Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 68


__ADS_3

Billy masih terpaku menatap kedua punggung pasangan itu yang mulai menjauh. Hilang ditelan kerumanan orang yang datang.


Ia dengan susah payah berusaha meneguk salivanya yang tiba tiba mengering.


"Kenapa mereka bisa menikah? Setahuku, Aisha tidak pernah punya kekasih daridulu. Apa mereka dijodohkan? " Pikiran pria itu masih menerka nerka. "Mana mungkin! "


Arthur membawa Aisha ke salah satu sudut ruangan yang ada.


Lelaki itu memang sengaja memilih tempat duduk yang sangat jauh dari tempat mereka tadi. Masih memasang wajah yang tertekuk kesal, Arthur memandang istrinya lekat.


"Ada apa Arthur? Kenapa dengan wajahmu?" Tanya nya seraya meneguk segelas minuman yang ada baru saja disodorkan pelayan.


"Kau pasti senangkan bertemu dengan teman lelaki mu itu! " Sungut Arthur.


"Biasa saja, memangnya kenapa dia kan teman ku waktu kuliah dulu. Lagipula kami hanya bicara sedikit saja, kau kan sudah mengajakku pergi tadi. " Aisha mulai membaca keadaan. Sepertinya suami galaknya ini tidak suka jika pada Billy.


"Apa! Jadi kalau aku tidak datang kau akan bernostalgia dengan dia begitu? Mengenang masa lalu yang indah di masa lampau? " Ujar Arthur meluapkan emosinya. Membuat dahi Aisha berkerut heran dibuatnya.


"Arthur, apa kau.. cemburu? " Goda Aisha dengan senyum yang merekah.


"Tidak! Siapa yang cemburu, kau itu terlalu percaya diri! " Sahut Arthur.


Aisha menarik napas dalam, sifat arogan suaminya ini sepertinya memang sudah menggapai level kronis.


"Yasudah, aku minta maaf kalau ada salah denganmu. Aku tidak akan mengulanginya lagi. " Tutur Aisha dengan tersenyum tulus. Daripada memperpanjang masalah, pikirnya.


"Tentu saja kau salah! " Cebik Arthur. Percakapan diantara mereka terhenti sementara. Terdengar suara MC yang mengumumkan bahwa kini saatnya berdansa.


"Emm, kau tidak mau berdansa? " Tanya Aisha memecah keheningan diantara mereka. Menilik dari wajah suaminya yang masih datar sedatar tembok rumah, sepertinya suasana hatinya akan lebih baik jika mereka melakukan kegiatan bersama.


"Dansa saja sendiri! "


"Baiklah, kalau kau tidak mau maka aku akan mengajak Billy--"


"Diam! Siapa yang tidak mau, aku mau. Ayo!" Lelaki itu mengulurkan tangannya pada Aisha. Yang disambut gadis itu dengan suka cita. Para pasangan sudah berdiri di posisi masing masing. Ada beberapa orang yang hanya dapat melihat dari meja mereka karena tidak punya pasangan atau mereka sudah lanjut usia. Namun tak jarang, ada pria dan wanita paruh baya yang turut serta.


Aisha dan Arthur mengambil posisi di tengah ruangan. Mereka sudah mengambil ancang ancang berdansa seperti pada umumnya.

__ADS_1


Gadis itu memandang wajah Arthur yang sangat dekat dengannya. Ada rasa aneh dalam dada, sepertinya jantung Aisha berdetak dua kali lebih cepat dari biasa.


"Kenapa melihatku seperti itu! " Tanya Arthur.


"Kau bisa tidak bicara yang lembut. Kalau tidak ikhlas lebih baik tidak usah! "Ketus Aisha. Ia sudah akan melepaskan tangan Arthur dari pinggangnya, namun pria itu kian mendekapnya erat.


"Baiklah maaf, " Ucapnya kemudian. Entah mengapa kini kata maaf dan terimakasih amat mudah terlontar dari bibirnya. Padahal dulu, bagi Arthur mengucapkan dua kata itu sudah bagaikan ujian hidup yang berat saja. Sangat jarang, kecuali pada aunty Rania.


"Kau sudah tidak marah? " Tanya Aisha.


"Tidak. " Tutur Arthur lembut. Aisha menarik kedua sudut bibirnya dan kian meletakan tangannya di pundak Arthur layaknya orang berdansa.


Suara himbauan bahwa pesta dansa akan dimulai sudah dikumandangkan. Para pasangan mulai menggerakan tubuhnya seirama. Mengikuti alunan musik yang tenang. Aisha dan Arthur pun berbuat sama. Arthur sudah terbiasa, namun tidak dengan Aisha yang masih kaku saat berdansa. Maklum saja, ia tidak pernah memiliki kekasih sejak dulu. Ramai para pria yang bertanya, kenapa kau tidak ingin berpacaran? Gadis itu tidak pernah menjawab. Namun pasti teman wanitanya yang akan menyahut dan berkata bahwa, lelaki yang ingin memiliki Aisha ini harus menjalani seleksi ketat yang diadakan kakaknya. Seleksinya gampang kok, hanya mengalahkan Bima saja dalam adu tinju.


Mustahil, karena selama ini belum ada yang bisa mengalahkan pria berbadan gorila itu kalau dalam urusan adu tinju.


"Sebenarnya kau ini bisa berdansa tidak? " Tanya Arthur sembari meringis karena Aisha menginjak kakinya.


Gadis itu tercengir kuda dan berkata, " Maaf, aku sangat jarang berdansa. Kalaupun berdansa pasti dengan teman perempuanku saat ada ekstrakurikuler. " Aisha menjawab jujur.


Di sudut ruangan sana, Billy duduk di salah satu meja. Meja itu memiliki lima kursi, namun hanya tiga yang terisi.


Manik matanya tak lepas memerhatikan kedua pasangan yang tampak sangat mesra itu. Tangan nya meraih segelas vodka dan menyesapnya.


"Kau mau mengejarnya? Sudah lupakan saja! Dia sudah bersuami. " Ujar salah satu teman pria nya yang paham arah pandangan Billy.


"Hey bos, biar aku beritahu ya.. Kalau kau menyukai sesuatu, maka kejarlah selagi bisa. Tapi kalau sudah begini.. " Ucapan pria itu terputus putus. Tampaknya ia sudah sangat mabuk berat. Bahkan untuk mendengarkan sahutan Billy saja ia tidak bisa.


***


Acara pernikahan yang melelahkan pun telah usai. Kedua pengantin memasang wajah yang berbeda. Kalau Reynard, dia seperti biasa selalu raut wajah datar yang menjadi andalan. Sedangkan Myara, gurat wajah gadis itu menunjukan kemurungan. Antara senang dan juga bimbang. Ia sudah resmi bersuami saat ini. Menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang entah mencintainya atau tidak, yang jelas Myara selalu menyimpan rasa dalam lubuk hati terdalamnya.


"Kau kenapa sayang? Apa si bodoh ini membuatmu bersedih? " Tanya Holmes pada putrinya.


"Tidak ayah, aku baik. " Senyum manis disunggingkan meskipun terpaksa. Arthur dan Aisha yang baru saja mengurus semuanya menghampiri mereka.


"Rey, kau pulang ke mansionku atau di hotel ini? " Arthur berkata seraya menatap kedua pengantin baru itu. "Atau kau mau aku memesankan tiket bulan madu untuk kalian sekarang? " Godanya.

__ADS_1


"Diam kau! Aku akan pulang ke apartemenku saja. Kau bisa ajak dia bersamamu. " Melirik Myara dengan matanya. Gadis itu sontak menunduk. Holmes disampingnya sudah mendelikan mata horor.


"Apa kau bilang, jadi kau akan menelantarkan putri ku yang cantik ini! " Ujar Holmes.


Pria tua itu beralih menatap Arthur, "Maaf tuan, kalau tidak keberatan biarkan mereka berada dalam pengawasan tuan. Aku sangat khawatir dengan putriku, tapi aku tidak percaya pada pria ini. " Masih melirik Rey dengan wajah tak ramahnya.


Kalau kau bukan orang tua dan mertuaku, sudah kucolok mata itu. Gumam Rey dalam hati.


"Tidak masalah, kau tidak usah khawatir. Rey bukanlah pria yang akan menyakiti wanita."


"Aku akan tinggal di apartemenku saja. Aku tidak ingin menumpang di mansionmu! "Timpal Reynard.


"Tidak apa apa Rey, akan lebih menyenangkan kalau mansion jadi ramai. Aku sangat ingin tinggal seatap dengan Myara. Lagipula kata Arthur sebelum kami menikah kau tinggal disana juga kan? " Aisha ikut menyahut. Kenyataannya memang begitu, kedua pria yang telah bersahabat lama ini ibarat kompor dan gas. Tidak akan lengkap jika keduanya terpisahkan. Tapi entah karena sungkan atau apa, semenjak Aisha datang, Rey lebih sering tinggal di apartemen.


"Aku tidak--" Ucapan Rey terpotong.


"Tuan aku mohon.. aku sangat ingin tinggal serumah dengan Aisha. " Myara merengek. Sebenarnya ia hanya ingin melindungi dirinya. Ia terlalu canggung untuk berada di atap yang sama dengan Rey, apalagi hanya berdua. Setidaknya jika ada Aisha, maka dirinya akan ada teman bicara.


"Baiklah, " Sahut Reynard pasrah.


Saat akan pulang ke mansion Arthur, Myara berpamitan pada ayahnya. Rasanya aneh sekali, sejak kecil ia tinggal bersama pria itu. Meskipun terkadang garang, namun Holmes adalah sosok ayah yang sangat sempurna di matanya. Pria yang setiap hari selalu memastikan semua kegiatannya berjalan dengan lancar. Yang selalu menyuapinya dengan cinta saat ia sakit. Sosok yang selalu marah marah kalau dia terlambat makan atau pulang terlalu malam. Benar benar besar pengorbanan Holmes baginya selama ini.


Myara merengkuh ayahnya erat, setitik air mata luruh begitu saja. "Sudahlah, tidak usah khawatir kan ayah, ikutlah bersama suamimu" Lain di mulut lain di hati. Dalam mulut nya ia berlagak sok kuat, tapi dalam hati ia menangis pilu. Aset berharga yang tidak ternilai harganya, yang telah ia jaga sejak bayi, kini resmi menjadi milik orang lain.


"Ayah, aku akan sangat merindukanmu. Ayah tenang saja, aku akan menemuimu besok pagi pagi sekali. " Ujar Myara masih dengan mendekap ayahnya. Holmes seketika kembali garang dan melerai pelukan mereka.


"Apa yang kau katakan tadi? Tidak boleh! Kembalilah kerumah dengan membawa kabar tentang cucuku. Ingat ya, jangan sampai lupa mengabariku nanti! " Peringat Holmes seraya menatap putri dan menantunya bergantian.


"Tapi ayah.. " Itu tidak mungkin terjadi. Ringis Myara dalam hati.


"Sudahlah, ayo kita berangkat sekarang. Ini sudah malam. " Reynard menengahi perdebatan kecil mereka.


"Awas saja kalau kau menyakiti putriku! Kupastikan kau akan jadi daging cincang!" Ancam Holmes seraya memperagakan cara orang mencincang daging.


"Iya - iya, aku akan menjaga putrimu ini." Kata Rey sembari menarik tangan Myara keluar dari ruangan itu. Mereka semua pulang ke kediaman masing masing. Keempat orang itu pulang ke mansion Arthur. Sedangkan Holmes juga pulang ke rumahnya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2