
Seorang remaja laki - laki rupawan tengah membombardir lawan yang menghalau jalan. Tak peduli tua atau muda, laki - laki maupun wanita asalkan itu musuh, maka ia akan menumpas tanpa kenal ampun. Rumus takut tidak ada dalam kamus kehidupan nya.
Sorot mata elang memancarkan amarah, dendam, dan emosi yang terpendam. Dalam sanubari hanya tersisa satu hasrat, membantai Pither Wilson yang telah menewaskan kedua orang tuanya.
Ya, remaja laki - laki itu tak lain ialah Arthur. Arthur Steven Anderson. Itulah nama kebanggaan nya. Putra tunggal dari keluarga Anderson ini memiliki bakat yang sama seperti Aisha sedari kecil. Di umurnya yang baru menginjak 15 tahun, sungguh tak lazim apabila sudah dinobatkan menjadi pimpinan organisasi mafia besar. Remaja sepertinya identik dengan masa peralihan dari anak - anak ke dewasa. Biasanya mereka akan bermain dengan kawan - kawan diluar, main game, ps, atau agenda lain pada masa mencari jati diri seperti ini.
Tapi apa boleh buat, yang dapat menggantikan posisi ketua selepas kepergian sang ayah adalah dirinya sendiri. Hanya keturunan keluarga Anderson yang berhak menempati posisi tertinggi itu.
Dor!
Peluru runcing keluar dari pistol kesayangannya Desert Eagle Mark XIX buatan perusahaan persenjataan AS. Menancap telak pada jantung musuh yang mencoba menghadang langkah. Siapa suruh pria itu berani mengusik singa yang kelaparan. Singa yang satu ini tak lapar akan daging, namun ia lapar akan darah Pither yang dianggapnya manusia paling keji di dunia.
Ia menarik sudut bibirnya. Senyum yang lebih mirip seringai iblis. Lalu mencengkeram erat kerah kemeja yang dikenakan mafia Esponder.
"Hey! Katakan dimana si bedebah Pither itu! " Ancam Arthur mengintimidasi.
Pria itu bungkam, bimbang harus berucap apa. Mana ia tahu Pither ada dimana. Ketua tidak solid itu telah bersembunyi duluan ketika ia merasa kalah saing.
"A - aku tidak tahu, sungguh aku berkata yang sebenarnya, ketua telah melarikan diri duluan" Ucapnya gagap.
Arthur kian memperkuat cengkeraman tangan nya, remaja yang tengah beranjak dewasa itu memiliki salah satu tabiat khas, tidak mudah percaya pada rangkaian kata tanpa disertai bukti yang nyata. Baginya realita adalah segalanya. Berpikir wajib menggunakan logika. Ia hanya percaya pada yang dilihat oleh mata kepala.
"Aku berikan dua opsi untukmu. Opsi pertama, katakan yang sebenarnya dan aku akan mengampunimu atau opsi kedua kau akan binasa di tanganku " Pria itu semakin kalut. Takut apabila Arthur benar - benar merealisasikan perkataan nya. Kenapa anak kecil macam dirinya sanggup bertindak seperti ini, batin nya dalam hati.
"Aku benar benar tidak tahu. Sungguh, dia sudah melarikan diri duluan " Sudah pasrah pada keadaan.
"Hah sudahlah!! " Ia menghempaskan tubuh mafia Esponder yang sudah berlumuran darah hingga terhuyung ke tanah.
Anak itu terus melangkah menyusuri jalan dan lorong - lorong yang tersedia. Mengedarkan pandangan berupaya menangkap sosok pria dewasa yang diincar. Keluar masuk satu persatu ruangan yang ada. Nihil, tidak ada siapapun di manapun. Hanya ada mafia Regdator dan GE yang tengah adu pukul dengan mafia Esponder and sekutu.
Cih! Dimana pecundang itu bersembunyi?.
__ADS_1
Saat tiba pada suatu ruangan yang lumayan luas, Arthur dikejutkan dengan penampakan manusia di hadapannya.
"Pither! " Gumam Arthur lirih. Tangannya sudah terkepal sempurna. Dadanya bergemuruh, layaknya gunung berapi yang akan menumpahkan lahar panas. Amarah sampai ke ubun - ubun. Orang itu, manusia itu telah membantai kedua orang yang paling berharga dalam kehidupannya dengan amat tragis. Sangat mengenaskan. Dan dia menuntaskan itu di hadapan mata kepala Arthur sendiri.
"Hay bocah ingusan! Kau mencariku? " Ucapnya santai seraya menyedot cerutu di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya menggenggam bir favorit nya. Satu kaki diangkat dan bertumpu pada kaki satunya. Ia menyandarkan kepala pada sandaran kursi. Santai. Berleha leha, seperti tak ada hal penting yang terjadi di depan. Padahal para anak buah dan mafia nya tengah bertaruh nyawa.
"Biadab! Sialan! Kemari kau aku akan membunuhmu!! " Gertak Arthur sarat emosi. Kilatan cahaya kemurkaan di bola matanya dapat ditangkap dengan jelas oleh Pither.
"Apa? Aku tidak salah dengar? " Mengangkat tangannya ke telinga.
"Bocah bau kencur sepertimu akan menghabisiku? Mimpi! " Tertawa sarkas.
"Orang bodoh dan pengecut sepertimu hanya bisa tertawa dan bersembunyi. Kau bahkan tidak punya sedikit stamina untuk melawan bocah sepertiku. Dasar pecundang! " Sarkas Arthur menancap telak pada dada Pither. Ia murka. Bisa bisanya anak itu menghina seorang Pither Wilson.
"Kurang ajar! " Mengeluarkan pistol. Dan lagi lagi terjadilah aksi baku tembak. Kali ini agak berbeda, pria dewasa versus anak kecil. Namun peliknya, anak itu berhasil menggores bahu Pither. Namun ia sendiri juga terkena luka tembak pada lengan kanan.
"Bocah kemarin sore beraninya kau menantang ku! "
Arthur tidak gentar. Ia akan maju dan melawan Pither lagi. Namun baru selangkah, tangannya dicekal dan ditarik keluar ruangan itu.
"Hey siapa kau! Lepaskan tanganku! " Arthur mencoba menghempaskan tangan nya. Namun anak perempuan itu kian erat menggenggam dengan kedua tangan putih kecilnya. Mengajak nya berlari sejauh mungkin. Hingga mereka sampai pada suatu ruang sempit dan terpojok di markas besar. Aisha menutup pintu dan mengajak Arthur bersembunyi di balik tumpukan kardus.
"Siapa kau! Apa yang kau lakukan, aku harus pergi " Beranjak dari sana dan meninggalkan Aisha. Namun lagi - lagi Aisha mencekal tangan laki laki itu.
"Diamlah kemari. " Mengambil kotak P3K yang entah ditemukan dari mana. Meraih antiseptik, kapas dan obat merah. Aisha pun mengobati luka tembak pada lengan kanan Arthur. Padahal ia tak mengenal anak disampingnya ini. Namun entahlah, seolah ada suatu ikatan yang mendongkrak nalurinya agar menolong anak itu.
"Siapa kau? " Tanya Arthur sembari meringis menahan sakit yang merambat pada permukaan kulitnya. Aisha membisu.
"Aww! " Rintih Arthur. "Aku tanya siapa kau? Bagaimana perempuan kecil sepertimu bisa berada disini? Dan kenapa kau menyelamatkan ku " Rentetan pertanyaan merundung Aisha.
"Ssstt... diam!. Kalau bicara itu perlahan saja, bagaimana kalau kita ketahuan nanti " Kesal.
__ADS_1
Laki - laki tapi cerewet, pikir anak perempuan itu.
"Siapa namamu? " Arthur mengulang pertanyaannya ketika Aisha telah usai melilitkan kain pada lengannya. Tidak ada perban, jadi ia merobek syal tipis yang melilit indah pada lehernya untuk menghentikan pendarahan.
Manik indah mereka saling bersitatap. Mengamat lekat satu sama lain tanpa berkedip sedetik pun. Bahkan wajah mereka sangat dekat. Aisha segera terbangun dari lamunannya.
"Jawab pertanyaan ku! " Ketus, dingin.
"Namaku adalah A_ " Ia menjeda kalimatnya. Penuturan ayahnya berputar putar pada kepala.
Ingat Sha, jangan mudah percaya pada orang asing. Bisa saja mereka mengelabuhimu, karena kau itu masih naif dan polos. Jadi, jangan katakan identitas asli pada orang yang tidak kau kenal. Janji?.
Iya ayah... Aisha berjanji.
"Kenapa diam? " Jika dilihat dari sorot matanya, dia tampak menyembunyikan sesuatu.
"Ah tidak, namaku _" Kau sekarang adalah putri daddy. Jadi, daddy akan memberimu nama El. El Taylor, itulah nama kedua Aisha. El diambil dari nama tengahmu, Eldara. Paham sweetheart?
"El, Ya El. Namaku adalah El Taylor " Mencoba tersenyum hangat. Walaupun ia sedikit merasa aneh dengan tatapan dingin dan mencekam dari mata Arthur.
"Kalau kau sendiri siapa? " Lanjutnya. Sejenak ia melirik ke tangan kiri Arthur yang menenteng pistol Deagle. Ya, Aisha tahu nama pistol itu sebab kakak nya banyak mengoleksi senjata.
Arthur tersenyum mengejek. Lalu menyugar rambutnya dengan jemari tangan
Bersambung...
Nantikan kisah selanjutnya!!! 🤗🤗🤗
Sampai jumpa.
Ngegantung ya 😂😂
__ADS_1