
Kedua mata Aisha mengerjap kala mendengar suara bising yang menyapa telinga. Ia bangkit duduk, mengucek matanya yang masih dipenuhi rasa kantuk. Wajar saja, ia baru tidur pukul tiga pagi, karena begadang semalam. Diliriknya jam diatas nakas yang menunjukan pukul sembilan pagi. Yaampun! Dia terlambat bangun. Buru buru Aisha menyibakan selimutnya dan melangkah menuju kamar mandi. Ia hanya membasuh muka dan menggosok gigi, rasa penasaran menyuruhnya agar segera turun dan memeriksa apa yang terjadi.
Ketika kedua kaki Aisha turun menapaki anak tangga, suara riuh yang tadi ia dengar sudah lenyap entah kemana. Bahkan di lantai dasar sudah sepi tanpa adanya satupun napas yang berhembus disana.
"Kemana semua orang? Dan suara bising apa tadi? " Gumam Aisha seraya menggaruk tengkuknya. Ia melihat Myara baru saja keluar dari dapur, gadis itu segera menghampirinya.
"Myara! " Panggil Aisha.
"Aisha, syukurlah kau disini aku sangat takut." Ujar Myara.
"Apa kau tahu apa yang terjadi? Suara apa tadi? " Langsung ke poin yang membuat ia penasaran. Myara menggeleng lemah.
"Rey mengunciku di dalam kamar tadi, aku hanya mendengar dia dan suamimu memarahi seorang pembantu. Entah kemana mereka sekarang. " Myara menceritakan kronologi kejadian yang ia alami tadi.
"Dimana dia sekarang? " Tanya Aisha.
"Aku tidak tahu, " Gadis itu menggeleng.
Tanpa menyahut ucapan sahabatnya, Aisha lekas menuju ke bagian belakang mansion. Entah kenapa, nalurinya berkata bahwa Arthur dan Rey pasti ada disana. Dan dirinya yakin, ada sesuatu yang tidak beres disini.
Di sebuah ruangan bawah tanah yang ada di dalam mansion ini. Hanya orang tertentu saja yang mengetahui adanya tempat seperti ini dibalik mewahnya hunian keluarga Anderson. Arthur duduk pada salah satu kursi, satu kakinya menumpu kaki yang lain. Punggungnya bersandar dengan nyaman. Matanya menatap pada seorang wanita yang sedang di interogasi di depannya.
"Katakan! Siapa yang menyuruhmu dan apa motif dibaliknya! " Teriak salah satu pengawal yang berdiri di sebelah Reynard. Wanita yang tersungkur di tanah itu hanya bisa sesenggukan tanpa dapat berkata lagi. Sudah berkali kali ia berkata, bahwa bukan ia pelakunya. Bahkan luka tamparan di pipinya masih terasa.
"Katakan! "
"Bu-bukan saya tuan. Saya bersumpah, bukan saya pelakunya. Bukan saya.. " Sesenggukan lagi, bahkan suara tangisnya sudah tidak terdengar.
Arthur yang sedari tadi hanya terdiam mengamati apa yang terjadi, kini bangkit. Menghampiri perempuan itu dan berdiri tepat di hadapannya. Tatapan yang tajam, menambah aura garang yang terukir pada wajah tampan nya.
"Katakan yang sesungguhnya, apa alasanmu diam diam menjadi pengintai disini. Apa kau tahu, siapa yang kau hadapi? " Nada bicaranya datar, menghunuskan tatapan tajam yang sontak membuat perempuan yang terduduk di lantai itu menundukan kepala takut.
"Jawab!! " Bentak Arthur.
"Ampun tuan.. bukan saya, saya bersumpah tuan. Saya tidak mengetahui apapun. "
__ADS_1
"Jangan bohong! Kami sudah mempunyai buktinya! " Rey ikut menyahut. Satu tangannya membuka ponsel dan menunjukan bukti itu pada perempuan di bawahnya.
Perempuan itu terkejut dan seketika menutup mulutnya. Matanya berkaca kaca. "Tuan, itu bukan saya. "
Menyadari introgasi tidak membuahkan hasil yang memuaskan, Arthur kembali duduk pada kursi kebesarannya. Rey menatap dan memberikan kode pada pengawal yang tengah memegang sebuah cambuk. Ia hendak mencambuk perempuan itu.
Tapi tiba tiba.
"Lia! " Aisha yanh sejak tadi menguping dibalik dinding akhirnya memberanikan diri keluar. Ia telah menangkap semua pembicaraan antara orang orang itu.
"Jangan lakukan itu. " Aisha membantu Lia agar bangkit berdiri. Ia memegang bahu pelayan yang telah ia anggap sebagai teman baiknya. Menatap Arthur dengan tatapan penuh tanya.
"Sha, apa yang kau lakukan disini? " Reynard yang bertanya, bingung bagaimana caranya gadis itu dapat sampai kemari padahal keamanan sangat ketat.
Aisha mengacuhkan pertanyaan Rey, maniknya masih menatap Arthur.
"Apa yang kalian lakukan? Dia hanya pelayan biasa, apalagi dia seorang wanita. " Ujar Aisha.
"Dia adalah pengkhianat, baik pria atau wanita jika dia adalah pengkhianat, maka harus mendapat pelajaran yang setimpal. " Arthur berucap datar. Bahkan terkesan tajam.
"Lihatlah ini! " Rey menyodorkan ponselnya pada Aisha. Gadis itu meriahnya, matanya menyipit memerhatikan sebuah video disana. Tampak pada video itu, Lia yang menemui seorang pria pada tengah malam ditaman belakang. Mereka membicarakan sesuatu. Dan bukan hanya itu, ada sebuah video rekaman CCTV yang menampilkan Lia yang menguping pembicaraan Arthur dan Reynard.
Mata Aisha membelalak tak percaya, dirinya tak menduga, pelayan yang selama ini ia anggap sebagai teman baik ternyata seorang penyusup. Sikap sopan, ramah dan baiknya, apakah itu hanya kedok belaka?
"Nona, itu bukan saya. Saya bersumpah Nona." Suara Lia sudah tercekat karena terlalu lama menangis. Aisha menatap mata perempuan itu. Menelisiknya dalam dalam. Ada rasa tak percaya dalam dirinya kala melihat bukti ini.
"Aku percaya padamu. " Aisha berkata, sembari menatap Lia.
"Apa yang kau katakan, jelas jelas dia adalah pengkhianat. Sudahlah, kau tidak tau apapun tentang ini! " Arthur yang kesal seketika berjalan keluar ruangan. Aisha mengikutinya. Sedangkan Rey masih berlanjut mengintrogasi Lia, berharap wanita itu mau bekerjasama dengan membuka mulutnya.
"Rey, kau boleh menanyainya. Tapi aku mohon, jangan bermain kasar. " Ucap Aisha sebelum ia melenggang pergi mengejar suaminya. Rey hanya mengangguk singkat.
Aisha melangkah lebar berusaha mengejar suaminya yang sudah terlebih dahulu memasuki kamar. Ia membuka pintu dan menutupnya perlahan. Ia menghampiri Arthur yang sedang bersiap di depan cermin.
"Arthur " Panggil Aisha seraya menghampiri pria itu. "Kau mau kemana? " Tanya nya lagi. Arthur hanya diam sembari mengancing kancing kemejanya.
__ADS_1
" Arthur, apa kau marah padaku? " Tanya Aisha dengan nada rendahnya. Pria itu masih terdiam dengan wajah kesal.
"Arthur, aku sangat mengenal Lia. Dia orang yang jujur dan baik. Rasanya tidak mungkin kalau dia adalah mata mata. " Ujar Aisha seraya menatap suaminya. Arthur berbalik menghadapnya.
"Aku tau kau menganggapnya teman, tapi bukti menunjukan kalau dia adalah musuh. Lalu bagaimana kau masih bisa mengatakan kalau dia orang yang baik?" Arthur berucap dengan datar.
"Tapi Arthur --"
"Aku akan pergi. " Seru Arthur lalu berlalu darisana.
"Kau mau kemana? Bukankah hari ini libur? " Pertanyaan gadis itu terlambat karena Arthur sudah menghilang dibalik daun pintu. Aisha mendudukan dirinya diatas sofa. Memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing.
"Arthur sepertinya marah padaku. Tapi aku juga tidak percaya kalau Lia adalah seorang pengkhianat. " Gumam Aisha bingung.
"Lia sudah bekerja sangat lama disini. Kalau dia adalah pengkhianat, maka... "
"Aku akan menyelidiki ini. " Gadis itu bangkit berdiri dan mengayunkan kakinya memasuki kamar mandi. Aisha masuk kedalam bath up yang telah terisi air hangat untuk merileks kan pikiran nya.
*****
Jam menunjukan pukul 10 malam, namun tidak ada tanda tanda Arthur akan pulang. Aisha masih setia menunggu di dalam kamar
Bahkan gadis itu melewatkan makan malam.
Tak lama kemudian, suara derum mobil menyeruak ke dalam gendang telinganya. Buru buru ia menengok kearah balkon dan mendapati suaminya yang baru saja tiba.
Saat pintu terbuka, Arthur masuk kedalam dengan wajah datar. Aisha menghampiri suaminya itu, membantunya menanggalkan jas yang terpasang pada tubuh kekarnya.
"Arthur, apa kau marah padaku, karena aku membela Lia?" Tanya Aisha membuka percakapan diantara mereka.
"Aku minta maaf, jangan marah. " Aisha memasang wajah sendu yang membuat pria itu tak tega.
Bersambung..
Apakah Lia adalah seorang pengkhianat? 🤔
__ADS_1