
Pagi harinya, sinar matahari yang mulai memasuki ruangan lewat gorden tipis tersebut menyilaukan mata Arthur.
Pria itu menolehkan kepalanya dan menarik sudut bibirnya kala memandang wajah cantik sang istri yang terlihat sangat sexy dengan beberapa kissmark di leher.
Membuat pria itu gemas dan kembali mencumbunya sebelum memulai harinya yang panjang.
Namun anehnya, Aisha seolah tak terganggu dengan gangguan nakal dari suaminya tersebut.
Perempuan itu terlalu letih setelah menghabiskan malamnya yang panjang bersama Arthur yang tidak bisa ia tolak. Pria itu bermain lembut namun sangat liar.
"Hei bangun..." Arthur meliarkan tangannya pada tubuh istrinya yang polos di bawah selimut. Seraya menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri yang masih setia terlelap dalam mimpi.
"Ehm... " Wanita itu hanya menggeliat, kemudian kembali menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya yang terasa sangat nyaman. Sungguh ini adalah tempat ternyaman bersembunyi dari kepenatan dunia.
Hal itu membangkitkan gairah Arthur, apalagi kini tangannya telah sampai pada daerah favoritnya yang membuat pusakanya kembali menegang.
"Ehm, aku sangat lelah Arthur." Seru Aisha pelan sembari mengerjapkan matanya saat menyadari yang dilakukan suami nakalnya tersebut.
"Hem, baiklah. Tidurlah lagi, aku akan mandi sebentar." Arthur tak mau egois, ia sadar dirinya sudah terlalu liar semalam hingga membuat istrinya seperti ini.
Pria itu mengecup kening Aisha lama sebelum ia beranjak dari ranjang. Memungut kembali pakaiannya yang berceceran semalam dan berlalu menuju bathroom untuk membersihkan tubuh kekarnya yang sudah lengket karena keringat.
***
Pukul delapan pagi, saat pria tampan itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan selembar handuk yang melilit pinggangnya, menatap pada ranjang yang sudah rapi seperti semula.
Gorden juga sudah tersibak sempurna menandakan Aisha sudah bangun dari tidurnya.
Arthur tidak menemukan keberadaan istrinya tersebut di dalam kamar, namun indra penciumannya menangkap harum masakan yang sangat ia rindukan.
Ia yakin, pasti wanitanya sedang memasak sarapan untuknya.
Membuat pria itu tak sabar dan segera mengenakan pakaiannya secepat kilat.
Perutnya mulai berbunyi dengan kencang membayangkan betapa lezatnya masakan Aisha.
Langkah kaki Arthur menapaki anak tangga menuju lantai bawah, tujuannya saat ini adalah ke dapur.
Namun niat itu ia urungkan kala melihat salah satu penjaga melangkah lebar padanya dengan wajah yang gugup.
"Tu-tuan." Panggilnya pelan takut apa yang akan ia sampaikan memancing amarah atasannya.
"Ada apa?" Tanya Arthur heran melihat wajah pias pria di hadapannya.
"Itu.. salah satu mobil koleksi tuan Arthur yang digunakan untuk pergi kemarin belum kembali juga." Lapornya kemudian dengan wajah menunduk. Takut Arthur marah karena kendaraan tersebut merupakan salah satu koleksi terbaru milik tuannya yang harganya tak perlu diragukan lagi.
"Apa maksudmu, siapa yang mengendarai mobil itu?."Arthur teringat bahwa di dalam mobil itu ada Wilhelmina dan salah satu pelayan di rumah belakang. Juga ada satu sopir dan beberapa barang belanjaan hasil kemarin.
"Chang yang mengendarainya, namun sekarang dia juga tidak bisa dihubungi. Dua pelayan kita juga tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya."
"Sial!" Arthur mengumpat mendengar berita yang membuat moodnya memburuk.
__ADS_1
Pria itu melenggang pergi darisana dengan setengah berlari.
Ia bahkan melewati meja makan yang membuat Aisha mengernyit heran dan mengejar suaminya yang terburu - buru.
"Arthur, kau mau kemana?" Tanyanya seraya mencekal tangan suaminya. Arthur berhenti dan menatap istrinya. Ia lupa tujuannya turun kebawah bahkan kini rasa laparnya telah hilang.
"Sayang, aku harus pergi sekarang juga. Ada sesuatu yang harus aku urus." Tukasnya seraya melepaskan tangan Aisha yang ada di lengannya.
"Tapi kemana? Aku sudah memasak banyak hari ini." Ujarnya sendu. Aisha sengaja memasak lebih banyak dari biasanya dan itu semua adalah makanan favorit suaminya.
Tapi kini pria itu begitu terburu - buru bahkan tak sempat melihat hasil kerja kerasnya.
"Aku benar - benar harus cepat Aisha, aku mohon maafkan aku. Aku akan makan saat pulang nanti, oke?" Bujuknya membelai pipi istrinya lembut.
"Apakah urusan itu sangat penting?"
"Ini sangat penting." Serunya kemudian lalu melenggang pergi darisana seusai memberikan kecupan manis di dahi Aisha.
Perempuan itu sedikit memaklumi perilaku suaminya, mungkin Arthur memang mempunyai masalah yang sangat genting.
Dan saat Arthur kembali nanti, ia akan bertanya ada apa sebenarnya.
***
"Bagaimana? Apa kau menemukan sesuatu?" Tanya Arthur kemudian setelah lima belas menit menunggu salah satu anak buahnya yang sedang berkutat dengan sebuah komputer.
"Ya tuan, mobil anda ada di parkiran sebuah hotel di pinggir kota. Tapi mungkin ini hanyalah jebakan untuk kita."
"Bisa saja begitu, karena tidak mungkin seorang penculik membawa orang yang diculik ke tempat umum seperti hotel." Balasnya kemudian.
Arthur menggeram kesal. Orang ini menambah beban pekerjaannya saja, padahal seharusnya hari ini ia akan memulai mengerjakan sebuah tender besar yang didapatkan Reynard.
"Tapi tidak mungkin juga aku membiarkan orang itu menculik tiga orang yang menjadi tanggung jawabku." Batin Arthur. Dua orang pelayan dan satu sopirnya juga menjadi tanggung jawab Arthur selama mereka masih bekerja padanya. Apalagi kini Wilhelmina ikut menghilang.
"Kita tunggu Thomas datang, dia sudah tahu dimana keberadaan mereka. Siapkan mobil dan yang lain, kita akan mengepung rumah itu." Seru Arthur dengan raut wajah yang dingin seolah siap mencabik lawannya kali ini.
"Baik tuan."
***
"Akhh!!" Teriakan yang menggelegar itu masih setia memenuhi penjuru ruangan.
Tak dapat digambarkan lagi seperti apa konditi Wilhelmina saat ini.
John yang biadab itu tak henti menyiksanya hingga rasanya membuatnya ingin mati saja sekalian.
"Kau manusia tidak punya hati.." Lirihnya pelan. Energinya seolah terkuras habis.
Perempuan itu kembali memuntahkan darah untuk yang kesekian kali dari mulutnya.
Wilhelmina tidak habis pikir, bagaimana dulu dia bisa lebih memilih pria berhati iblis ini daripada Arthur yang sempurna.
__ADS_1
Begitu bodohnya dia hingga mencampakkan sebuah berlian demi seonggok sampah yang terus membuatnya tersiksa.
"Tenang saja sayang, hanya tinggal dua alat lagi." John tersenyum dan meraih sebuah alat yang baru pertama kali wanita itu lihat.
Ia terus mencobanya pada perempuan di depannya tanpa menghiraukan jeritan yang memohon minta dilepaskan. Jiwa psikopatnya terlanjur bangkit.
"Akh! Aku mohon lepaskan aku!"
"Sudah berkali kali aku menawarkan padamu sayang, tunjukan dimana keberadaan mereka maka aku akan melepaskanmu." Ujar John yang berhenti sejenak.
Pria itu meneguk segelas air diatas meja. Ia sengaja bersenang - senang seperti ini dengan menyiksa Wilhelmina sampai anak buahnya berhasil membawa atau setidaknya menemukan kedua anak itu.
Devan dan Krystal adalah aset berharga yang harus ia miliki. Dua nyawa tak berdosa itu akan membawa keuntungan di masa depan baginya. Entah apa yang otak liciknya rencanakan, hanya dia dan Tuhan yang tahu.
"Bagaimana?" Tanya pria itu menanti balasan.
Wilhelmina membisu, ia memilih tidak menyahut penawaran pria keji di hadapannya, karena meskipun seluruh harta di dunia ini diberikan padanya ibu mana yang tega menyerahkan anaknya pada orang lain. Terlebih pria kejam seperti John.
"Kalau kau diam berarti kau siap menerima penyiksaan yang aku berikan. Ingat Wilhelmina! Aku akan terus membuatmu tersiksa sampai kau menyerahkan dua anak itu padaku! Akan ku pastikan kau akan memohon belas kasihan kepadaku!!" Sentaknya yang membuat wanita itu terdiam. Rasanya air matanya sudah habis untuk menangis, ia bingung dimana titik kesalahannya hingga membuatnya harus menderita seperti ini.
Namun disaat John kembali akan mengarahkan sebuah cambuk pada punggung wanita itu, tiba tiba pintu berbahan kayu itu ambruk kelantai. Seolah ada yang mendobraknya dengan tenaga yang sangat kuat hingga membuat pintu itu rusak seketika.
Dan benar saja, dibalik pintu yang roboh itu berdiri puluhan pria berbaju hitam dengan masing masing pistol ditangan mereka.
"Siapa kalian?!!" Teriaknya pada gerombolan pria tersebut.
Sebenarnya John tidak tahu bahwa Wilhelmina sempat bekerja pada Arthur, mantan sahabat karibnya dulu yang ia khianati.
John hanya mengetahui bahwa Wilhelmina diculik saat berada dalam sebuah mobil mewah dan ia bekerja pada seorang pengusaha kaya raya.
"Apa kau sudah melupakanku kawan?" Suara bariton yang tiba tiba terdengar menyita perhatian semua orang, tak lama kemudian munculah seorang pria yang membuat John sedikit terkejut.
"Arthur.." Gumamnya pelan. Tak menyangka akan bertemu dengan mantan sahabatnya.
"Bagaimana kau bisa ada disini?!"
"Aku sangat ingin berbincang denganmu tapi sayangnya aku tidak punya banyak waktu." Tanpa diduga Arthur yang sudah berada di dekat John langsung menghadiahkan bogeman mentah pada rahangnya yang membuat pria itu terkejut.
Ini bukan Arthur yang ia kenal, Arthur dulu hanyalah pria kutu buku dan gila kerja yang tidak akan tega memukulnya.
Tapi ia lupa bahwa Arthur juga tidak akan segan menghabisi seseorang jika dia mengusik hidupnya.
Terjadilah pertarungan sengit antara dua pria tersebut, sedangkan anak buah Arthur yang lain membebaskan Wilhelmina serta Rosy dan satu sopir yang berada di ruangan lain.
Kurang lebih lima belas menit pertarungan itu berlangsung hingga berakhir dengan John yang terkapar dilantai.
"Hentikan! Lepaskan aku Arthur!" Lirihnya ketika lelaki itu akan memukulnya kembali.
Arthur berdecih memandang pria dibawahnya dengan jijik. Ternyata John tidak berubah setelau sekian tahun berlalu.
"Dengarkan aku ba**ngan! Kau sudah merebut wanita itu dan sudah memilikinya, lalu apa yang kau lakukan sekarang? Kau justru menyiksanya seolah ia adalah binatang!!Akan kupastikan kau mendapat balasan setimpal atas semua kelakuan bejatmu!" Ujar Arthur sebelum dirinya berlalu darisana dan membiarkan sisa anak buahnya mengurus pria itu.
__ADS_1