Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 87


__ADS_3

New York, Amerika


"Putriku.. di-dia adalah putriku? " Rania ternganga seraya menutup mulutnya. Matanya membelalak terkejut, hampir saja dia akan pingsan disini. Anak kecil nya, yang dikabarkan telah tiada beberapa tahun silam, ternyata masih ada di depannya sekarang. Bahkan dia sangat cantik dan menggemaskan


"Dia adalah mommy mu. Apa kau lupa?" Ujar Arthur.


"Mom?" Sudah lama sekali Anna tidak mengucapkan kata itu. Begitupun Rania yang seketika banjir air mata, mendengar panggilan yang telah lama tidak ia dengarkan.


"Ya sayang.. " Wanita itu merengkuh tubuh putrinya erat. Menyalurkan segala kerinduan yang terpendam. Rania berharap ini bukan mimpi, tidak tahu akan sesedih apa dia kalau ternyata ini semua adalah mimipinya belaka.


Ia tak ingin bertanya sebab akibat, Rania hanya ingin mendekap putrinya saja. Perihal keterangan, itu bisa dibicarakan nanti.


Setelah cukup lama saling melepas rindu di ruang tamu, Anna dibawa menuju kamar yang telah ia siapkan. Matanya berpendar memindai seisi bangunan. Sungguh mansion yang megah, seingatnya ini bukanlah mansion yang ditempatinya dulu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seminggu berlalu dengan cepatnya, tak terasa Anna sudah melewati beberapa hari di mansion ini. Rasanya sangat bebas, setelah sekian tahun ia hanya duduk berdiam di dalam kamar, akhirnya kini dia dapat merasakan segarnya udara luar.


"Kenapa kau tersenyum senyum sendiri?" Tegur Arthur yang ketika memergoki istrinya tersenyum seraya menatap Anna dan seorang psikolog disana.


Aisha menoleh pada suaminya. "Tidak ada, aku hanya kagum pada Anna. Dia terkurung bertahun tahun, tapi kondisi fisik dan mentalnya sangat baik. Dia tampak ceria dan tidak ada beban. Sedangakan aku, hanya karena satu tragedi saja aku sampai mengalami trauma hingga sekarang. " Seru Aisha diiringi dengan hembusan napas kesalnya. Tidak tahu mengapa, sangat susah menghilangkan fobia gelap yang dideritanya.


"Itu bukanlah salahmu. Itu juga bukan maumu kan? Kau tenang saja, kita akan bersama sama berusaha menyembuhkan trauma mu." Ucap Arthur seraya mengelus puncak kepala sang istri.


"Tidak perlu, mungkin ini memang kekuranganku. Tidak usah bersusah payah untukku Arthur."


"Ada banyak orang jahat diluar sana, aku tidak ingin kekuranganmu dijadikan sasaran empuk bagi mereka untuk menyakitimu. Lagipula apa salahnya mencoba? " Perkataan suaminya membuat Aisha mengangguk menyetujui. Tidak ada salahnya berusaha.


"Baiklah aku akan ke kantor, aku akan mengantarmu ke kampus dulu. " Aisha mengangguk. Mereka berdua berjalan beriringan memasuki kendaran. Melesat membelah jalanan menuju tempat yang menjadi tujuan.

__ADS_1


...🌿🌿🌿...


"Hai! Boleh aku duduk disini? " Aisha yang tengah menyesap minumannya mendongak, menatap pada pria yang baru saja duduk di depannya bahkan sebelum ia mengizinkan.


"Bi-billy? " Bagaimana pria ini bisa berada di kampus ini? Pertanyaan itu berputar di kepalanya.


"Yap! Aku yakin kau tidak akan melupakanku."Sahut Billy dengan senyum jenakanya.


"Bagaimana kau bisa berada disini? Dan, sedang apa?" Cecar Aisha masih terkejut.


"Come on Sha, ini adalah universitas. Aku tentu saja sedang mencari pendidikan disini. Memangnya kau pikir aku sedang apa? "


Billy menaikan satu alisnya seraya tertawa ringan.


"Oh.. "


"Hanya oh saja, kau tidak bertanya kenapa aku pindah ke univ ini? " Seru Billy. Padahal tadinya ia sangat berharap gadis di depannya akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Tapi dari dulu dia memang tidak berubah, selalu dingin padanya. Padahal dengan lelaki lain biasa saja.


" Itu bukan urusanku Bil, kau mau kuliah ataupun bekerja. Tidak ada ikatan yang membuatku harus penasaran dengan hidupmu. " Nada bicaranya datar. Namun justru inilah yang membuat Billy merasa tertantang untuk mendekatinya.


"Kenapa kau itu begitu ketus denganku? Ayolah, jangan negative thinking padaku. Aku hanya ingin berteman saja, aku anak baru disini dan aku tidak mengenal siapa pun selain dirimu. " Seru Billy.


"Emm... aku harus segera pulang." Aisha beranjak dari duduknya.


"Biar aku antar, aku tahu kau tidak bawa mobil." Tawar Billy yang sudah ikut beranjak dari duduknya.


"Tidak perlu, aku akan menelpon suamiku agar dia menjemputku. " Aisha melenggang pergi meninggalkan Billy sendiri.


Pria itu menyeringai misterius.


Aku akan mendapatkan mu. Aku yang lebih dulu mengenalmu dibandingkan pria itu.

__ADS_1


***


"Kenapa ponselnya mati?" Aisha berulang kali berusaha menghubungi ponsel milik suaminya. Tapi ponsel pria itu tidak aktif, padahal tadinya dia sudah berjanji akan menjemputnya.


"Apa Arthur sedang ada rapat atau meeting sehingga dia lupa menjemputku? " Aisha bermonolog sendiri.


"Biar aku antar!" Billy keluar dari mobilnya dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Melangkah mendekati Aisha bermaksud menawarkan tumpangan.


"Tidak usah Bil, aku akan mencari taksi saja" Balas Aisha.


"Jam segini mau mencari taksi dimana? Sudahlah, aku kan hanya mengantarmu saja. Lagipula kita hanya berteman, suamimu tidak akan marah. " Seru Billy meyakinkan.


"Emm.." Aisha berpikir sejenak. Ia sebenarnya tidak nyaman jika pulang bersama Billy. Tapi yang dikatakannya ada benarnya. Lagipula ponsel Arthur tidak dapat dihubungi. Sedangkan Aisha sudah berjanji pada Anna akan menemaninya setelah pulang dari kampus.


"Bagaimana?"


"Baiklah. " Sahut Aisha pasrah. Dan pada akhirnya ia pulang ke mansion diantar teman lamanya.


***


Anderson Groub


"Apa apaan ini? Siapa pria yang mengantarnya pulang! Dan kenapa mereka akrab sekali? " Arthur yang baru saja selesai rapat menggerutu kesal di dalam ruangannya.


Ia tengah mengamati foto yang baru saja dikirim pengawalnya. Satu foto saat Aisha berada dalam satu meja dengan seorang pria Dan satu lagi ketika dia sedang berada dalam mobil pria itu.


Rasa cemburu tentu saja melingkupi Arthur, karena bagaimanapun juga Aisha adalah istri yang sangat dicintainya.


Bersambung...


__ADS_1



__ADS_2