Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 83


__ADS_3

Gerakan memukul, menghindar dan membogemnya sungguh cekatan. Aura amarah yang dilihat Arthur dari manik istrinya membuatnya lupa dunia. Netranya sibuk memandang sesuatu yang lebih menarik disana. Kelincahan yang luar biasa.


"Arthur awas!" Teriak Aisha ketika melihat seorang pria hendak memukul suaminya dari belakang. Sontak Arthur menangkis serangan itu, kembali fokus pada lawan masing - masing. Seorang pengawal mengamankan Myara ke lantai atas. Ia juga mengajak Aisha, namun gadis itu menggeleng. Sudah terlanjur, begitu arti gelengan kepalanya.


Pertempuran terus berlanjut, kedua bola mata Arthur menyapu ruangan. Rupanya dalang dibalik semua ini benar - benar pengecut, karena hanya anak buah dan tangan kanannya saja yang tampak. Tapi sutradara dari peristiwa ini entah kemana.


Cih


Sekarang Aisha dan Arthur berhadapan, menatap lamat lamat satu sama lain. Sorot mata Arthur meminta penjelasan, ya, Aisha dapat menangkap itu. Ia akan menjelaskan semuanya nanti.


"Ayo, aku akan mengantarmu ke lantai atas. Kau akan aman. " Arthur menepis semua rasa penasarannya, lebih mengutamakan keselamatan sang istri.


"Tidak Arthur, aku akan tetap disini. " Aisha kekeh menjawab.


"Tapi--" Ucapan Arthur terpotong oleh tendangan yang dilayangkan padanya. Tidak ada waktu, akhirnya mereka bersama sama memberantas musuh. Aisha berada di sebelah kanan sedangkan Arthur sebaliknya. Saling mengingatkan satu sama lain apabila ada yang lengah. Rombongan bala bantuan datang. Para anak buah Arthur berpencar menumpas apa yang mereka tuju.


Sekitar satu jam bergulir, tubuh tubuh tergeletak di lantai. Terbujur dengan sangat menyedihkan. Ada beberapa yang masih bertarung namun jumlahnya sudah menipis.


Aisha dan Arthur berdiri berdampingan, kedua mata mereka sama sama mengamati ruangan. Setelah suasana cukup tenang, keduanya bersitatap. Gurat wajah penuh tanya, kesal dan bingung tercipta di wajah tampan Arthur. Aisha menelan ludahnya, tenggorokannya tiba tiba mengering mendapati tatapan tajam dari sang suami. Tangan Arthur menggenggam tangannya dan menariknya menuju lantai tiga.


***


Mansion megah kepemilikan Arthur Anderson tampak porak poranda. Barang - barang, pajangan, guci, dan perabotan berserakan tak pada tempatnya. Noda merah menyisa menghiasi lantai putih yang sebelumnya bersih tanpa cela. Tubuh - tubuh musuh itu entah sudah dipindahkan kemana. Sedangkan anggota Regdator yang terluka diberikan perawatan terbaik. Dokter dokter mendapat panggilan darurat di tengah dinginnya malam, apalagi sebagian akses jalan tertutup entah kenapa.


Beberapa mobil kepolisian terparkir di pelataran hunian Anderson. Para pria berseragam mengusut terjadinya insiden ini. Beruntunglah ada Reynard si jenius saat situasi genting, dapat menangani semua. Kekuasaan dan pengaruh mereka memudahkan terlepas dari cecaran pertanyaan para petugas. Bukti - bukti yang terkumpul jelas menunjukan bahwa merekalah yang diserang duluan, dari mulai CCTV, keterangan saksi, pelayan dan para pengawal. Semuanya beres, jejak jejak dengan cepat dilenyapkan.

__ADS_1


Akhirnya para petugas itupun kembali dengan tangan kosong. Dengan syarat adanya keterangan lebih lanjut dari korban.


***


Setelah dirasa semua sudah cukup kondusif, para pelayan, pengawal dan lainnya juga sudah meluruskan punggung diatas ranjang yang empuk. Jam menunjukan pukul 1 dini hari, Aisha duduk ditepi ranjang, menautkan jarinya dibawah sana. Arthur berdiri tepat di hadapannya, tatapannya sangat sukar diartikan. Apalagi perempuan itu hanya berani menatap sekilas saja.


"Kau berhutang penjelasan padaku. " Ujar Arthur datar, masih tak mengalihkan pandangannya.


Huh, Aisha menghela napas mengusir gelisah. "Baiklah, dengarkan aku. Tapi jangan menyela sebelum aku selesai bicara. " Arthur hanya mengangguk pelan.


Gadis itu menceritakan segalanya dengan detail, ya mungkin ada beberapa yang terlewat. Terlalu banyak tragedi dalam masalalunya membuat Aisha terkadang lupa. Arthur takzim mendengarkan, dari mulai bagaimana anak kecil bernama Aisha mengenal dunia para mafia. Umur berapa dia mempelajari semuanya. Masa remajanya yang sangat berbeda dari para gadis lainnya. Jika kebanyakan dari mereka akan menghabiskan waktu untuk cinta monyet, berkumpul bersama teman teman, ataupun kegiatan menyenangkan lainnya. Di masa mencari jati diri itu, Aisha sudah menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Dia ditempa, menjalani latihan fisik dan mental yang kuat. Menghabiskan waktunya untuk mempelajari senjata, teknologi modern dan strategi perang.


"Waktu itu aku mahir komputer disaat usiaku 10 tahun, tidak tau apa yang aku lakukan dengan komputer canggih milik kakak. Disaat aku mengotak atiknya, aku tanpa sengaja meretas file di salah satu hotel ayah. Sejak itu, ayah memutuskan mengirimku ke Chicago beberapa tahun bersama kak Yudhi untuk menjalani pelatihan tertutup disana. Menutup jati diriku. " Aisha menarik napas sejenak.


"Saat aku berumur 12 tahun, aku diculik dan dipaksa menjadi seorang hacker oleh suatu oknum. Sejak saat itu pula, ayah semakin posesif padaku. " Menatap mata suaminya dalam, pria itu tampak masih terdiam. Aisha memang belum selesai bicara.


Cerita berlanjut, kali ini isinya lebih menjurus ke nama lain perempuan itu. El Taylor. Nama kebanggaan pemberian daddy Martin yang amat berharga bagi hidupnya.


Arthur tercengang mendengar fakta yang baru saja ia terima. Matanya membulat sempurna, mulutnya sedikit ternganga dan hembusan napas yang tak teratur.


Sesuatu yang mengusik pikirannya bertahun tahun akhirnya terbongkar juga. El Taylor, nama yang telah lama menjadi misteri di dunia mafia Amerika sejak diketahui menghilang beberapa tahun belakangan. Manusia yang selalu dicari, namun tak pernah ditemukan. Lebih tepatnya mereka tidak mengenali kalau yang dicari ada di depan mata. Ada yang yakin kalau dia adalah laki laki, ada juga yang beranggapan kalau dia perempuan. Siapa sangka, nama yang bertahun tahun di selidiki para mafia itu hanyalah seorang gadis muda yang berparas manis, cerewet dan banyak tingkah seperti dia. Dunia hitam akan tercengang mendengar fakta ini!. Ya, Aisha itulah orangnya.


"Ka-kau.. " Arthur tak bisa berkata kata. Terkejut, bingung dan shock menjadi satu. Teka teki di kepalanya terjawab sudah. Memori saat ia dan El bertemu beberapa tahun silam berputar di kepalanya seperti film layar lebar. Menari nari di benak Arthur. Tapi tunggu, Aisha sama sekali tak menceritakan tentang kejadian itu. Apakah dia lupa atau apa.


"Kau dan El Taylor adalah orang yang sama? Berarti kau juga--"

__ADS_1


Aisha mengangguk, paham apa yang dikatakan suaminya." Ya, akulah nomor enam yang diselidiki Rey itu." Dia sejujurnya sudah tahu apa misi Rey yang tidak selesai sampai sekarang.


Dahi Aisha mengernyit kala suaminya melenggang pergi dari hadapannya. Ia pikir Arthur marah, tapi melihat pria itu memasuki walk on closet membuatnya lega.


Sepertinya Arthur tidak marah padaku. Huh! Leganya, akhirnya tidak ada rahasia lagi di dalam pernikahan kami.


Keluar dari closet membawa sebuah kotak, Arthur mengayunkan kakinya, duduk disamping sang istri. Aisha memandang bingung benda itu. Kotak penuh ukiran emas yang elegan. Tampak seperti rancangan berkelas.


"Apa ini?"


"Cari tahu saja sendiri!" Aisha membukanya. Isinya sangat simple, kenapa barang seperti ini harus disimpan pada kotak emas. Sungguh berlebihan. "Hanya robekan syal saja? Kukira isinya adalah pesan rahasia atau apa! " Aisha tertawa, membuat Arthur mengerutkan keningnya kesal. Dalam ekspektasinya, istrinya akan menangis haru dan memeluknya erat. Tapi dia malah tertawa.


"Kau tidak ingat!" Nada bicaranya sudah terdengar kesal. Raut wajahnya kian menekuk kala Aisha menggeleng polos.


''Kau!-- "


"Aku hanya bercanda. " Seru Aisha yang kini mengamati barang itu lamat lamat. Menyelami pikiran terdalamnya, mengingat apa yang bisa otaknya gapai.


"Ayo, jabat tanganku dan perkenalkan dirimu padaku." Aisha mengulurkan tangan kecilnya.


"Arthur. Arthur Anderson, kepala organisasi Regdator dari Amerika." Laki laki itu menyambut uluran tangan Aisha. Senyum simpul dan menawan tampak terukir di wajahnya. Aisha ikut tersenyum.


Memori rentetan kenangan buruk masa lalunya bangkit, dari mulai penculikannya. Pertemuan dengan Pither. Tragedi penembakan yang membuatnya koma. Dan yang paling penting, pertemuan dengan Arthur yang sempat ia lupakan.


...----------------...

__ADS_1


Lanjutannya masih otw :/


__ADS_2