Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 59


__ADS_3

"Lihatlah ke belakang! " Perintah Aisha. Arthur menatap kaca spion di depannya. Terlihat sebuah mobil SUV di belakang mereka. Ia mulai siaga, Arthur sudah terbiasa mendapati keadaan seperti ini.


"Siapa itu? Mencurigakan sekali, " Ujar Aisha.


"Kenapa kau jadi berlagak layaknya detektif seperti itu! " Arthur tertawa. "Tidak usah khawatir, ada aku disini. " Aisha hanya mencebik kesal. Matanya masih setia memperhatikan mobil itu dari kaca spion.


Praduga mereka lenyap sesaat ketika mobil itu menyalip kendaraan Arthur. Aisha bernapas lega, setidaknya dia dan Arthur akan hidup tenang sementara. Mungkin yang lain tidak sadar, tapi Aisha tahu bahwa masih ada bahaya yang mengintai keluarganya.


Mobil melaju dengan tenang beberapa saat, ketika mobil Arthur sudah menempuh radius 200 meter, mereka dikejutkan dengan sebuah mobil SUV yang tampak menghadang. Seperti memblokir jalan. Apalagi ini adalah jalanan yang sepi dan sudah lumayan jauh dari kota.


Tak lama kemudian, 10 orang bergerombol keluar darisana. Mereka menghampiri mobil Arthur yang berhenti.


"Kau tunggu disini. Ingat, jangan keluar dari mobil ini sampai aku kembali! " Tegas Arthur pada Aisha. Ia melepas seatbeltnya dan meraih pistol dari saku jaketnya. Arthur memang selalu siaga untuk keadaan mencekam begini.


"Arthur kau--"


"Turuti perintahku kali ini! Jangan keluar! Pegang ini. " Arthur memberikan jaketnya pada Aisha. "Di dalam saku itu ada dua pistol lagi. Jika mereka berusaha mencelakaimu, gunakan benda itu dengan hati hati." Titah Arthur yang tak terlalu yakin pada Aisha. Dalam benaknya, istrinya itu adalah gadis kecil yang tidak memiliki bakat dalam ilmu beladiri. Itulah yang membuat Arthur sedikit was was saat akan meninggalkannya.


"Arthur, hati hati. " Ujar Aisha pelan. Pria itu mengangguk, lalu turun dari dalam mobil. Aisha sontak mengunci pintu mobil dari dalam.


Terlihat di depannya Arthur tengah beradu pukul dengan sepuluh orang. Aisha menggigit bibirnya yang kelu. Ia khawatir, pasalnya Arthur hanya seorang diri, sedangkan mereka ada banyak.


"Ya Tuhan, bagaimana ini? " Antara turun dan membantu Arthur, atau duduk diam disini seperti perintah suaminya. Aisha sangat bingung sekarang.


Suara tembakan menyeruak masuk kedalam pendengaran Aisha. Mereka tengah berbaku tembak, beruntunglah Arthur tidak sekaku es balok. Dengan kelincahannya, ia mampu menghindar dari banyaknya peluru yang menjadikannya sasaran.


Dor! Satu peluru dilayangkan salah satu pria pada mobil Arthur. Untung saja mobil itu dilapisi bahan anti peluru, batin Arthur.


"Ya Tuhan, mengagetkan saja. " Aisha mengelus dadanya. Ia hendak membuka kunci dan keluar, namun niatnya ia urungkan.


"Lebih baik aku menurut pada Arthur dulu, lagipula aku belum siap jika dia tau siapa aku sebenarnya, " Gumam Aisha lirih. Matanya tak lepas menyaksikan suaminya yang tengah beradu pukul. Dikarenakan peluru kedua belah pihak sama - sama sudah habis, maka kini mereka bertarung tanpa senjata.


Arthur yang memang sangat lihai dalam beladiri mampu melumpuhkan semua musuhnya. Dengan sekali pukulan, pria yang menghalaunya jatuh terhuyung ke tanah beraspal. Kini semua musuhnya sudah terkapar di tanah. Arthur berbalik. Ketika ia berbalik, salah seorang pria tiba - tiba bangkit dan memukulkan sebuah tongkat kayu pada tengkuk Arthur dengan sangat keras. Bugh. Arthur mulai kehilangan kesadaran dan terhuyung ke tanah.

__ADS_1


"Arthur! " Teriak Aisha dari dalam mobil.


"Sha, lari! " Perintah Arthur sebelum matanya benar benar terpejam. Aisha bergegas membuka kunci mobil dan berlari kearah suaminya. Ia memangku kepala Arthur pada pahanya.


"Arthur bangun! " Menepuk nepuk pipi Arthur, namun pria itu tidak merespon. Aisha mendelik tajam pada pria yang masih berdiri di depannya. "Beraninya kau!! "


"Hahahaha, ayo gadis manis, ikutlah denganku. Kau akan bertemu bos kami. " Gelak pria itu memenuhi udara malam. Ia mencengkeram pergelangan tangan Aisha, menariknya menuju mobil. Namun gadis itu menghempaskannya dengan kasar.


"Kurang ajar! " Umpat Aisha. Langsung saja ia menyerang pria itu dengan tangan kosong. Pukulan dan tendangan bertubi tubi dilayangkannya, pria itu jatuh tersungkur ke tanah. Bahkan Aisha sama sekali tak terkena serangan nya sedikitpun.


"Dasar wanita! " Umpat pria itu lalu berbalik menyerang Aisha lagi. Dengan segala ketangkasan yang dimiliki, lagi lagi Aisha sukses menjatuhkan lawannya.


Mencengkeram kerah kaos pria itu, mengeluarkan smriknya dan berkata, " Ku ingatkan padamu, jangan pernah merendahkan seorang wanita. Kau tahu kenapa, jika wanita sudah marah, maka dia tak segan menghanguskanmu menjadi abu!"


Perkataan yang penuh penekanan, membuat nyali lelaki itu menciut seketika. Ia tidak menyangka akan tunduk di hadapan seorang gadis kecil seperti ini.


Dia sudah tahu kemampuanku, aku tidak boleh membiarkannya pergi. Gumam Aisha dalam hati. Saat penjahat tadi hampir hendak berbalik dan kabur, ia memukul tengkuknya dengan keras sehingga ia kembali terhuyung ke tanah.


"Ya Tuhan, bagaimana ini. Reynard, ya Rey. Aku akan menghubungi Rey. " Sesegera mungkin ia meraih ponsel yang terselip di saku jaketnya. Mencari cari kontak Rey lalu bergegas mengabarinya. Tak lupa ia berpesan agar jangan memberitahu aunty Rania. Jangan sampai wanita itu malah panik dan terjadi sesuatu nanti, pikir Aisha.


***


Pukul 06.00 pagi, Aisha masih setia menanti suaminya siuman. Sejak semalam saat dokter menanganinya, belum tampak tanda tanda kesadaran pada Arthur. Rey yang sudah sampai semalam, juga telah berulang kali mengingatkan Aisha agar istirahat. Namun gadis itu bersikeras dan hanya tidur di kursi samping ranjang Arthur. Matanya pun terlihat bengkak dengan lingkaran hitam layaknya mata panda.


"Dia akan sadar Sha, Arthur tidak selemah itu. Ini hanya pengaruh dari suntikan dokter saja makanya dia belum bangun. Kalau tidak dia sudah bangun sejak semalam. " Ujar Reynard jujur.


Aisha hanya mengangguk membenarkan.


"Asal kau tahu saja, Arthur pernah terluka lebih dari ini. Kepalanya hampir saja pecah. Hahahha" Merasa mendapat tatapan tajam dari istri garang bosnya, Rey segera mengatupkan bibirnya. Terkadang anggota tubuhnya yang satu ini memang sulit dikendalikan.


Pria itu mengayunkan kaki menghampiri ranjang Arthur. Raut wajahnya sudah kembali serius. " Aku tidak bohong, Arthur pernah mendapat luka lebih parah daripada ini. Tapi buktinya dia selamat dan sehat sejahtera hingga sekarang. Ini hanyalah luka kecil baginya. " Tutur Reynard meyakinkan.


Dan benar saja, tak lama kemudian, manik Arthur mengerjab. Menyesuaikan cahaya yang menerobos retinanya.

__ADS_1


"Arthur, kau sudah sadar? " Tanya Aisha dengan senyum sumringah. Begitupun Rey yang tak kalah senangnya.


"Sialan pria itu, dia memukulku dari belakang." Tak menyahut pertanyaan istrinya, ia meraba bagian belakang tengkuknya yang terasa nyeri. Entah ada apa semalam, Arthur begitu tak sadar bahwa ia dipukul dari belakang. Padahal biasanya dia sangat peka.


"Sudahlah, istirahat saja dulu, aku sudah meringkus semuanya. Kita akan mengintrogasi mereka saat sampai di New York nanti. " Seru Rey. Arthur seketika menoleh pada Rey. Rambut dan pakaian Rey yang acak acakan bagaikan kandang ayam. Ditambah lagi wajahnya yang nampak kusam. Karena saat Aisha menelponnya Rey baru saja pulang dari club. Dan ia bergegas menuju bandara tanpa persiapan apa apa.


"Rey, kenapa wajahmu semakin jelek saja!" Hardik Arthur menatap Rey. Rey melebarkan matanya, lalu memukul perut sahabatnya itu.


"Kau ini ya, aku begini karena menolongmu tahu! Tidak tahu terimakasih! " Sungut Rey kesal.


"Iya, tapi lihatlah dirimu, mirip kucing jalanan yang tidak mandi setahun! " Ledek Arthur.


Rey memegang kepala sahabatnya, memerhatikan depan, belakang, kiri dan kanan kepala Arthur. Apakah sahabat dinginnya ini gagar otak karena benturan kemarin? Kenapa dia jadi tambah menyebalkan dan banyak bicara semacam ini?. "Arthur, kurasa otakmu mulai miring!"


"Sialan kau! " Umpat Arthur. Aisha hanya tersenyum dan geleng geleng kepala menyaksikan perdebatan kecil dua sahabat karib di depannya.


"Sudahlah, kata dokter kau sudah boleh pulang. Apa kau mau tetap disini? Kalau tidak, aku akan mengemasi barang barang kita. " Ucap Aisha yang menyita perhatian Arthur.


"Ada apa dengan matamu itu? " Tanya Arthur. Baru saja Aisha akan membuka suara, Rey sudah menyaut duluan.


"Hey suami tidak peka! Istrimu itu menunggumu semalaman. Dia sampai tidak tidur karena khawatir padamu! " Kata Rey. Arthur menatap Aisha lekat. Entah mengapa hatinya terasa tersentuh dengan penuturan Rey.


"Sudahlah, kita pulang sekarang? " Aisha meraih ponsel yang tergeletak di meja. Menyerahkannya pada lelaki di depannya.


"Ini ponselmu. " Arthur meraih benda pipih itu.


"Terimakasih, ayo kita pulang sekarang. Rey, jika kau belum menyiapkan segalanya, aku akan memenggalmu! " Seru Arthur. Rey mencebik kesal, masih saja menyebalkan di situasi seperti ini.


"Iya, aku sudah siapkan kepulanganmu.. ke pangkuan Tuhan. Hahaha. " Candaan Rey membuat Arthur mendelik tajam. "Aku hanya bergurau. " Timpal Rey.


Setelah mengurus administrasi, mereka pun keluar darisana untuk pulang ke mansion Arthur di Amerika.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2