
Disaat Aisha telah memuntahkan sarapan paginya yang tidak seberapa itu, wanita itu nampak sangat lemas. Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.
"Mungkin Arthur sudah berangkat, seharusnya aku tidak terlalu lama tadi." Gumamnya pelan. Aisha yang baru saja mendudukan dirinya di tepi ranjang terkejut mendengar pintu yang terbuka.
Lebih terkejut lagi ketika tahu siapa yang berdiri disana.
"Arthur!" Teriaknya senang. Berlari kearah suaminya dengan wajah riang dan menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang pria itu yang terasa padat, hangat dan sangat nyaman.
"Hei, ada apa denganmu ini? Kenapa begitu gembira sekali hanya karena melihatku?" Tanya pria itu dengan dahi berkerut. Perasaan baru beberapa menit yang lalu ia meninggalkan istrinya tersebut. Kenapa Aisha jadi manja begini.
"Tidak apa apa, kenapa kau belum berangkat juga?" Aisha mendongakkan wajahnya menatap wajah yang sangat tampan.
Tidak pernah membosankan tuk dipandang.
"Tadinya aku sudah setengah jalan, tapi ada beberapa berkas yang tertinggal. Saat ingin kembali ada pelayan berkata kau sedang tidak sehat, apa itu benar?" Arthur mengecup pelan dahi wanitanya. Wajahnya memang terlihat agak pucat pagi ini.
"Emm.." Sejujurnya rasa tak sabar memenuhi dada Aisha, ingin sekali ia bercerita pada Arthur. Namun ia harus sedikit bersabar, karena ia punya rencana lain yang lebih baik.
"Tidak, aku hanya sedikit pusing. Bagaimana kalau kita jalan jalan nanti sore?" Pinta perempuan itu dengan mata berbinar.
Ia tak menampik fakta bahwa tubuhnya terasa lemas.
Tapi memikirkan betapa serunya jalan jalan dengan suaminya membuatnya seolah kembali diisi energi. Terlebih mereka sudah lama sekali tidak pergi bersenang senang berdua.
"Tidak Aisha! Kau sedang tidak enak badan kenapa malah meminta pergi jalan jalan?" Tolaknya tegas.
"Tapi aku ingin.."
"Tapi aku tidak mengijinkan!"
"Arthur aku bosan dirumah, sebelum aku kembali mengurus urusanku yang belum selesai di kampus aku ingin jalan jalan denganmu." Rengeknya yang tak menyerah.
__ADS_1
Alis Arthur menaut menandakan pria itu tengah menimbang keputusan.
"Jadi bagaimana?" Tanya Aisha.
"Emm.. aku tidak yakin--"
"Aku mohon..." Aisha tak menyerah. Masih setia membujuk suaminya.
"Baiklah." Arthur menyetujuinya setelah berpikir beberapa saat. Mungkin benar ia butuh sedikit refreshing dari bebannya akhir akhir ini.
"Terimakasih, aku akan bersiap siap." Aisha sedikit berjinjit lalu mengecup pelan bibir suaminya. Perempuan itu dengan girang menuju walk in closet untuk berganti baju namun tangan Arthur mencegahnya.
"Apa?"
"Kau lupa, kau bilang kan perginya nanti sore." Arthur menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Oh ya, maaf sayang aku lupa. Aku terlalu bersemangat sepertinya." Terkekeh pelan.
"Baiklah, bagaimana kalau kita memanfaatkan semangatmu yang berkobar itu untuk hal lain?" Pria itu menarik sudut bibirnya dengan nakal.
"Untuk apa?" Tanya nya.
"Tentu saja olahraga." Tanpa aba aba pria itu menenggelamkan bibirnya di kedua belahan istrinya yang telah menjadi candu.
Aisha menggerutu, dia sudah hafal apa yang akan terjadi selanjutnya kalau mereka berciuman.
Arthur melakukannya dengan pelan sesuai permintaannya. Sejujurnya ia sangat lelah tapi apa boleh buat, dirinya juga menikmatinya. Lagipula mana mungkin tubuhnya yang kecil ini sanggup melawan tubuh kekar Artur yang sangat atletis.
***
Di sebuah kota lain, di dalam sebuah bangunan yang cukup besar untuk ukuran sebuah villa. Penjagaan tak terlalu ketat dengan hanya disediakan beberapa pengawal di masing masing titik yang ditentukan.
__ADS_1
Seorang pria dengan tinggi kira kira 170 cm tengah berdiri di ruangannya dengan tatapan tajam.
Menatap para anak buahnya yang sama sekali tidak becus menjalankan tugas yang ia embankan.
"Bagaimana cara kalian bekerja!" Sentaknya yang mengejutkan sepuluh orang yang berlutut di depannya.
"Mengurus satu wanita saja tidak becus, apa kalian laki laki?!" Hinanya.
Kesepuluh orang didepannya hanya membisu tanpa berani menegakkan kepala mereka kecuali satu orang. Membuat tuannya melirik padanya dengan tatapan tajam.
Salah satu temannya mengode agar ia menundukkan pandangan karena tuan tidak suka jika dia sedang mengevaluasi kinerja mereka ada orang yang berani menatapnya. Menurutnya itu tidak sopan dan kurang ajar.
"Oh, rupanya kau satu satunya yang memiliki nyali diantara para pecundang ini." Tukasnya pada pria yang sama sekali tak ingin menurunkan pandangannya.
"Kalau begitu katakan, apa yang bisa kau janjikan padaku?!" Nadanya mulai meninggi daripada sebelumnya. Dirinya semakin tertarik pada pria pemberani yang satu ini.
"Saya berjanji akan membawa wanita itu dalam waktu singkat." Ujar nya.
"Hem, berapa lama yang kau sanggupi?" Tanya nya lagi. Pria ini semakin menarik, gumamnya pelan.
"Tiga hari." Tiga hari adalah waktu yang cukup lama. Namun menurut perkiraanya, itu waktu minimal yang cukup untuk menyiapkan segalanya. Mengingat incarannya kali ini dibawah perlindungan yang kuat.
"Ck, tiga hari terlalu lama untuk pemberani sepertimu. Aku memberimu waktu dua hari. Jika dalam waktu dua hari kau tidak membawa perempuan itu kemari maka... " Ia mendekatkan wajahnya. "Anakmu yang akan jadi taruhannya."
"Baik, dua hari. Dalam waktu dua hari saya akan membawanya." Putusnya kemudian. Dia memang pria keras tapi sangat mudah luluh jika terkait dengan keluarga.
"Kalian boleh pergi."
Seolah mendapat angin segar, para pria itu menarik napas lega karena kali ini mereka selamat dari amukan tuannya.
Sesaat setelah pintu kembali tertutup, lelaki itu mengayunkan kedua kakinya menuju jendela kaca besar yang menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan bagi mata yang melihat
__ADS_1
Ditatapnya gumpalan awan yang menghiasi langit biru.
"Aku pasti akan segera mendapatkanmu."