
Di sebuah rumah sakit Internasional Myanmar. Para anggota yang terluka tengah menjalani perawatan. Keluarga Johan terutama Arjuna juga memperoleh pertolongan disana. Sedangkan anak buah yang tewas di tempat dibersihkan dan dipulangkan ke tempat masing masing. Bagi yang masih memiliki keluarga tentunya, karena sebagian besar anggota adalah tidak berkeluarga alias hidup sebatang kara. Keluarga yang ditinggal diberikan jaminan, dibiayai hidupnya oleh Johan selamanya. Termasuk pendidikan anak anaknya juga ada perwakilan yang mengucap maaf dan belasungkawa sebesar besarnya.
Di ruang perawatan Arjuna tengah diobati oleh dokter. Diantara yang lain, ialah yang mengalami luka serius karena berhadapan dengan Pither dan para senior.
Yang lain ikut menunggu di dalam ruang rawat. Meskipun para dokter menyarankan untuk istirahat di ruangan masing masing, namun rasanya bersama adalah pilihan yang utama.
Arthur dan Reynard memilih menunggu diluar. Hanya ada mereka berdua, para personil Regdator yang masih hidup sudah dipulangkan.
"Bos " Panggil Rey.
"Arthur menoleh sejenak "Apa? "
"Kau sudah mengabari istrimu? " Tanya Reynard lagi. Sebetulnya ia tahu juga kalau Arthur tidak melakukan nya.
"Tidak, untuk apa?
"Kau ini ya, selalu tidak peka pada keadaan. Sudahlah, biar aku saja yang mengabari Aisha"
Reynard sudah merogoh sakunya, mengambil benda pipih dari sana. Sudah akan menekan nomor Aisha, namun orangnya keburu datang.
"Arthur " Aisha berjalan tergopoh gopoh kesana. Matanya tertuju pada tangannya.
"Apa ini, kenapa tidak diobati? " Meraih tangan Arthur yang hanya dibalut kain. Tidak diobati atau di sterilkan sedikitpun.
"Hanya luka kecil " Sahut Arthur
"Luka kecil? Sudahlah, panggil dokter sana, suruh obati "
Arthur memutar bola matanya malas. Baginya luka seperti ini bukan apa apa. Jadi dia hanya membiarkannya begitu saja.
"Tidak mau " Kata Arthur.
"Tidak mau? Pokoknya harus. Ayo! " Gadis itu menarik lengan suaminya. Menggiringnya ke ruangan dokter untuk diobati. Arthur hanya pasrah dan mensejajari langkah Aisha.
Sesampainya di ruang salah seorang dokter Aisha mendorong Arthur masuk. Ia tidak mengantar sampai dalam karena ingin melihat Arjuna. Kakaknya itu yang paling parah daripada lainnya.
"Kau tidak ikut masuk? " Tanya Arthur.
"Tidak, aku harus menjenguk kak Arjuna. Dia sepertinya terluka parah tadi " Ujar Aisha dengan polosnya. Arthur malah mengerutkan dahinya heran.
"Memang kau ada disana, sampai sampai tahu apa yang terjadi pada kakakmu " Selidik pria itu seraya menatap lekat Aisha. Menelisik maniknya mencari kebohongan.
__ADS_1
"Ti, tidak. Mana mungkin aku ada disana. Tadi aku mendapat kabar dari anak buah ayah. Dia berkata kak Arjuna dalam kondisi tidak baik. Jadi makanya aku bergegas kemari " Berupaya menyembunyikan fakta. Sebenarnya ia tadi tidak pulang ke Amerika. Gadis itu hanya mampir sebentar ke mall membeli pakaian.
"Yasudah " Arthur masuk kedalam. Aisha menutup pintu dan menoleh sejenak. Lalu berbalik ke ruangan Arjuna dirawat.
Sampai pada kamar yang dituju, Jack berdiri disamping pintu. Dengan wajah datar dan tubuh yang tak bergeming sedikitpun. Benar benar mirip pameran patung di museum.
"Jack? " Sapa Aisha dengan senyum cerahnya.
Jack menoleh, mengangguk hormat pada nona mudanya.
"Silahkan masuk nona " Sudah memegang gagang pintu dan mendorongnya sedikit.
"Istirahatlah Jack, lukamu cukup serius sepertinya " Dia melirik tangan Jack yang berbalut perban. Dengan sedikit noda merah yang tembus darisana.
"Tidak apa apa nona. Ini sudah tugas saya "
Aisha hanya menghela napas panjang, susah sekali memberitahu orang ini " Baiklah, aku masuk "
Jack mengangguk, membuka pintu lebar. Aisha pun masuk kedalam yang disambut tatapan terkejut dari keluarganya.
Gadis itu melangkah mendekati ranjang. Merasa iba pada kakaknya mengalami cedera serius.
"Iya, seharusnya kau dirumah saja nak. " Johan ikut menimpali.
"Sudahlah, aku kesini diantar pengawal. Kalian tenang saja. Bagaimana kondisimu kak? Sudah membaik? " Giliran memandang Arjun yang dipasang infus ditangan nya.
"Aku baik, tidak usah khawatir padaku. Aku sudah bilang pada ayah agar kita pulang saja. Tapi dia tetap memaksa ku untuk dirawat kemari " Daritadi Arjun sudah menggerutu kesal. Padahal lukanya cukup parah, tapi pria yang berprofesi sebagai aktor itu tetap bersikukuh ingin pulang. Dirinya tidak mau menjadi beban keluarga.
"Sudah sewajarnya jika mereka merawatmu disini kak. Lihat saja lukamu itu " Omel Aisha sembari menunjuk balutan perban yang melilit lengan, telapak tangan, wajah dan kaki Arjuna.
Laki laki itu meraba pipinya. Memar dan sobek dimana mana.
Wajahku, wajahku yang tampan. Yang dikagumi para fans dan banyak wanita. Aaaa, aku akan mengambil cuti main film untuk sebulan...
***
Hari yang sudah mulai petang seakan mengisyaratkan para manusia agar kembali pulang. Sinar matahari yang mulai meredup. Perlahan lahan mentari tergelincir pada tempatnya.
Aisha dan Arthur sudah tiba di New York. Keluarga Aisha juga sudah pulang ke mansion kediaman Fernandez. Arjuna memutuskan mengambil rawat jalan, dengan dokter Nathan sebagai pendampingnya.
Sebenarnya Aisha ingin ikut kesana, tapi apa daya jika ayah sudah berkata tidak. Sedangkan Reynard telah kembali ke apartemennya sendiri.
__ADS_1
Kini kedua pasangan itu turun dari mobil. Melangkah bersamaan memasuki pintu mansion. Tak ada yang bicara sepatah kata karena lelah yang melanda.
Arthur masuk ke kamar, begitupun Aisha yang masuk ke kamarnya sendiri. Gadis itu benar benar penat. Peluh di dahinya ia usap. Lalu menaruh tas di meja rias.
Berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Aisha berendam dalam bath up. Meregangkan ototnya yang serasa remuk semua. Rasanya tidak sabar ingin bergulung dibawah selimut. Ia mendongak keatas, memikirkan peristiwa yang terjadi hari ini. Sebuah hal yang tak pernah ia sangka, ia berhasil melumpuhkan Pither. Dan sekarang, pria itu telah tiada di tangan keluarganya.
Apa ini semua benar. Tapi paman Pither tidak bisa diajak negosiasi. Dia adalah pria penuh dendam dan emosi. Berkali kali ayah menawarkan perdamaian. Tapi kenapa, kenapa kau malah mengusik bisnis dan meneror keluarga kami paman?.
Jika kau tidak berbuat begitu mungkin ada sedikit celah pintu maaf bagimu.
Perempuan itu memejamkan mata. Memijat tengkuk dan lehernya sekenanya. Setelah sekian lama tidak berolahraga ternyata badan serasa sakit semua ya.
Tapi ya sudahlah, sekarang tidak ada musuh lagi. Semoga paman Pither mendapat pengampunan di alam sana.
Aaa, semoga saja setelah ini hidupku dan keluargaku bisa tentram. Tidak ada lagi musuh dan aku bisa fokus ke kuliahku.
Eh bagaimana dengan kuliahku, besok aku akan tanya pada Arthur.
Tiba tiba teringat pada kuliahnya lagi. Katanya sih Arthur yang sok berkuasa itu sudah mengurusnya. Tinggal tunggu tanggal dia bisa masuk kesana.
Lalu Aisha beranjak dari bath up. Membiarkan tubuhnya terguyur air dibawah shower. Lalu menyambar handuk dan mengeringkan sisa air pada tubuhnya.
Seusai berganti pakaian, ia keluar dari walk in closet. Mengenakan piyama berwarna biru langit yang indah. Langsung saja dia merebah di sofa. Meluruskan saraf saraf yang kelelahan karena agenda padat hari ini. Gadis itu memejamkan mata. Karena terlalu letih akhirnya ia terlelap dan ditarik dalam alam bawah sadarnya.
Sementara Arthur baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Pria tampan bertubuh atletis dengan roti sobek yang menggoda itu hanya memakai celana boxer. Bertelanjang dada. Mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Lalu menghempaskan handuk itu sekenanya ke sofa.
Arthur mengayunkan kaki kearah balkon. Menatap langit malam Amerika yang bertabur bintang. Pria itu memandang benda berkilau di angkasa, seolah sedang mengamati wajah kedua orang tuanya. Dan benar saja, dalam penglihatan Arthur, kedua orang tuanya tergambar diantara kemerlip bintang.
Aku sudah membalaskan dendam atas kematian kalian. Papa, mama, istirahatlah dengan tenang sekarang. Lihatlah pa, aku sudah kuat, aku mampu berdiri diatas kakiku sendiri.
Tanpa disadari, sebulir air mata terlinang dari pelupuk matanya. Sekarang Arthur telah terlepas dari sumpahnya yang menyatakan akan membunuh manusia berhati iblis yang menghabisi orang yang ia cintai.
"Aku bersumpah. Arthur Steven Anderson akan menghabisi orang yang telah membunuh kedua orang tuaku. " Bayangan Arthur kecil yang menangis karena kepergian orang tuanya kembali terngiang.
Pria itu menjatuhkan tubuhnya pada ranjang king size yang empuk. Menaruh tangannya sebagai tumpuan kepala. Memejamkan mata dan mulai menggapai alam mimpi.
Saatnya bersiap menghadapi kehidupan seterusnya.
Bersambung...
__ADS_1