
Seminggu berlalu dengan begitu cepatnya. Hari hari berganti tanpa disadari. Hari demi hari dijalani Arthur dan Aisha dengan kebahagiaan. Hubungan keduanya kian rekat walaupun terkadang terdapat beberapa drama pertengkaran. Namun terkadang pertengkaran itulah yang membuat hubungan terjalin semakin erat. Karena dari situlah kita dapat saling memahami satu sama lain. Apa yang disukai dan tidak disukai. Apa yang harus dilakukan dan harus dihindari. Selain itu, kedua pasangan dapat lebih mengenal tabiat masing masing.
Aisha terkadang jengkel pada suaminya. Namun terkadang ia juga bahagia karena sikap Arthur yang semakin romantis. Misalnya saja saat ini, matanya tengah ditutup oleh telapak tangan Arthur. Pria itu menuntunnya menuju balkon teratas yang berada di mansion ini.
"Kita akan kemana? Kenapa menutup mataku segala? " Protes Aisha, walaupun dalam hati mengulas senyum sempurna.
"Diamlah! " Tukas Arthur.
Langkah mereka terhenti ketika tiba di tempat yang dituju. Arthur menjauhkan tangannya. Aisha terpana, matanya melebar dan mulut yang sedikit terbuka ketika netranya menyaksikan kejutan romantis yang Arthur siapkan. Balkon ini telah disulap menjadi sebuah tempat romantis yang menakjubkan. Lampu berkelap kelip dimana mana. Balon berbentuk hati tampak menghiasi, dedaunan dan bunga imitasi turut menyemarakan suasana. Aroma mawar menyeruak ke indra penciuman Aisha. Dan jangan lupakan, sebuah meja dengan dua kursi yang telah dihiasi lilin dan mawar merah disana.
Arthur menuntun istrinya agar duduk di tempat yang telah disiapkan.
Rasa hangat menyapa Aisha ketika Arthur menggenggam jemarinya.
"Kau yang menyiapkan semua ini? " Aisha nampak berkaca kaca.
"Tentu saja. " Balas Arthur. Meraih kotak berwarna merah di depan mereka. Membukanya, dan memperlihatkan isinya pada perempuan tercintanya.
Mata perempuan itu kembali melebar, pasalnya yang ada di depannya kali ini adalah benda berkilau yang sangat familiar di mata kaum wanita. Sebuah kalung dan cincin berlian termahal tersuguhkan di depannya. Ini Limited Edition, dari design nya saja sudah terlihat kalau itu rancangan khusus.
"Arthur, ini punya siapa? Bukankah ini berlian mahal? " Tanya Aisha yang hanya memandangnya. Pria itu mencebik kesal, sungguh tidak peka, padahal semua inikan Arthur persembahkan untuknya.
"Ini milik Lia. "
"Milik Lia? Yaampun, ternyata selera Lia sungguh keren! " Arthur menepuk dahinya jengah.
"Tentu saja untukmu! Kau tidak lihat, ini adalah rancangan designer perhiasan ternama dari Paris! Sungguh mengesalkan!" Sungut Arthur.
"I-ini untukku? " Terbata bata.
"Ya! " Balas Arthur singkat. Menyodorkan benda itu pada istrinya.
"Lalu, hanya begitu saja? " Sungguh tidak romantis, padahal di drama yang aku tonton tidak begini.
Mendengar Arthur yang hanya berdehem, membuat Aisha mengerucutkan bibirnya. Tangannya terulur meraih benda itu. Tampak berbinar karena terkena kilauan cahaya lampu. Dengan hati hati Aisha menempelkan kalung itu pada lehernya. Ketika ia hendak mengaitkan kaitan dibelakang, suaminya bangkit dari duduk. Memasangkan kalung berlian itu pada leher istrinya, lalu berjongkok dan memasangkan cincin pada wanitanya.
"Terimakasih.. " Lirih Aisha tersenyum senang. Dia tak menyangka, diberikan sesuatu oleh orang yang dicinta rasanya sangat berbeda.
"Kenapa menangis? Dasar cengeng! " Arthur menatap mata istrinya yang berkaca kaca.
"Ini namanya air mata bahagia! Dasar kau ini!"
Cebik Aisha mengerucutkan bibirnya. Arthur seketika bangkit dan menautkan bibir mereka. Aisha terlonjak kaget, namun ia hanya diam dan tak melakukan perlawanan. Kegiatan itu terus berlanjut hingga tangan pria itu mulai tak terkendali. Dan pada akhirnya makanan yang telah disiapkan dibiarkan terbengkalai. Arthur membawa istrinya menuju kamar.
Menutup pintu dan menguncinya. Langsung saja ia menghempaskan tubuh itu diatas ranjang.
__ADS_1
"Apa kau sudah selesai? " Tanya Arthur seraya mengusap pipi mulus didepannya. Napasnya yang mulai memburu, mata tajam yang sudah berkabut gairah dapat dilihat Aisha dengan jelas. Perempuan itu menganggukan kepalanya perlahan.
Demi apapun, anggukan kecil itu bagaikan angin surga bagi Arthur. Karena ia tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi apabila yang dilihatnya justru adalah gelengan kepala. Mungkin dia akan mandi air dingin seperti di awal awal pernikahan mereka.
Kecupan lembut dilakukan sebagai pembuka. Arthur membenamkan bibirnya pada bibir manis istrinya. Lalu turun dan menciptakan beberapa tanda merah disana. Ia menanggalkan pakaian istrinya. Melepas benang yang masih melekat pada tubuhnya. Arthur mulai melancarkan aksinya. Dan pada akhirnya, suara suara erotis itu memenuhi seisi kamar. Untung saja dia sudah memasang peredam suara. Pria itu mewujudkan perkataannya, melakukannya berulang kali hingga Aisha memohon untuk berhenti. Kini, kegiatannya sudah tak selembut malam pertamanya lagi.
***
Arthur masih terjaga dengan tangan yang menumpu kepala Aisha yang sudah terlelap seusai pergumulan panas mereka. Ia menatap langit langit ruangan. Napasnya masih tak beraturan, dadanya kembang kempis meraup oksigen agar memenuhi paru parunya. Disaat matanya akan terpejam, suara dering ponsel membuat Arthur menjulurkan salah satu tangannya. Meraih benda pipih itu, matanya membulat saat membaca pesan yang masuk. Arthur mengeratkan rahangnya, tangannya terkepal. Ia menaruh kembali benda itu di meja nakas. Bahkan karena ototnya yang menegang membuat Aisha menggeliat tak nyaman. Arthur menetralisir emosinya, mengusap puncak kepala istrinya agar wanita itu kembali tidur.
Aku harus ke Jerman besok!
***
Pagi kembali menyambut manusia. Saatnya beraktivitas seperti biasanya. Aisha tengah memasangkan dasi pada leher suaminya. Sedikit kesal karena Arthur tak memberitahu apa alasannya pergi ke Jerman.
"Kau marah padaku? " Arthur mengusap bibir bawah istrinya yang manyun.
"Hemm.. "
Arthur menghela napasnya, "Gudangku di Jerman terbakar. Aku harus pergi kesana untuk meninjau lokasi. "
"Apa! Siapa yang berbuat seperti itu? Bagaimana bisa dan kapan! " Cecar Aisha.
"Lihatkan! Kalau aku mengatakannya kau pasti akan heboh. " Ujar Arthur seraya mengenakan jasnya.
"Aku pergi. " Arthur akan berlalu, namun langkahnya terhenti kala Aisha mendekapnya.
"Kau segitunya tidak bisa hidup tanpaku hemm? " Perempuan itu hanya diam dan menenggelamkan wajahnya pada tempat yang dirasa nyaman.
"Cepatlah pulang.." Serunya ketika pelukan dramatis itu terlerai. Arthur mengangguk dan mencium kening wanitanya lama. Aisha mengantarkan kepergian suaminya hingga ke pintu utama. Lambaian tangan melepas kepergian suaminya. Rey bahkan juga ikut bersamanya.
***
Terhitung empat hari setelah kepergian suaminya ke Jerman. Lelaki itu terus mengabari walaupun hanya via video call. Namun sejak kemarin, belum ada lagi panggilan telepon atau video call dari suaminya. Membuat Aisha sedikit was was takut terjadi sesuatu. Kini, wanita itu sedang menyetir mobil menuju mansionnya. Hari ini dia pulang agak cepat, hari juga belum terlalu sore.
Saat ia melewati suatu jalan yang sepi. Sebuah mobil mensejajarinya. Aisha sedikit membuka kaca mobil ketika orang itu juga membuka kaca mobilnya.
"Aku ingin bicara! Ini sangat penting! " Wajahnya tak tampak. Ia mengenakan topi dan masker.
Ada ada saja, apa dia salah satu musuh Arthur juga?
Aisha menambah kecepatannya, mengacuhkan perkataan orang itu.
"Aku tidak akan menjahatimu! Aku hanya ingin bicara di cafe, ikuti aku atau kau akan menyesal! " Teriaknya lalu menyalip mobil Aisha.
__ADS_1
"Siapa dia? Bicara sembarangan, apa dia musuh Arthur? Atau musuh ayah?" Aisha bimbang sendiri. Takut kalau ini hanyalah tipu muslihat belaka. Tapi jika mendengar perkataan orang tadi, membuat jiwa keponya bangkit. Lagipula dia mengajak bicara di cafe. Siapa tau memang ada kaitannya dengan Arthur, begitu pikiran Aisha meyakinkan. Akhirnya karena rasa penasaran yang membuncah, ia pun membuntuti mobil itu.
***
"Siapa kau dan ada perlu apa denganku." Berucap datar dan langsung ke inti pembicaraan. Bahkan minuman di depannya ia abaikan. Aisha masih gencar berusaha melihat wajah di balik masker dan topi itu walaupun usahanya sia sia. Mereka kini berada di ruangan privat yang hanya berisi satu meja. Jadi tak ada pengunjung lain yang dapat menguping pembicaraan.
"Minumlah dulu. " Balas lelaki itu.
"Aku tak punya banyak waktu! " Tukas Aisha cepat.
"Baiklah, " Memperbaiki posisi duduknya lalu menyesap secangkir kopi. Meletakannya lagi.
"Aku tau siapa kau. Aku menyelidikimu daridulu, dan aku semakin yakin kalau kau adalah orang yang aku cari. " Kalimat awalnya saja sudah sangat membingungkan. Aisha mengerutkan dahinya heran.
"Namaku Greg. Aku sudah menyelidikimu selama sepuluh tahun terakhir. Aku tau kau itu cerdas. Kau sangat ahli dalam bidang IT, El Taylor... " Ujarnya lagi seraya menaikan salah satu alisnya. Ya, mungkin saja Greg adalah satu satunya yang bisa menyelidiki Aisha tanpa gadis itu sadari. Karena dia adalah penyelidik handal yang sangat tertarik untuk menyelidiki nama yang telah lama menjadi misteri di dunia permafiaan.
Apa dia ini dari Esponder? Batin Aisha dalam hati. Dan apa tadi, 10 tahun terakhir? Berarti dia sudah menyelidikiku sejak aku masih menjalani latihan di mansion daddy.
Aisha tak terkejut akan hal yang satu itu. Karena memang, banyak orang yang mengusut siapa itu El Taylor, siapa itu anak kebanggaan Martin Taylor dan siapa itu anggota ke enam six powers.
"Aku bukan dari Esponder. Aku dari organisasi lain. Kau tenang saja, kami bukan musuh suamimu. Bergabunglah bersama kami, kami membutuhkan kecerdasanmu. Kami butuh hacker yang sepertimu. Kau akan mendapatkan apa yang kau minta. " Seru pria itu dengan percaya diri. Membuat Aisha rasanya ingin tertawa karena kepercayaan dirinya yang melampaui batas. Ayolah, apa dia berpikir Aisha akan membantunya.
"Simpan percaya dirimu, aku masih ada banyak urusan. Lagipula aku tidak membutuhkan apapun yang kau tawarkan padaku. " Aisha sudah mengambil tasnya. Ia mengurungkan niatnya yang akan beranjak.
"Aku memiliki satu rahasia Pither. Apa itu tidak penting? " Aisha menajamkan tatapannya ketika mendengar nama itu disebut.
Rahasia?. Seketika ingatan saat ia menyamar untuk mengelabuhi Kicak berputar di kepalanya. Saat pria itu tak sadar, ia sempat mengatakan kalau Pither menyimpan sebuah rahasia.
"Apa? " Desak Aisha.
"Aku akan mengatakannya kalau kau mau bergabung denganku! "
"Tidak! Aku tidak mudah percaya pada orang. Lagipula dia sudah tiada. " Aisha beranjak dari duduknya. Berlalu meninggalkan pria itu.
"Ini tentang sepupu dari suamimu! " Seru pria itu lagi. Ia ikut bangkit dan berdiri di depan Aisha.
"Dengar! Kalau kau adalah mafia sejati, maka akuilah identitasmu yang sebenarnya. Jangan jadi pengecut! Berhentilah menjelma sebagai tikus dan bersembunyi di balik punggung suamimu. Lagipula untuk apa menyembunyikan jati diri. Melindungi diri sendiri? Cih! Dengan kau menutupi identitasmu apa musuh akan berkurang! Sama saja kan, dengan berbuat demikian, itu hanya menunjukan kalau kau adalah seorang pecundang sejati! "
Aisha menajamkan matanya pada pria itu. Namun ia tak menampik bahwa apa yang dikatakannya itu memang benar. Alasan pertama dia menutupi jati diri dibalik wajah manisnya adalah karena keposesifan Johan. Ayah dari enam anak itu khawatir apabila bakat putri kesayangannya diketahui orang, maka dia akan dimanfaatkan. Ya, Aisha memiliki berbagai bakat luar biasa sejak kecil. Kemampuan memanah yang telah mahir saat ia berusia 8 tahun. Kecerdasan otak yang cepat menangkap pelajaran. Kemampuan IT yang sangat mumpuni. Sedangkan yang lainnya ia pelajari ketika masa pelatihannya dengan Mr. Taylor di Chicago. Namun dibalik kelebihan pasti ada kekurangan, tidak ada manusia yang sempurna. Dan salah satu kekurangannya yang hanya sedikit yang tahu adalah, fobia kegelapan.
"Aku tinggal di apartemen XXX, terima tawaranku dan kau akan mengetahui sesuatu yang sangat membuatmu penasaran. " Tukasnya lalu melenggang pergi meninggalkan Aisha.
Sepupu Arthur? apa artinya anak aunty Rania?
Bersambung...
__ADS_1
Mungkin memang terlalu bertele tele ya. Sebenarnya aku itu pengennya Arthur dan Aisha punya misi bersama dulu. Baru setelah itu konflik utama muncul. ☺
Oh ya mau tanya, apakah kalian juga mendapat notifikasi palsu kek aku? Jadi, novel yang aku tambah favorite itu sering muncul notif up. Tapi giliran dicek gak ada. Jadi bingung 🤔