
"Awas ya kau nanti! " Seru Arthur lalu bangkit dari lantai, menyisir rambutnya dengan jemari tangan dan berlalu darisana.
Aisha hanya acuh menanggapi, ia melanjutkan acara menyaksikan film fantasi nya yang tinggal beberapa menit lagi.
Malam harinya, Aisha tengah merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size sembari memainkan ponsel. Jam menunjukan pukul 08.00, namun tidak ada tanda - tanda sang suami akan masuk dalam kamarnya.
Gadis itu kembali melirik jam dinding, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Terus begitu sampai jam berganti dan menunjukan pukul 08.30 malam.
Apa Arthur semarah itu, sampai - sampai tidak kembali kekamar?. Tahu begini aku tidak akan keras kepala tadi. Ah sudahlah...
Batin Aisha dalam hati.
Ia mulai risau kala jam menunjukan pukul 09.00 malam. Menekan nomor sang suami yang ada dalam daftar kontaknya. Tiga kali ia mencoba, namun tidak ada sahutan. Pikiran buruk mulai bergelantungan di benak Aisha. Khawatir apabila ada hal yang buruk yang menimpa pria itu. Bukan apa - apa, pasalnya lingkungan sekitar sini sangat sepi. Hanya ada perkampungan penduduk di sebelah Utara, sisanya adalah hutan dan perbukitan. Apalagi suhu diluar sungguh sangat ekstrem.
Aku akan mencari Arthur..
Aisha sudah beranjak dari tempatnya, baru akan memijakan kaki dilantai, namun ia mengurungkan niatnya kala tiba - tiba saja lampu kamarnya mati. Ia terkesiap dan kembali keatas ranjang. Meraba meja nakas mencari ponselnya. Namun tanpa sengaja ia malah menyenggol gelas hingga suaranya memecah keheningan malam.
Prang!!
"Ya Tuhan... " Ia kembali mencari ponsel yang dilemparnya tadi, namun karena sangat gelap, ia jadi tidak bisa meraihnya.
"Arthur! " Teriak Aisha menggema ke seluruh penjuru ruangan.
Gadis itu merapatkan diri ke ranjang, menarik selimut untuk membalut sekujur tubuhnya.
"Kakak... ayah.. " Lirih gadis itu diiringi air mata yang menggenang di pipinya. Entah mengapa, ia juga tidak tahu. Saat keadaan seperti ini terjadi, Aisha akan menangis dan gemetar ketakutan.
Sedangkan Arthur yang masih berada pada suatu ruangan menyeringai. Ia baru saja mematikan aliran listrik tadi.
"Salah siapa kau tadi mengerjaiku, haha. " Tersenyum tipis, menyalakan lampu senternya lalu melangkah mendekati kamar.
Saat ia berada di ambang pintu, Arthur tengah mempersiapkan suara suara mistis untuk mengerjai istrinya. Namun niatnya urung kala ia mendengar isak tangis dari arah ranjang. Yang tak lain adalah suara Aisha yang bersembunyi dibalik selimutnya.
Ya Tuhan, aku lupa!. Arthur menepuk jidatnya frustasi. Karena niat untuk mencandai sekaligus membalas istrinya membuatnya lupa akan trauma yang dideritanya.
Dengan ragu, pria itu mengayunkan kakinya mendekati ranjang. Ia merangkak kesana dan mengusap bahu istrinya.
"Maafkan aku.." Lirih Arthur. Merasakan ada sentuhan pada kulitnya, Aisha membuka selimut. Ia mendapati suaminya yang tengah membawa ponsel dengan senter yang masih menyala.
Gadis itu langsung merengkuh tubuh suaminya.
"Kemana saja kau? " Cicitnya dengan suara serak. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Arthur.
"Maaf, " Hanya itu yang terucap dari bibirnya.
__ADS_1
Aisha mendongak menatap wajah Arthur yang nampak samar. " Maaf kenapa? Inikan sedang mati lampu, bukan salahmu. " Ujar Aisha.
Arthur tak menyaut, ia menekan nomor penjaga villa pada ponselnya dan menyuruhnya menyalakan listrik. Sebenarnya Aisha agak heran, dalam pikirannya ini adalah mati lampu biasa. Dan benar saja tak lama kemudian, pendar lampu menyala menerangi ruangan. Cahayanya mengembalikan pandangan keduanya menjadi jelas.
Aisha melerai rangkulan mereka, " Apa semua ini? " Tanyanya penuh selidik. Menyeka air mata yang tersisa dan menajamkan pandangan matanya pada Arthur.
" Sebenarnya.. aku yang mematikan aliran listrik tadi. " Ujar Arthur penuh sesal. Bahkan ia tak kuasa menatap mata istrinya.
"Apa! "
"Kau keterlaluan Arthur! " Sambung Aisha merajuk. Ia berbaring membelakangi suaminya, menarik selimut hingga menutupi sampai lehernya.
"Maafkan aku, aku lupa kalau kau takut gelap" Seru Arthur. Aisha tak bergeming dari posisinya, dia hanya kesal karena sikap Arthur yang keterlaluan menurutnya.
"Hey, kenapa kau malah marah padaku! Aku kan sudah minta maaf! " Seru Arthur dengan suara setengah tinggi.
Lihat, dia baru saja mengerjaiku dengan cara paling menyebalkan. Sekarang dia membentakku! Dasar es balok keras!
Gumam Aisha dalam hati.
Ia tak ingin kalah begitu saja, saatnya mengerahkan jurus andalan. Ia berakting menangis dengan tersedu sedu. Isak lirihnya memecah kesunyian malam.
"Hey, kenapa malah menangis! " Tutur Arthur, melirik punggung istrinya yang tampak bergetar. Ia menjadi tidak tega, seketika emosinya pun melunak.
"Maaf, " Masih tidak ada sahutan. Arthur mendesah frustrasi akana apa yang telah ia perbuat. "Jika kau memaafkanku, aku janji akan menuruti apa yang kau inginkan. " Ujar Arthur kemudian. Aisha yang masih terjaga seketika berbalik menghadapnya.
Jadi dia hanya pura - pura. Batin pria itu.
"Iya, semuanya. Asal jangan aneh - aneh!" Nada bicaranya kembali acuh. Namun tak berpengaruh pada istrinya, wanita itu tengah beradu dengan pikiran, memikirkan apa yang akan ia minta pada Arthur.
"Sebutkan saja apa! Berlian, emas, mobil, rumah, uang, kapal pesiar-"
"Sssttt! " Aisha menaruh jari telujuknya di bibir Arthur. Mengulas senyum simpul lalu menarik jarinya. " Kau harus menemaniku jalan - jalan besok, dan jika aku meminta sesuatu, kau harus menurut tanpa banyak bertanya. " Seru Aisha.
"Tapi-"
"Janji? " Belum selesai kalimat Arthur, Aisha sudah menyelanya. Ia tahu bahwa pria menyebalkan plus keras kepala itu akan mengajukan bantahan.
Gadis itu menjulurkan jari kelingkingnya pada Arthur, sebagai jaminan.
"Baiklah, " Arthur menghela napas lalu menautkan jarinya pada jemari lentik Aisha.
Mereka pun tidur saling membelakangi setelahnya. Sunyi, hanya ada suara bising dari bunyi para belalang yang ada di sekitar villa. Mereka sama sama memejamkan mata dan tenggelam dalam buaian mimpi masing masing.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Aisha tengah berada dalam dapur. Berhubung di villa ini sengaja tidak didatangkan pelayan, maka ia harus mengolah makanan sendiri. Penjaga villa hanya datang pagi dan sore untuk membersihkan area dalam villa bersama beberapa orang lainnya. Setelah itu mereka akan pergi dengan sendirinya.
Kemarin saat jalan jalan, mereka membeli beberapa bahan masakan. Kini gadis itu sedang memasak tuna sandwich, burrito dan apple pie. Sedangkan untuk minumnya, ia siapkan green tea dan susu panas, karena cuaca diluar lumayan dingin. Nampak cekatan, karena semenjak dia kecil dulu, Aisha senang memasak dengan ibunya.
Selesai dengan aktivitasnya, ia menata semua hasil kerja tangannya di meja. Menanggalkan appron yang melekat ditubuhnya. Aisha hendak ke lantai atas memanggil Arthur, namun pria itu sudah terlebih dahulu turun kebawah. Ia sudah rapi dengan jaketnya.
Aisha kembali duduk disofa dan mengambil piring, Arthur melirik istrinya yang tampak berseri seri.
" Kenapa wajahmu itu? " Tanya Arthur sembari mendudukan tubuhnya di kursi. Ia mengambil tuna sandwich dan burrito lalu melahapnya.
Tentu saja aku senang, aku akan mengerjaimu habis habisan hari ini.
"Tidak apa apa, ini minumlah! " Menyodorkan segelas susu hangat di depan Arthur. Arthur mengernyit heran, sejak ia umur lima tahun dulu, ia tidak pernah lagi merasakan minuman yang bernama susu.
"Kau pikir aku anak kecil! Minum saja sendiri" Serunya kesal.
"Yasudah kalau tidak mau " Ia menarik kembali gelas yang disodorkannya tadi, meneguknya hingga setengah tandas. Lalu kembali menyantap apple pie yang menggoda selera.
Arthur bangkit, karena cuaca sedang dingin, ia hendak mengambil alkohol yang tersedia di dekat dapur. Namun Aisha mencekal lengannya.
"Minum green tea saja Arthur, alkohol tidak baik untuk kesehatan. Lagipula ini masih pagi, dan kau akan mengemudi nanti. " Tuturnya lembut. Ia menyodorkan secangkir green tea yang telah dibuatnya untuk berjaga jaga, apabila suaminya tidak mau meminum susu.
"Aku tidak mau! " Seru Arthur. Aisha menajamkan matanya.
"Kau sudah berjanji akan menurut pada perkataanku semalam! " Peringatnya.
"Hemm " Akhirnya ia kembali duduk di kursi. Melanjutnya memakan makanannya dengan ditemani segelas green tea di depan mata.
Punya istri memang menyusahkan!. Gerutu Arthur dalam hati.
***
Saat ini, mereka berada dalam mobil Arthur. Kendaraan ini melaju sesuai dengan komando dari ratu Aisha. Entah kemana tujuannya, berhubung Aisha mengancam akan menelpon aunty Rania apabila Arthur mengingkari janjinya, alhasil pria itu hanya bisa mengangkat pasrah tanpa banyak bertanya.
Tidak ada percakapan di dalam mobil. Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, mereka tiba pada sebuah pusat perbelanjaan.
Mereka berada pada Boulevard Haussmann. Dimana disana terdapat deretan toko dan bangunan lain yang berderet di sepanjang jalan.
"Ayo kita turun! " Ajak Aisha. Gadis itu sudah beranjak turun terlebih dahulu bahkan sebelum Arthur membuka pintu.
Aisha memandang jajaran bangunan dengan arsitektur indah itu, matanya berpencar di sekeliling lingkungan tersebut. Lalu ia menghampiri suaminya yang masih mematung di dekat mobil.
"Ayo Arthur! " Menarik narik lengan Arthur mereka pun akhirnya melangkah bersamaan menyusuri jalan.
•
__ADS_1
•
•