Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 13


__ADS_3

Lebih dari seratus mobil berwarna hitam memadati jalanan yang lengang. Puluhan helikopter suaranya menggelegar memenuhi udara siang yang terik. Menciptakan polusi suara. Tak lupa 15 mobil berisi cadangan persenjataan pun turut hadir memenuhi rombongan. Sarana dan prasarana memadai. Dan sepertinya, perang yang di agendakan satu bulan lagi akan berlangsung hari ini juga.


Keenam pria anggota keluarga besar Fernandez berpencar dalam kendaraan yang berbeda. Sebab jika mereka berkerumun, maka musuh akan mudah menyergap nya. Dalam dada, sudah enyah rasa gugup, yang tersisa hanyalah kebencian atas pengkhianatan. Penyekapan Aisha terlampau cukup untuk mengobarkan api dendam dalam sanubari. Jiwa heroik semua manusia bangkit.


Arjuna menekan perangkat canggih yang melekat sempurna pada telinga nya.


"Kak, kita akan berhenti dimana? " Dengan terpaksa menyusun strategi baru dan itupun mendadak. Sebab penyerangan dimajukan


maka seluruh strategi pun terpaksa dirubah, mengingat ini bukan Italia, tapi di Indonesia.


"Berhenti sekitar 200 meter dari kandang mereka!. Aku yakin mereka menaruh mata - mata disana. Setelah itu hanya beberapa mobil saja yang akan melaju kesana. Yang lainnya, biarkan berlari " Jawab Yudhi menginstruksi.


"Baik kak "


"Jangan lupa daratkan heli - heli itu dengan jarak yang jauh. Kau tahukan? " Memastikan sekali lagi.


"Iya kak, aku paham semuanya " Kata Arjuna fasih.


15 menit berlalu, kini semua pasukan sudah siaga di dekat markas Esponder yang terletak di Indonesia. Entah mereka tahu atau tidak tentang penyerangan ini, yang jelas perang antar dua organisasi mafia hebat tak dapat terelakan. Kedua kubu sama - sama tak menganalisa seberapa besar pertumpahan darah yang kemungkinan terjadi.


"Dalam hitungan 3, kalian sergap para penjaga di pintu masuk! " Instruksi sudah dikumandangkan, kini semua telah menenteng pusaka andalan masing - masing. Perang besar baru akan digelar.


Satu!


Dua!


Tiga!


Dorr!! Dorr!! Peluru kedap suara menancap tepat pada jantung dan kepala mafia Esponder.


Jika dilihat - lihat nampaknya mereka sudah siap siaga menyambut kubu lawan. Terbukti dari adanya penjaga yang bersembunyi di banyak tempat seketika keluar lengkap dengan peralatan masing - masing.

__ADS_1


Serang!!


Mulailah penyerangan yang sesungguhnya. Yudhi menerobos masuk ke dalam dibarengi Bima beserta Johan. Semua anggota yang menghadang dibantai secara beruntun. Sedangkan Arjuna membombardir anggota Esponder di depan markas. Nakul dan Dewa juga turut berpencar membaca kondisi sekaligus memikirkan strategi cadangan apabila mereka terpukul mundur. Dentuman bom yang membengkakan pendengaran menggelegar di seluruh penjuru. Mayat para mafia terbaring tak bernyawa menjadi latar belakang adegan ini.


Dor! Arjun menembak tepat sasaran pada kepala musuh menggunakan salah satu pistol semi -otomatis favoritnya, Colt M1911A1 buatan Amerika Serikat yang memiliki ketahanan mumpuni.


Terdengar langkah kaki gerombolan musuh dari arah kanan belakang, instingnya langsung mengalir deras. Pria tampan dengan tatapan elangnya berbalik badan secepat kilat, dan melayangkan bom kecil dari sakunya. Langsung meledak tepat pada wajah mereka.


Bumm!!


Nakul dan Dewa melangkah bersamaan. Menengok kanan kiri ramai musuh yang antusias berlarian kearah mereka. Tak ingin mubazir waktu, Nakul melempar granat kearah gerombolan pria berkepala plontos itu. Dan berhasil, lagi lagi semua meledak dan tewas mengenaskan di tempat.


"Kak, kau duluan saja. Aku akan menghadapi yang disini " Kata Dewa mantab ketika gerombolan lain yang menenteng senapan merapat mendekat.


"Baik " Mengangguk, langsung berlari mengejar Yudhi dan Johan di depan. Penumpasan antar musuh tak dapat dihindari lagi. Dewa menarik pelatuk pistol Glock 17 yang sontak melayangkan puluhan peluru dalam hitungan menit. Sempat dia terkena tembakan senapan pada bahu, namun itu tak menggentarkan hati walaupun darah segar mengalir. Prioritas utama saat ini ialah keselamatan Aisha, jika anak manis itu sampai terluka maka dipastikan kepala Pither terpisah dari tubuhnya.


Bogeman keras mendarat telak pada pipi salah satu anak buah Pither. Dewa menyeringai, lalu ia berlari mendekati dinding. Menapakan kakinya tiga langkah disana dan bersalto. Dan bruk! Tendangan kaki panjangnya jatuh tepat pada rahang kedua pria dibawah. Kelincahan laki - laki berumur 15 tahun ini sungguh diluar ekspektasi.


Mulutnya membisu, enggan berkata jujur


" Katakan atau kau akan mati!! " Mulai menempelkan moncong pistol pada dahi.


"Di - dia ada di lantai dua dekat kolam " Jawabnya terbata. Putra kelima keturunan Fernandez itu menghempaskan tubuh lawannya kasar hingga terjungkal ke lantai dingin nan berdebu.


Dengan seribu langkah Dewa dan lainnya mencari - cari keberadaan anak kecil yang menjadi alasan utama perang dadakan ini.


Sampai pada lantai dua, belum diketemukan juga. Semua orang panik, cemas, gelisah dan berspekulasi sendiri dalam pikiran masing masing. Pikiran berkecamuk menganalisa kemungkinan terburuk.


Sebenarnya dimana Aisha?. Dimana Pither sialan itu menyekapnya. Apa jangan - jangan pria itu sudah...


Tidak!. Apabila bayangan buruk itu terealisasi, entah apa yang akan kejadian siang ini.

__ADS_1


"Kak, aku tidak menemukan keberadaan Aisha. Aku khawatir_" Bima mulai cemas akan nasib adik kecilnya.


"Tidak! " Potong Yudhi. "Tak akan terjadi apapun pada adikku!. Ayo kita berpencar "


Mendengar perkataan Yudhi, mereka mencoba meyakinkan diri masing - masing. Berusaha mencerna kata - kata kakak tertua. Semoga saja apa yang dikatakannya benar adanya. Semoga Tuhan selalu menyertai gadis kecil manis itu.


"Pither! " Gumam Johan lirih ketika menyaksikan Pither di samping kolam renang. Mengapa di markas jelek ini ada kolam, pikir Johan dan yang lain.


"Dimana adikku!! " Teriak Yudhi tersulut emosi.


"Katakan!. Jangan diam saja, dimana anakku!! " Giliran Johan yang berapi - api. Tangannya terkepal erat hingga menunjukan buku - buku jari dibawah sana.


" Hahahaha " Tawa kesombongan hakiki khas Pither yang amat dibenci semua orang terdengar nyaring. Ia menyisir rambutnya dengan jemari tangan.


"Di. ma. na. Adikku sialan!! " Air muka Bima benar - benar menampakan kemurkaan yang kelewat batas. Jika tidak dihalau Yudhi, maka tentu saat ini kulit Pither sudah dikoyak gigi - gigi runcingnya.


"Haha. Santai saja sahabatku dan.. keponakan - keponakanku tersayang.. " Tawa jenaka dan wajah sok ramahnya benar - benar menguji kesabaran.


"Hah.. baiklah, jika kalian benar - benar mendesak maka aku akan menunjukan bocah ingusan itu pada kalian " Tangan semua orang gatal ingin meninju rahang pria tak tahu malu ini.


"Lihatlah! " Ia bergeser dari posisi nya dan nampaklah Aisha yang tangannya terikat dan mulut di lakban tengah banjir air mata di samping kolam. Sudah tak dapat di gambarkan lagi spesifikasi wajahnya yang sembab karena tangis. Air mata berlinang dimana mana, tidak ada upaya untuk menghapusnya. Padahal, setitik saja air matanya, seluruh keluarga dengan sigap menyeka, tidak sanggup melihat bocah itu menangis. Dan lihatlah saat ini, apa yang diperbuat Pither si bedebah pada Aisha.


"Pither Wilson!! " Johan benar benar sudah kelewat batas berdiam diri. Ia berjalan seribu langkah mendekati sang buah hati.


Bersambung...


Yang sudah membaca dan bersedia mampir ke novel ini terimakasih banyak ya... 🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, komen dan vote juga rate 5...😁


Sampai jumpa, dan nantikan episode selanjutnya... 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2