
Arthur yang sedari tadi masih membuntuti Aisha, sedikit banyak anggapan tentang gadis ini mulai terkikis. Bahwa ia menilai istrinya adalah perempuan manja yang banyak gaya dan tidak perduli pada urusan orang.
Amarah telah menguap entah kemana. Ia mengekor di belakang istrinya, mengamati apa saja yang dia perbuat.
Tapi tetap saja ini salah, dia tidak meminta ijin sama sekali. Tapi kalaupun ia meminta ijin sampai berlutut pun, Arthur juga tidak mau mengabulkan nya.
Setelah merasa uang di kantong telah berkurang, para pengemis juga telah mendapat bagian sama rata. Sudah saatnya pulang sekarang. Persetan dengan apa yang akan dibuat Arthur padanya nanti. Mau memukul, mengomel atau dikurung juga tidak apa. Yang penting keinginan nya telah tertuntaskan. Sekarang tidak ada lagi rasa bersalah di hati.
Sudah akan mencegat taksi, namun tiba tiba tangannya ditarik seseorang dari belakang. Membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke pelukan pria itu.
Saling bersitatap lama. Mengamat dalam satu sama lain. Sampai Aisha tersadar duluan.
"Tuan Arthur " Gumamnya lirih, langsung melerai pelukan mereka.
Pria itu hanya diam. Menatap dalam disertai ekspresi yang susah ditebak. Membuat rasa bersalah Aisha semakin berkobar.
"Tuan, maafkan aku " Menyetel wajah bersalahnya, sambil tertunduk " Maaf ya karena tidak minta ijin padamu dulu. Tapi kalau aku minta ijin kau tidak akan mengijinkan kan. Ini adalah kebiasaan ku dari dulu. Dan aku tidak tahu kau akan pindah kapan, jadi- "
"Ssstt " Menempel telunjuk pada bibirnya " Diam! Kau banyak bicara " Refleks Aisha mengatupkan bibir. Diam membisu tanpa bicara sepatah kata.
"Bersiaplah, kita akan ke Amerika " Dengan santai bicara. Amarah yang membuncah beberapa saat yang lalu entah mengapa lenyap begitu saja ketika menatap manik istrinya.
"Apa, tapi " Mau protes, tapi melihat mata Arthur membuatnya mengurungkan niatnya.
"Tidak ada tapi - tapi " Bicara tegas " Dan mulai sekarang jangan lagi panggil aku tuan. "
"Lalu siapa, apa pak, om atau paman? Atau mungkin - " Terus mengoceh tanpa memberikan lawannya kesempatan menjawab.
"Diam Sha! Apa kau menderita kelainan bicara? "
"Tidak juga, ayah bilang dulu ibu juga seperti aku " Bahkan lebih parah. Jika Alina sudah mengomel rasanya dua jam tidak akan cukup baginya. Oleh sebab itulah, Johan menghindari minuman. Mengingat Alina yang akan menghukumnya tidur diluar kamar setiap mencium bau alkohol.
"Pantas saja" Melengos kearah lain.
"Lalu aku memanggilmu apa?" Pasrah.
"Terserah"
__ADS_1
"Arthur saja ya " Tidak ada tanggapan. Membuat Aisha kesal dan mencebikan bibirnya.
"Ayo kita pulang " Menarik tangan Aisha mendekati mobil yang lumayan jauh dari sana. Gadis itu hanya menurut, ia sadar dia salah.
Saat dalam mobil, tidak ada yang bicara sepatah katapun. Aisha yang masih diliputi rasa bersalah memandang keluar jendela. Menatap pepohonan dan gedung pencakar langit yang berlarian. Melirik sekilas pada pria disampingnya. Arthur mengemudi dengan kecepatan sedang. Menatap lurus kedepan.
Dia benar benar tidak memukulku?
Padahal spekulasi nya tadi berkata bahwa Arthur akan memukulnya. Mengomel dan mengurungnya di kamar. Karena dalam bayangan Aisha, suaminya adalah mafia kejam tanpa kenal ampun. Bahkan pada perempuan sekalipun. Realitanya adalah Arthur adalah manusia yang tersesat dalam kubangan kegelapan. Dia butuh seseorang untuk menariknya dari sana. Membawa dan menunjukan jalan yang benar agar kembali ke cahaya.
Beberapa saat berlalu. Masih tidak ada yang membuka percakapan dalam mobil, hingga Aisha mengernyitkan dahinya. Pasalnya, ini bukan jalan ke mansion Arthur. Mereka menempuh arah yang berlawanan.
"Tuan maksudku Arthur, kita akan kemana? Kenapa tidak pulang, malah kesini. " Memberanikan diri bicara. Walaupun Arthur masih enggan menanggapi.
Dasar pelit bicara.
Lima belas menit berlalu semenjak Aisha melayangkan pertanyaan. Mobil mewah milik laki laki itu berhenti pada parkiran bandara.
Arthur turun dan menyerahkan kunci pada petugas keamanan.
"Turun! Mau disana sampai malam? " Aisha langsung turun. Memandang sejenak bangunan yang berdiri di hadapannya.
Yang ditanya tidak menjawab. Melenggang pergi memasuki bandara tanpa berkata apa apa. Aisha yang kesal hanya mensejajari langkah suaminya.
Kenapa dia ini susah diajak bicara sih!!
Geram sendiri dalam hati. Padahal dia pikir Arthur sudah tidak marah lagi. Ya, dia memang sudah tidak marah. Laki laki tampan itu hanya sedang menjaga ego nya semata.
"Kita akan kemana? " Bertanya lagi, saat mereka sedang melewati koridor bandara yang terlihat lenggang.
"Pulang" Jawaban yang simple namun sulit dijabarkan.
"Iya, aku tahu kita akan pulang. Memangnya ini rumahmu! " Kesal.
Arthur menghentikan langkahnya. Membuat Aisha yang berjalan dibelakang jadi menabrak punggungnya.
Lalu berbalik. Menghela napas sebentar, menetralkan emosi untuk bicara pada gadis di depannya " Kita akan pulang ke Amerika. Dan semua barangmu akan dikirim nanti. Sudah puas? Sekarang berhenti berkicau dan ikuti saja aku! "
__ADS_1
Berkicau? Dasar aneh, memangnya aku burung apa!
"Lalu bagaimana dengan - " Baru akan membalas namun Arthur sudah menyahut duluan.
"Makhluk peliharaan mu juga akan dibawa kesana. Bisakah kau diam? "Mulai gusar. Rasanya telinga Arthur kian memanas mendengar celotehan Aisha.
Gadis itu hanya mengangguk patuh. Mengunci mulut nya yang susah dikendalikan rapat - rapat. Lalu kembali mensejajari langkah Arthur.
***
Reynard yang masih berada dalam mansion, mulai khawatir. Mondar mandir kesana kemari sembari berkacak pinggang.
Tadinya, dia ingin ikut. Tetapi melihat tatapan Arthur yang mengisyaratkan agar tetap dirumah, membuatnya terjebak disini.
"Tuan, anda ingin makan dulu? " Tawar salah satu pelayan. Nampan berisi berbagai macam makanan yang menggugah selera tampak begitu menggoda. Rasanya cacing cacing dalam perut Reynard sudah melakukan aksi demonstrasi. Ingin segera melahapnya.
Tapi bagaimana jika Arthut yang gila tadi nekat melukai istrinya sendiri. Aaaaah! Kenapa juga punya bos nekat seperti dia sih. Dia tidao tahu saja, Bima sudah mengancamku saat hari pernikahan mereka.
Kemarin saat hari pernikahan Aisha dan Arthur, Bima menarik Rey. Menggiringnya ke sudut ruangan yang sepi. Membenturkan tubuhnya ke tembok.
Dan berkata,
"Aku tidak percaya pada pria itu. Aku percaya padamu, kau harus memastikan keselamatan adikku. Jika tidak, kau akan tahu akibatnya. "
Bukannya takut, namun Rey hanya berupaya melakukan yang terbaik. Dia hanya khawatir, bisa saja karena marah Arthur melukai istrinya sendiri. Mengingat tidak ada cinta diantara mereka.
Dan jika sampai itu terjadi, benturan keras antara dua organisasi tidak dapat terelakan. Mungkin secara jumlah Regdator masih menempati urutan tertinggi. Tapi tidak dengan anggota six powers yang mereka miliki. Simpang siur mengatakan, bahwa keenam orang itu sangat cerdik, berpindidikan, ahli dalam segala senjata dan pastinya keahlian bela diri. Jika keenam orang itu menyerang Arthur atau Rey bersamaan, mereka pasti akan tiada saat itu juga. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Semboyan bangsa ini yang pernah di dengar Rey.
Kembali ke Rey, pria itu masih gelisah. Padahal tidak mungkin juga kan Arthur melukai istrinya. Dia saja yang terlalu berlebihan.
Tak berselang lama, sebuah pesan masuk pada ponselnya.
"Rey, aku sudah tiba di New York. Jangan lupa bawa barang barang ku dan gadis itu " Pesan dari Arthur yang baru saja diterima.
"Arthurrr!!! " Rey kesal. Sia - sia saja dia mondar mandir kesana kemari seperti layangan putus. Ternyata pria itu sudah sampai di negaranya.
Tapi dia sedikit lega. Setidaknya, khayalan buruknya yang kelewat batas tadi tidak terealisasi.
__ADS_1
Bersambung...
Gini nih kalau lagi nggak mood nulis 😴. Maaf kalau tidak nyambung ya. Semoga suka. Kegiatan hari ini terlalu melelahkan sehingga mood untuk menulis terkikis.