Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 102


__ADS_3

Perjalanan dari rumah Rithik yang cukup jauh dari kediaman Arthur membuat perjalanan keduanya memakan waktu yang sangat lama.


Di sepanjang perjalanan hanya ada kebungkaman diantara mereka.


Tidak ada sepotong kalimatpun yang terdengar membuat suasana di dalam mobil itu menjadi sangat dingin.


Posisi Aisha saat ini duduk dibelakang bersama suaminya sedangkan kursi kemudi diduduki oleh Tom.


Pria berkulit putih yang sedang menyetir itu juga turut merasakan ketegangan yang tengah terjadi. Tapi apa pedulinya.


Kedua tangannya fokus menyetir tanpa sekalipun menoleh ke belakang.


Hoek


Perhatian kedua laki laki dingin yang ada dalam mobil itu teralihkan ketika mendengar Aisha yang mual dan hendak muntah.


"Ada apa denganmu?" Arthur panik seraya memegang kedua bahu istrinya.


Ia menyuruh Tom untuk meminggirkan kendaraan mereka ke tepi jalan. Kebetulan saat itu mereka melewati jalanan yang sepi yang tidak ada satupun mobil yang lewat disana sehingga memudahkan Tom memarkirkan mobilnya.


Ketika mobil berhenti, sontak Aisha membuka pintu mobil dengan tergesa gesa dan berlari ke tepi. Ia memuntahkan seluruh isi dalam perutnya di dekat sebatang pohon.


"Kau kenapa?" Arthur lupa kalau ia sedang marah dan mendiamkan istrinya, lelaki itu nampak sangat khawatir. Dipijatnya tengkuk Aisha yang membuat perempuan itu merasa lebih baik.


Aisha belum menyahut pertanyaan yang dilayangkan padanya karena ia tengah mengatur napasnya dengan menghirup udara segar disana.


"Aku kenapa napa memangnya kau peduli?" Sinis ia menjawab sembari melirik Arthur yang kembali dengan wajah dinginnya.


Arthur berusaha menetralkan emosinya.


Pria itu menarik napas dalam sebelum ia berucap, " Ayo kita kerumah sakit, aku yakin pria sialann itu sudah memberikan sesuatu yang membuatmu sakit seperti ini."


"Jangan menuduh orang sembarangan Arthur! Justru dialah yang sudah menolongku disaat tidak ada orang yang peduli padaku!" Tukas Aisha yang masih setia pada posisinya. Ia tidar berucap seperti itu karena entah mengapa ketika melihat Arthur ia merasa emosi. Walaupun dalam hatinya ia ingin memeluk pria itu. Entahlah, dia juga bingung dengan dirinya sendiri yang sangat labil.


"Aisha!"


****


Mereka tiba di kediaman Anderson pada pukul 13.10.


Aura dalam ruangan yang cukup luas ini terasa sangat dingin dengan dua orang yang saling bungkam di dalamnya.

__ADS_1


Arthur masih mengamati wajah istrinya tanpa mengatakan sepatah katapun dari mulutnya.


"Apa kau sudah puas sekarang?" Dari tadi sejak di dalam mobil pria itu sudah menahan emosinya untuk tidak memarahi Aisha di depan anak buahnya.


"Apa maksudmu?"


"Sudah puas bepergian dengan orang lain tanpa ijin dariku?!" Geram Arthur menjawab karena istrinya masih tidak mengerti apa yang ia maksud.


Tatapan mata elang itu menghujam dalam manik mata kecoklatan Aisha yang sudah siap menumpahkan air matanya.


Arthur merasa kesal, walaupun Rithik adalah orang yang sudah menyelamatkan istrinya, tapi ia tetap marah pada Aisha yang tidak berusaha pulang atau setidaknya memberikan kabar padanya.


Wanita itu masih bungkam.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Arthur?! Apa aku harus menghubungi orang yang tidak pernah bisa orcaya padaku? Orang yang selalu mendahulukan emosinya drj pada akalnya"


"Setidaknya kau berusaha menghubungiku! Atau pulang kerumah, bukannya berdiam lama lama disana!" Seru Arthur menumpahkan emosinya.


"Tas dan ponselnya tertinggal di kantormu, aku tidak bisa pulang karena aku belum kuat pulang sendiri, lagipula Rithik menyuruhku tetap disana."


"Lalu kau menurutinya!" Pria itu fokus pada ucapan terakhit sang istri.


Aisha menghembuskan napas, rasanya ia lelah berdebat dengan Arthur yang cukup menguras tenaganya.


Nampak jelas bahwa perempuan itu memang sangat lelah dan perlu istirahat.


Arthur menatap manik mata wanitanya yang nampak sayu dan sembab.


Wajah cantiknya yang biasanya memancarkan cahaya terlihat meredup dan pucat pasi.


Ia menjadi iba melihat keadaan istrinya itu.


Mungkinkah selama disana Rithik tidak memberinya makan atau bagaimana?


Lelaki itu berlalu meninggalkan kamarnya dan menutup pintu secara perlahan.


***


Suara langkah kaki yang bersumber dari sepatu fantovel mahal memenuhi seluruh penjuru ruangan kala Reynard baru saja menginjakkan kakinya disana.


Lelaki tampan itu nampak menenteng tas kerjanya dengan wajah yang terlihat amat sangat lelah dan mata yang sayu.

__ADS_1


"Selamat datang tuan Reynard." Sapa salah satu penjaga yang kebetulan sedang menjalankan tugasnya disana.


Seulas senyum ia tampilkan kala melihat sahabat baik sekaligus rekan kerja tuan Arthur melintas.


Rey mengangguk sebagai balasan.


"Dimana tuan Arthur?" Tanya Reynard mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah yang sunyi.


Tidak ada suara selain obrolan para penjaga yang samar samar terdengar dari luar rumah.


"Tuan ada di dalam kamarnya-"


"Tolong saat dia keluar beritahu kalau aku menunggu nya di ruang kerjanya. Ada hal yang sangat penting yang perlu kami bicarakan." Reynard memotong ucapan lelaki di depannya dan segera berlalu menaiki tangga.


Pria dengan setelab jas dan kemeja yang nampak sudah tak brbentuk itu terlihat sangat buru buru.


"Baik tuan." Jawab pria itu.


***


Kedua langkah kaki Arhut menuruni tangga menciptakan suara yang memenuhi penjuru ruangan sepi itu.


Rumah besar ini memanh sangat sunyi ketika para pelayan telah menyelesaikan tugasnya dan pindah kebelakang.


Belum lagi Anna dan Aunty Rania yang belum kembali.


Myara dan Rey juga telah tinggal dirumah keluarga Myara.


Andai saja dirumah ini terdapat anak anak Aisha dan Arthur yang tertawa dan menangis yang pastinya akan menghidupkan rumah yang terkesan mati tersebut.


"Tuan Arthur!" Panggil seorang penjaga membuat Arthur yang akan menuju garasi dan mengambil mobilnya terhenti.


Matanya menatap datar orang di depannya tanpa mengucapkan sepatah katapun


"Maaf tuan, Tuan Reynard baru saja kembali dan meminta tuan untuk menemuinya di ruah kerja." Lapornya dengan sopan.


"Kapan dia kembali?" Tanya Arthur.


"Sekitar 10 menit yang lalu."


Arthur mengayunkan kakinya dari temlay itu menuju ruang kerjanya untuk menemui Reynard.

__ADS_1


Bagiamana pun juga ia penasaran apakah pria itu berhasil memenangkan tender dari perusahaan besar Tau tidak.


__ADS_2