Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 35


__ADS_3

Ting, tong


Bunyi bel rumah berbunyi berkali kali. Jack datang dengan membawa sebuah buku di tangan. Titipan dari Johan yang terlupa saat kemarin Aisha meninggalkan rumahnya.


Dan entah kebetulan atau memang takdir, lagi - lagi yang membuka pintu adalah pelayan Lia. Lia yang masih berdiri disana sudah menerka nerka siapa pria dengan tampang menyeramkan di depannya.


Apa ini yang namanya Simmba? Ah sepertinya iya. Soalnya lihat saja tampangnya itu, Menyeramkan! Kalau tuan Leo tadi sih tampannya tak terbantahkan. Tapi ini.. mirip singa.


"Ada apa ya tuan? " Tanya Lia. Melirik sebentar pada Jack, lalu kembali menundukan kepala.


"Panggilan nona Aisha! " Perintah Jack dingin. Tidak ada keramahan tamahan dalam bertamu. Wajahnya tetap datar sedatar dinding rumah.


Tuh kan benar, ini sahabat nona yang satu lagi.


"Tunggu apa lagi! " Nadanya sudah setengah tinggi. Saking tidak ada waktu untuk berlama lama.


Lia sampai terlonjak kaget " Ba-baik, saya akan panggilkan dulu. Silahkan duduk tuan Simmba " Ujar Lia lalu berbalik hendak mencari nonanya. Mengatakan bahwa sahabatnya yang bernama Simmba telah tiba.


Sedangkan Jack, tak terlalu ambil pusing dengan panggilan si pelayan. Hidupnya lurus selurus jalan tol tanpa peduli urusan orang lain. Pria berkepala plontos itu masih setia berdiri diambang pintu.


Sementara itu Lia tengah kebingungan mencari sang nona baru mansion ini. Dicarinya Aisha di kamar, tapi tidak ada. Didapur, ruangan keluarga, meja makan sampai ruang gym juga tak tampak batang hidungnya. Kegelisahan membuncah pada hati si pelayan, takut jika tuan Simmba tadi mengamuk padanya karena kelamaan.


"Nona " Gumamnya lirih, saat melihat nona Aisha tengah duduk cantik di bangku taman. Ia bergegas menghampiri, tak menghiraukan ocehan para pelayan yang bertanya ada apa.


"Nona, ternyata nona ada disini? " Kata Lia dengan napas memburu.


"Ada apa Lia? " Tanya Aisha heran.


"Nona, nona diluar ada tuan Simmba. Ingin menemui nona " Masih terengah engah.


"Tuan Simmba? " Sedikit aneh dengan kata tuan. "Maksudmu Simmba? Simmba sahabatku, jadi dia sudah datang. " Girang.


"Iya nona, dia menunggu nona diluar "


"Baiklah Lia, kau siapkan daging ya. Simmba pasti belum makan, diakan sangat suka daging " Sudah beranjak dari duduk.


"Baik nona, saya akan memasaknya " Kebetulan hari ini tidak ada yang memasak daging. Jadi kalau tuan Simmba suka daging, maka dia harus memasak dahulu.


"Apa? Tidak usah dimasak Lia, bawakan daging mentah. " Berbalik sebentar saat mendengar kata kata Lia. "Oh ya Lia, apa Leo juga datang bersama Simmba. Ah bagaimana aku ini, dia juga pasti sudah datangkan, mereka itukan sepaket. Yasudah, pokoknya siapkan daging mentah ya " Lalu melenggang pergi meninggalkan Lia dengan seribu tanda tanya di kepala. Apakah Tuan tadi kanibal atau makhluk karnivora.


Apakah masih ada manusia yang makan daging mentah di peradaban modern seperti sekarang?.


Lia tenggelam dalam kubangan kesalahpahaman.


"Jack, kau datang? Apa kamu datang bersama singa - singaku? " Menghampiri Jack yang masih mematung di pintu. Tidak ada niatan masuk.


"Masuklah Jack "


"Tidak nona, saya disini saja. Perihal peliharaan nona, masih dalam perjalanan kemari. Saya kesini hanya untuk menyerahkan ini " Langsung ke inti pembicaraan. Menyodorkan sebuah buku diary dengan berbagai pernak pernik di sampulnya.

__ADS_1


"Ini, buku diaryku " Bagaimana bisa lupa, rasanya hari - hari akan kurang jika tidak mencurahkan isi hati dalam tulisan.


"Benar nona, saya juga membawa pesan penting dari tuan Johan " Jack merogoh sakunya, mengambil sepucuk kertas catatan dengan tulisan tangan Johan.


"Ini, titipan dari tuan Johan. Bakarlah setelah dibaca " Menyerahkan surat itu. Lalu membelai korek api juga.


"Yaampun Jack, ini zaman kapan. Dunia digital canggih seperti ini kenapa tidai dimanfaatkan coba. Kau pikir ini zaman penjajahan? " Terus mengomel, namun ia tetap membuka dan membacanya.


Anakku, semoga kau baik baik saja disana. Jika pria sakit jiwa itu melukaimu, telfon ayah secepatnya ya.


Ayah menuliskan ini dalam kertas agar tidak diketahui siapapun. Bakarlah kertas ini selepas kau membacanya.


Tidak tahu Arthur itu pria jahat atau baik. Dia bukan musuh tapi belum tentu sahabat kita. Bisa jadi dia hanya meminta bantuan, lalu nanti akan berbalik menyerang kita. Sementara ini, jagalah rahasiamu darinya. Tutup rapatlah identitasmu. Ayah menyarankan ini semata hanya demi keselamatan mu disana.


Jagalah dirimu sendiri.


Ayah Johan ❤


"Yaampun ayah, kau sampai sekhawatir ini padaku " Terselip butiran kristal bening di pelupuk mata. Terharu karena kasih sayang yang dia dapat.


"Terimakasih Jack "


Jack hanya mengangguk " Sama sama nona, boleh saya minta kertasnya? "


"Tidak bisakah aku simpan? "


"Tidak " Menjawab singkat.


"Saya permisi nona " Pamit undur diri. Aisha hanya mengangguk, masih sebal karena sikap Jack yang kaku padanya.


Padahal dulu saat aku kecil Jack begitu hangat padaku.


Sikap Jack padanya beralih 180 derajat saat Aisha memasuki tahap remaja. Mulai tidak bisa diajak bercanda seperti saat dia masih kanak kanak dulu. Mungkin karena Jack sadar siapa posisinya.


Sedangkan Lia baru saja datang dari arah dapur. Membawa nampan berisikan daging mentah seperti perintah nona.


"Nona, mana tuan Simmba? Saya sudah membawa daging nya. " Celingak celinguk menatap kearah pintu. Mendeteksi keberadaan pria menyeramkan tadi.


"Oh, dia belum datang ternyata. Kau bilang sudah datang tadi, tapi tidak ada tuh " Lalu melangkah meninggalkan pelayan itu.


"Hahaha Lia, jadi kau pikir kak Yudhi dan Jack itu adalah Leo dan Simmba? " Aisha tergelak hingga memegang perutnya yang geli. Kini mereka tengah duduk bersama di bangku taman.


"Maaf nona, saya lancang berspekulasi seperti itu " Merasa tidak enak hati. Bagaimana mungkin dia mengira kakak dan asisten kakaknya nona adalah Leo dan Simmba. Yang jelas jelas adalah seekor singa peliharaan nona.


Kesalahpahaman terluruskan ketika Lia dengan segenap nyali yang dia punya, memberanikan diri bertanya pada Aisha.


"Tidak papa Lia, aku paham. Lagipula aku yang salah padamu karena tidak menguraikan dengan rinci " Menepuk bahu Lia, namun gelak tawa masih ada dalam ucapannya.


"Maaf nona "

__ADS_1


"Sudahlah, tidak papa. Aku mengerti keadaanmu. Oh ya Lia, apakah para penjaga selalu berdiri disana 24 jam? "


"Tidak nona, mereka akan berganti sift saat tepat jam 12 siang. Namun karena beberapa pengawal masih ada di Amerika, jadi tidak banyak yang berjaga " Seru Lia.


"Oh yasudah, kalau begitu aku pergi ke kamar dulu ya " Menepuk bahu pelayan itu sekali lagi. Lalu beranjak dari duduk, melangkah meninggalkan Lia sendiri disana.


Jam menunjukan pukul sembilan pagi, Arthur yang masih setia berkutat dengan laptop rasanya tidak ada lelahnya. Setiap hari kegiatan yang dia lakukan hanya bekerja, bekerja dan mengatur Regdator. Hidup yang membosankan.


"Arthur, apa kau memesan singa? " Rey yang baru saja datang langsung bertanya.


"Tidak " Menjawab singkat.


"Lalu kenapa didepan ada dua singa? "


Arthur menoleh sejenak, mengerutkan dahinya " Aku tidak memesan apapun Rey, jangan membual lagi "


"Kalau tidak percaya lihat saja sendiri! " Teriak Reynard kesal, lalu berlalu dari hadapan Arthur.


Karena rasa penasaran, akhirnya dia mengikuti langkah kaki sekretaris nya.


Sampai pada halaman mansion, Arthur dan Reynard terpaku disana, ketika melihat Aisha yang tengah mengelus kepala Leo dan Simmba bergantian.


Rasa panik yang entah datang darimana, membuat Arthur berlari menghampiri istrinya. Menyembunyikan nya dibelakang punggung kekarnya.


"Kau sudah gila ya! Apa yang kau lakukan disini? " Sentak Arthur marah. Sudah gila apa bermain dengan singa, pikirnya.


"Kau yang gila, minggir sana. " Sudah akan mendekati Leo.


"Diam! Siapa yang membawa singa ini kemari? "


"Mereka sahabatku Arthur " Melengos menghadap arah lain. Sambil bersedekap dada karena tingkah aneh suaminya.


"Apa, sahabat!! " Teriak Arthur dan Rey bersamaan. Dengan nada meninggi karena terkejut.


"Iya, kenapa memang? Mereka bahkan lebih baik dan lebih tampan daripada kalian " Jawaban yang terdengar santai. Seperti mengatakan apa salahnya yang aku lakukan.


Arthur masih terdiam, anggapannya tentang gadis ini mulai berubah. Ternyata benar yang dikatakan Reynard, jangan melihat orang dari penampilannya saja.


Reynard juga terkejut, namun lain dengan Arthur. Dia menganggap perempuan ini gila tapi luar biasa. Pria itu berbisik di dekat telinga bosnya " Bos, istrimu sakit jiwa, tapi kelakuannya itu fantastis. Kau beruntung memilikinya " Ujar Reynard sambil terkekeh geli.


"Diam kau! "


Bagaimana mungkin gadis manja seperti dia memelihara singa.


Arthut tidak habis pikir. Biasanya para warga akan menyukai kucing atau kelinci. Baru kali ini dia berjumpa perempuan aneh macam istrinya.


"Hey Arthur, ternyata ada dua kucing lagi " Tunjuk Reynard pada dua kucing yang baru dikeluarkan dari mobil box.


"Pushy, Sugar! " Teriak Aisha girang. Langsung berlari mengambil dua binatang lucunya yang masih berada dalam kandang.

__ADS_1


Syukurlah dia masih waras. Setidaknya bukan hanya karnivora ini yang dia pelihara. Batin Arthur dan Reynard bersamaan.


Bersambung...


__ADS_2