
Kelima anak laki laki tengah berada pada sebuah ruangan persenjataan di dalam mansion. Siapa lagi jika bukan Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Kelima bersaudara dengan selisih dua tahun itu berlatih menggunakan berbagai macam senjata. Meskipun Nakul dan Dewa tak ikut dalam penyerbuan musuh nanti, tapi mereka tetap berlatih untuk berjaga jaga. Ruangan itu amat luas, ada banyak senjata mahal disana. Mulai dari pistol, senapan, busur panah, senjata angin, senjata api, pedang, belati dan lain sebagainya.
Semua orang sibuk dengan senjatanya masing masing.
"Kakak - kakakku sedang apa? " Suara lembut seorang anak kecil membuyarkan fokus mereka.
Lima anak laki laki itu langsung menghampiri nya.
"Aisha, sedang apa kau disini? " tanya Arjuna sambil berjongkok mengimbangi tinggi adik mungil nya.
"Aku juga ingin berlatih bersama kakak "
"Lihat ini! " Ia menunjukan busur panah beserta anak panahnya di depan Arjuna.
"Darimana kau mendapat semua ini? " Ia terkejut. Seingatnya, semua senjata tersimpan rapi di ruang persenjataan. Dan sebagian juga ada di ruang bawah tanah.
"Aku menemukan ini tergantung di dinding belakang mansion dekat tempat latihan... Lalu aku memanjat meja dan mengambilnya kak " Ia berucap yang sejujurnya. Namanya juga anak kecil, tidak mungkin berdusta.
"Lain kali jangan seperti itu lagi ya.. Itu bahaya. Nanti kalau Aisha jatuh bagaimana? " Yudhi ikut berjongkok seraya membelai pelan surai hitam adiknya.
"Iya kak.. bolehkah Aisha belajar memanah lagi? " tanya anak itu polos.
Yudhi dapat melihat sorot mata antusias dan haus akan pengetahuan pada manik matanya. Sebenarnya pria itu khawatir, tapi demi mengasah bakat dan potensi adiknya maka ia harus mendidiknya dengan baik. Layaknya kertas putih yang kosong, tergantung apa yang dituliskan diatasnya. Apalagi mengingat banyak musuh berkeliaran diluar sana yang mengincarnya. Ya. Sudah dia putuskan, sepertinya Aisha harus menempuh pendidikan militer yang sama dengannya selain pendidikan formal.
"Baiklah.. kakak akan mengajarimu. Tapi, kau harus berjanji akan berhati hati dan tidak membahayakan diri sendiri " Tutur Yudhi.
"Janji? " Mengangkat jari kelingking nya ke udara. Yudhi pun menautkan jarinya dengan jemari kecil Aisha.
"Tapi kak_" Jeda Nakul.
"Tidak apa " Yudhi menggeleng.
Mereka pun mulai mengajari adiknya membidik tepat sasaran. Mengingat Aisha sudah pernah belajar teori dan praktek, jadi ia hanya tinggal menyempurnakan nya saja. Tak hanya itu, mereka pun mengajari bocah itu cara menembak dengan tepat, tentunya dengan pengawasan kakak tertua.
__ADS_1
***
"Aisha, apa yang kau lakukan nak? " Teriak Johan khawatir. Pasalnya, ia melihat putri kecilnya tengah memanjat pohon mangga, bahkan ia berada di paling ujung.
Johan ada dibawah seraya merentangkan tangan nya ke udara, berjaga jaga apabila anak itu jatuh ke bawah.
"Aku sedang memetik buah mangga ayah! " Teriak Aisha dari atas sana sembari menarik tangkai mangga yang agak jauh dari jangkauan nya.
"Turunlah! Turun sekarang nak, kau bisa terjatuh nanti!! " Johan bertambah kalut.
"Iya ayah.. sedikit lagi akan dapat " Anak perempuan itu berhasil mendapatkan lima buah mangga di tangan nya. Namun, ia sedikit kesulitan menampung buah dikotil itu di tangan mungil nya.
"Ayah.. tangkap ini! " Ia melemparkan satu persatu mangga yang diperolehnya kebawah. Johan pun menangkapnya, bukan karena ia ingin makan mangga tapi karena tak ingin mengecewakan putrinya yang sudah bersusah payah meraihnya.
"Sudah nak.. sekarang turunlah ayah akan menangkapmu " Pinta Johan.
"Baiklah ayah.. " Tanpa terduga anak kecil itu melompat dari ujung pohon tertinggi. Membuat Johan kelabakan, jantungnya berpacu sepuluh kali lebih cepat. Ia pikir, Aisha akan turun perlahan dengan berpegangan, tapi ternyata dia sangat ekstrem.
Beruntungnya, Johan berhasil menangkapnya.
"Aisha tidak papa ayah.. ayah jangan khawatir ya.. " Ucap nya polos sembari menghapus setitik buliran kristal bening yang tanpa sengaja lolos dari pelupuk mata ayahnya. Bahkan ia tidak merasa bahwa apa yang ia lakukan bisa membahayakan dirinya sendiri.
"Jangan lakukan lagi... " Pria paruh baya itu semakin mempererat dekapan nya.
"Iya ayah.. "
***
"Jangan terlalu banyak makan nya, nanti tersedak " Tegur Johan pada putrinya yang memakan irisan mangga amat banyak. Ayah dan anak itu kini sedang duduk di taman belakang mansion dengan pemandangan kolam teratai di depan mata.
"Ini enak yah.. ayah mau? " Menyodorkan satu potongan mangga yang lumayan besar di depan mulut ayahnya. Johan dengan senang hati membuka mulutnya, menerima suapan dari sang buah hati yang sangat disayangi.
"Enak? "
__ADS_1
"Enak sekali "
"Ayah, ceritakan sesuatu tentang ibu. " Ucap anak itu yang tidak terlalu jelas karena mulutnya penuh dengan buah mangga.
Johan menoleh dan berkata, "Memangnya apa yang harus diceritakan honey, bukankah kau sudah hafal semua tentang ibumu? "
"Iya, tapi aku ingin mendengar sesuatu tentang ibu "
"Baiklah... "
"Ibumu itu sangat baik hati, hatinya mulia dan bersih. Dia sangat bijak dalam mengambil keputusan. " Johan tersenyum dan mencubit gemas hidung anaknya.
"Jika kau ingin tahu segalanya tentang ibumu, maka lihatlah dalam dirimu sendiri " Lanjut Johan.
"Kenapa begitu? "
"Karena ibu Alina itu sangat sangat mirip denganmu. Dia cantik, manis, baik dan sedikit cerewet, kau adalah duplicate nya. Dan satu lagi _"
"Apa ayah? " Tanya anak itu antusias sembari menggenggam jemari ayahnya yang lima kali lipat lebih besar darinya.
"Ibumu itu sangat ekstrem, sama sepertimu. Dia pandai memanah, menembak dan segala nya. Dan.. ibumu itu juga haus akan ilmu pengetahuan seperti dirimu " Memang betul, Aisha mewarisi seluruh sikap dan bakat istimewa pada diri Alina. Aisha bagaikan reinkarnasi dari ibunya yang hebat. Benar benar mirip. Tak ada perbedaan.
"Ibu memang hebat!. Ayah katakan padaku, kapan ibu akan pulang?. Aku ingin belajar memanah pada ibu " Lagi lagi pertanyaan yang tidak mampu dijawab siapapun muncul juga. Tampaknya anak kecil itu amat merindukan ibunya, tapi apa boleh buat, takdir sudah berkata lain. Garis takdir yang ditetapkan Tuhan hanya bisa diterima manusia dengan lapang dada. Mungkin suatu saat nanti, akan ada suatu momen yang pas dimana Aisha akan mengetahui seluruh rahasia keluarga ini.
"Kapan ayah??" Terus menggoyangkan bahu ayahnya dengan tidak sabaran.
"Nanti nak.. nanti ya.." Dengan segenap tenaga yang tersisa, Johan berusaha menahan air matanya yang memaksa keluar dengan derasnya. Ia mendongak menatap langit yang cerah, membayangkan wajah cantik istrinya yang tersenyum manis padanya.
Andai saja saat ini kau masih disini Lina, kau pasti akan sangat bahagia melihat keceriaan anak kita. Ia begitu mirip sepertimu, cerewet sepertimu.
Aku benar benar bodoh karena meninggalkanmu waktu itu. Aku tak akan melepaskanmu Pither sialan!!.
Johan mengepalkan tangannya erat dibawah sana.
__ADS_1
Bersambung...
Nantikan Episode Selanjutnya yaaa 🤗🤗