
Aisha turun dari mobil seusai memakirkan kendaraan itu di parkiran. Ia menarik tali ranselnya, membenahi kancing jaketnya lalu berlari kecil memasuki kampus.
Dalam setiap langkahnya, ia tak henti memegangi bibirnya. Bekas kecupan kilat Arthur rasanya masih berasa disana walaupun sudah lama.
Es balok, dia mencuri ciumam pertamaku!. Melepaskan jarinya dari bibir lalu segera memasuki kelas. Aktivitas perkuliahan berjalan normal seperti biasa. Aisha sama sekali tak menjumpai kesulitan dalam menyerap ilmu pengetahuan disana. Mungkin karena otaknya yang diatas rata rata.
Beberapa jam pelajaran dilewatinya, kini saatnya istirahat. Gadis itu melirik arloji di pergelangan tangan nya yang menunjukan pukul 12.00. Ia berniat pergi ke kantin untuk makan siang.
Aku tidak melihat Mya, kemana dia?. Batin Aisha dalam hati. Ia menengok ke kanan kiri tapi tidak menemukan keberadaan temannya itu. Aisha duduk pada salah satu meja kosong. Memesan makanan yang dipilihnya. Sembari menunggu pesanan datang, ia memandangi sekeliling. Dan tanpa sengaja, matanya menangkap sosok perempuan yang ia cari cari sedari tadi.
"Myara! " Panggil Aisha setengah berteriak. Melambaikan tangannya pada Mya yang berjarak lima meja darinya. Gadis itu beranjak dan menghampiri Aisha.
"Ada apa denganmu? " Tanyanya ketika Mya sudah duduk. Jika diperhatikan dari wajahnya, tampak gurat gelisah yang membuat Aisha yakin bahwa temannya sedang dalam masalah.
Myara menyunggingkan senyum tipis padanya, "Tidak apa - apa, aku hanya sedikit lelah saja. " Elak Mya.
"Jangan bohong padaku, aku tahu kau ada masalah. Terlihat jelas dari wajahmu Mya." Ujar Aisha sembari menggenggam tangan sahabatnya itu. Memberi dukungan.
"Tapi aku memang tidak apa - apa Sha, aku baik baik saja. " Kata Myara sambil menunduk.
"Myara, jika kau tidak mau bercerita padaku, aku akan merasa kalau kau tidak menganggapku sebagai teman. Teman adalah tempat kita berbagi cerita, jadi katakan saja padaku, ada apa? "
Terlihat Myara menghela napas berat, lalu mendongakan wajahnya hingga bersitemu dengan Aisha. Dapat Aisha lihat, mata Myara menjadi berkilau karena adanya air mata yang tertahan disana.
"Apa kau seorang psikolog, bagaimana kau selalu tahu isi pikiranku? " Mya tertawa ringan, mencairkan suasana sekaligus menutupi kebimbangan nya.
"Aku memang belajar sedikit ilmu psikologi, tapi mengetahui kesedihan di matamu itu tidak membutuhkan ilmu khusus. Mulut mungkin berkata lain, tapi mata selalu jujur Myara. " Ucapan bijak Aisha membangkitkan semangat Myara. Ia merasa, ada orang selain ayahnya yang perhatian padanya. Terlebih lagi, ibu Mya sudah tiada sejak dia kecil dulu. Jadi hanya ada sosok ayah dalam hidupnya.
Gadis itu menghela napas lagi, " Ayahku akan menikahkanku dengan saudara jauh kami. Aku sebenarnya tidak setuju, tapi aku tidak tega menolak keinginan ayah. Sejak kecil, ayahlah yang selalu memberi kasih sayang yang berlimpah. Aku bingung Sha. " Akhirnya setelah menahan begitu lama, Myara mengungkap isi hatinya. Sebulir air mata pun tanpa sadar jatuh dari tempatnya. Aisha mengusap air itu dengan ibu jarinya. Ia kian menggenggam erat tangan sahabatnya.
"Kenapa kau tidak jujur saja? " Tanya Aisha.
"Aku tidak ingin menyakiti perasaan ayah. Tapi aku sungguh tidak menyukai pria itu. Dia memang pria normal, tapi dia tidak gentle man. Yang benar saja, dia selalu memakai warna pink. Dia tidak bekerja, hanya bergantung pada kekayaan ayahnya. Dia juga lebih rutin ke salon dan spa daripada gym. Lalu dia juga-- Ahh, aku tidak mau! " Sekarang bukannya menangis Myara malah merengek seperti anak kecil. Sungguh pilihan yang sulit, membahagiakan ayah atau mengorbankan masa depan.
"Ya Tuhan! itu tidak benar. Aku tidak akan membiarkanmu menikahi pria model begitu. Aku juga tidak setuju sahabatku yang cantik ini harus menghabiskan hidup dengannya!" Aisha menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya juga masih membola akibat terlalu terkejut.
"Lalu, pria seperti apa yang kau inginkan? " Tanya Aisha. Melihat Myara yang terdiam, ia jadi paham keinginan gadis itu. "Seperti Reynard? "
Myara mengangguk pelan sambil memalingkan wajahnya. " Aku tidak akan terlalu berharap banyak. "
"Kalau kau memang menyukai Reynard, aku akan berusaha mendekatkan kalian" Ujar Aisha lagi. Sontak Myara melebarkan matanya kaget.
"Apa yang kau katakan! Jangan bergurau ya!"
"Katakan saja iya atau tidak Tapi aku tidak memaksamu juga. Sebelum menjalin pernikahan, sebaiknya kenali karakter pasanganmu dulu. Agar kau tidak menyesal nanti. " Entah mengapa penuturannya sendiri membuat Aisha sedikit ragu. Pasalnya, pernikahannya dengan Arthur sangat mendadak. Tidak ada masa perkenalan seperti yang ia sarankan. Dia sendiri juga masih bingung, apa alasan Arthur dulu ingin menikahinya. Ingin bertanya, tapi ia takut suaminya malah marah.
"Aku mau sekali.. " Ucap Myara bersemangat, namun sesaat kemudian wajahnya kembali murung. "Tapi itu mustahil."
"Kau tidak perlu khawatir, jika kau mau menikah dengan Reynard, aku akan berusaha membujuknya. Kau orang baik. Rey membutuhkan pendamping sepertimu "
"Apa yang akan kau lakukan? " Tanya Myara sedikit khawatir.
Aisha menjentikan jarinya. Percaya diri tingkat dewa sedang ada padanya saat ini.
"Kau tidak perlu risau, aku akan berusaha semampuku. Yang penting sekarang kita harus membujuk ayahmu agar tidak segera menikahkanmu. " Entah ada yang tahu atau tidak, tapi dalam benak Aisha sudah ada gambaran strategi yang brilian.
"Ayah akan menikahkanku minggu depan." Myara kembali menunduk.
"Aku akan membujuk ayahmu agar membatalkan rencana itu. Kau tenang saja, aku saja pernah menjinakan orang paling intovert sedunia. " Ujar Aisha bangga.
__ADS_1
"Siapa? Suamimu? "
"Bukan, ada orang lain yang lebih introvert daripada es balok itu. Ah, sudahlah, yang terpenting aku akan membujuk ayahmu nanti"
Ini seperti menyusun rencana perang. Haha. Reynard, tunggu saja nanti, aku akan membantumu mendapat pasangan idaman yang baik dan cantik. Bukan wanita penggoda diluaran sana yang hanya mengincar hartamu. Aisha menyeringai dalam hati. Setelah pesanan datang ia segera menyantapnya bersama Myara. Mengingat setelah ini masih ada dua jam pelajaran.
***
Aisha keluar dari lobby kampus, menyusuri jalan sembari mencari kontak suaminya disana. Setelah dua kali menelpon, akhirnya ponselnya tersambung dengan milik Arthur.
Ia seolah melupakan kejadian tadi pagi.
"Hallo Arthur. " Sapa Aisha.
"Ada apa, kau tahukan aku sedang bekerja. Jangan mengganggu. Katakan, awas saja jika tidak penting! " Yang disana sudah mengomel duluan, karena merasa pekerjaanya masih menumpuk.
"Aku tidak akan mengganggumu, aku hanya ingin memberitahu bahwa aku akan pulang terlambat. Aku ingin pergi ke sebuah toko untuk membeli beberapa bahan untuk praktikum. "
"Ijin tidak diberikan!." Jawabannya terdengar seperti hakim yang memutuskan hasil persidangan. Membuat Aisha menghembuskan napas kesalnya.
"Kalau aku tidak pergi, aku tidak akan bisa ikut praktikum nanti. Lalu akan membuat dosen marah, mungkin saja aku akan di drop out. Jadi biarkan aku pergi ya, hanya sebentar saja. Bye. "
"Tunggu-- " Tutt, tutt. Sambungan terputus.
***
Pukul 15.00, kini Aisha dan Myara telah sampai di depan sebuah rumah mewah milik Mya. Mereka datang menggunakan mobil Aisha. Turun darisana, mereka disambut salah seorang penjaga yang menunduk hormat.
"Ayo, kita masuk kedalam. " Gadis itu menarik tangan Aisha agar ikut bersamanya. Namun ada sedikit rasa was was di hatinya, ayah Mya itu sangat garang, namun juga amat penyayang. Myara jadi ragu kalau begini.
Saat telah sampai di depan pintu utama, Mya menahan tangan Aisha. " Aku takut Sha, bagaimana nanti kalau ayah marah? " Tanya Myara ragu. Aisha mengusap bahunya lembut.
Myara membulatkan mata dan menangkup kedua pipi sahabatnya yang nekat itu.
"Kau tidak tahu ayahku Sha, dia sangat galak. Kalau marah, lebih menyeramkan dari serigala. " Peringat Myara. Bagaimana mungkin gadis ini bisa sepercaya diri ini, pikir Myara.
"Myara.. " Menangkup wajah sahabatnya."Kau tenang saja. Tunggulah di dalam kamarmu. Aku akan bereskan semuanya dengan mulusss semulus kulitmu ini. " Aisha tertawa lalu mencubit pipi Myara dengan gemas.
"Kau ini, masih saja bercanda. Yasudah, tapi hati hati ya. " Ujar Mya yang diangguki Aisha.
***
Sekarang Aisha, Myara dan Holmes, ayah dari Mya sudah terduduk di sofa ruang tamu. Suasana sedikir canggung. Bahkan cangkir cangkir kopi yang disajikan di depan mereka seolah menjadi pajangan saja.
"Ayah, ini temanku, namanya Aisha. " Suara Myara memecah keheningan yang sempat tercipta. Holmes menatap putrinya dengan raut yang sukar diartikan. Sedangkan Aisha, gadis itu terlihat amat sangat percaya diri.
Aku pasti bisa membujuk ayah Myara. Aku bahkan pernah melakukan yang lebih sulit daripada ini sebelumnya, bahkan memakan waktu bertahun tahun untuk membujuk orang introvert itu. Huh, baiklah. Batin Aisha meyakinkan dalam hati.
"Hallo tuan, saya Aisha ,teman Myara putri anda. " Ia memperkenalkan diri. Holmes hanya mengangguk pelan. Aisha memberi isyarat lewat tatapan mata pada Mya agar pergi darisana.
"Emm, ayah, aku akan ke kamar mandi sebentar. " Buru buru Mya beranjak dari duduknya. Menapaki anak tangga menuju lantai teratas dimana kamarnya berada. Sesekali menoleh pada Aisha yang nampak sudah memulai pembicaraan dengan ayahnya.
Di ruang tamu,
"Tuan, apa tuan sudah lama tinggal disini?" Basa basi dilontarkan Aisha sebelum ke inti pembicaraan.
"Belum lama ini. " Jawab Holmes singkat. Lalu meraih secangkir teh di depannya, meneguknya sedikit lalu meletakannya lagi.
"Oh begitu, oh ya tuan aku dengar.. tuan akan menjodohkan Myara ya? " Ujar Aisha yang diangguki Holmes.
__ADS_1
"Yah.. sayang sekali, padahal Myara masih kuliah lo. Dia juga masih muda banyak sekali pria diluaran sana yang menantinya sebagai pendamping hidup. "Raut wajah Aisha seolah menunjukan kekecewaan Ia melirik ekspresi pria paruh baya di depannya yang tampak datar sedatar tembok rumah.
"Itu urusan keluarga saya. "
"Iya, aku tahu tuan. Tapi apa tuan tahu, putri tuan sudah memiliki seorang kekasih yang tampan dan mapan. Sayang sekali ya, jika ditinggalkan.. " Ujar Aisha.
Dahi Holmes berkerut heran, menandakan ia tengah berkecamuk dalam pikiran. Pria itu membenahi posisi duduknya menjadi tegak, menatap lekat pada teman putrinya itu.
"Siapa kau sebenarnya? " Akhirnya pertanyaan yang menggelayuti benaknya terlontar juga.
Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya ramah. "Aisha. Aisha Anderson istri dari Arthur Anderson. " Perkataan Aisha membuat gurat wajah Holmes seketika terkejut. Jelas ia tahu betul siapa Arthur Anderson. Pengusaha muda tersukses di Amerika. Pria tampan yang namanya sangat diagungkan semua orang. Bahkan perusahaannya kerap kali mengajukan kerjasama dengan Anderson Groub. Namun sayangnya, belum ada kesempatan emas untuk itu. Dan sekarang, apa yang telah ia lakukan?. Dia telah memperlakukan istri seorang Arthur dengan tidak sopan.
Setelah memperbaiki gurat wajahnya, kini Holmes tersenyum canggung pada gadis di depannya. "Maafkan saya nona, saya berperilaku tidak pantas. "
Bisa habis perusahaanku kalau nona ini mengadukan sikapku pada suaminya.
Holmes memang begitu, ia terkesan dingin dan galak dari wajah. Namun sebenarnya, pria itu adalah sosok ayah penyayang yang menginginkan kebahagiaan putrinya.
"Tidak usah minta maaf uncle. Panggil saja aku Aisha. Aku akan sebaya dengan putrimu." Ujar Aisha.
"Baik Aisha, emm, kalau boleh tahu siapa kekasih putriku? " Tanya Holmes. Selama ini, Myara sama sekali tak pernah dekat dengan pria, apalagi seorang kekasih. Oleh sebab itu Holmes ingin segera menjodohkannya.
"Reynard Smith. " Sontak Holmes kembali ternganga dengan penuturan gadis di depannya. Reynard Smith, orang kedua yang paling berpengaruh di Anderson Groub. Dia adalah tangan kanan Arthur yang sangat setia padanya.
"Benarkah itu?" Tanya Holmes girang. Senyum tak henti terbit dari wajahnya mengisyaratkan kondisi hatinya yang berbunga.
"Iya, tapi mereka baru saja memiliki hubungan. Jadi biarkan dulu untuk sementara waktu mereka saling mengenal. Dan, uncle tidak perlukan menjodohkan Myara dan mempertaruhkan masa depannya. "
Sepertinya berhasil. Aaa, Myara kau selamat!.
Gumam Aisha dalam hati.
"Baiklah Aisha, aku tidak akan menjodohkan putriku itu. Lebih baik dia bersama tuan Reynard daripada dengan si Roni yang banci itu. " Seru Holmes. Aisha turut tersenyum dan bangkit dari duduknya.
"Bolehkah aku menemui Myara? "
"Tentu, tentu saja silahkan. " Mendapat persetujuan pemilik rumah, Aisha beringsut pergi menapaki anak tangga. Menuju kamar Myara dengan arahan pelayan.
Di dalam kamar, Myara sudah cemas. Takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya. Ia mondar mandir kesana kemari mengusir gelisah. Saat derik pintu terdengar, ia bernapas lega kala Aisha muncul dengan senyumnya.
"Bagaimana Sha, apa kau baik baik saja? " Memeriksa bahu dan sekujur tubuh Aisha. Memastikan ada yang lecet atau tidak.
"Aku baik Mya, kau memeriksaku seolah aku habis berhadapan dengan serigala saja. " Cebik Aisha.
"Bagaimana? " Tanya Myara risau.
"Tenanglah, ayahmu tidak akan menjodohkanmu. Kau selamat dari lubang neraka! " Seru Aisha seraya mendekap tubuh Mya.
"Kau, bagaimana bisa? Ayahku itu keras kepala. Mana mungkin? " Myara ternganga akan fakta yang baru didapatnya. Ia saja harus memohon berhari hari pada pria itu tapi Holmes tetap kekeh pada pendiriannya. Lalu Aisha--
Gadis manis itu menangkup kedua pipi Myara. "Tidak usah kau pikirkan bagaimana caranya. Aku saja bisa menjinakan singa, lalu kenapa serigala tidak bisa? " Aisha terkekeh. Sedangkan Myara masih belum percaya dengan perkataannya hanya terdiam mematung disana. Meskipun begitu, ia akui, terselip rasa bahagia dalam relung hati terdalamnya.
"Terimakasih Aisha, kau memang baik. "
Bersambung...
Up lama giliran up sedikit?
Sebenarnya aku biasanya menulis untuk dua episode. Tapi aku gabung jadi satu biar simple dan tak memakan banyak ruang 😆😆😆
__ADS_1