
Pukul 13.00 di New York, Amerika. Mereka sudah sampai sejak satu jam yang lalu. Aunty Rania yang akan menyambut kepulangan malah dikejutkan dengan luka Arthur. Ia sesegera mungkin mengundang dokter pribadi keluarga Anderson untuk datang. Kini, Arthur, Aisha, dan Rania berada dalam kamar Arthur.
"Bagaimana bulan madu kalian? " Hal paling penting yang ingin ditanyakan Rania akhirnya terlontar juga setelah drama tadi.
"Menyenangkan aunty, " Aisha yang menjawab, disertai senyum tipis yang tersungging di wajah cantiknya.
"Lalu bagaimana? Sudah bobol? " Tanya Rania lagi dengan tidak sabaran. Bahkan ia menatap Arthur dan Aisha dengan penuh damba dan senyum merekah yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Maksudnya apa? " Tanya Aisha dengan dahi yang berkerut heran.
Rania menepuk dahinya jengah, "Maksudnya gawang! Gawangnya sudah bobol belum!" Kata Rania penuh penekanan. Matanya memindai pasutri itu penuh selidik. Aisha yang belum menangkap arah pembicaraan wanita paruh baya di depannya ini hanya diam. Sedangkan Arthur yang sudah tahu pikiran nakal aunty nya hanya memutar bola mata malas.
"Eh ditanya malah diam! Sudah belum? " .
"Sudah aunty, " Jawab Arthur malas. Lalu pria tampan itu menyandarkan punggungnya pada sandaran bantal bertumpuk di belakangnya. Rania belum puas, wanita itu beralih menatap gadis di depannya.
"Benarkah itu sayang? " Tanya nya lembut seraya mengelus puncak kepala Aisha. Perempuan itu menatap Arthur yang mengedipkan salah satu matanya. Mungkin memberi kode. Lalu ia menganggukan kepalanya pada Rania.
"Benarkah? Sudah? " Tanya nya girang. Lalu beranjak dari duduknya dan berlonjak lonjak kegirangan seraya bertepuk tangan ria.
"Yeay! Tidak sia sia aku mengirim kalian jauh jauh ke negara orang! Akhirnya, penantian tak berujungku selesai juga! " Masih melompat lompat kegirangan layaknya anak kecil yang diberi permen. Arthur yang sudah fasih akan sikap bar bar aunty nya itu hanya geleng geleng kepala.
"Aunty hati hati, nanti pinggangmu sakit! " Peringat Aisha khawatir. Lalu menarik tangan wanita paruh baya itu agar kembali duduk di bibir ranjang.
Ia mendekap Aisha dalam pelukan hangatnya. "Dengar sayang, kau harus lebih berusaha lagi. Tambahkan fermipan yang banyak, agar kue manis kalian segera matang, " Bisik Rania dengan kekehan kecil yang terselip disana. Tanpa menaruh curiga sedikitpun bahwa Arthur membodohinya.
Kenapa kau itu mudah sekali percaya aunty ku sayang. Batin Arthur dalam hati. Matanya yang terpejam, namun telinganya masih dapat menangkap dengan baik pembicaraan kedua perempuan itu.
"Apa? Maksudnya apa, memangnya siapa yang membuat kue? " Tanya Aisha dengan polosnya. Namun tiba tiba ia teringat sesuatu, hingga membuatnya menarik kedua sudut bibirnya. "Aunty benar, aku sangat ingin membuat kue. Aku akan membuatnya nanti."
Ujar Aisha girang.
Rania yang mendengar penuturan dengan semangat membara dari keponakannya itu semakin dibuat bahagia. Rasanya seperti terbang ke angkasa. "Bagus sayang, buatlah sekarang. Aunty pergi dulu ya. Semoga berhasil. " Seru Rania setelah ia mengecup dahi Aisha. Lalu melenggang pergi darisana dan tak lupa menutup pintu.
Arthur yang tersentak dengan perkataan istrinya, sontak menatap lekat padanya. Ada rasa heran pada benaknya. Apa istrinya ini sedang menggodanya atau bagaimana. Kenapa dia sangat semangat begitu.
"Kenapa melihatku seperti itu? " Tanya Aisha.
"Apa yang kau katakan tadi? " Ujar Arthur dengan nada menggoda.
"Aku ingin membuat kue. "
"Baiklah, kemari! " Sudah menarik tangan Aisha agar merapat padanya. Hingga ia jatuh dalam pelukan Arthur. Ditengah suasana itu, Rey muncul tiba tiba tanpa mengetuk pintu.
"Arthur, ups, maaf! " Pria itu membalikan punggungnya. "Aku tadinya ingin mengatakan hal penting, tapi sepertinya aku mengganggu adegan mesra kalian ya. Baiklah aku akan pergi. " Suara Rey diiringi kakinya yang mulai menjauhi pintu.
"Tunggu Rey! " Cegah Aisha, lalu menjauhkan diri dari suaminya. Rey pun berbalik dan tersenyum meledak pada Arthur.
Siapa dulu yang berkata 'aku tidak akan tergoda dengan gadis manja itu', lalu apa sekarang?. Batin Rey seraya langkah kakinya yang mendekati Arthur.
"Katakan! " Ujar Arthur kesal. Lalu kembali menyandarkan punggungnya.
Rey sedikit ragu untuk melapor apa yang dia dapat, ia melirik Aisha dengan ekor matanya.
"Tidak apa - apa, biarkan dia mendengar! " Seru Arthur.
"Baiklah. Aku hanya ingin melapor padamu bahwa dalang dibalik penyerangan kalian belum ditemukan. Aku sudah menyiksa para pria yang masih hidup waktu itu, tapi mereka tetap tidak mau bicara. " Lapor Reynard.
__ADS_1
"Hanya itu saja? " Ujar Arthur. Seperti mengisyaratkan, tidak penting sama sekali.
"Tentu saja bukan bodoh! " Arthur langsung menajamkan tatapannya pada Rey. Membuat tangan kanannya itu meneguk salivanya dengan kasar. "Ma-maksudku.. setelah disiksa hingga hampir mati, ada salah satu dari mereka yang berkata, jika ketua mereka adalah musuh abadimu. " Seru Rey.
"Musuhku ada banyak, kau tahu sendiri kan? Apa tidak ada petunjuk lain?" Tanya Arthur lagi. Sedangkan Aisha yang duduk bersila disampingnya berusaha berpikir keras. Kira kira siapa dalang dibalik penyerangan mereka kemarin. Beban pikirannya semakin berat mengingat suaminya yang dimusuhi banyak pihak. Baik dari dunia mafia maupun para pengusaha bisnis yang bermain dengan cara kotor.
"Arthur, aku rasa-" Saat Aisha mencoba membuka suara, Arthur si es balok yang keras kepala segera menyelanya.
"Sudah diam saja, tahu apa kau ini! Mulai sekarang jangan keluyuran sendiri lagi. Kau tidak akan pergi kemanapun tanpa mengantongi ijin dariku!" Ultimatum baru yang diciptakan suaminya membuat Aisha mengerucutkan bibir. Kesal, dia tidak pernah dikekang sebegininya sebelumnya.
"Kenapa begitu? " Tanya Aisha.
"Karena aku adalah suamimu! Kau adalah tanggung jawabku sekarang. " Seru Arthur. Lalu ia kembali memandang sekretaris sekaligus sahabatnya itu. "Selidiki semuanya Rey, secepatnya! " Tegasnya.
"Baiklah, " Mengangguk. Namun tiba tiba Rey teringat sesuatu yang ia rasa masih janggal.
"Oh ya Sha, siapa yang menolongmu waktu itu? Bagaimana kau bisa menelponku? " Cecaran pertanyaan Reynard membuat Aisha sedikit menundukkan kepalanya. Dahinya tanpa sadar berkerut, menandakan bahwa ia tengah beradu dengan pikiran.
"Maksudmu? "
"Iya, waktu itu kan ada salah satu pria yang masih hidup lalu memukul Arthur. Jika pria itu masih punya akal, pasti dia otomatis akan menyerangmu. Lalu bagaimana kau melawannya? " Tanya Rey penuh selidik. Mulai curiga kala istri sahabatnya itu tampak terdiam sejenak.
Aisha memandang suaminya, "Kau ingat kalau kau memberiku pistol untuk berjaga jaga? " Arthur mengangguk mengiyakan.
"Aku memakai itu untuk melindungi diriku."
"Tapi--" Ucap Reynard terpotong.
"Aku baru ingat bahwa aku akan membuat kue " Ujar Aisha. Raut wajah Arthur yang semula curiga kini berbinar bahagia.
"Iya Rey, pergi sana! Kehadiranmu tidak diharapkan disini! " Usir Arthur yang membuat Rey membulatkan matanya geram.
Setelah kepergian Reynard,
"Ayo, katanya mau membuat kue. " Sudah menarik tangan Aisha. Gadis itu menepisnya.
"Iya, aku akan membuat kue keju di dapur. Kau mau? Nanti aku akan membawakan untukmu. Kau disini saja. " Ujar Aisha lalu beringsut pergi meninggalkan ruangan. Arthur yang salah paham lantas menjambak rambutnya frustrasi. Ia juga bingung, bagaimana dia bisa kehilangan harga diri seperti tadi.
Apa yang aku katakan ini? Seolah olah aku sangat menginginkannya. Ah!! Memalukan.
Batin Arthur dalam hati. Ia merebah diatas kasur king size itu. Mulai berpikir bahwa sepertinya setiap kata yang keluar dari mulut istrinya bagaikan sihir yang selalu bisa menghipnotisnya.
***
Aisha dengan lihainya tengah membuat adonan kue keju di dalam dapur. Ia tidak mengijinkan seorang pelayan pun membantunya. Dengan wajah ceria, ia memasukan adonan yang sudah ada dalam cetakan itu ke dalam oven. Mengatur timer lalu melangkah ke meja makan.
Rania yang baru saja turun ke lantai bawah menyapanya, " Sayang, sedang apa disini?" Tanya Rania heran.
"Aku sedang membuat kue aunty. " Jawab Aisha tersenyum. Wanita paruh baya itu menarik salah satu kursi, duduk di sebelah menantunya dengan dahi berkerut heran.
"Jadi maksudmu, kau membuat kue sungguhan? " Tanya Aunty Rania. Aisha hanya mengangguk menanggapi. Wanita itu mulai menaruh curiga. Ia tahu menantunya ini mungkin masih polos kalau ditanya tentang urusan suami istri.
"Sayang, katakan pada aunty. Apa waktu bulan madu, kalian sudah tidur bersama? " Tanya wanita itu lagi yang diangguki Aisha.
"Tentu saja aunty, setiap hari juga begitu. Memang aunty mau kami tidak tidur sekamar? " Mendengar jawaban menantunya, Rania menepuk dahinya.
Ya Tuhan, kenapa gadis ini masih polos sekali. Batinnya seraya mengelus pipi mulus Aisha. Lalu tersenyum padanya.
__ADS_1
"Maksudku adalah, apa kalian pernah berhubungan suami istri? Pernah? " Akhirnya ia memilih pilihan kata yang menjurus langsung ke inti pembicaraan. Agar gadis ini mudah menangkap maksudnya.
Aisha menggeleng, jujur saja, ia juga belum siap tentang yang satu itu. " Belum" Lirihnya.
Brak!! Rania menggebrak meja makan di depannya. Dengan mulut yang komat kamit entah bergumam apa, ia meletakan kedua tangannya diatas pinggang. Sedangkan Aisha, gadis itu sampai terlonjak kaget. Apa aunty sampai semarah itu padanya hingga menggebrak meja?
"Aunty maafkan aku. "Ujarnya seraya menggelayuti tangan Rania.
"Aku tidak marah padamu sayang, aku marah pada Arthur. Aku tahu dia paham maksudku. Bule itu ya, memang.. " Menggertakan gigi menahan geram. Lalu ia melepas tangan Aisha dengan lembut. Mengelus pundaknya.
"Kau tenang saja sayang, aunty akan membuat Arthur tidak berkutik di depanmu nanti. " Seru Rania lalu berlalu darisana. Menaiki tangga menuju lantai atas, entah rencana apa yang akan disongsongnya kedepan.
Aisha yang masih mematung disana, masih berkecamuk dalam benaknya. Memikirkan penuturan bibi suaminya yang terasa mengusik relung hatinya. Ia tersadar dari lamunan kala timer oven berbunyi. Ia segera beranjak menuju dapur dan menyajikan kue keju itu kedalam piring.
*****
Hari ini genap satu minggu setelah kepulangan Arthur dan Aisha dari Prancis. Semua orang beraktifitas seperti sedia kala. Luka Arthur juga sudah berangsur membaik, membuatnya bisa pergi bekerja lagi.
Aisha baru saja keluar dari walk in closet. Ia sudah mengenakan jaketnya dengan tas ransel yang melekat di punggungnya. Terlihat oleh matanya sang suami yang tengah mengenakan jas. Menyadari ada orang, Arthur menoleh padanya dengan tangan yang menyodorkan dasi pada Aisha.
"Apa ini? " Walaupun heran, namun ia tetap meraih benda itu dari tangan Arthur.
"Sudah tahu masih bertanya! Pasangkan padaku, itu bagian dari tugasmu sebagai istri kan! " Seru Arthur masih dengan nada ketus. Gadis itu menghembuskan napas kasar, dia mau mau saja sebetulnya. Namun kenapa juga harus berkata dengan nada ketus begitu.
Dia ini selalu saja berkata kasar!. Gerutu Aisha sembari memakaikan dasi itu pada kerah kemeja suaminya. Menyadari perubahan raut wajah istrinya, Arthur menarik kedua sudut bibirnya tipis. Ada kebahagiaan sendiri saat menjahili Aisha, apalagi melihat raut wajahnya yang merengut begitu. Membuat dia semakin terlihat menggemaskan.
"Menunduk sedikit! Badanmu terlalu tinggi!" Perintah Aisha.
"Kau saja yang terlalu pendek, seperti kurcaci." Seru Arthur, namun ia tetap menundukan wajahnya agar Aisha mudah menjangkaunya. Tanpa membuang waktu, ia segera memasangkan benda itu.
"Badanmu saja yang terlalu tinggi, badan manusia mirip galah! Aku bahkan bisa memakaimu untuk memetik rambutan. " Gumam Aisha lirih, namun masih dapat menembus gendang telinga Arthur.
"Apa katamu! "
"Ti-tidak ada, kau itu sangat menyebalkan! " Ujarnya sambil mengerucurkan bibir. Lalu menjauhkan tangan dan hendak berbalik. Namun Arthur mencekal tangannya, dan. Cup. Satu kecupan mendarat di bibir Aisha. Gadis itu membulatkan mata akan peristiwa langka yang baru saja menimpanya. Terkejut, dia sangat terkejut.
Sedangkan Arthur, ia juga tersentak dengan adegan yang reflek ia lakukan. Ia sesegera mungkin menjauhkan tubuhnya dari Aisha. Mengalihkan pandangannya kearah lain. Bingung pada reaksi tubuhnya yang tak sejalan dengan otak.
"Maaf. " Melirik Aisha yang masih membulatkan mata. " Lupakan saja! " Tukas Arthur.
"Kenapa kau melakukan itu? " Dengan ragu, Aisha meraba bibirnya. Bekas kecupan kilat Arthur masih berdenyut disana. Jantungnya juga masih berdegub tak beraturan.
"Kenapa? Tidak boleh? Aku suamimu, jadi itu bukan kesalahan! " Seru Arthur sedikit kesal. Ia masih enggan menatap manik mata istrinya.
Aisha berpikir sejenak. Mencoba memproses apa yang terjadi. Benar, kini dia bukan lajang lagi. Dia sudah bersuami, jadi Arthur memiliki hak penuh atas dirinya. Entah ada cinta atau tidak. Tapi Aisha adalah tipe orang yang tidak mengabaikan kewajiban.
"Yasudah, aku akan berangkat kuliah. Aku pergi dulu. " Sebelum itu, ia mendekat kearah suaminya. Membenahi salah satu kancing jas Arthur yang belum terpasang sempurna.
"Aku pergi. " Ujarnya lalu melenggang pergi darisana.
Sial! Lagi lagi aku tidak bisa mengendalikan diri. Ia menjambak ramburnya frustasi. Memejamkan mata menahan emosi.
Tapi ini adalah salahnya juga, kenapa tadi membuat ekspresi mengesalkan begitu. Ya, ini salahnya. Bukan salahku. Sama sekali bukan.
Arthur bergegas menyambar tas kerjanya yang tergeletak diatas meja. Melenggang pergi darisana dengan mood yang tak bersahabat.
Tanpa ada seorang pun yang mengetahui, ada seorang wanita yang sejak tadi mengintip di balik pintu yang terbuka sedikit. Rania bersembunyi di balik tembok saat Aisha dan Arthur keluar kamar. Wanita itu terkekeh dalam hati. Ada rasa bahagia tersendiri dalam relung hatinya.
__ADS_1
Bersambung...