Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 26


__ADS_3

Di sebuah perkampungan terpencil di sudut kota pada suatu negara, berdirilah sebuah markas milik kumpulan pemberontak negara. Mereka menjajah kawasan itu dan membunuh penduduknya, lalu mendirikan markas disana. Markas yang lumayan besar itu dipimpin oleh seorang pemberontak yang bernama Kicak Resano. Seorang pembunuh brutal yang tidak kenal ampun pada mangsanya. Yang lebih menjijikan lagi, dia adalah penggila wanita. Setiap hari ratusan wanita digiring ke markas. Setelah memilih satu dari sekian banyak, sisanya untuk anak buahnya.


Aisha yang ikut dalam rombongan wanita itu hanya bisa berdoa dalam hati. Semoga keputusannya ini tidak salah dan membuahkan hasil. Poin yang paling penting lagi adalah, keselamatannya.


Tuhan lindungilah aku... Batin gadis itu dalam hati.


Untuk memastikan keamanannya, salah satu anak buah yang berbadan kurus turut mendampingi disebelahnya. Tentunya dengan berubah menjadi seorang wanita.


Sampai pada sebuah ballroom tempat diadakannya pesta, seluruh penjuru dipenuhi para lelaki yang tengah berkencan dengan satu, dua bahkan lebih wanita. Aisha menatap sejenak sekeliling nya, sambil tersenyum ceria supaya tidak ada yang curiga. Hingga akhirnya dia dan sekawanan perempuan itu digiring ke sebuah ruangan privat milik pimpinan mereka. Semua mengenakan pakaian seksi yang menggoda hasrat bagi barang siapa yang melihat. Sementara Aisha, dengan berat hati ia pun juga harus memakai pakaian yang sangat minim.


Sebenarnya aku tidak nyaman, tapi aku harus bertahan. Ini demi kesejahteraan bersama.


Kedua mata pimpinan itu berpencar mencari barang yang diinginkannya. Semua tampak biasa, menggoda selera. Namun matanya terkunci pada sesosok perempuan dengan balutan pakaian berwarna merahnya. Kecantikan Aisha yang unik membuatnya terpikat dan tertarik mencobanya.


"Aku ingin dia! " Tunjuk pria bernama Kicak pada Aisha. Jantung gadis itu berdetak tak karuan, takut apabila pria itu macam - macam. Namun disatu sisi ini adalah keuntungan baginya, apabila Kicak tidak menunjuknya, maka sia - sia saja pengorbanan yang dia lakukan.


Dengan wajah yang tersenyum kaku, ia mendekati Kicak dan mencoba menetralkan raut wajahnya. Sampai dihadapan pria memalukan itu, tangannya ditarik hingga terjerembab duduk disampingnya.


"Tu-tuan.. " Mulai takut saat Kicak menggenggam tangan nya, mengelusnya lembut seolah menemukan permata berharga.


"Katakan, siapa namamu? " Tanya Kicak sembari memindai tubuh indah disampingnya dengan menyeringai.


Nama? Haduh, aku lupa! Dasar bodoh, siapa ya?


"Namaku, Bella tuan. " Sambil tersenyum manis, ia mencoba menutupi kegugupannya. Kicak tersenyum licik, ia akan menyentuh bahu Aisha, namun gadis itu menahan tangannya.


"Tuan, tidakkah sebaiknya kita berada di ruangan lain? " Sial! Aku bahkan harus mengucapkan kalimat menjijikan dari mulutku! Rasanya aku ingin memotong tangan lancangmu itu.


Hahaha! Kicak tergelak hingga suara tawanya memenuhi udara. Di ruangan privat itu hanya ada Aisha, Kicak, beberapa pengawal dan pelayan wanita. Sementara gerombolan wanita yang lain telah diserahkan pada para bawahannya.


Ia memegang dagu Aisha, " Kau begitu tidak sabar ya? " Menyeringai penuh arti.


Kondisikan lidah dan tanganmu atau kakakku akan memotongnya!!!


"Haha, tentu saja tuan. Bukankah memang itu tujuanku kesini? " Ia tersenyum menggoda. Kemampuan aktingnya memang mumpuni.


"Perempuan yang pintar! Bagaimana jika_" Ia mendekatkan bibirnya kearah Aisha. Namun lagi - lagi ia mencegahnya.


"Tuan, aku punya prinsip. Aku tidak bisa jika di ruangan terbuka " Nada bicara yang menggoda dan wajah yang begitu manis membuat Kicak menurutinya.


Dan pada akhirnya, ia tidak jadi menyentuh Aisha.


Syukurlah Tuhan... kau sangat baik padaku.


"Tunggulah sejenak! Aku ingin bicara dengan temanku " Ujar Kicak.


Tak lama kemudian, seorang pria dengan keadaan mabuk memasuki ruangan. Dengan menggandeng seorang wanita, ia berjalan sempoyongan dan duduk di sebelah Kicak.


Aisha terkejut saat melihat siapa pria itu. Pither. Pembunuh brutal itu ternyata benar - benar dibawah perlindungan Kicak.


Ternyata informasi yang didapat mata mata itu benar adanya.


"Apa yang ingin kau katakan? " Tanya Kicak to the point.


"Aku hanya ingin memberikan ini padamu." Ujar Pither yang sudah setengah sadar akibat terlalu banyak minum.


"Itu saja! " Kesal, karena ia telah menahan hasratnya hanya untuk sepucuk surat.


"Hey, kau akan menyesal kalau tahu isinya brother! " Kata Pither sambil terkekeh.


"Baiklah, simpan itu! " Surat itupun disimpan salah satu anak buahnya.


"Ayo! " Kemudian Kicak dengan nafsu yang menggebu menyeret tangan Aisha ke arah kamarnya. Saat sampai kekamar, ia langsung menguncinya dan meletakan kunci pada meja disebelahnya.


Langsung saja dia menarik tangan gadis itu menuju ranjang.

__ADS_1


"Eh, tuan. Jangan langsung dulu, bagaimana kalau tuan minum dulu " Dengan senyum mempesona, Aisha mencoba mengulur waktu untuk melancarkan aksinya.


Kicak sedikit curiga, ia mengerutkan keningnya dan menatap Aisha tajam.


"Kau sangat mencurigakan.. " Karena unggul dalam bidang sandiwara, Aisha sama sekali tak menunjukan gurat takutnya.


Sekarang saatnya aku mengeluarkan jurus dari Lila! Ya, meskipun ini sedikit menjijikan.


Dengan mempraktekan jurus andalan dari salah satu pelayan genitnya yang bernama Lila, Aisha membelai lembut bahu Kicak dengan tatapan menggoda.


Sungguh, ini adalah hal paling jorok yang pernah aku lakukan. Lila!!! Kau menjebakku ya!


"Tuan.. mengapa kau menaruh curiga padaku? Aku sangat sedih mendengarnya... " Lalu menampakan wajah sendu, berpura pura sedih.


"Padahal ada orang yang bilang... jika minum sebelum melakukan itu, akan lebih berbeda sensasinya... "


Hahaha! Ia tertawa. "Baiklah, ayo kita minum dulu "


Saat duduk pada sofa di dalam kamar, Kicak meneguk segelas alkohol favoritnya. "Kenapa kau tidak minum? "


"Aku sudah minum banyak tadi... jika aku minum lagi, aku tidak bisa bersamamu"


"Sebentar, aku akan mengambil bir " Ia lalu keluar ruangan. Momen itu dimanfaatkan Aisha untuk melaksanakan tugasnya. Sebelumnya, ia mengamati apakah ada CCTV atau tidak. Dan setelah yakin jika tidak ada kamera pengintai, ia pun mencampurkan obat yang dibawanya pada gelas milik Kicak. Obat itu adalah buatan salah satu rekannya di laboratorium, dapat membuat orang berkata jujur tanpa disertai kebohongan sedikitpun.


Bungkusnya, ia masukan kembali pada sakunya. Sesaat kemudian, Kicak datang dengan sebotol bir ditangan. Menaruhnya di meja, lalu meneguk sisa alkohol yang tersisa.


Rasakan kau! Berani bersikap kurang ajar padaku, sekarang rasakan akibatnya!.


"Sudah siap? " Aisha mengangguk.


Kenapa kepalaku terasa berat? Apa karena terlalu banyak minum?


Dengan seringai licik, ia mendekatkan bibirnya ke bibir Aisha. Belum sampai tujuan, kepalanya terasa semakin berat.


Tuhan.. tolong lah aku kali ini...


Syukurlah, aku bisa menjaga kesucianku..


Rasakan kau monyet jelek, beraninya main main dengan Aisha! Huh!


"Tuan, ada apa denganmu? "


"Aku tidak papa "


"Emm, tuan bolehkan aku bertanya sesuatu padamu? "


"Hem... katakan " Sekarang ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, menatap langit langit kamar sambil tersenyum senyum sendiri seperti orang gila.


"Apa ada orang yang sedang tuan lindungi saat ini? "


"Kenapa kau bertanya begitu?"


"Tidak papa tuan, hanya saja aku ini tidak bisa tidur kalau penasaran. Dan dari simpang siur yang terdengar, tuan sedang melindungi seseorang. Apakah itu benar tuan? "Berkata dengan sangat hati - hati dan santai agar tidak menampakan jika dia sedang mengorek informasi. Lalu Aisha menekan cincin yang ia pakai yang sebenarnya adalah alat perekam suara.


"Hem, ada" Lalu ia tertawa layaknya orang kesurupan.


"Benarkah, siapa? "


"Pither Wilson yang bodoh. Si bodoh dan pecundang itu memohon di kakiku agar dilindungi. Hahaha! "


"Oh ya? Yaampun! Tuan selain tampan juga hebat ya, sampai sampai orang itu rela berlutut di kakimu hanya untuk sebuah perlindungan... " Ikut tertawa.


"Tentu saja, aku ini sangat hebat, tidak ada yang bisa menandingi kekuatan ku di dunia ini"


Cih

__ADS_1


"Apa kau tahu? " Tanya Kicak.


"Tidak. Ada apa tuan? "


"Si Pither itu bodoh! Aku kan hanya memperalatnya untuk kepentinganku "


"Maksudnya tuan? "


"Iya, aku menggunakannya anak buah dan senjatanya sebagai bala bantuanku untuk menggempur negara yang aku benci "


"Oh begitu, emm apakah Pither itu tinggal disini? " Dia terus menggali informasi, mumpung Kicak tidak sadar, ini peluang emas baginyakan. Kalau kesempatan ini terlewatkan, Aisha tidak bisa menyamar lagi tentunya. Jadi dia harus mengorek segala info yang penting.


"Tidak. Dia datang hanya untuk pesta ini. Setelah ini dia akan terbang menggunakan jet ku ke Myanmar. "


"Myanmar? Dimana tepatnya, Myanmar itukan sangat luas tuan? "


"Kenapa kau ingin tahu!! " Nada bicaranya sudah meninggi.


Antoni bilang obat ini membuat orang tidak sadar jika bicara jujur. Lalu kenapa dia masih curiga padaku?.


"Bukan itu maksudku. Tapi aku hanya penasaran tempat apa yang tuan pilih sebagai benteng untuk pria itu. Tuankan sangat pintar, pasti tuan tidak akan salah memilih tempat. Benar begitu kan? "


"Tentu saja. " Menyugar rambutnya dengan jemari tangan. "Dia ada di kota terpencil Mindat di Myanmar sana "


"Oh begitu.. Emm tuan, aku penasaran dengan pria yang bernama Pither itu. Ceritakan sesuatu tentangnya. "


"Kenapa!!! " Sentak Kicak setengah sadar.


"Aku hanya penasaran sejauh mana otak pria yang kau sebut bodoh itu. Aku butuh bukti kalau kau lebih pintar darinya"


"Kurang ajar kau!! " Eh, bagaimana ini, dasar mulut tidak bisa diajak kompromi!. Batin gadis itu.


"Jelas aku lebih pintar darinya, apa kau tahu dia itu benar benar bodoh! Dia berencana menggunakanku untuk menghancurkan musuhnya, padahal aku yang memanfaatkannya " Kemudian ia mendesah samar, kepalanya terasa semakin berat saja.


"Dia menyembunyikan sebuah rahasia "


Ujarnya tanpa sadar.


"Rahasia? Rahasia apa tuan? "


"Rahasianya adalah_"


Dan karena rasa pening yang tidak karuan, Kicak tertidur di sofa.


Huh! Padahal sedikit lagi kena. Tidak apa lah, aku akan cari tahu rahasia itu nanti.


Mumpung si gila ini masih tidur sampai delapan jam kedepan, lebih baik aku kabur sekarang. Kak Nakul pasti menunggu di tempat tadi.


Perlahan tapi pasti, ia melangkah kearah pintu. Meraih kunci dan membuka handle pintu. Berhasil, pintu terbuka. Ia mengeluarkan sedikit kepalanya, dan sialnya ada penjaga yang siaga di depan kamar Kicak.


Aduh bagaimana ini! Ada penjaga disana.


Namun bukan Aisha namanya jika tidak punya seribu akal, ia menekan tindik hitam kecil yang berada di belakang telinganya.


"Kak, lakukan sekarang! " Bisik gadis itu.


Setelah mengirimkan panggilan darurat pada Nakul, sepersekian menit berikutnya bunyi bom meledak terdengar. Bom itu dilayangkan oleh helikopter milik Nakul ke halaman markas, hingga sontak para anak buah berlarian keluar. Semua orang yang berada di pesta panik dan kalang kabut kesana kemari. Melihat situasi yang tidak kondusif, Aisha lekas keluar dan mengunci Kicak yang masih tertidur di dalam. Membuang kuncinya ke sembarang arah lalu berlari keluar.


Saat semua orang berhamburan keluar, Aisha pergi ke tempat yang telah disepakati sebelumnya. Agak jauh dari markas, tidak ada yang curiga atau mengamati kepergian Aisha karena semua manusia lebih mementingkan nyawa masing - masing.


Sampai pada tempat itu, ia segera memeluk Nakul menyalurkan rasa takut yang meliputinya beberapa saat yang lalu. Nakul mengusap punggung adiknya, lalu memakaikan jaketnya padanya. Terlihat anak buah yang ikut menyamar dengannya menyusul di belakang.


"Kau tidak papa? Apa yang ******** itu lakukan padamu!! " Memegang bahu adiknya. Aisha menggeleng.


"Tidak ada kak, aku hanya mengeluarkan ketakutan sesaatku. Ayo kita pergi "

__ADS_1


Dengan bergegas, mereka menaiki heli yang telah siaga tidak jauh darisana. Terbang mengudara menuju bandara agar dapat segera sampai ke mansion keluarga.


Bersambung...


__ADS_2