Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 53


__ADS_3

"Dengar, kalian harus berangkat besok. Aunty sudah siapkan segala sesuatunya. Kalian tinggal berangkat apa susahnya! Hanya beberapa hari saja, aunty mohon ya. " Tatapan wanita itu memelas, nada suaranya juga melunak. Membuat Arthur tak tega dan menimbang ulang keputusan nya. Begitupun Aisha yang melihat tatapan sendu wanita itu hatinya menjadi tak tega dan akhirnya mengiyakan nya.


"Baiklah. " Ujar Aisha pasrah.


"Bagaimana denganmu Arthur? " Rania memandang Arthur masih dengan menyetel wajah sendunya. Arthur mengangguk mengiyakan.


"Yey akhirnya, begitu saja apa susahnya. Tinggal berangkat lalu menghabiskan waktu berdua. Ah senangnya, aunty jadi ingin kembali mengulang masa muda bersama-" Kalimat Rania terpotong, ia tak bisa melanjutkan kata katanya. Gurat wajah yang semula riang, berubah menjadi datar dan menyedihkan. Namun wanita itu segera menutupinya dengan mengalihkan topik pembicaraan.


"Aisha, istirahatlah sekarang sayang. Besok adalah hari yang panjang. " Ujarnya. Namun Aisha masih tak bergeming, ia penasaran tentang alasan perubahan raut wajah Rania tadi. Hingga ia tetap disana dan menatap lekat pada wanita yang telah dianggap nya sebagai ibu itu.


"Sebenarnya ada apa aunty, kenapa aunty tampak bersedih? " Tanya gadis itu. Namun Rania tak kunjung menjawab, ia hanya tertunduk bingung menjawab apa.


"Sudah, naik ke kamar sana! " Perintah Arthur.


"Tapi Arthur, ada apa sebenarnya? " Balas Aisha yang masih duduk disamping suaminya.


"Naik sekarang! " Pintanya lirih namun penuh penekanan. Membuat Aisha bergegas bangkit dan beringsut pergi meninggalkan mereka berdua. Saat menapaki anak tangga, gadis manis itu masih beradu dengan logikanya memikirkan aunty Rania.


Sebenarnya ada apa sih? Kenapa keluarga ini penuh rahasia. Huh! Kenapa juga hidupku sangat rumit dan penuh teka - teki.


Gerutu gadis itu sepanjang menapaki anak tangga. Saat sampai di depan pintu kamar, ia segera masuk dan merebahkan diri disana.


Sedangkan di dalam ruang keluarga, Arthur mendekati Rania. Menepuk bahunya berulang kali dan menghapus setitik air mata yang lolos dari tempatnya.


"Jangan di pikirkan lagi aunty, sekarang aku akan selalu bersamamu. " Mendekap tubuh kurus wanita itu, mengusap punggung nya berulang menyalurkan ketenangan.


***


Keesokan harinya, Arthur dan Aisha telah siap dengan pakaian rapi mereka. Dikarenakan cuaca mulai memasuki musim dingin, mereka memakai sweater dan baju hangat dengan syal tebal. Keduanya memasang wajah malas dan tertekuk. Dua koper besar telah siap, pakaian dan segala keperluan lainnya telah dikepak rapi di dalamnya.


Mereka berdua mengayunkan kaki keluar kamar, Aunty Rania telah siaga di depan dengan seulas senyum manisnya. Memasang wajah tak berdosa di hadapan suami istri itu.


"Ayo, kalian harus segera berangkat. " Ujarnya sembari menarik tangan keduanya.


"Kenapa buru - buru aunty, kami akan pergi menggunakan jet pribadi Arthur. Jadi bisa lepas landas kapan saja. " Kata Arthur kepada Rania. Wanita itu menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.

__ADS_1


"Tidak! Kalian akan berangkat menggunakan pesawat umum. " Titahnya tegas. Membuat Arthur menghela napasnya malas.


"Aunty, untuk apa itu semua? Aku punya jet mewah yang mahal, lalu kenapa harus berdesakan dengan banyak orang? " Protesnya cepat. Arthur paling tidak suka jika harus berdempetan dan berdesakan dengan banyak orang. Mendengar suara bising yang mengusik telinganya, itu adalah hal yang dia benci. Sedangkan Aisha, gadis itu hanya mengernyit heran, tidak ada kata - kata protes yang keluar dari mulutnya.


"Tidak ada bantahan! Pokoknya turuti perkataan aunty. Lagipula Arthur, naik pesawat umum itu tidak berdesakan. Semuanya diatur dengan baik, aunty juga memesan pesawat yang bagus kok. " Ujar Rania tetap pada pendiriannya.


"Kau tidak keberatan kan sayang? " Menatap menantunya yang memasang wajah memelasnya.


Aisha menggeleng, "Tidak apa Arthur, itu bukanlah hal yang buruk. " Tukas Aisha meyakinkan.


"Bagimu tidak buruk, tapi bagiku buruk! Apa gunanya punya jet mewah kalau tidak dimanfaatkan! " Ucap nya dengan nada setengah tinggi. Rania menajamkan pandangan nya.


"Arthur, tidak ada bantahan. 45 menit lagi pesawat kalian akan lepas landas. Cepat berangkat sekarang! " Kedua orang itu mengangguk pasrah. Lalu berpamitan pada aunty Rania. Segera memasuki mobil dan melesat kearah bandara.


***


Sesampainya di bandara, kedua insan yang telah menjalin tali pernikahan itu keluar dari mobil. Masih dengan wajah tertekuk, Arthur berjalan duluan meninggalkan istrinya di belakang. Gadis itu hanya berjalan mengikuti langkah suaminya dengan menenteng kopernya sendiri.


"Arthur tunggu! " Teriak Aisha. Arthur menghentikan langkahnya, tidak berbalik atau menoleh, ia hanya menunggu Aisha menghampirinya.


"Apa? " Ujar pria itu.


"Paris. " Balas pria itu singkat. Lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk kedalam.


Dasar es balok menyebalkan! . Umpat Aisha kesal dalam hati. Setelah puas memaki - maki Arthur dalam hati, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya sembari menggeret koper miliknya.


Semua penumpang beriringan masuk dengan tertib ke dalam pesawat. Para pramugari cantik menyambut seraya mengatupkan tangan di dekat pintu masuk. Arthur dan Aisha pun telah masuk ke dalam sana. Mereka duduk berdampingan. Setelah menunggu beberapa saat, pesawat itu lepas landas meninggalkan New York menuju kota Paris.


Makanan ringan tersaji di depan mata, namun Aisha tak berselera melihatnya. Ia hanya memandang keluar jendela dimana awan putih berserakan disana. Sedangkan sang suami yang duduk di sampingnya hanya terdiam sepanjang perjalanan.


"Arthur. " Panggil gadis itu sembari menoleh kearah suaminya.


"Apa? "


"Emm... tidak jadi. " Ujarnya. Arthur mencelos kearah lain. Sebenarnya lebih banyak pekerjaan kantor yang sekarang harus ia urus daripada menghabiskan waktu yang tidak jelas dengan gadis yang telah menyandang status sebagai istrinya itu. Jika ini bukan keinginan aunty Rania, ia pasti akan menolak mentah mentah acara bulan madu ini.

__ADS_1


Sedangkan Aisha tak terlalu ambil pusing, otaknya sibuk berkelana memikirkan berbagai destinasi wisata yang ingin ia kunjungi di negara yang dijuluki sebagai Kota Mode itu.


Karena perjalanan jauh yang memakan waktu hingga 7 jam, tanpa sadar Aisha tertidur di bahu Arthur. Pria itu mencoba membangunkannya, namun karena Aisha sangat pulas ia menjadi tidak tega dan akhirnya membiarkannya.


***


Kota Paris, Prancis


Setelah menempuh penerbangan yang memakan waktu panjang, akhirnya keduanya tiba di Kota Paris. Hawa dingin terasa menusuk kulit disini, untung saja mereka mengenakan pakaian tebal.


Kini keduanya berada dalam sebuah kendaraan roda empat yang sedang melaju menuju villa Arthur disana.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat jam dari bandara, mereka tiba pada villa megah bernuansa Eropa. Mobil masuk ke parkiran, mereka pun turun darisana berdampingan. Sopir menurunkan barang barang lalu membawakannya kedalam.


Setibanya di kamar, Arthur langsung merebahkan tubuhnya yang lelah. Sementara istrinya masih sibuk menata pakaian di dalam lemari. Sejenak ia memerhatikan apa yang dilakukan Aisha, gadis itu terlihat cantik juga rupanya. Apalagi dia sangat cerdas dan berpendidikan, semakin menambah nilai plus di mata siapapun.


Apa yang aku pikirkan?. Ia menepis pikiran kotornya, lalu merenggangkan ototnya dan kembali terpejam mengusir rasa lelah yang melanda.


Aisha yang telah usai menata pakaian dan memindahkan nya ke dalam lemari menghampiri sang suami.


"Arthur, bangun! " Menggoncang lengan pria itu. Namun Arthur tak merespon, ia masih tergeletak diatas kasur dengan posisi telentang.


Aisha mengeraskan volume suaranya.


" Arthur bangun! "


Arthur berdecak kesal, terpaksa ia membuka matanya. " Apa! "


"Ayo jalan jalan, kenapa kau tidur? Aku ingin berkeliling kota ini. " Pinta Aisha senang. Ingin sekali dia segera keluar dan menghabiskan waktu menjelajahi kota indah ini.


Aisha sibuk mengoceh tentang berbagai macam destinasi wisata yang ingin ia kunjungi. Apa saja yang ingin ia beli, makanan yang ingin ia cicipi dan oleh - oleh untuk seluruh isi mansion nanti. Bukannya menjadi pendengar yang baik, suami menyebalkannya malah sudah terlelap karena ocehannya.


"Hey, Arthur! Bangun, ayo jalan jalan! " Tidak ada respon. Aisha mendesah malas lalu meraih guling dan beberapa bantal yang dapat dijangkaunya, meletakannya ditengah tengah mereka sebagai pembatas jarak aman.


Lalu gadis itu ikut berbaring disamping suaminya melepas rasa lelah di tubuhnya.

__ADS_1


Setelah deru napas sang istri sudah terdengar teratur, Arthur memiringkan tubuhnya menghadap Aisha, menyunggingkan senyum lalu kembali memejamkan manik matanya.


Bersambung...


__ADS_2