dan daddy akan bermain sepanjang hari denganmu " Tidak ada sahutan. Mr. Taylor memejamkan mata, mencoba mengingat kenangan manis yang terlewat dalam hidupnya.
"Aku marah padamu dad!"
"Oh ya? Memang kenapa marah, daddy kan tidak berbuat salah "
Pria bule itu menunduk mengimbangi tinggi Aisha. Mengelus kepalanya lembut penuh kasih sayang.
"Daddy datang ke Indonesia tapi tidak memberitahuku dulu. " Ia melipat tangannya di depan dada disertai bibir yang mengerucut sempurna.
Mr. Taylor terkekeh geli menyaksikan putri mungilnya yang dalam mode merajuk.
"Baiklah, katakan apa yang harus daddy perbuat jika kau sedang marah. "
"Emmm... " Menimbang - nimbang keputusan sejenak sembari mengetukan telunjuknya pada dagu. "Jika aku marah padamu, maka berikan aku boneka, coklat, bunga, lalu.. emm apalagi ya? Ah ya, minta maaf dengan tulus dan bermain petak umpet sepanjang hari denganku. Itu saja "
"Baiklah, daddy janji jika kau marah daddy akan melakukan itu " Mengangkat kelingking nya ke udara. Aisha pun dengan suka cita menautkan jemarinya.
Yudhi yang tengah terduduk di sofa panjang melangkah mendekati pria itu.
"Adikku itu kuat. Dia akan bertahan, dia tidak akan meninggalkan kita dad " Seru Yudhi penuh keyakinan pada pendiriannya. Mr. Taylor menoleh, melempar senyum tulus sebagai jawaban perkataannya.
"Aku berjanji akan membantumu menumpas Esponder. " Ujar pria itu kemudian.
Mr. Taylor sejatinya adalah orang yang penyabar dan selalu berpikir jernih, namun karena tindakan Pither Wilson yang dipikirnya sudah kelewat batas, amarah nya pun memaksa keluar.
"Tidak sekarang dad, setelah aku menimbang nya, saat ini bukan waktu yang tepat menyerang balik pria itu. " Mr Taylor menatap lekat kearahnya " Jika kita menyerang nya sekarang, apa adikku akan terbangun dari komanya? "
Pria bule itu mengangguk, memang benar adanya apa yang diucapkan Yudhi, percuma saja membalas Pither jika tidak ada untungnya. Hanya buang - buang tenaga dan senjata. Mr. Taylor sendiri juga tidak habis pikir dengan laki laki berdarah Italia itu, padahal mereka dulunya sahabat karib melebihi keluarga. Lantas apakah hanya karena wanita ikatan mereka pudar dengan sendirinya?.
"Kau benar, bagaimana kalau kita pindahkan Aisha ke rumah sakit terbaik dunia?. Mungkin di Amerika, Singapura, atau Jerman? " Ide brilian melintas pada benaknya. Siapa tahu dengan dipindah kesana Aisha akan cepat pulih.
Kening Yudhi berkerut, menandakan bahwa ia tengah memikirkan usulan ayah angkatnya.
"Itu usul yang bagus dad, aku akan bicara dengan ayah. Entah mengapa kami tidak terfikir dari dulu " Ujar Yudhi sumringah.
__ADS_1
"Baiklah, diskusikan dengan Johan, jika dia setuju maka kita bisa segera melakukan nya." Kemudian Mr. Taylor bangkit dari kursi tempatnya duduk. "Aku akan ke toilet sebentar "
Yudhi hanya mengiyakan dengan anggukan kepala. Mr. Taylor pun mengayunkan kakinya keluar ruangan.
Pria tampan itu sekarang duduk diatas kursi bekas Mr. Taylor. Tersenyum lekat pada tubuh yang terbaring di hadapan nya. Lalu ia menggenggam dan mengecup jemari Aisha yang berwarna putih pucat.
Tanpa sadar ia kembali menitikan air mata.
"Jika kau ingin kakak dan semua orang hidup, maka bangunlah dari tidurmu. Jika tidak maka aku akan melukai diriku sendiri agar kita bisa berada pada kondisi yang sama " Cicit Yudhi pelan. Seakan menanggapi, sebulir air mata keluar dari masing - masing pelupuk mata Aisha. Ia merespon segala kedukaan Yudhi yang di keluh kesahkan di sampingnya.
Yudhi dengan tatapan tertunduk baru menyadarinya saat ia mendongak. Ia tercengang, lalu mendekat dan menyentuh air yang terlinang di pipi adiknya.
Benar, itu adalah air mata.
"Kau menangis! Itu artinya... " Spesifikasi perasaannya saat ini tidak bisa disebutkan dengan rinci. Ada bahagia, lega, senang, semuanya bersatu padu menjadi satu.
Baru saja Yudhi akan memanggil dokter dengan memencet tombol diatas, tapi suara lirih nan lembut membuyarkan niatan nya.
"Kakak... " Suara lirih diiringi dengan terbukanya kelopak mata indah Aisha. Ia tersenyum cerah pada kakaknya walaupun bibirnya memucat.
Yudhi terpana tanpa bisa berkata - kata. Matanya lebar dengan mulut yang belum mengatup sempurna. Tangan nya yang tadinya berniat memencet bel malah tergantung di udara.
Uhuk!
"Kakak... aku kesulitan bernapas " Rengkuhan yang dilakukan Yudhi menyulitkan paru - parunya dalam menjalankan tugas. Yudhi yang tersadar langsung melerai pelukan kilat nya.
"Maaf.. maafkan kakak. Padahal kau kan baru bangun " Kata Yudhi " Yaampun! Aku lupa!" Bagaimana bisa ia melupakan protokol paling penting yaitu memanggil dokter. Yudhi pun menekan berulang tombol putih yang berada di samping brankar.
Sontak saja dokter Nathan dan para perawat terbirit - birit masuk kedalam, khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk sebab Yudhi menekan tombol seperti pemberitahuan darurat. Namun alangkah terkejutnya mereka ketika penampakan yang pertama kali dilihat adalah Aisha yang sedang mengobrol dengan kakaknya. Meskipun lirih, telinga Nathan dan lainnya masih berfungsi dengan maksimal.
"Aisha? " pria berbalut jas dokter berwarna putih itu pun mendekati Aisha. Mengecek kondisinya dengan stetoskop. Setelah itu ia menginstruksi para suster agar melucuti alat alat medis yang menempel pada tubuhnya.
"Aisha, aku tidak menyangka ini. Kau berhasil melawan masa koma mu " Ujar dokter Nathan seraya melepas stetoskopnya.
"Terimakasih paman dokter, karena telah merawatku" Ia berusaha bangkit duduk. Namun Yudhi dan dokter Nathan lekas melarangnya.
"Jangan duduk, kau masih lemah. Lebih baik istirahat dan berbaringlah dulu. Nanti paman dokter akan memberimu obat dan vitamin "
"Bagaimana keadaan adikku dok? " Tanya Yudhi.
"Dia baik baik saja, hanya masih perlu pemulihan. Aku akan meresepkan obat agar Aisha cepat sehat. " Dokter Nathan menarik sudut bibirnya ramah " Aku tidak percaya ini, Aisha berhasil melewati masa komanya. Bahkan sebelumnya aku sempat putus asa "
__ADS_1
Yudhi ikut tersenyum "Aisha adalah anak yang kuat, dia tidak akan menyerah secepat itu "
"Oh ya, luka operasinya masih belum sembuh total. Jadi hindari terlalu sering bergerak, aku juga akan resepkan obat agar luka nya lekas mengering. Yud, apa kau sudah mengabari keluargamu? "
Yudhi menepuk keningnya sendiri, lagi - lagi dia menjadi pikun sampai - sampai terlupa menghubungi ayah dan lainnya. Jika mereka sampai tahu, pasti ia tidak akan selamat. Terutama dari Johan dan Bima.
"Aku akan menghubungi mereka " Merogoh saku dan meraih ponsel yang diasingkan selama berbulan bulan.
***
Semua orang yang dipenuhi perasaan suka cita tengah berkumpul dalam sebuah ruang VVIP rumah sakit. Ada Johan, Mr. Taylor, Yudhi, Bima, Arjuna, Nakul, Dewa dan Jack serta lainnya. Tak lupa yang paling penting yaitu Aisha yang berada dalam dekapan hangat ayahnya.
"Jangan seperti itu lagi... " Ujar Johan lirih pada sang buah hati.
"Iya ayah.. tapi ada syaratnya " Gadis kecil itu tersenyum licik sembari menatap Yudhi.
"Apa nak? Katakan! "
"Kak Yudhi sudah berjanji akan mengajarkan bela diri padaku... " Menunjuk Yudhi yang tersenyum kikuk di belakang ayahnya.
"Benar begitu? " Memandang kearah Yudhi yang tengah menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
"Benar ayah, tapi bagaimana kau bisa tahu Sha?" Kata pria itu.
"Aku mendengar segalanya yang kalian katakan setiap hari. Rasanya kepalaku pusing karena suara bising kalian " Ujarnya.
"Daddy, kau sudah membawa boneka untuk ku kan? "
Mr. Taylor mengangguk.
"Iya sweetheart, daddy akan memborong seisi toko boneka terbesar di Amerika untukmu " Gantian sekarang ia yang mendekap hangat putrinya.
"Janji? "
"Janji"
Semua manusia tertawa ria. Senyum tak henti hentinya tercipta. Ruangan ini seakan mendapat aura positif, keceriaan kembali pada semua orang. Perasaan lega meliputi karena melihat bangunnya Aisha setelah sekian lama. Termasuk Jack yang turut bersuka cita atas kebahagiaan yang kembali hadir dalam keluarga majikannya. Semoga saja semua kesuka citaan ini akan bertahan hingga nanti.
Kisah masa kecil yang penuh suka duka sampai disini. Perjalanan panjang yang sesungguhnya telah menanti di masa depan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1