
Sementara itu di dalam mansion Anderson, Aisha ditemani Lia tengah berkeliling mansion. Setelah beberapa hari tinggal disini bahkan dia belum mengenal seluk beluk rumah megah yang ditempatinya.
"Lia, ini ruang perpustakaan? " Aisha terpana memandang seluruh penjuru ruangan. Perpustakaan luas dengan nuansa putih yang elegan. Jutaan buku mungkin dapat ditampung tempat ini.
"Iya nona, ruangan ini dibangun oleh ayah tuan muda dulu. Sewaktu beliau masih hidup sangat senang sekali menghabiskan waktu disini " Tutur Lia.
"Bagaimana kau bisa tahu semua Lia? " Berkata sambil meraih salah satu buku.
"Saya sudah katakan pada nona kan, ibu saya yang menceritakan semuanya "
Tak lama kemudian, salah satu pelayan datang menghampiri.
"Nona " Panggil wanita itu seraya melangkah mendekati Aisha.
"Ada apa? "
"Nyonya Rania datang kemari. Beliau ada di depan " Aisha mengerutkan dahinya mendengar laporan pelayan. Siapa itu nyonya Rania?.
"Siapa dia? Aku tidak kenal "
"Bibi dari tuan muda nona "
Seorang wanita paruh baya duduk di sofa ruang tamu. Dia memang sudah berumur, namun tak mengikis kecantikan di wajahnya yang menyisa dari masa muda.
Ia mengambil secangkir teh diatas meja, meneguknya sedikit. Lalu kembali meletakannya di meja.
Kemudian wanita itu mendongak. Mengerutkan dahinya melihat siapa yang datang.
"Siapa kau? " Menatap tidak suka, Aisha kikuk menjawab. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aisha " Jawabnya.
Wanita itu menunjuk sofa di depannya dengan ekor mata. "Duduklah, aku ingin bicara denganmu " Nada bicaranya saja sudah tidak bersahabat. Begitulah yang dijabarkan Aisha. Walupun begitu, gadis itu tetap duduk. Memandang sejenak wanita di hadapannya lalu kembali menurunkan pandangan mata.
"Siapa kau, apa kau wanitanya Arthur? Atau jangan jangan wanitanya Reynard? "
Apa maksud wanita ini?. Iya, aku adalah istrinya Arthur. Tapi kenapa membawa nama Reynard.
Sedikit tidak paham dengan kata 'wanita' yang dimaksud.
"Maksudnya apa nyonya? " Ragu, dia memberanikan diri bertanya.
__ADS_1
"Iya, wanita malam " Menjawab santai.
Apa!
Gadis itu tersentak mendengar penuturan perempuan di hadapannya. Tanpa sadar ia refleks bangkit dari duduk. Dengan mata membola yang menatap wanita di hadapannya.
"Aku istrinya Arthur nyonya " Kata Aisha. Wanita itu lebih terkejut lagi, ia sama sekali tidak tahu ataupun diberitahu tentang pernikahan keponakannya. Yang bahkan sudah ia anggap seperti anak kandung sendiri.
"Apa! Aku tidak percaya, mana buktinya kalau kau istrinya Arthur? " Aisha mengambil ponsel diatas sofa, lalu mencari foto pernikahannya dulu. Setelahnya ia menyodorkan pada wanita itu.
"Apa! Aku tidak percaya ini, jadi kau. Jadi kau menantuku? " Ia terharu, sambil membesarkan foto disana. Mengamati kalau itu benar - benar Arthur.
Arthur si bocah tengilku sudah menikah. Tapi kapan, kenapa tidak ada yang mengabariku.
Setitik air mata mengucur dari tempatnya. Lalu ia melangkah dan mendekap gadis yang telah menjadi menantunya erat. Erat, sangat erat sampai Aisha kesulitan menghembus kan napas.
"Maafkan aunty ya sayang. Aku tidak tahu jika kau adalah istri Arthur dan menantuku " Mengajak Aisha duduk di sofa yang sama, tanpa melerai rengkuhannya.
"Aku Rania, aunty dari suamimu. Aku yang membesarkannya " Setelah pelukan terlepas, ia mengamati gadis cantik di depannya. Membelai pipinya lembut. " Kau pasti sangat spesial sehingga mampu meluluhkan hati pria keras kepala itu. Dia selama ini tidak mau menikah. "
Aisha yang masih belum mencerna keadaan hanya tersenyum kikuk, membiarkan wanita itu melakukan apa yang ia suka. Tanpa bertanya apa maksudnya.
"Iya nyonya " Jawaban yang terdengar canggung.
"Apa! " Aisha refleks berteriak karena terkejut. "Tidak, tidak nyonya. Dia menikahiku bukan karena itu! "
Gila apa!. Aku wanita baik - baik tahu.
"Huh, syukurlah " Aunty Rania tersenyum tulus. Mengusap dadanya yang sempat berdebar kalau bayangan buruk itu terealisasi.
Sesudah berbincang - bincang dan berkenalan cukup lama di ruang tamu, kini keduanya berada dalam kamar Aisha. Aunty ingin mengenal gadis itu lebih dalam. Pasti ada yang spesial darinya sampai - sampai sanggup membuat Arthur menggoyahkan pendiriannya untuk tidak membina rumah tangga. Kalau hanya masalah kecantikan, beribu wanita telah diperkenalkan olehnya. Tapi ia akui, kecantikan Aisha memang berbeda. Dia begitu manis dan imut dipandang mata. Sedangkan jika masalah harta dan status sosial, aunty juga kerap kali membawa wanita sejenis itu kepada Arthur. Tapi tidak ada yang mampu meluluhkan hatinya.
"Kau tahu Sha, Arthur dulunya adalah anak yang baik. " Kalimat utama mengawali cerita aunty. Aisha membuka telinga lebar, mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang diucapkan wanita itu.
"Tapi semenjak kepergian kakak dan kakak ipar, dia jadi sangat berbeda. Dia jadi dingin, sombong, menyebalkan dan sok berkuasa. Seperti dunia ini adalah miliknya "
Mereka duduk berdempet di sofa. Aunty menjeda ceritanya. Memperbaiki posisi duduk, lalu menggenggam tangan menantunya erat.
"Semenjak itu juga aku yang mengurusnya. Aku sedikit kuwalahan menghadapi tingkah Arthur. Tapi aku tahu, dia sebenarnya pria yang baik. "
"Apa kau mau membantu aunty? " Tanya aunty Rania. Sorot matanya penuh harap.
__ADS_1
"Membantu apa nyonya?" Kata Aisha.
"Jangan panggil nyonya, tapi panggil aku aunty. Kau adalah keponakanku juga mulai saat ini. Hah, si Arthur tengil itu. Aku akan menghukumnya saat dia pulang nanti. Bisa bisanya dia menikah tidak mengabariku! "
Aisha tertawa ringan mendengar perkataan aunty. Dari yang dia tafsirkan, hubungan wanita itu dan suaminya sepertinya cukup dekat.
"Jadi kau mau kan? " Bertanya sekali lagi.
"Aku pasti akan membantu aunty asalkan aku bisa "
Aunty Rania tersenyum lebar, dia sangat senang sampai hatinya terasa ditumbuhi bunga.
Dia masih menggenggam tangan Aisha.
"Bantu aku merubah Arthur. Dia tersesat, tunjukan dia jalan yang benar. " Menarik napas dalam " Aunty yakin kau adalah gadis yang Arthur butuhkan selama ini. Arthur berada dalam kegelapan, tariklah dia keluar darisana "
"Kau maukan? " Lanjutnya lagi. Aisha menunduk sebentar, dia tidak paham akan perkataan aunty Rania. Tapi gadis itu dapat melihat harapan dalam sorot matanya.
"Berjanjilah " Kata Aunty Rania.
"Berjanji apa? "
"Berjanjilah kau akan membantuku" Gadis itu mendongak, bingung apa yang harus dia pilih sebagai jawaban.
"Aku tidak bisa berjanji aunty. Aku tidak ingin mengingkari janjiku. "
"Aunty mohon Sha, kau adalah satu satunya harapanku " Gurat kesedihan di wajahnya yang mulai keriput semakin memberatkan hati Aisha.
Aku bukannya enggan membantumu aunty. Tapi dia itu Arthur, Arthur si es balok yang mengesalkan.
Wanita itu tak henti membujuk Aisha. Paling tidak mengubah Arthur agar bersikap seperti manusia normal itu sudah luar biasa.
Dan setelah menimbang - nimbang cukup lama, Aisha mengambil keputusan.
"Selama aku hidup aku belum pernah melanggar janjiku. Aku berjanji aku akan membantu aunty " Ucapnya kemudian.
Sudah tidak tahu segirang apa aunty Rania sekarang, ia lagi - lagi merengkuh Aisha dalam dekapannya. Menyalurkan kebahagiaan yang ada.
"Tapi bagaimana caranya? " Tanya Aisha seusai pelukan mereka telerai.
"Aku akan mengajarkan semuanya padamu " Kata aunty Rania.
__ADS_1
Bersambung....