Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 80


__ADS_3

Aisha sedang duduk cantik di sebuah kursi yang berhadapan langsung dengan taman. Ditemani dua kucing manisnya yang sedang bermain kejar kejaran. Matanya tanpa sengaja menangkap sosok perempuan yang familiar di matanya.


Aku tahu itu bukan Lia. Karena Aisha sudah menyembunyikan Lia di tempat yang aman. Lely nampak terburu buru, karena ada beberapa barangnya yang tertinggal, ia terpaksa kembali kemari. Dan sekarang, ia harus segera meninggalkan tempat ini secepatnya.


"Lia! " Panggil Aisha seraya melambaikan tangannya. Lely menoleh, mengernyit heran tapi kakinya tetap melangkah mendekati Aisha.


"Ada apa nona? " Tanya Lely seraya menatap mata Aisha.


Dia memang bukan Lia, Lia selalu menunduk saat bersitatap denganku.


"Bisa ambilkan aku eskrim? Aku sangat ingin memakannya. " Seru Aisha memasang wajah manisnya.


"Tapi bukankah ini masih musim dingin nona? Udara disini juga dingin? Kenapa nona tidak masuk kedalam? " Lely berucap datar seraya melirik Aisha yang juga mengenakan jaket sepertinya.


"Ah ya, aku hanya sedang menikmati udara dingin disini. " Seru Aisha. "Kau ini seperti baru bertemu denganku saja. Kau kan tahu aku, aku tetap makan eskrim walaupun sedang musim dingin. " Aisha beranjak dari duduknya. "Aku akan ke kamar. Ambilkan aku eskrim dan bawa ke kamarku ya? "


"Baik nona. " Mengangguk hormat walaupun dalam hati ia mengumpat. Lely tak pernah diperlakukan sebagai pembantu, menjadi mafia dengan bertaruh nyawa lebih bermartabat baginya daripada menjadi pelayan.


***


Ketukan pintu yang terdengar membuat Aisha yang tengah membaca menghentikan aktivitasnya. Pintu terbuka setelah terdengar sahutan dari dalam. Lely menutup pintu perlahan, berjalan mendekati sang nona yang tampak menyandarkan punggungnya ke sofa.


"Ini yang anda minta nona. " Lely memberikan eskrim yang ia bawa. Aisha menerimanya dengan senyuman merekah.


"Wahh! Terimakasih Lia, kau memang paling tahu apa yang aku sukai. " Lely hanya mengangguk. Ia berbalik badan hendak pergi darisana secepatnya. Aisha beranjak pelan namun dengan gerakan secepat kilat. Memiting kedua tangannya dengan cekatan. Tak lupa ia melingkarkan salah satu tangannya ke leher Lely.

__ADS_1


"Karena kebodohannya, rusa berkeliaran di kandang singa! " Seru Aisha penuh intimidasi.


"Bagaimana kau --"


"Ya, karena aku sedang baik, maka akan kuberi tahu. Kau memang saudara Lia, tapi sifat kalian sangatlah berbeda. Mungkin seperti mutiara dan kerikil. Kalau kau Lia, maka kau tidak akan memberikanku eskrim rasa stroberi. Karena Lia sangat hafal, kalau aku selalu mual ketika makan eskrim stroberi. Dan ya, Lia selalu menunduk saat menatap mataku. " Ujar Aisha. Sadar dia sudah tertangkap basah, Lely mulai memutar otak. Dengan sangat keras, ia menginjak kaki Aisha. Membuat si empunya mengaduh kesakitan dan reflek melepaskan pitingan tangannya.


Lely tak menyiakan peluang itu, ia berlari menuju pintu. Namun sepertinya nasibnya kali ini benar benar sial, sebab Arthur sudah menghadang jalan seraya menodongkan pistolnya. Diikuti Rey dibelakang yang juga berbuat hal yang sama.


Arthur mempercepat langkahnya mendekati istrinya, memegang bahunya khawatir, "Kau tidak papa? Apa kau terluka? " Seru Arthur khawatir.


Aisha menggeleng. "Aku tidak papa "


"Diam kau! " Bentak Rey pada Lely yang memberontak saat tangannya ia piting.


"Cih! Aku tidak takut mati! " Rey menarik tangannya dan membawanya menuju ruang introgasi. Rania dan Myara yang turut mendengar kebisinganpun bergegas menuju kamar Aisha. Dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Rey menyeret perempuan yang amat mirip dengan Lia.


"Ada apa ini? " Rania bertanya dengan bingung. Arthur menghampiri wanita itu, menyentuh bahunya dan mulai menjelaskan segalanya secara singkat.


"Jadi, aunty tenang saja. Aku akan mengurus semuanya. " Arthur hendak mengikuti Rey.


"Arthur, aku ikut! " Sahut Aisha tak mau ketinggalan. Arthur hendak menolaknya, namun melihat tatapan memelas istrinya, membuatnya tak tega dan akhirnya mengangguk setuju.


Myara yang belum memahami lika liku kerumitan hidup keluarga ini, hanya menatap sekeliling dengan seribu tanda tanya di kepala. Bahkan Myara tak tahu menahu tentang organisasi Regdator maupun apapun tentang dunia mafia.


"Tenang saja, lama kelamaan kau akan mengerti siklus hidup yang penuh keseruan di keluarga ini. " Rania terkekeh kecil, walaupun dia bukan mafia, tapi segala sesuatu tentang mafia sudah bagaikan makanan setiap hari baginya.

__ADS_1


***


Lely dibawa ke ruangan yang sebelumnya digunakan Lia selama proses introgasi. Beberapa anak buah Arthur menanyakan pertanyaan padanya. Proses ini bahkan sampai memakan waktu hingga lebih dari satu jam lebih. Karena Lely yang tetap bungkam walaupun sudah disiksa. Di ruangan itu juga ada Arthur, Aisha dan Rey.


"Aku tidak akan mengatakan apapun walaupun kau membunuhku! " Seru Lely. Rupanya dia adalah orang yang sangat menjunjung tinggi kesetiaan. Apalagi jika mengingat jasa Pither padanya, jika tidak ada dia, mungkin Lely hanya akan menjadi gelandangan sekarang. Rela mati demi tuan muda, itulah prinsipnya.


Melihat keras kepalanya Lely, membuat Aisha iba. Ia dan semuanya sudah mengetahui masa lalu Lely yang kelam. Wajar saja jika gadis itu menjadi liar seperti saat ini, karena dari kecil yang ia dapatkan bukanlah kasih sayang, tetapi latihan fisik dan mental yang sangat keras hingga membuatnya menjadi berkepala batu.


"Lely, lihatlah siapa yang datang... " Aisha berucap lembut. Lely menatap nyalang padanya, namun ketika ia menoleh kearah pintu, dia melihat wajahnya sendiri. Lia datang dengan langkah perlahan. Antara senang dan juga takut setelah tahu siapa saudari nya yang sebenarnya.


Kini keduanya saling bertatap muka, mengamat dalam dalam satu sama lain. Lia yang merasa begitu terharu karena baru kali ini bertemu kembarannya, ingin sekali rasanya dia memeluk Lely. Sedangkan Lely, dia hanya melengos kearah lain, sembari berusaha mengendorkan kedua tangan dan kakinya yang diikat di kursi. Matanya mendelik ketika tiba tiba Lia memeluknya erat.


"Lepaskan aku! Aku sangat membencimu!" Ujarnya dengan nada tinggi.


"Tidak masalah jika kau membenciku, aku hanya ingin memelukmu saja. " Lia tak bergeming.


Arthur bangkit berdiri, menghampiri kedua manusia yang sedang berpelukan itu.


"Sementara kau akan berada dalam tahananku. Tapi jika kau mau membuka mulutmu, maka kau akan mendapat toleransi." Seru Arthur lalu menggandeng istrinya keluar darisana. Lia hanya menelan ludahnya, sebenarnya ia merasa kasihan, tapi bagaimanapun juga Lely memang bersalah.


Bersambung...


Tinggal beberapa episode lagi, sebuah rahasia akan terbongkar ☺


Maaf kalau aku mungkin tidak seperti penulis lain yang update teratur dan banyak. Slur ceritanya memang mengalir lambat🍃. Mungkin beberapa orang tidak suka karena terlalu bertele tele. Tapi guys, aku benar benar kesusahan jika harus meringkas alur yang terlanjur melekat di otakku. 🙏

__ADS_1


__ADS_2