Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 58


__ADS_3

Keesokan harinya, Arthur terbangun lebih dulu. Perlahan ia mengangkat bahu Aisha dari lengannya, memindahkannya ke bantal. Ia bangkit duduk dan mengibaskan lengannya yang keram karena digunakan sebagai bantal sepanjang malam. Lalu pria itu melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi.


Ketika Arthur keluar dari kamar mandi, ia masih mendapati sang istri yang sedang terlelap dengan sangat nyenyak. Ia meraih ponselnya yang tergeletak diatas nakas. Semalam, ia sudah mengirim pesan pada penjaga villa untuk mengambil dan memperbaiki mobilnya. Arthur membaca pesan yang mengatakan bahwa mobilnya sudah siap dan berada di parkiran penginapan. Setelah itu ia berjalan mendekati istrinya. Menggoncang bahunya agar terbangun.


"Bangun, sudah pagi! " Menggerakan bahu Aisha. Gadis itu mengerjab, menyesuaikan cahaya lampu yang mengenai retina matanya.


"Apa? " Tanya Aisha yang masih belum mengumpulkan seluruh kesadaran.


"Ayo pulang! " Ujar Arthur.


"Kemana, inikan sudah di villa. Mau ke New York sekarang? " Tanyanya lagi sambil menguap. Ia menyapu sekeliling ruangan yang tampak berbeda. Ia baru sadar, gadis itu seketika bangkit duduk.


"Oh iya ya, kita kan ada di penginapan. "


"Hmm, cepat bersiaplah. Kita pulang sekarang, tidak usah mandi. Mandi dirumah saja nanti. " Seru Arthur lalu berjalan keluar kamar. Aisha bergegas turun dari ranjang. Menapakan kakinya menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan gosok gigi.


Saat ia keluar, ia melihat suaminya sudah duduk diatas sofa. Aisha menyambar jaketnya yang tersampir di sofa dan mengenakannya.


"Ayo Arthur, aku sudah siap! " Ujarnya.


"Minumlah ini dulu. " Pria itu menyodorkan Satu tablet obat dan segelas air putih pada Aisha. Perempuan itu mengernyitkan dahi heran.


"Aku tidak sakit, kenapa kau memberiku obat?" Tanya Aisha. Karena tangan suaminya yang masih menggantung di udara, ia pun mengambil alih obat dan air putih itu. Duduk di sofa dan memperhatikannya.


"Semalam kau sedikit demam, minum itu!" Titah Arthur sembari memainkan ponselnya.


Seketika itu juga Aisha menempelkan telapak tangannya pada dahi. "Tidak, aku tidak demam. Aku sehat. " Ucap nya.


Arthur memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosi menghadapi tingkah sang istri. " Kenapa disuruh minum obat saja susah sekali! " Ujarnya dengan menahan emosi.


"Iya - iya, aku minum. " Ia memasukan obat itu dalam mulutnya dan melarutkannya menggunakan air putih.


Setelah perdebatan kecil tadi, mereka segera pergi ke resepsionis untuk mengurus semuanya dan mengembalikan kunci. Kini keduanya berada dalam mobil untuk pulang ke villa Arthur.


"Arthur.. " Panggil Aisha menatap suaminya, memasang senyum manis dengan tatapan yang bisa meluluhkan siapapun.


Pasti mau minta sesuatu. Batin Arthur mendengus kesal.


"Apa? " Balasnya singkat.


"Lihat itu! " Aisha menunjuk sebuah toko coklat sekitar 50 meter di depan mereka.


"Berhenti disana dulu, aku ingin membeli coklat " Pintanya.


"Ada - ada saja, " Gerutu Arthur kesal, namun ia tetap menghentikan mobilnya di depan toko itu. Tampak cukup ramai karena toko ini memang terkenal akan kenikmatan coklatnya.


Aisha membuka pintu mobil dan turun darisana. "Tunggu!" Cekal Arthur.


"Apa? "


"Ini, pakai ini! " Menyodorkan beberapa lembar mata uang Euro pada istrinya. Aisha menerimanya tanpa banyak bicara. Ia turun dan memasuki toko yang ramai orang itu.


Sekitar 20 menit bergulir, namun tidak ada tanda - tanda Aisha akan keluar dari toko. Arthur gusar dan mendesah sebal. Ia memutuskan untuk turun dan melihat apa yang sedang dilakukan Aisha hingga bisa selama ini.


"Awas saja nanti, beraninya membuatku menunggu! " Gerutu Arthur seraya memasuki toko.


"Arthur! " Ada seseorang yang memanggil. Arthur menoleh ke kanan kiri, ia mengerutkan dahi kala menjumpai salah satu temannya disini.


"Hey, brother! " Sapanya sambil menepuk bahu Arthur.


"Bastian, sedang apa kau disini? " Bastian tampak menggandeng tangan seorang wanita cantik dengan pakaian minimnya. Dapat Arthur pastikan bahwa ia adalah teman kencan Bastian. Karena sahabatnya itu memang terkenal sebagai penggila wanita.


"Aku sedang mengajak kekasihku jalan - jalan ke Paris, lalu kami mampir ke toko ini. Kau sendiri? Sedang apa kau kesini? " Tanya Bastian sambil memperhatikan sekeliling Arthur.


"Bukan urusanmu! " Saut Arthur.


"Hey bro, kenapa kau ini selalu ketus begitu? Begini saja, bagaimana kalau malam ini kau mampir ke tempatku. Kau tahukan, aku punya cabang club di negara ini? Hari ini aku akan mengadakan pesta disana. " Tawar Bastian lagi. Lalu ia menatap wanita di sebelahnya,


"Kau tidak keberatan kan sayang? "


Wanita itu menggeleng. Ia sedang memperhatikan Arthur saat ini.


"Aku tidak --"


"Ayolah Arthur, beberapa hari yang lalu kau menolak ajakanku, sekarang kau tidak boleh menolak lagi. Ya? " Ujar Bastian. Arthur nampak berpikir sejenak, lalu ia mengiyakannya.

__ADS_1


"Okay " Ucap Arthur yang disambut senyum merekah Bastian.


"Good, malam ini tepat jam 07.00. Bagaimana? "


"Baiklah, tapi aku akan membawa seseorang" Ia teringat Aisha. Tidak mungkin kan Arthur meninggalkan gadis itu sendirian, apalagi tidak ada orang di dalam villa kecuali penjaga.


"Ya, aku tahu. Pasti wanitamu yang barukan?" Bastian tertawa, ia memang tidak tahu bahwa temannya ini sudah resmi memperistri seorang gadis. Arthur memang tidak mengundang ataupun memberitahunya.


"Kau akan tahu sendiri nanti, aku pergi dulu. " Ujar Arthur lalu kembali memasuki toko. Matanya menjelajahi ruangan dan menangkap istrinya yang tengah bingung memilih banyak nya coklat yang akan ia beli.


"Sedang apa kau, lambat sekali! " Ujar Arthur setengah berteriak yang membuat Aisha terlonjak kaget.


"Ya Tuhan, kau mengagetkanku, aku bingung memilih semua ini. " Seru Aisha seraya mengusap dadanya yang berdetak tak beraturan.


"Beli saja semuanya! " Tukas Arthur.


"Tidak, aku sudah selesai memilih. Aku akan membayarnya" Saut Aisha lalu membawa belanjaannya ke kasir dan melakukan transaksi. Setelah itu, ia dan suaminya menaiki mobil dan melaju ke villa mereka.


***


Malam harinya, jam menunjukan pukul 07.00. Aisha tengah mematut dirinya di depan cermin. Ia bingung, tadi setelah makan malam, Arthur tiba tiba menyuruhnya berdandan.


"Sebenarnya mau kemana sih? Pesta? Tapi pesta siapa? " Aisha bingung sendiri. Ia masih memperhatikan penampilannya di depan cermin rias.


Sedangkan Arthur yang telah siap dengan jasnya, masih siaga menunggu di lantai bawah. Sebenarnya ia ragu untuk mengajak Aisha, karena pria itu tidak yakin bahwa gadis itu pernah ke club sebelumnya.


Kalau aku tidak membawanya, lalu nanti terjadi sesuatu padanya disini, aku juga yang repot. Gumam Arthur dalam hati.


Pria itu beranjak dari duduknya, memandang kearah tangga menunggu istrinya muncul.


"Kenapa wanita lama sekali kalau berdandan!" Gumam Arthur kesal.


"Hey gadis tengil cepatlah sedikit! " Teriak Arthur dari bawah. Tidak ada sahutan, membuat kesabaran nya mulai menipis.


"Aisha! Cepat atau kau--" Ucapan Arthur tertelan akan sesosok wanita jelita yang sedang menuruni tangga. Ia terpana, penampilan Aisha malam ini sungguh berbeda. Dengan mini dress berwarna abu - abu, polesan make up yang sedikit bold namun tetap natural, dan rambut yang dibiarkan tergerai indahnya.


Perempuan manis itu menapaki anak tangga dengan hati - hati. Sambil merapikan anak rambutnya ke belakang telinga. Tangan kirinya menenteng jaket tebal. Saat ia tiba di lantai bawah, ia tersipu malu kala Arthur memandangnya dengan cara berbeda.


"Mau berangkat sekarang? " Tanya Aisha sambil membuang muka kearah lain. Arthur tak bergeming, masih terlalu asik dalam alam khayalannya sendiri.


"Ah iya, ya kita berangkat sekarang. " Arthur langsung berbalik badan dan pura pura membenahi jasnya. Malu, ia tak mau Aisha tahu bahwa ia memperhatikan nya tadi.


Mereka berdua berjalan beriringan menaiki mobil mewah Arthur, mobil itu pun tancap gas menuju club Bastian yang agak jauh darisana.


***


Beberapa saat menyusuri jalan, akhirnya kendaraan yang ditumpangi mereka tiba pada sebuah club besar yang ramai manusia di dalamnya. Arthur memarkirkan mobil di parkiran.


Aisha mengernyitkan keningnya heran, meskipun terlahir dari keluarga kaya dengan segala fasilitas yang terpenuhi, namun gadis itu tidak pernah pergi ke tempat seperti ini seumur hidupnya. Tidak seperti anak konglomerat lain. Johan, Yudhi dan lainnya, benar - benar mendidik Aisha dan membatasi pergaulan gadis ini. Terutama Yudhi yang selalu tidak suka pada lelaki yang berusaha mendekati adiknya. Bukan apa - apa, mereka hanya ingin menjaga Aisha dari bahayanya pergaulan bebas yang dapat merusak masa depan. Aisha sendiri juga lebih suka duduk diam dirumah sembari membaca buku di tangannya.


"Arthur, kau mengajakku kemari? " Tanya Aisha menatap suaminya.


"Kenapa? Kau tidak mau? " Ujar Arthur.


"Emm.. sebenarnya aku tidak pernah ke club seumur hidupku. Dan aku tidak nyaman berada di tempat seperti ini. " Seru Aisha jujur. Arthur menarik tangannya dan menyuruhnya turun dari mobil.


Mereka berdua berjalan bersamaan memasuki pintu utama.


"Kau tidak usah khawatir, tempat ini milik temanku. Tidak akan terjadi apapun padamu." Tukas Arthur meyakinkan istrinya. Aisha hanya mengangguk dan mensejajari langkah pria di sebelahnya. Lagipula kalau ada sesuatu yang buruk terjadi, maka dia kan bisa beladiri, begitu pikiran Aisha meyakinkan.


Saat mereka sampai di tengah ballroom luas ini, Arthur disambut hangat oleh seorang lelaki yang tak lain adalah Bastian. Aisha mengikuti suaminya yang terduduk di sofa dengan rasa canggung yang melanda. Manik indahnya menyapu sekeliling, ramai sekali pria dan wanita yang berbaur menjadi satu sedang berjoget. Dentuman musik dj, serasa mengusik pendengarannya. Apalagi bau alkohol yang bertebaran dimana mana.


"Sudah lama ya, kita tidak bersama seperti ini Ar. Kau selalu saja sibuk dengan urusanmu. " Bastian mengawali pembicaraan sembari meneguk vodka di tangannya.


"Iya, aku memang sibuk akhir akhir ini. " Ujar Arthur. Bastian mengangguk dan matanya teralihkan pada wanita cantik di sebelah temannya.


"Siapa ini? Wanita barumu ya, tidak mau mengenalkan padaku? " Seru Bastian sambil tersenyum menggoda kearah Aisha. Arthur menatap tajam padanya. "Aku hanya bercanda bro, jangan marah. " Ucap Bastian kala ia menyadari telah memancing emosi teman garangnya ini.


"Dia Aisha, istriku. " Saat dirinya diperkenalkan, Aisha beralih memandang Arthur.


Sedangkan Bastian tersentak akan pengakuan sahabatnya, " Apa! Kau, kau kapan menikah? Kau pasti bergurau kan? " Saking tidak percayanya, Bastian tanpa sadar bangkit berdiri. Ia menatap Arthur meminta jawaban.


"Belum lama ini kami menikah. Dan maaf, aku tidak sempat mengundang lainnya, karena aku menikah di Indonesia. " Menanggapi dengan santai, karena Arthur sudah mempersiapkan diri untuk cecaran pertanyaan semacam ini sebelumnya.


"Kau serius? " Bastian kembali duduk. Wanita di sebelahnya hanya diam mendengarkan seraya meneguk wine dari cawannya.

__ADS_1


"Hemm. " Mengangguk. "Jangan banyak bertanya, aku malas menjawabnya. " Ujar Arthur.


Bastian beralih menatap Aisha, mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan, " Aku Bastian, teman suamimu. " Aisha hanya tersenyum dan tak menjabat tangannya. Bukannya sombong, ia hanya tidak nyaman sejak pertama kali melihat Bastian.


"Jauhkan tanganmu! " Seru Arthur. Bastian lantas menjauhkan tangannya dengan tersenyum kecut.


Aku tidak menyangkan Arthur akan menikah. Ku kira, dia akan selamanya membujang. Haha. Bastian menahan tawa yang memaksa keluar. Ia paham betul bahwa Arthur tidak menyukai jika dia ditertawakan.


Arthur meraih cawan dan menuangkan wine didalamnya, meneguknya hingga setengah tandas. Tanpa tahu ada yang menatap kesal padanya.


Entah mengapa aku kesal saat melihat dia minum, padahal itu sudah biasa dia lakukan. Gumam Aisha dalam hati.


"Minumlah nona, " Tawar Bastian.


"Maaf, aku tidak minum. " Tolak Aisha. Bastian awalnya sedikit merasa aneh, namun ia memaklumi karena sepertinya gadis itu adalah tipe orang yang tidak suka ke tempat seperti ini.


"Jangan banyak banyak, ingat, kau akan mengemudi nanti. " Bisik Aisha di telinga suaminya. Arthur hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Daripada beradu mulut di tempat seperti ini, pikirnya.


Kedua teman itu saling berbincang menghabiskan waktu. Aisha yang bosan hanya memainkan ponselnya, mengecek sosial media. Walaupun banyak makanan dan minuman tak beralkohol di depannya, ia tetap tak mau menyantap sedikitpun makanan itu, walaupun Arthur dan Bastian berkali kali menegurnya. Terlalu banyak menonton serial televisi lah penyebabnya, adegan saat seseorang mencampurkan obat di dalam minuman tiba tiba bergelayut dalam benak Aisha.


Aku tidak akan makan dan minum apapun di tempat ini. Kalian mengerti tidak sih, jangan memaksaku terus!. Mendelik tajam pada Arthur yang menawarkan minuman soda padanya.


"Yakin tidak mau? " Tawar Arthur lagi. Aisha menggeleng. Arthur mengembalikan gelas itu diatas meja, melanjutkan obrolannya dengan Bastian. Tanpa sengaja Aisha menangkap basah wanita di sebelah Bastian yang tampak memperhatikannya. Seperti tatapan sinis menilai Aisha. Gadis itu hanya diam dan beralih menatap suaminya.


"Arthur, aku ingin ke kamar mandi.. " Bisiknya dekat telinga Arthur.


"Kau bisa sendiri? " Tanya Arthur. Aisha mengangguk. " Toiletnya ada disana, belok kiri lalu lurus saja. " Ujar Arthur.


"Oke, " Bangkit berdiri, lalu ia bergegas menuju toilet.


Aisha membelah kerumunan orang yang memenuhi ruangan. Ia mencari kamar mandi wanita dan masuk ke dalamnya. Ia keluar dari salah satu bilik dan menuju wastafel disana. Tak lama kemudian, seorang wanita menghampirinya dan ikut mencuci tangan di wastafel sebelahnya. Wanita itu tak lain adalah kekasih Bastian.


"Maaf nona, bisa kita bicara sebentar. " Ujar perempuan itu. Aisha menoleh padanya. "Aku Karina, kekasih teman suamimu. " Ujar Karina.


"Ada apa nona Karina? " Tanya Aisha.


"Aku hanya ingin bertanya, apa kau benar benar istri Arthur? " Tanya Karina dengan tatapan sinisnya.


Aisha mengerutkan kening heran.


"Tentu saja, aku adalah istri Arthur Anderson. Memang ada apa nona Karina menanyakan itu? " Aisha dapat membaca gurat wajah wanita di depannya. Tatapan sinis yang hanya ingin meledek dirinya.


"Oh, aku hanya penasaran saja. Aku sarankan, kau harus berhati hati nona. " Menarik salah satu sudut bibirnya. "Arthur adalah pria yang diinginkan banyak wanita. Aku harap kau dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan orang sepertinya "


"Maksudmu? " Aisha mulai menangkap arah pembicaraan wanita sombong di hadapannya.


"Yang aku perhatikan, kau tidak bisa beradaptasi dengan dunia kami. Contohnya, kau tidak minum dan kau tampak tidak nyaman dengan suasana club ini. " Lagi lagi ia tersenyum sinis. Memindai Aisha dari atas sampai bawah. Mencari sesuatu yang bisa dijadikan bahan ledekan, tapi tidak ada. Secara paras dan penampilan, Aisha sangat cantik. Dan barang yang melekat pada tubuhnya juga branded semua.


Oh, kau mau menantangku beradu mulut rupanya. Batin Aisha dalam hati.


Aisha menyunggingkan senyum padanya,


"Kau tidak perlu khawatir masalah itu nona, wanita terhormat mampu menjaga kehormatannya. Aku tidak minum karena mendapat didikan baik dari orang tuaku dulu. Mungkin wanita lain tidak mendapatkannya" Ujar Aisha. Karina di depannya sudah menggertakan gigi.


"Dan satu lagi, masalah suamiku kau juga tidak perlu khawatir. Aku menjaganya dengan segenap jiwaku. Kedudukan seorang istri itu lebih tinggi daripada wanita diluaran sana. Yang harus khawatir adalah kau " Menepuk bahu Karina berulang " Jagalah kekasihmu dengan baik agar tidak direbut wanita lain."


Sial! Dia pandai bersilat lidah. Niatku untuk mengejeknya malah dia yang menghinaku. Dengan tangan yang terkepal sempurna, Karina keluar dari kamar mandi dengan menahan emosinya.


Sementara Aisha masih disana dan tersenyum menatap punggung Karina yang menjauh, " Ada - ada saja wanita jaman sekarang, " Geleng geleng kepala lalu mengayunkan kakinya keluar darisana.


***


Jam menunjukan pukul 11.00 malam, seusai pamit pada Bastian, kini mereka dalam perjalanan pulang. Jalanan nampak lenggang dan sepi. Aisha sudah mengenakan jaketnya, begitupun Arthur yang tak tahan dengan hawa dingin yang melanda.


Saat gadis itu melirik kearah spion, matanya menangkap sesuatu yang janggal. Sebuah mobil SUV hitam tampak menguntit mereka dari belakang. Ia melirik kearah suaminya yang masih fokus mengemudi.


"Arthur.. " Panggil Aisha.


Arthur menoleh sekilas, " Apa? "


"Lihatlah ke belakang! " Perintah Aisha.


Bersambung....


Aku tahu mungkin kalian berpikir ceritaku ini terlalu datar 😢

__ADS_1


__ADS_2