Gadis Manis Milik Mafia

Gadis Manis Milik Mafia
Extra Part 4


__ADS_3

Beberapa Bulan Kemudian


Kehamilan Aisha yang sudah tepat berusia 8 bulan lebih dua minggu, membuat dia dan suaminya benar-benar ekstra hati-hati dalam menjaga si buah hati yang tinggal menghitung hari akan melihat dunia. Hati wanita itu terkadang berdebar, membayangkan apakah ia sanggup melahirkan nyawa baru kedunia, mengingat ini adalah kehamilan pertamanya. Rasa takut tentu saja menyelimuti Aisha.


Tapi terlepas dari itu semua, hati kecilnya merasa sangat gembira dan tak sabar memandang wajah putrinya yang sangat ia nanti-nantikan. Ya, Aisha dinyatakan hamil anak perempuan beberapa bulan lalu. Dugaan Arthur tidak salah, mereka akan mempunyai peri kecil yang imut dan cantik.


Walau rasa was-was selalu menghantui Aisha mengingat kondisi tubuhnya yang berbeda.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?"Tanya Arthur pada istrinya itu. Tangannya terulur menyentuh dahi, ia baru bernapas lega kala suhu tubuh wanitanya berangsur normal. Beberapa hari terakhir, kondisi Aisha memang agak drop. Ia bahkan tidak nafsu makan dan itu memperburuk kondisinya. Mungkin perubahan cuaca mempengaruhi kesehatannya. Seharusnya pada trimester ketiga ini, ia harus benar-benar menjaga kondisi kesehatan, sebab menurut dokter pribadi Aisha, kondisi kehamilannya yang berbeda membuat resiko keguguran bisa terjadi kapan saja.


Simpelnya, penderita inkompetensi serviks, saat janin dalam perutnya semakin berat dan besar, maka leher rahim tak akan mampu mempertahankan janin. Dan kebanyakan akan lahir prematur atau keguguran.


"Sudah," Aisha mengangguk. Ditatapnya sang suami yang sedang meraih semangkuk bubur dan segelas susu diatas nakas. Sontak rasa mual itu kembali melanda hanya dengan melirik makanan tersebut.


"Ayo makan dulu, belakangan ini kau makan sangat sedikit kan. Itu tidak baik untuk calon anak kita." Awalnya Aisha akan menolak karena tenggorokannya terasa sakit, tapi ia juga tak mau egois. Saat ini yang butuh asupan makanan bukan hanya dirinya, tapi juga anak dalam perutnya.


"Aku mau makan tapi suapi.." Rengeknya manja. Sifat manja seolah mendominasi saat ia bersama suaminya, dan Arthur tak keberatan dengan hal tersebut, asalkan Aisha dan calon anaknya merasa senang ia bersedia berbuat apapun.


"Aku mau minum dulu." Ucap perempuan berbadan dua itu lalu meneguk sedikit susu di tangan Arthur. Barulah setelah itu dengan telaten Arthur menyuapinya sesuap demi sesuap. Aisha bersusah payah menelan makanan dalam tenggorokannya. Pria itu mengelus puncak kepalanya dengan sayang, tersalur kekhawatiran di netra coklatnya.


"Maafkan aku Sha," Ujarnya tiba-tiba. Entah kenapa merasa gagal dan bersalah atas penyakit yang diderita sang istri. Walau itu sama sekali bukan kesalahannya.


"Maaf kenapa sayang?" Aisha menjawab santai seraya meneguk susu favoritnya, satu-satunya sumber energi yang dapat ia telan tanpa menimbulkan rasa sakit.


"Seharusnya aku lebih biasa menjagamu jadi kau tidak sakit seperti ini." Matanya menampakan penyesalan mendalam.


"Kau ini ada-ada saja, aku sakit bukan salahmu Arthur. Tidak ada yang tahu kapan seseorang akan sakit, mungkin aku hanya kelelahan."


"Apa kau kelelahan karena mengurus dua anak itu? Sudah aku katakan kan, biarkan orang lain yang mengurus mereka, kau fokus saja pada kesehatanmu sayang." Tuturnya lembut namun setengah kesal.

__ADS_1


"Maaf, Krystal mengalami flu belakangan ini karena perubahan cuaca. Dia tidak bisa tidur sebelum aku yang menggendongnya." Ucap wanita itu.


"Huff.. Baiklah, kau boleh melakukan apapun yang kau mau, asalkan tetap menjaga kesehatanmu."


"Iya, aku janji." Keduanya saling mendekap, menyalurkan kehangatan yang selalu menghadirkan ketenangan bagi keduanya.


***


"Sayang, aku harus segera berangkat." Ucap pria itu seraya mematut wajah tampannya di depan cermin besar. Merapikan jasnya yang tampak berantakan.


Hari ini dirinya benar-benar tidak bisa menunda untuk pergi ke kantor, jika biasanya Arthur akan memilih bekerja dari rumah saat Aisha sedang kurang sehat, maka kali ini berbeda. Ada meeting penting dengan petinggi perusahaan yang tidak bisa diwakilkan.


"Kau mau kemana?" Tanya Aisha yang baru saja bangun dari mimpi indahnya. Mimpinya seketika buyar mendengar suara bariton suaminya yang menginterupsi. Wajah perempuan itu nampak masih kusut, matanya menyipit menyesuaikan cahaya yang menembus retina. Aisha bangkit duduk lalu menyibak sedikit selimutnya.


"Oh maaf, aku tidak tahu kau tidur. Aku akan ke kantor sayang, hari ini ada meeting penting. Tidak bisa diwakilkan." Langkah Arthur mendekat dan naik ke atas tempat tidur. Mengelus dan merapikan anak rambut istrinya yang berantakan hingga menutup dahi.


"Sayang jangan begini, kau baru saja sembuh kan? Aku akan sedikit lama nanti, kau pasti akan lelah dan bosan kalau menungguku bekerja." Lembut dia mencoba menjelaskan pada istrinya yang sedang dalam mode manja. Tampaknya saat ini seorang Arthur Anderson sudah fasih menyusun kata-kata lembut, kalau tidak yang ada Aisha tambah marah padanya.


"Justru karena kau akan lama makanya aku ikut, aku kan sekarang tidak ada kegiatan Arthur. Aku akan bosan sendiri dirumah, kau enak masih bisa bertemu Rey dan karyawan-karyawan mu." Lirihnya setengah kesal.


"Huff." Lagi-lagi pria tampan dengan tinggi diatas rata-rata itu hanya bisa menghela napas panjang untuk menetralkan suasana hatinya. Ia suka Aisha yang manja karena merasa dibutuhkan, tapi tidak sampai begini juga. Ingin bergerak saja rasanya tidak bebas.


"Sha, tolong mengertilah kali ini saja, suamimu ini akan bekerja. Ini juga untukmu dan calon anak kita nanti. Aku juga punya banyak perusahaan yang harus diurus, aku seorang pemimpin Sha! Kau tidak kasihan pada Reynard yang kuwalahan mengatasi semuanya?" Keluh pria itu menumpahkan segala uneg-unegnya yang ia tahan mati-matian selama ini demi menjaga perasaan istrinya.


Wanita itu hanya menundukan pandangannya saat sang suami memarahinya. Entah mengapa hatinya terluka mendapati perkataan yang kurang mengenakan dari pasangannya. Selama ini Arthur sudah jarang sekali marah dan selalu memanjanya. Namun Aisha sekarang sadar, mungkin ia telah keterlaluan. Tak bisa mengendalikan dirinya sendiri karena hormon kehamilannya yang tidak beraturan. Hingga tanpa sadar keegoisannya telah menimbulkan kerugian bagi banyak pihak.


"Kau tahu, perusahaanku mengalami penurunan karena aku jarang masuk." Sambungnya kemudian lalu memijat pangkal hidung mancungnya.


Lelaki kepala tiga itu menyugar rambutnya kasar, lantas memandang wajah istrinya yang menunduk diam. Dia merasa bersalah, memang Arthur akhir-akhir ini sedang badmood karena ada penurunan saham yang disebabkan oleh beberapa hal. Tanpa sadar perkataan yang keluar dari mulut membuat sedih wanitanya.

__ADS_1


Arthur mengikis jarak dan menarik tubuh Aisha dalam dekapannya. "Maaf," Lirih dia berucap.


"Tidak perlu minta maaf, kau tidak salah Arthur. Aku yang salah, aku terlalu egois. Tolong maafkan aku.." Buliran air mata sudah menggenang di pelupuk mata Aisha, sedikit saja ia berkedip pasti akan berjatuhan memenuhi pipi mulusnya.


"Jangan menangis.." Bisik lelaki itu pelan di dekat daun telinganya. Menghapus jejak air mata yang ada pada wajah istrinya.


"Aku sangat manja dan menyebalkan kan?" Lirihnya lagi dengan air mata yang semakin deras. "Maaf Arthur, aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, aku juga tidak tahu,"


"Ssttt... kau tidak salah sama sekali. Tadi aku hanya kelepasan bicara karena kesal dengan penurunan saham semalam. Maaf?" Ujar pria itu lagi. Aisha semakin mengeratkan pelukan mereka, merasakan kehangatan dada bidang suaminya yang padat selalu memberikan ketenangan tersendiri. Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Arthur yang berbalut parfum brand Prancis yang menambah kesan maskulinnya.


****


"Katanya kau mau ikut aku ke kantor?" Lelaki berjas hitam itu bertanya saat Aisha mengganti dasinya dengan warna biru tua. Perempuan berperut buncit itu hanya tersenyum setelah merapikan rambut Arthur dengan jemarinya. Menghabiskan beberapa menit bersitatap dengan pemilik mata elang tersebut.


"Tidak, aku tidak mau mengganggumu disana. Nanti pasti aku akan meminta hal aneh-aneh dan itu akan mengganggu pekerjaanmu sayang. Labih baik aku menunggu dirumah saja." Seru Aisha.


"Tidak sayang, kau boleh ikut. Itu tidak akan menggangguku." Arthur mengecup dahinya pelan lalu menangkup kedua pipinya.


"Tapi tadi kau bilang aku mengganggumu," Sangkalnya.


"Tadi aku salah bicara, sudahlah lupakan itu. Aku hanya tidak tega melihatmu bosan seharian menatap dinding ruanganku tanpa mengerjakan apapun, tapi aku akan senang kalau kau dan.." Tangan Arthur beralih mengelus perut istrinya. "Peri kecil ini menemaniku bekerja." Sambungnya seraya tersenyum lembut.


"Benarkah?" Senyum seketika merekah di bibir Aisha, wajahnya langsung sumringah.


"Hmm, ayo bersiaplah sekarang." Sebuah kecupan ia daratkan lagi di dahi istrinya sebelum pria itu berlalu dan memilih menunggu di ruang tengah. Dengan senang hati perempuan itu beringsut ke ruang ganti yg untuk berganti busana. Ia akan memakai pakaian yang agak formal hari ini.


****


Jangan lupa follow Instagram author: @stefhany_stef

__ADS_1


__ADS_2