Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 12


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang temaram, seorang anak perempuan kecil tengah diikat pada sebuah kursi kayu. Tangan dan kaki nya terjerat tali, mulut nya dibekap dengan kain berwarna hitam. Siapa lagi jika bukan Aisha?.


Perlahan - lahan kedua mata kecil dengan bulu mata lentik itu mengerjap, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Remang - remang cahaya yang berasal dari ventilasi udara adalah satu satunya sumber penerangan disini.


Dimana aku ini?.


Sesaat kemudian, ia baru menyadari apa yang telah terjadi padanya. Tiba - tiba keringat dingin menjalar di sekujur tubuhnya, tangan nya gemetar takut akan keadaan disini. Suasana mencekam ini mengasah memori Aisha tentang tragedi satu tahun silam, dimana ibunya menghilang selamanya dari kehidupan nya. Bayangan rentetan peristiwa malam itu menggerogoti otaknya. Belum lagi masalah trauma pada kegelapan.


"Kakak!! Ayah!! Kalian dimana? " Mulai menangis tersedu sedu, belum lagi perut nya terasa nyeri akibat tidak terisi asupan makanan sedari tadi.


Sepersekian detik berikutnya, lampu yang amat terang tiba - tiba menyala. Ruangan yang gelap gulita berubah menjadi terang benderang. Cahaya lampu membuat Aisha memejamkan matanya karena silau.


"Hai anak manis!. Kau sudah bangun? " Seorang pria berbadan bak kingkong berbalut setelan jas mahal dan kacamata hitam yang bertengger sempurna di hidung nya tersenyum simpul. Ia tampak sepantaran dengan ayah Aisha.


"Ka - kau siapa? " Ingin kabur, tapi bagaimana lagi tangan dan kakinya terikat dengan kencang nya.


"Aku? " Melepaskan kacamata bermerek mahal nya dan menghempaskan nya ke udara. Pengawal yang berdiri di belakang nya sontak menangkap benda yang bagaikan harta karun baginya.


"Aku adalah Pither Wilson bocah. Aku adalah sahabat baik ayahmu " Mengeluarkan smirk nya.


Pither Wilson? Sepertinya Aisha tak asing dengan nama itu. Terdengar familiar. Ia seperti pernah mendengar beberapa kali ada yang menyebut nama itu. Tapi kapan?.


Tapi yang jelas, anak perempuan itu sedikit lega kala mengetahui bahwa manusia yang berdiri di hadapannya ini adalah sahabat ayah nya. Mungkin saja ia datang untuk membebaskan Aisha, pikirnya.


"Jadi paman sahabat ayahku? Jika benar begitu maka tolong bukakan ikatan ku ini paman... Aku merasa sakit seperti ini " Pintanya dengan nada melemah.


"Membebaskanmu? " Pither tertawa kencang.


Hahahah. Lalu mengusap ujung matanya akibat terlalu semangat tertawa.


"Haduh bocah - bocah.. " Menggeleng - gelengkan kepalanya. "Dengar ya! " Ia mulai mendekati Aisha dan berdiri menjulang tepat berhadapan dengan tubuh mungkin itu.


"Aku lah yang membawa mu kesini. Aku yang menculik dan menyekapmu disini!. Dan aku adalah MANTAN sahabat ayahmu" Ucapnya yang menekankan pada kata 'mantan'.


Pither seolah tak peduli ia sedang bicara dengan siapa. Padahalkan ia sedang berbincang dengan Aisha, anak kecil polos yang tak mengerti apapun. Apalagi masalah dendam diantara kedua mantan sahabat ini. Sama sekali tidak terlintas dalam benaknya.


Dengan sejuta kepolosan pada nada bicara dan wajahnya, ia malah berkata " Tidak apa paman, meskipun hanya mantan sahabat, tapi paman kan juga pernah dekat dengan ayah jadi paman tolong lepaskan aku ya. "

__ADS_1


"Lagipula paman, kak Yudhi pernah berkata jika tali persahabatan itu tak akan pernah bisa putus sampai kapanpun juga. " Katanya bijak disertai dengan puppy eyes yang semakin menambah tingkat kemiripan dengan Alina.


Sial!. Aku lupa sedang bicara dengan siapa. Kenapa aku hilang kendali dan menumpahkan kemarahan pada bocah bau kencur ini sih!!.


Pither marah pada dirinya sendiri. Diakan hanya anak kecil dibawah umur, mana bisa mengerti penjelasan Pither. Mau dijelaskan sampai ujung dunia pun tak akan nyambung.


"Sial!! " Dengan segenap emosi yang meletup - letup, ia meninju tembok tak berdosa di samping nya dengan satu kepalan tangan. Sontak buku - buku jarinya bercucuran cairan merah kental.


"Paman, tanganmu berdarah.. Lepaskan ikatanku biar aku obati " Pintanya. Dan entah apa yang merasuki Pither, tiba tiba ia spontan. menuruti keinginan bocah itu.


Setelah tali yang melilit bagian tubuhnya terlepas, Aisha menyambar kotak P3K yang tergeletak diatas meja. Melangkahkan kaki mungil nya mendekati pria penuh dendam yang duduk di kursi. Anak itu berjongkok dan memulai pengobatan nya.


Mula - mula, ia mengambil antiseptik dan kapas dari sana, lalu membersihkan luka pria itu dengan lembut.Meneteskan obat merah pada luka Pither, dan hal itu membuat tangan nya sedikit perih.


"Aww" Rintih Pither yang hampir tak terdengar telinga.


Aisha yang menyaksikan itu menyambar tangan yang lebih besar darinya dan meniup niup tepat pada lukanya.


"Tahan sedikit ya paman.. Ini akan sedikit perih, soalnya Aisha juga pernah terluka.. " Ucapan yang penuh kasih sayang dan kelembutan yang keluar dari mulut mungil anak itu membuat hati pria yang telah melayangkan banyak nyawa manusia itu sedikit tersentuh. Ini mengingatkan nya pada Alina saat ia mengobati tangan nya yang terluka saat di kampus dulu.


Tiba - tiba saja bayangan Alina berseliweran di kepala pria itu.


"Bagaimana bisa terluka Pither? " Alina mengomel seraya terus mengobati tangan teman nya yang terluka.


"Aku tak sengaja tergores tadi.. " Tak dapat disembunyikan lagi gurat bahagia di wajahnya. Ia bahagia sebab Alina ternyata peduli padanya. Mungkinkah jika Alina juga menyimpan perasaan yang sama dengan yang ia rasakan?. Entahlah, semoga saja iya.


"Kenapa kau peduli padaku? " Menatap sang pujaan hati.


"Ingin tahu alasannya? " Pither mengangguk.


"Karena... karena aku... kau adalah... " Pither mulai berbunga saat Alina tampak ragu memberikan jawaban padanya. Ia semakin yakin bahwa Alina pun menyimpan rasa cinta padanya.


"Karena... kau adalah sahabat baikku Pither.."


Lanjut Alina dengan senyum manisnya. Memang, ia tak menganggap pria ini lebih dari teman ataupun sahabat. Dikarenakan ia telah melabuhkan jantung hatinya pada pria lain. Tentunya pria beruntung itu adalah Johanes.


Deg! Seketika tubuh Pither lemas, rasa sakit yang menjalar di telapak tangan nya bahkan tak berpengaruh lagi. Ia kecewa. Ternyata, sang wanita yang ia dambakan selama ini hanya menganggap nya tak lebih dari sekedar SAHABAT BAIK.

__ADS_1


"Alina? "


"Ya? "


"Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu? " Ia menatap penuh harap.


"Tentu Pit, kau adalah sahabat yang paling bisa memahami perasaan ku. Katakan mau tanya tentang apa? "


"Emm.. " Pither gugup.


"Siapa pria yang kau cintai? " Akhirnya uneg - uneg yang terpendam dalam lubuk hatinya terucap juga.


"Kau mau aku berkata jujur? " Alina tampak senyum - senyum sendiri.


"Iya " Jawabnya singkat.


"Aku... mencintai.. Johan " Kata Alina sarat kejujuran.


Pupus sudah harapan Pither kala itu juga. Setelah mengetahui perjodohan mereka, ia berniat akan menghasut Alina untuk meninggalkan Johan, namun mendengar dengan telinganya sendiri bahwa gadis cantik itu menyukai sahabatnya, ia mengurungkan niatnya. Sepertinya Pither harus menerima perjodohan dengan wanita pilihan orang tua nya.


Flashback off...


Saat Aisha telah usai melilitkan perban pada luka pria itu, bertepatan saat itu juga Pither tersadar dari lamunan masa lalunya. Rasa simpatik yang hinggap padanya beberapa menit yang lalu telah enyah dari hatinya.


Ia mendorong Aisha hingga terjungkang ke belakang.


"Kau adalah anak Johan!! " Teriak nya marah.


Sedangkan Aisha hanya bingung tak berkata apapun, ia bangkit dari duduknya. Orang dewasa memang aneh, pikir anak itu.


"Hei kau, ikat dia lagi! " Titah Pither dan melenggang pergi dari sana.


"Baik tuan "


Bersambung...


Hai, hai, hai kawan!!!

__ADS_1


Kalau suka dengan ceritanya jangan lupa di like yaaaa!! 🤗🤗😁


__ADS_2