Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
Extra Part 3


__ADS_3

Aisha hampir saja muntah saat ia dan suaminya melewati meja khusus teman - teman Elle yang mayoritas sedang mabuk dan bermain kartu. Aroma tak sedap dari minuman itu benar - benar menusuk dan menyulut lambungnya hingga mual. Belum lagi ditambah bau rokok yang menyengat. Ia menyesal memilih jalan ini.


"Sayang kau tidak papa?" Laki - laki itu merasa cemas saat Aisha merengkuh pinggangnya dan menumpukan seluruh bobot tubuhnya disana. Lebih khawatir lagi saat memandang wajahnya yang nampak lemas dan lesu.


"Apa kau sakit?" Sambungnya lagi yang tak memperoleh jawaban.


Aisha terus diam sampai mereka melewati area tersebut dan tiba di parkiran hotel yang ramai. Sudah mirip pameran mobil karena kebanyakan yang terparkir disana adalah mobil - mobil mewah nan mahal yang harganya tak perlu dipertanyakan lagi.


Mobil melaju pelan, keheningan tercipta didalam. Arthur yang tidak tahu apa salahnya merasa bingung dengan perubahan raut wajah wanitanya.


"Sha!" Panggilnya memecah kesunyian. Sebab tak ada percakapan ataupun alunan musik yang berputar di dalam kendaraan roda empat itu.


"Hmm?" Sahutnya tanpa menoleh dan sibuk dengan gawai. Berbalas pesan dengan Myara terasa lebih menyenangkan daripada menatap wajah suami tak pekanya yang membuatnya sebal.


"Apa aku ada salah?" Tanya pria itu memastikan. Tidak ada balasan. Tangan pria itu mengarahkan kemudi ke kiri, berhenti disana dan menatap mata istrinya lekat.


"Kenapa berhenti disini?" Tanyanya dengan dahi berkerut saat netranya berkeliling melihat sekitar, ternyata mereka berhenti di depan sebuah hotel.


"Lebih baik kita menginap disini saja kalau kau masih marah padaku. Kita bisa bersenang - senang disini." Ujarnya dengan senyum nakal yang dapat Aisha tebak kemana arah pembicaraan suaminya itu.


"Huh, Arthur! aku ingin pulang sekarang juga! Aku tidak mau disini!" Rengek nya kesal seraya berusaha membuka pintu mobil. Namun sia - sia, Arthur telah mengunci pintunya yang membuat mereka berdua terjebak didalam.


"Arthur!" protesnya kesal.


Namun Arthur tak menggubris, ia malah mencondongkan tubuhnya hingga semakin mendekat. Terpaan napas hangatnya terasa dikulit Aisha yang sontak membuat wanita itu meremang.


"Apa yang kau mau?!" Pekiknya seraya mendorong dada bidang sang suami. Namun tenaganya kalah kuat, tangan kecilnya tak sanggup melawan tubuh besar Arthur yang bagai seorang pegulat.


"Kau! Aku menginginkanmu." Bisiknya di dekat telinga Aisha. Bulu kuduknya sudah berdiri tegak kala kilatan gairah itu begitu kentara di netra suaminya.


"Arthur jangan gila! ini di mobil aku tidak mau melakukannya! Lagipula kata dokter-"


Ucapan Aisha tertelan kala suaminya itu sudah terlebih dahulu menyatukan diri. Ia memagut dengan lembut, penuh cinta dan kasih sayang yang teramat. Ia semakin memperdalam ciumannya saat Aisha memberontak, bahkan menahan tengkuk wanitanya.


Barulah pagutan itu terlepas saat mereka mulai kehabisan napas. Aisha menghirup udara sebanyak - banyaknya, lalu menghembuskan nya perlahan. Ia mendelik kesal pada suaminya yang tengah tertawa.


"Kau ini!" Memukul bahu Arthur kesal.


"Itu akibatnya kalau kau mengabaikanku Sha" Ujar pria itu.


"Kau menyebalkan! pergi sana, aku mau pulang sendiri!"


"Hei sayang! Aku minta maaf, aku gemas melihatmu cemberut seperti itu. Tolong katakan apa salahku supaya aku bisa memperbaikinya, jangan diam begini." Tuturnya lembut sembari mengelus pipi istrinya pelan. Membuat hati Aisha sedikit menghangat. Tapi ia masih kesal, entah mengapa hormonnya membawanya kedalam suasana hati yang buruk setiap saat, ketika semuanya berjalan tak sesuai kehendaknya.


"Pikir sendiri!" Ujar Aisha.


"Tapi aku tidak bisa berpikir kalau istriku merajuk seperti ini!" Selorohnya seraya menoel dagu Aisha. Dan mencubit pipinya yang semakin chubby imbas dari kehamilan.


"Apa kau melihat aku berfoto dengan Elle tadi?" Ucap Arthur lagi yang mulai membaca situasi. Aisha hanya melirik sekilas lalu kembali membuang muka kesamping.


"Dugaanku benar, jadi kau sedang cemburu? nyonya Anderson sedang cemburu?" Arthur tertawa kecil menggoda sang istri. Aisha semakin mengerucutkan bibirnya.


"Siapa yang tidak cemburu melihat suaminya berfoto mesra dengan orang lain!" Ketusnya.


Pria itu menghela napas lembut, "Sha, maafkan aku. Aku tidak sempat menolak tadi saat Elle begitu-"

__ADS_1


"Jangan sebut namanya!"


"Iya, iya maaf. Aku tidak sempat menghindar tadi. Kau tahukan, hal seperti itu sebenarnya sudah biasa di negara ini, " Dengan penuh kelembutan Arthur menjelaskan, dia tak ingin wanitanya semakin merajuk.


Perbedaan budaya dan kebiasaan memang kadang menjadi salah satu hambatan pasangan yang menikah beda negara.


Aisha dulu terbiasa dengan lingkungan yang berkelas dan penuh kesopanan, ya meskipun kadang sikapnya masih kekanakan.


Sedangkan disini, semuanya sangat berkebalikan. Meskipun sudah setahun lebih tinggal di negara ini, tampaknya istrinya tersebut belum sepenuhnya beradaptasi.


"Iya aku tahu, tapi kau sudah janji akan menjaga jarak dengan perempuan lain." Ujarnya. Arthur memang pernah berjanji seperti itu setelah kepergian Wilhelmina


"Iya, aku minta maaf. Apa yang kau inginkan sekarang?" Diraihnya tangan istrinya lembut, mengecup perlahan disana.


"Pulang! Kita pulang kerumah, aku tidak tega meninggalkan Krystal sendirian." Seru Aisha.


"Ada apa dengannya?"


"Entah, dia cukup rewel hari ini. Aku takut terjadi sesuatu."


"Oke, kita pulang sekarang," Sebelum kembali menancap gas pria itu menghadiahkan satu kecupan mesra di bibirnya. Rona merah menguar dari pipi putih Aisha.


****


Saat mobil berwarna hitam tersebut terparkir di pekarangan mansion Anderson, Aisha langsung bergegas turun dari dalam kendaraan roda empat itu. Ia ingin cepat - cepat melepas penat diatas ranjangnya yang nyaman.


"Sayang tunggu!" Seru Arthur saat istrinya itu sudah masuk duluan.


Melewati ruang tamu, dahi Aisha berkerut saat melihat Devan masih berada di depan ruang keluarga dan sepertinya sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


"Kau keatas duluan saja."


Perlahan langkah kaki Aisha mendekati Devan, anak angkatnya yang sangat ia sayangi. Dia anak yang pintar, hal itu semakin membuat bangga dia sebagai seorang ibu.


"Dev.." Panggilnya pelan lalu duduk dan merangkul bahu Devan. Anak itu tersenyum padanya, ia tampak lebih bahagia dan akrab dengan Aisha akhir - akhir ini. Kesedihan di matanya sudah berkurang walaupun kadang masih tertangkap mata.


"Kenapa belum tidur sayang?" Tuturnya lembut penuh kasih sayang.


"Aku belum menyelesaikan tugas sekolahku mami. " Tak dapat dipungkiri, mata Devan bahkan sudah memerah menahan kantuk. Berkali-kali ia menguap, tapi tugas sekolahnya ini benar-benar harus segera tuntas. Kalau ditunda lagi nanti jadinya akan menumpuk dan kuwalahan.


"Kan bisa dilanjutkan besok, ini sudah dini hari. Tidak baik anak kecil begadang. Nanti bisa sakit." Aisha salut pada semangat anak itu dalam belajar yang selalu berkobar-kobar. Tapi sesuatu yang berlebihan tidak baik, akan mendatangkan hal buruk nantinya. Apalagi Dev masih kecil.


"Tapi mami ku selalu mengajarkan untuk menyelesaikan tugas tepat waktu." Entah mengapa raut wajahnya berubah muram saat mengingat ibu kandungnya yang sudah pergi meninggalkan dunia untuk selama lamanya.


Devan tiba-tiba teringat saat mengerikan dimana ia melihat jasad ibunya yang bersimbah darah di depan matanya sendiri. Hal itu laksana mimpi buruk baginya, kenangan terpahit dalam hidup yang membuatnya sulit tidur. Ia tak akan melupakan tragedi itu. Meskipun sekarang, mami Aisha selalu bersamanya dan mengasihinya sepenuh hati, tapi rasa sedih itu, masih ada di dalam sana. Di hati kecilnya.


"Apa aku bukan mamimu?" Perempuan itu memasang raut wajah sedih.


"Tentu saja, tapi-"


"Sekarang mami mu menyuruh mu untuk tidur tepat waktu. Apa Devan akan menurut?" Ucap Aisha lagi


Anak itu mengangguk patuh.


Aisha mengelus kepala Devan sejenak dan membantu membereskan alat tulisnya. Ia dan Arthur sepakat, akan membesarkan Devan dan Krystal seperti anak sendiri. Dia akan menjadi saudara dari anak dalam kandungannya. Dan sebisa mungkin tak akan pilih kasih, apalagi mereka berdua sudah menduduki hati Aisha saat ini.

__ADS_1


Wanita hamil itu kembali ke kamar setelah mengantar Devan, ia membuka pintu. Tampak suaminya itu baru saja keluar dari kamar mandi. Bau sabun menguar dari badannya yang menyegarkan penciuman. Aisha memilih hanya membasuh muka, tangan dan kaki. Ia tak ingin mandi malam - malam.


"Kemari sayang." Panggil pria itu saat istrinya baru keluar dari walk in closet. Perempuan ltu menurut, naik keatas ranjang empuk dan menarik selimut. Ia meletakan kepalanya diatas dada bidang sang suami.


"Apa ada yang ingin kau katakan?"Tanya Aisha.


Seperti dugaannya, Arthur bangkit duduk. Ia memandang wajah ayu istrinya lekat, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Sha, sudah beberapa bulan setelah kematian wanita itu." Ucap Arthur mulai membuka percakapan. Aisha langsung paham, bahkan suaminya enggan menyebut nama yang dimaksud.


"Kondisi Devan sudah lebih baik, dia tidak terlalu bersedih lagi. Tapi hingga sekarang kita belum tahu pasti apa kebenarannya, apa sebaiknya kita melakukan tes DNA secepatnya pada Devan?" Sambungnya lagi.


Aisha diam sejenak, menimbang keputusan. Dia sudah memikirkannya dengan matang dari jauh - jauh hari. Perempuan itu sudah menyiapkan jawaban jikalau suaminya bertanya akan hal tersebut. Setelah berbagai pertimbangan, maka dia membuat keputusan.


"Aku sudah memikirkannya dengan matang Arthur, tidak perlu ada tes DNA apapun." Jawaban itu membuat Arthur tercengang.


"Apa maksudmu?"


"Kita sudah memutuskan untuk merawat Devan dan Krystal seperti anak sendiri kan? Jadi kurasa itu tidak perlu. Seandainya dilakukan tes DNA dan hasilnya tidak sesuai ekspektasi ku, itu akan menciptakan luka seumur hidup bagiku Arthur. Jadi biarlah seperti ini, aku sangat menyayangi mereka." Tutur Aisha panjang lebar. Pria itu tampak menunduk, merasa sangat bersalah akan kebobrokannya di masa lalu. Aisha benar, kalau hasil tesnya tidak sesuai yang mereka harapkan, maka itu justru akan membuka luka baru. Kalau Dev benar anaknya dan Wilhelmina, istrinya pasti akan merasa kecewa saat memandang Devan, dia akan terbayang - bayang kenangan suaminya di masa lalu.


"Apa kau yakin?"


"Sangat yakin, aku merasa bahagia seperti ini." Aisha mengikis jarak, ia menyenderkan kepalanya di dada pria itu. Tempat yang selalu membuatnya nyaman saat dilanda kegelisahan.


"Aww!" Tiba-tiba Aisha memekik pelan yang membuat Arthur beranjak dan panik.


"Kenapa?Ada apa sayang?!" Tanyanya khawatir.


"Si kecil menendang, dia menendang perutku lagi." Tertawa senang, Aisha benar-benar bahagia. Ia kembali merasakan pergerakan anaknya lagi.


"Benarkah, sepertinya dia merindukan daddynya." Tangan Arthur terulur, menyibak baju wanitanya dan menempatkan tangannya disana. Namun tidak ada apapun yang ia rasakan.


"Dimana dia? Kenapa kau tidak bergerak lagi sayang?" Tanya nya kecewa.


"Aku sudah tidur Daddy.." Cicit Aisha pelan menirukan suara anak kecil. Gelak tawa keduanya pecah, sampai tiba-tiba pria itu mendekap istrinya erat dan memandangnya dengan tatapan aneh. Entah mengapa Aisha gugup, ia sudah sering bersama suaminya dalam keadaan yang lebih intim, tapi ditatap seperti itu membuatnya salah tingkah.


"Sebaiknya kita tidur," Ujarnya lalu merebahkan diri dan menarik selimut. Arthur mengikuti gerakannya, namun kali ini pria itu menenggelamkan diri di ceruk leher sang istri dan melakukan sesuatu yang membuat Aisha mendesis pelan.


"Arthur.." Ucapnya mendayu.


"Sudah lama sekali kan.." Nafas prianya terasa hangat menerpa leher. Dapat ia rasakan tubuh pria itu sudah panas, matanya sayu dan napasnya yang tak beraturan.


"Kata dokter boleh asal tidak sering, ini sudah tiga minggu lebih." Lanjut pria itu lagi. Aisha sedikit kaget, ternyata sudah selama itu prianya menahan hasrat tak menyentuhnya demi kesehatan dia dan anak yang dikandungnya. Tak menyangka Arthur bisa sekuat itu menahan.


"Boleh ya?" Suaranya parau. Ia semakin merapatkan diri dan memulai aksinya. Perlahan perempuan berbadan dua itu mengangguk, menerima dan menikmati setiap sentuhan dan bisikan kata-kata cinta dari pujaan hatinya. Terjadilah apa yang seharusnya terjadi, biarlah malam itu menjadi saksi betapa indahnya cinta mereka berdua. Kedua anak manusia yang saling memadu kasih ditengah keheningan malam. Karena bahkan suara binatang malam pun tak berani mengusik keduanya.


Bersambung....


-Hallo, maaf tidak bisa memenuhi permintaan para readers untuk mengungkap jati diri Devan disini, karena ada alasan tersendiri dan author sudah pikirkan matang matang.


-Masih ada sekitar 2 extra bab lagi setelah bab ini. Ditunggu ya.


-Jangan lupa follow akun Instagram baru author : @stefhany_stef


-Mohon dimaafkan ya kalau extra babnya lambat update, karena author juga sedang menyiapkan novel salah satu anak mereka.

__ADS_1


__ADS_2