
Aisha duduk termenung di meja paling pojok di kantin. Sengaja menyudutkan dirinya agar terhindar dari tatapan orang - orang. Tapi tetap saja ada berpasang - pasang mata yang melirik atau terang - terangan menatapnya. Wajar saja, dia baru menolak mentah - mentah ungkapan cinta yang diutarakan salah satu pemuda yang dicap tampan di kampus ini. Ada yang menatapnya bangga, sinis, atau biasa saja karena sikap individualis mereka.
Tapi wanita itu tak terlalu ambil pusing. Ia begitu menikmati dengan lahap seporsi besar kue keju dan segelas minuman favoritnya. Makan dengan sangat lahap sampai orang menatap aneh padanya. Seperti tidak makan setahun saja, gumam orang - orang yang tanpa sengaja melihat.
"Kau makan sebanyak itu Sha?" Tegur salah satu mahasiswi sekelasnya. Hubungan mereka tak terlalu akrab, tapi kali ini perempuan bernama Caleey itu begitu tertarik menyapanya.
"Iya, memangnya kenapa?" Jawabnya yang tak terlalu jelas karena masih mengunyah sepotong kue dalam mulutnya. Caleey menggelengkan kepalanya dan hendak beranjak dari sana.
"Caleey, apa kau melihat Myara? " Tanya Aisha sejenak sebelum perempuan itu meninggalkannya. Hari ini sungguh sangat aneh, pagi tadi Myara berangkat ke kampus bersama Reynard. Ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Tapi sedari tadi ia tak melihat Myara. Jangan tanya kenapa tidak menelponnya saja, karena ponsel Myara tak aktif dari tadi. Biasanya sedikit situasi yang mencurigakan ia akan sigap mengusut tuntas, tapi kali ini ia sangat malas. Mungkin saja Myara bersama Rey atau ke rumah ayahnya.
"Aku tidak tahu." Balasnya singkat lalu berbalik darisana "Eh tapi... "Caleey kembali menghadap Aisha. "Tadi pagi aku melihatnya di parkiran bersama seorang pria. " Ujarnya sebelum benar - benar pergi darisana.
Kerutan di kening Aisha berangsur menjadi dalam. Ia sedang mencerna kata - kata wanita tadi seraya mengunyah kuenya. Tangannya terulur mengambil kue lagi. Menyesap segelas minuman. Bertopang dagu dan berpikir lagi. Ah, kenapa otaknya agak kurang lancar hari ini. Mungkinkah otak cerdasnya sedang berdemo karena terlalu keras kerja menggarap skripsi. Entahlah.
***
Jam menunjukan pukul 17.00. Setelah seharian mendedikasikan diri di kampus, menyelesaikan segala urusan yang telah dijadwalkan. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan. Aisha merasa sangat letih. Punggung tangannya mengusap peluh yang tersisa akibat kegiatan di aula tadi. Seharian ini ia disibukan dengan berbagai macam kegiatan, bertemu banyak orang dari berbagai fakultas. File - file dan kertas menumpuk di tas harus dikerjakan secepatnya. Saking padatnya kegiatan, perempuan itu bahkan sampai lupa mengecek ponselnya yang dalam mode silent.
Kini ia turun menggunakan lift menuju lantai dasar. Waktunya pulang dan melepaskan lelah diatas ranjang. Aisha berjalan menyusuri koridor kampus, sampai di lobi dan akan keluar dari bangunan itu.
Langkah kakinya melambat ketika tiba di parkiran, rencananya Arthur akan menjemputnya. Tapi baru saja ia mengecek chat yang dikirimkan padanya pukul dua siang tadi. Bahwa suaminya itu akan ada meeting penting yang kemungkinan akan selesai hingga larut.
Jadilah dia disuruh pulang sendiri.
Dan disinilah dia sekarang, di dalam sebuah taksi yang dikemudikan seorang pria. Matanya menatap deretan gedung pencakar langit kota New York yang tinggi menjulang.
Aisha ingin segera tiba di mansion sekarang. Ia tak menampik bahwa perutnya sungguh sangat lapar. Membutuhkan asupan agar dapat melakukan kegiatan selanjutnya.
Satu notifikasi pesan yang masuk menginterupsi Aisha. Tangannya menjulur meraih benda pipih itu dari dalam tas. Mengetikan password yang dipasangnya. Membuka satu pesan yang masuk.
Sontak kedua matanya membulat melihat apa yang baru saja dikirimkan padanya.
Myara!
__ADS_1
Dapat ia lihat dengan jelas Myara yang tengah diikat pada sebuah kursi disana. Ada satu lampu bohlam tak terlalu terang diatas nya. Wajah wanita itu samar- samar terlihat sangat ketakutan. Sekarang Aisha tahu kenapa seharian ini dia tak melihat Myara. Kenapa ponselnya tidak aktif. Ternyata ini alasannya. Ah kenapa dia begitu bodoh hari ini, seharusnya tadi ia langsung mencari tahu tentang Myara. Kebetulan tadi ponsel Rey juga tidak aktif, apakah pria itu juga dalam bahaya?
"Ya Tuhan, bagaimana ini!" Aisha panik. Tak lama kemudian satu pesan masuk memberikan alamat sebuah apartemen.
Dibawahnya ada satu pesan lagi.
Datang ke alamat itu dalam waktu 10 menit atau sahabat mu akan celaka!
"Gila apa! Hanya 10 menit! Alamatnya kan lumayan jauh darisini!" Buru buru Aisha memberikan alamat baru tadi pada sopir taksi. Ia tak ingin membuang waktu karena nyawa Myara taruhannya."Cepat! Dalam 10 menit kita harus sampai disana!" Perintahnya tegas dan dengan nada tinggi. Pria itu hanya mengangguk cepat mengiyakan. Cepat cepat ia menginjak gas karena penumpangnya sudah berteriak daritadi.
"Ayolah angkat.. " Aisha tak henti hentinya menghubungi Arthur. Tapi panggilannya tak terjawab. Berkali kali ia menghubungi Reynard tapi hal yang lebih parah terjadi. Ponsel pria itu masih belum aktif.
Dalam kekalutan dan kegentingan yang luar biasa seperti ini, otaknya hanya memberikan satu solusi. Bergegas sampai di lokasi yang menjadi tujuan.
***
Sepuluh menit adalah waktu yang sangat singkat untuk sampai kemari. Aisha keluar tergesa gesa, kakinya berlari memasuki bangunan apartemen itu.
Dengan napas tersengal ia menuju tempat yang dimaksud.
Tanpa aba aba apapun dia masuk.
"Myara!Kau dimana!" Teriak Aisha putus asa. Napasnya masih tak beraturan. Memandang sekeliling bangunan yang tampak tak berpenghuni. Ia sudah tak memerhatikan interior mewah maupun foto - foto si pemilik rumah. Sepanjang kakinya melangkah kedalam, ia hanya berteriak memanggil nama Myara. Mengecek sekali lagi apakah alamat ini sudah benar. Mungkin saja kan karena saking paniknya ia salah memasuki apartemen. Tapi nyatanya tempat yang ia datangi sudah sesuai dengan apa yang tertera.
"Myara! Kau dimana??! " Aisha tak peduli apakah ada musuh atau tidak. Dibukanya pintu pintu kamar dan menelusuri ruangan yang ada.
Bugh! Satu pukulan benda keras pada tengkuknya. Aisha jatuh pingsan tanpa sempat menengok ke belakang.
......πΏπΏπΏ......
...Anderson Groub...
Hari ini jadwal kedua sahabat sekaligus partner kerja itu sangat padat. Banyak pertemuan dengan klien - klien luar negeri yang wajib di datangi demi kelangsungan proyek yang tengah ditekuni. Beberapa rapat bahkan sampai memakan waktu berjam jam. Membahas proyek kerjasama antara perusahaan Arthur dengan perusahaan raksasa asal Eropa.
__ADS_1
Tender kali ini ia memenangkannya, tentunya berkat kerja keras seluruh tim Andersoun Groub yang tak diragukan lagi potensinya.
Selesai meeting dengan klien asal Eropa. Arthur masih harus menandatangi salah satu berkas yang dibawa sekretaris nya.
"Ini sudah! " Arthur menyodorkan berkas yang sudah mendapat coretan tanda tangan. Langsung diterima Rey dengan cepat. Helaan napas lelah bos nya mengurungkan Rey yang hendak beranjak dari sana.
"Kau lelah? " Tanya Rey datar.
"Sudah tahu kenapa bertanya!" Balas Arthur tak kalah ketus.
Rey hanya mencebikan bibirnya kesal, ia juga sangat lelah kali ini. "Kalau lelah yang cepat pulanglah! Temui istrimu dan lepaskan rasa penatmu!" Rey tertawa ringan.
"Jangan berlagak kau Rey! Bisa bisanya menasihati ku sedangkan kau sendiri belum pernah melakukannya! Aku ragu kalau kau masih jantan." Kini Arthur yang meledeknya. Ia tahu benar, hubungan rumah tangga sahabatnya tidak sedekat itu hingga sampai pada hubungan suami istri.
Terlihat jelas dari wajah Reynard.
"Hubungi istrimu kalau berani!"
"Sialan kau! " Rey meraba ponsel pada saku jasnya. "Sialnya lagi aku lupa mengaktifkan ponselku. Baiklah, aku pulang dulu. Hari ini aku sepertinya akan menginap dirumah mertuaku. Karena gadis itu berkata ayahnya menyuruh ku kesana."
"Hemm.. pergilah! Mengganggu saja!" Mengibaskan tangannya.
Selepas kepergian Reynard. Arthur menyandarkan kepalanya sejenak pada kursi kebesaran nya. Memijat pangkal hidungnya yang pegal karena seharian ini.
Suara dering ponsel menyita perhatian Arthur.
Ia meraih benda itu dan membuka satu pesan notifikasi yang masuk.
Seketika itu juga mata Arthur mendelik menahan amarah. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal sempurna melihat sebuah foto yang ia terima.
Bersambung...
Akhir - akhir ini jarang up karena dari pagi sampai sore kegiatanku sudah mulai normal. Malam hari pastinya lelah dan butuh istirahat.
__ADS_1
Tapi tetap berusaha menulis walau sedikit.
Tapi, belakangan ini kepalaku selalu sakit kalau tidur diatas jam 10 malam π