Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
BAB 41


__ADS_3

Aisha mengikuti arah pandangan perempuan itu. Para pengawal terlihat bergegas menenteng senjata dan memasuki mobil. Panik setelah mendapat telepon darurat dari salah satu anggota.


Aisha berlari menghampiri salah satu dari mereka. Menahan lengannya yang akan beringsut pergi meninggalkannya " Ada apa? Katakan padaku. Katakan! "


Berteriak karena panik.


"Tidak ada nona, saya harus bergegas. Permisi " Sudah akan berbalik. Tapi Aisha mencekal erat tangannya. Menyetel tatapan penuh harap. Kumohon katakan padaku, begitu tafsiran dari sorot matanya.


Karena tidak ada waktu lagi, pengawal tadi terpaksa membeberkan segalanya yang dia ketahui.


"Tuan sudah hampir menang, namun tiba tiba anak buah Kicak ditambah sekutu yang lainnya ikut hadir disana. " Kalimat pembuka yang semakin membuat rasa khawatir membuncah dalam dada.


"Apa kita kalah jumlah? Tidak mungkin kan, jelas jelas anggota GE sangat banyak, apalagi dicampur dengan anggota Regdator "


"Jumlah anak buah Kicak ditambah sekutu mereka itu seimbang dengan kita nona. Jadi sebagian dari kami di instruksikan berangkat kesana " Sudah tidak ada waktu lagi. Teriakan dari sang senior spontan membuat pria itu menghempaskan cekalan tangan Aisha dan terbirit - birit menuju mobil.


Puluhan mobil hitam itu tancap gas menuju bandara internasional.


Aisha gigit jari. Bingung apa yang harus ia perbuat dalam kondisi pelik seperti ini. Jika dia memaksa keluar, para pengawal akan mencegah demi keselamatannya. Gadis itu masih berperang dengan logikanya sendiri sembari mondar - mandir kesana kemari.


Lia muncul dari arah balakang, membawa segelas air dan menyodorkan pada Aisha. Gadis itu meneguknya sampai tandas.


Otakku.. kumohon berikan ide yang cemerlang. Biasanya kau akan lancar saat genting begini. Tapi kenapa sekarang kau jadi beku seperti suamiku.


"Nona tenang dulu "


"Aku bingung Lia " Lia malah tambah bingung, dia juga tidak tahu harus melakukan apa. Tahu apa dia soal dunia mafia. Dunia menegangkan yang penuh liku - liku. Berbau pistol dan senjata tajam. Begitulah yang di definisikan Lia.


"Nona, jika kita tenang maka otak akan berjalan lancar " Perkataan Lia yang membangkitkan memori Aisha.


"Jika menjumpai masalah dan tidak ada jalan keluar, tariklah napas dalam dalam. Tenangkan pikiran dan berpikirlah dengan logika. " Wejangan ayah yang terngiang di kepala Aisha.


Gadis itu mempraktekan nya. Menarik napas dalam dalam dan menghembuskan perlahan. Mencoba memutar otak dan menggali solusi terbaik.


Tapi tetap saja tidak ada jawaban.


Ayolah otakku..


Dia mengulangnya berkali kali, sepuluh menit bergulir tapi nona masih belum menghentikan apa yang ia lakukan. Membuat Lia disebelahnya mengernyitkan dahi bingung.

__ADS_1


"Nona, se " Baru akan menegur tapi ucapannya terpotong.


"Lia! Aku menyayangi mu!! " Sebuah ide melintas pada benak Aisha. Ide cemerlang yang seharusnya ia temukan dari tadi. Gadis itu melompat - lompat girang sembari memegang bahu pelayannya.


Kemudian berlari secepat kilat menuju kamar.


Sebenarnya apa yang nona pikirkan sih? .


Batin Lia memandang punggung nona muda yang lenyap dibalik daun pintu.


Di dalam kamar, Aisha menghubungi salah satu mafia paling setia dari Golden Eagle. Matthew. Biasanya pria itu ditugaskan menjaga keamanan mansion, atau melacak posisi seseorang. Jadi dia jarang ikut beraksi di lapangan.


"Hallo, ada apa nona? " Suara Matt terdengar diseberang.


"Matt, aku butuh bantuanmu " Langsung ke inti pembicaraan. Aisha mengutarakan apa yang ia pikirkan. Rencananya untuk membantu diam - diam. Entah mengapa nalurinya berkata bahwa kakak, ayah atau Arthur sedang dalam kondisi yang tidak baik.


Matt mendengarkan dengan seksama.


"Baik nona, saya akan lakukan sesuai permintaan nona. Tapi-"


"Kau tenang saja Matt, aku akan menyamar. Dan, jangan beritahu siapapun ya " Sudah ada gambaran strategi di kepalanya. Sambungan terputus. Gadis itu menyeringai licik.


Permainan baru akan dimulai saat aku tiba.


Ia sudah akan beranjak, namun berbalik lagi kala ia teringat ada sesuatu yang kurang.


Yang lainnya mungkin tidak akan tahu. Tapi bahkan ayah dan kak Yudhi dapat mengenaliku dengan menatap mataku.


Duduk kembali ke kursi rias. Memakai softlens warna biru tua. Garis mata terlihat tebal karena eyeliner yang ia aplikasikan. Gadis itu juga menambahkan pensil alis hingga terlihat tebal. Menggelung rambutnya lalu memasukan dalam topi.


Aisha menyunggingkan senyum melihat pantulan wajahnya di cermin. Sama sekali tidak terlihat bahwa itu dia. 180 derajat berbeda. Lalu gadis itu menyambar penutup wajah. Mengenakannya. Dengan tambahan sapu tangan hitam yang semakin menyempurnakan penyamaran.


Soal samar menyamar seperti aku adalah ahlinya. Haha.


Matthew telah menanti diluar mansion. Selepas dia menunjukan identitasnya, ia diperbolehkan masuk. Dengan dalih diperintahkan menjemput seorang sniper disini.


Aisha yang sangat sukar dikenali turun kebawah. Menenteng beberapa senjata yang kiranya dibutuhkan. Sepertinya penyamarannya sukses besar, buktinya saat dia melewati ruang tamu, Lia sama sekali tak bertanya atau menegur sekalipun. Beberapa pengawal yang berlalu lalang juga tidak ada yang curiga karena situasi yang tengah panik.


"Dia yang kau cari? " Tunjuk salah satu pengawal.

__ADS_1


Matt mengangguk " Iya, dia adalah sniper handal yang disuruh datang ke lokasi. Dan aku yang diperintahkan untuk membawanya "


Pengawal itu mengangguk dan memberi ijin untuk keluar.


Matt menuntun Aisha kearah helikopter yang terparkir di halaman. Heli itupun terbang mengudara menuju bandara internasional kota.


***


Gabungan Regdator dan GE banyak yang gugur di tempat. Mayat para mafia terkulai lemah bahkan banyak yang telah meregang nyawa. Banyaknya bala bantuan yang dikerahkan Kicak membuat mereka sedikit kelimpungan. Walaupun tidak ada yang terpojok. Kedua kubu lawan sama hebatnya.


Arthur masih berbaku tembak dengan para senior dari Esponder. Bunyi lesatan peluru terdengar menggema di ruangan. Pria itu hanya seorang diri. Sementara di depannya berdiri sekitar tujuh orang yang siap menumpas.


Sial, peluruku habis.


Ketika peluru habis, tidak ada pilihan lagi. Ia melangkah mundur beberapa meter. Melempar bom kecil yang meledak tepat pada wajah mereka.


Arthur menyeringai. Melanjutkan langkahnya mengejar Pither yang sempat terjeda karena harus menghadapi beberapa orang tadi.


Jika keenam six powers bersatu padu, akan sulit mengalahkannya. Dalih itu benar, namun sekarang kan hanya ada lima. Personil berkurang satu yaitu Aisha. Selain itu banyaknya anggota kiriman Kicak semakin menyulitkan meraih kemenangan.


"Arthur! " Panggil Yudhi sambil berlari kearahnya. Senapan ditentengnya ditangan kiri.


"Ada apa? " Tanya Arthur.


"Kau melihat Nakul dimana, aku akan memintanya menyusun strategi baru " Entah dimana adiknya itu. Karena diantara mereka, Nakul lah yang paling ulung jika menyusun rencana.


"Aku tidak tahu " Berdecak kesal " Kenapa kau tidak panggil saja six powers nomor enam yang katanya hebat itu! "


Sejak awal tadi ia sudah menggerutu. Kesal karena Yudhi tidak menjawab pertanyaannya dan malah terdiam kalau membahas nomor enam.


"Sebenarnya ada apa sih dengan pria itu? Apa dia sudah tidak jantan lagi karena takut menghadapi musuh! "


"Diamlah Arthur! Dia, dia sedang sakit. Mana mungkin mengajak orang yang sedang sakit untuk bertarung! "


Andai aku bisa mengatakan kalau nomor enam itu adalah istrimu sendiri Arthur. Tapi maafkan aku, aku belum cukup percaya padamu untuk mengungkap faktanya.


"Ck, mafia bisa sakit juga ternyata " Meledek lalu berlalu dari hadapan Yudhi.


Yudhi hanya menggelangkan kepala. Terdengar langkah musuh dari arah belakang kiri. Pria itu melesatkan peluru dari pistol Glock 17 yang sontak menancap telak pada perutnya. Tanpa menoleh sedikitpun.

__ADS_1


Yudhi menyeringai penuh arti.


Bersambung....


__ADS_2