
"Senang bekerja sama dengan anda tuan Anderson." Salah seorang wanita dari tiga orang yang berdiri tegak di hadapan Arthur menjabat tangannya. Dia memakai jas kerja merah muda yang kontras pada kulitnya. Senyum nampak terbit di wajah mereka, sepertinya baru saja menyepakati perjanjian yang besar setelah sekian lama berunding dalam ruang rapat. Bahkan waktu sudah menunjukan tengah hari, mungkin istrinya sudah jamuran menunggu.
"Kami pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk proyek kali ini." Sahut pria berjas hitam di sebelahnya. Dia turut mengulurkan tangan yang disambut Arthur dengan sopan.
"Semoga saja kerjasama kita berjalan dengan lancar." Arthur mengulas senyum simpul yang menambah kesan coolnya. Hatinya merasa lega dan senang atas kerjasama yang baru saja terjalin, sebab hal ini sangat berpengaruh bagi perusahaannya.
Setelah terlibat perbincangan sejenak dengan ketiga orang tersebut, mereka pun bubar. Langkah lebar pria itu menuju ruangannya yang ada di lantai tertinggi Anderson Group. Langsung teringat pada istri yang pastinya sudah merengut karena bosan.
"Kenapa lama sekali?" Gerutuan menyambut Arthur saat pria itu memasuki ruangan. Sontak ia memeluk istrinya yang sudah mengerucutkan bibir karena sebal.
"Kan aku sudah bilang tunggu dirumah saja sayang," Pria itu menyahut sembari menarik tangan istrinya menuju sofa. Netra Arthur memandang jajaran hidangan yang tersaji diatas meja. Ia melebarkan senyumnya. Tau saja Aisha kalau suaminya ini sedang kelaparan.
"Terimakasih sayang, kau memang paling pengertian." Cup. Satu kecupan mendarat di bibir yang masih manyun itu. Si empunya langsung mencebik antara masih kesal dan malu.
"Tentu saja, kau yang palung tidak pengertian. Lihat makanan diatas meja sudah dingin." Cebiknya.
"Iya maaf, ibu hamil tidak baik marah-marah, nanti akan semakin cantik." Godanya seraya tersenyum dan menoel dagu runcing wanitanya.
Pipi wanita itu bersemu merah. Dia berusaha menyembunyikannya lalu meraih piring berisi olahan ikan diatas meja. Hidangan-hidangan ini sengaja ia pesan beberapa saat lalu. Untuk antisipasi kalau suaminya kembali dalam keadaan kelaparan.
"Bagaimana pertemuan tadi?" Pertanyaan Aisha memecah keheningan dan menjeda kegiatan suaminya yang tengah menyuap sesendok sup ikan pada mulutnya.
"Semuanya berjalan lancar sayang, kerjasama sudah disetujui. Proyek ini benar benar akan membantu perusahan kita." Lontar pria itu lugas. Terlihat raut wajahnya masih ceria saat menyebutkannya.
"Kita?" Ulang Aisha agak aneh dengan kata tersebut. Anderson Group adalah perusahaan raksasa yang diwarisi suaminya turun temurun dari generasi sebelumnya. Arthur lah yang paling berpengaruh karena dia yang melambungkan nama Anderson Group. Hingga saat orang mendengar nama Arthur Anderson, kebanyakan orang akan mengenali nama besar tersebut. Terlebih bagi penggiat bisnis di negara ini. Berkali kali nama lelaki tampan tersebut masuk dalam jajaran pebisnis sukses.
Telinga Aisha merasa asing mendengar kata "perusahaan kita". Karena meskipun dia adalah suaminya, perempuan itu merasa tidak ada hak apapun dalam urusan bisnisnya.
"Ya, kita." Lantang Arthur menyahut. "Kita adalah sepasang suami istri, apa kau lupa itu sayang? Segalanya milikku adalah milikmu juga. Hartaku, kedudukanku, tubuhku,dan termasuk perusahaan ini adalah milikmu juga. mulai sekarang aku akan melibatkanmu." Rasa terharu menyelimuti Aisha. Sontak ia menubrukan dirinya pada dada bidang suaminya,
"Kenapa? Kau terharu karena suami tampan mu ini berubah menjadi lebih baik 1% setiap harinya?" Dengan percaya diri dia berucap sambil menghadiahkan elusan lembut pada puncak kepala istrinya. Suara pria itu tak begitu jelas sebab mulutnya yang masih sibuk mengunyah.
Aisha diam saja menikmati sentuhan lembut itu, sekalipun suaminya itu masih terus mengoceh tentang dirinya sendiri.
"Kau tau Sha, aku baru saja mengetahui hal baru. Kalau kita menjadi lebih baik 1% setiap hari saja maka selama 365 hari, kita akan menjadi 37 kali lebih baik dari versi sebelumnya. Sebaliknya, kalau lebih buruk 1% setiap hari, maka kita akan mengalami penurunan hingga nyaris nol." Entah ada angin apa, Aisha sedikit terkejut mendengar suaminya tersebut melontarkan kata-kata bijak dari mulutnya. Padahal tadi dia hanya membicarakan tentang keunggulan seorang Arthur Anderson saja.
"Kenapa kau tiba-tiba jadi bijak begini sayang?!" Aisha tertawa sekaligus terkejut memandang Arthur. Pria itu langsung mencebik kesal. Memangnya apa yang salah, bukannya dari dulu dia sudah bijak.
__ADS_1
"Daridulu aku memang sudah bijak! kalau tidak bagaimana aku bisa memimpin dan membesarkan nama perusahaan ini hingga dikenal seluruh dunia." Gerutunya kesal lalu sedikit menjauhkan dirinya. Dia kembali fokus pada makanan diatas meja. Mengisi perutnya yang sudah keroncongan dari tadi dan tertunda karena sibuk bicara dengan istrinya.
"Arthur maaf.." Suara wanita itu terdengar mendayu demi membujuk suaminya yang dalam mode merajuk. Mendekatkan dirinya dan beralih menyomot piring pria disampingnya.
"Kembalikan piringku!"
"Tidak, aku akan menyuapimu supaya suamiku ini tidak merajuk." Bujuk rayunya yang diselipi wajah menggemaskan dan puppy eyes nya itu selalu sukses meluluhkan hati Arthur. Lihatlah, bahkan suaminya makan lebih lahap saat dia menyuapinya.
"Jadi, sekarang suamiku hobi membaca buku? Kau pasti habis membaca buku best seller kan?" Ujar Aisha. Tebakannya tepat sasaran. Arthur langsung mendongak menatapnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Arthur.
"Aku sudah membacanya dua minggu yang lalu." Aisha berucap ringan. Bahkan saking tertariknya dia pada buku tersebut sampai begadang hingga tengah malam untuk menuntaskannya. Dia baru berhenti ketika suaminya mengomel menyuruhnya istirahat saat itu.
"Ah bagaimana aku bisa lupa kalau punya istri pandai dan kutu buku sepertimu." Seru pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Sudah jangan bicara sambil makan, habiskan makananmu aku mau ke toilet." Seru perempuan itu sesaat sebelum dia berlalu ke kamar mandi untuk menunaikan hajatnya.
****
Kini, Aisha berada di ruang persenjataan. Sebuah ruangan luas yang hanya beberapa orang yang mempunyai akses masuk kedalam. Untuk membersihkannya saja, hanya pelayan khusus yang sudah terlatih bertahun-tahun. Beragam senjata api sampai beberapa alat-alat canggih tampak terkejar tali di dinding. Apalagi senjata-senjata api itu, terdiri dari berbagai macam jenis dan berasal dari berbagai negara. Mayoritas memang berasal dari luar negeri, sebagian di impor dari negeri penghasil senjata yang tak diragukan lagi kualitasnya.
Dulu, Aisha akan betah seharian menghabiskan waktunya di tempat semacam ini. Seolah alat-alat itu menjadi sahabatnya. Karena bahkan sejak kecil dia sudah dicekoki latihan seperti itu.
Netra wanita hamil tersebut tampak menutup, seperti sedang menyelami dunianya sendiri. Masa kecil dan remajanya yang penuh tantangan seolah menjadi kenangan yang amat berkesan. Ada pahit dan manis. Namun dia tidak pernah menyesali itu semua karena mungkin itu semua adalah garis takdirnya.
Namun Aisha gelisah. Ia menyentuh perutnya yang bulat. Berisikan nyawa manusia disana. Hati kecilnya tidak mau anaknya ikut merasakan apa yang ia rasakan. Aisha ingin anak-anaknya hidup normal. Tapi semua itu rasanya akan mustahil mengingat ayahnya saja adalah ketua mafia ternama. Akan banyak bahaya yang mengancam nyawa anaknya, apalagi kalau dunia sampai tahu bahwa dia adalah anak Aisha. Keturunan langsung darinya. Entah apa yang akan dia alami.
"Aisha!" Suara teriakan lelaki membuat Aisha terlonjak. Dia bahkan meraba dada sebelah kiri tempat jantungnya berada.
"Sedang apa kau disini sayang?!" Tanya Arthur yang tampak kalang kabut setelah memutari mansion guna mencari istrinya. Ia terkejut bukan main saat tahu perempuan yang tengah hamil anaknya itu ada disini.
Aisha berbalik memandang Arthur. Mereka saling bertukar pandang. Pria itu kian mengikis jarak dan mendekapnya erat. Tersorot kekhawatiran dari netranya.
"Aku kira aku pergi kemana! Kenapa pergi ke tempat ini?" Tanyanya setelah melerai pelukan. Arthur memandang sekilas susunan senjata di dinding. Lalu kembali fokus pada wajah gelisah istrinya.
"Ada apa sayang?" Tanya pria itu seraya menggenggam tangannya erat.
__ADS_1
"Aku hanya sedang mengingat diriku yang dulu, sebelum bersamamu. Sekarang rasanya semua alat ini agak terasa aneh, apalagi dengan perut buncitku seperti ini." Aisha terkekeh pelan.
"Apa yang kau cemaskan?" Arthur berwajah datar dan tak mengalihkan pandangannya. Ia dapat menangkap kegelisahan dalam mata wanitanya.
"Aku takut, kalau anakku akan mengalami apa yang aku alami dulu Arthur. Aku tidak mau mereka hidup dalam bahaya setiap hari, aku ingin mereka menjalani masa-masa menyenangkan mereka dengan normal dan bahagia, tidak sepertiku." Ujar Aisha.
"Dan juga tidak sepertiku, aku juga tidak mau itu terjadi. Jangan sampai dia tumbuh seperti aku dulu." Pria itu menyahut lirih. Sepertinya dia juga tengah mengingat masa remajanya yang setiap hari bergulat dengan senjata untuk melindungi dirinya sendiri dan orang orang disekitarnya. Bukan hanya itu, Arthur remjaa bahkan sudah terbebani dengan perusahaan sebesar Anderson Group, kalau bukan karena bantuan para pendukung keras ayahnya dulu, mungkin kini keluarga Anderson sudah bangkrut dan tinggal nama.
"Jangan terbebani dengan itu sayang, kau tenang saja." Arthur seperti sudah paham dimana letak kecemasan Aisha yang berlebih. "Aku tidak akan mengenalkan Regdator pada mereka. Aku tidak akan mengenalkan dunia gelapku pada mereka. Tidak akan pernah, tapi tetap saja kalau suatu saat kita punya anak lagi dan itu laki-laki. Aku akan melatihnya beladiri untuk melindungi dirinya." Tutur pria itu lembut seraya membelai perut sang istri. Anak pertamanya memang perempuan, tapi tak menutup kemungkinan mereka akan memiliki seorang putra. Dan jika itu terealisasi, maka mau tak mau putra Arthur harus dapat melindungi dirinya sendiri. Banyak persaingan di dunia ini yang dilakukan dengan cara tidak sehat dan putranya akan ia tempa menjadi pemimpin yang berbakat bahkan lebih baik darinya.
"Kita sudah punya anak laki-laki sekarang sayang." Tutut Aisha lembut. Mengingatkan kalau Devan juga anak mereka, meskipun hanya anak angkat tanpa kejelasan statusnya. Walaupun Dev dan Krystal tak terlahir dari rahim Aisha, tapi mereka pantas mendapat perlakuan yang adil.
"Iya, iya aku tahu itu." Ucap Arthur.
Aisha hanya tersenyum simpul melihat perubahan raut wajah Arthur. Ia bertingkah berani dan mengecup bibir suaminya lama. "I love you." Ucapnya lirih.
Pria itu terkejut bukan main ditengah lamunannya. Mendapat serangan dadakan seperti tadi tiba-tiba membuat yang dibawah sana bereaksi.
Lelaki itu mengecup lama dahi Aisha.
"I love you too. Aku akan selalu bersamamu nomor enamku, singa betinaku, El Taylor ku.."
"Jangan panggil aku seperti itu lagi, ayo jalani kehidupan pernikahan yang normal. Menjalani hidup yang indah bersama anak-anak kita. Tolong jangan biarkan anak-anakku mengalami apa yang aku alami. Biarkan mereka menjalani kehidupan sesuai apa yang mereka senangi, jangan ajarkan putri kita memegang senjata, tapi kita didik dia menjadi pintar agar berguna bagi semua orang." Perkataan Aisha yang panjang lebar sepertinya hanya dianggapnya angin lalu. Suaminya itu malah fokus pada kegiatannya sendiri. Tangan dan bibirnya bergerilya kesana kemari. Dia dapat merasakan hawa panas yang menjalar disekitarnya.
"Arthur.. " Aisha sudah dapat menebak apa yang didambakan sang suami lewat sorot matanya.
"Aku sudah pening.." Rayunya dengan wajah memelas.Huff, wanita itu menghela napas. Padahal dia malas begadang, tapi ya sudahlah. Dia menurut saja saat suaminya me***** bibirnya dan menyeret tangannya untuk menuju ke dalam kamar yang ada di lantai atas. Kasihan juga dia, sudah bersabar lebih dari satu bulan karena dokter menyarankan mereka mengurangi kegiatan hubungan badan.
Tapi tunggu! Aisha rasa aneh yang baru ia sadari. Ada sesuatu yang aneh pada perutnya. Tiba tiba dia merasa mulas namun rasa mulas yang sedikit kuat dari biasanya. Rasa tak nyaman menjalar dari bagian depan perut hingga ke punggung. Ia menggenggam erat tangan suaminya hingga Arthur berhenti.
"Ada apa sayang?" Tanya pria itu. Mereka sudah ada di bawah tangga yang akan menuju lantai atas. Hasratnya yang tadi menggebu-gebu mendadak lenyap ketika menyorot wajah Aisha yang meringis menahan sakit.
"Arthur perutku sakit, sepertinya kontraksi dan akan melahirkan." Aisha berucap terbata-bata. Menahan gejolak aneh pada perutnya.
****
Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef
__ADS_1