
Hari menjelang malam, sinar matahari sudah meredup dan masuk dalam sarangnya. Aunty Rania memutuskan tinggal beberapa saat di mansion Anderson. Wanita itu mempunyai mansion sendiri, sebuah bangunan megah dengan arsitektur eropa klasik yang menawan hati. Masih menjadi kediaman kegemarannya hingga saat ini, meski Arthur berkali - kali menyarankan agar dia tinggal bersamanya, perempuan itu tetap bersikeras ingin tinggal sendiri.
Belum genap sehari mengenal, Aisha telah akrab dengan bibi suaminya. Entah ada apa, namun naluri keibuan yang dia tangkap dari tatapan aunty Rania menghangatkannya. Kasih sayang yang telah lama ia dambakan, ia merasakan itu dari gurat wajah wanita ini.
Seperti saat ini, mereka tengah asik memasak di dapur. Bergulat dengan beraneka peralatan yang dikuasai wanita. Setelah dirasa selesai, mereka duduk bersantai di ruang keluarga. Menonton acara televisi yang disuka keduanya.
Arthur baru saja turun dari mobilnya, mengendurkan dasi yang melilit leher lalu masuk ke dalam. Sampai pada ruang keluarga, ia dikejutkan dengan gelegar tawa dua orang wanita yang familiar di telinga.
"Aunty " Gumam pria itu lirih. Merasakan ada yang tiba, kedua perempuan itu menoleh. Aunty Rania yang kesal melangkah lebar menuju keponakannya. Menarik telinganya kencang. Meluapkan rasa sebal karena tingkah Arthur yang seenaknya.
"Aww! Ampun, ampun aunty. Ampun! " Pekik Arthur kesakitan. Namun wanita yang telah membesarkan nya itu tak bergeming. Ia tetap menjewer telinga Arthur hingga menimbulkan kemerahan.
Aisha yang masih terduduk di sofa tertawa ringan. Menutup mulutnya dengan tangan. Menyaksikan adegan langka di depannya seolah sedang menonton acara stand up comedy saja.
Ternyata ini kelemahan mu yang mulia. Haha, sekarang aku punya senjata untuk membuatmu tidak berkutik.
Batin Aisha dalam hati. Membayangkan dalam otak ilustrasi adegan saat Arthur akan diam dan patuh saat di depan aunty Rania. Membuatnya terpingkal dalam hati.
"Lepas aunty! Kau mau telingaku yang berharga ini lepas? " Akhirnya wanita itu melepas tangannya dari telinga Arthur. Menatap tajam sembari berkacak pinggang dengan galaknya.
Glek! Arthur menelan ludah. Ia paling tidak bisa membantah di hadapan wanita yang tengah mendelik marah kearahnya ini. Bagaimanapun juga, ia adalah orang mulia yang bersedia merawatnya sejak kecil tanpa banyak bertanya. Mendidiknya hingga menjadi seperti saat ini walaupun ia hanyalah adik angkat dari papanya. Ya, tuan Anderson ayah dari Arthur tidak punya adik. Kakek dan nenek dari Arthur mengangkat seorang putri yang tak lain adalah orang yang berdiri di depannya saat ini. Walaupun begitu, Arthur menyayanginya seperti ibu sendiri.
"Kau sudah menikah tapi tidak mengundangku! Memberitahu saja tidak, pria macam apa kau ini! " Akhirnya membuka suara. Lalu memukul perut Arthur dengan kerasnya. Pria itu mengaduh kesakitan, walaupun tidak terasa apa - apa tapi dia berakting demi membahagiakan perasaan aunty nya.
"Maaf " Sudah berkata maaf saja, biar cepat selesai, batin pria itu dalam hati.
"Maaf, maaf. Kau pikir maaf saja cukup! " Kembali menarik telinga Arthur dan menyeretnya ke sofa. Ia mendudukkan lelaki itu disamping istrinya.
"Minta maaf! " Titahnya tegas.
"Aku minta maaf yang sebesar besarnya padamu aunty. " Ujar Arthur dengan rasa bersalahnya. Pernikahan dengan Aisha yang hanya karena tujuan balas dendam semata, membuatnya terlupa membagi kabar pada Aunty Rania.
Wanita itu duduk di sofa, belum reda amarahnya. Namun di satu sisi ia senang, Arthur si bocah tengilnya telah menemukan pasangan. Ya, semoga saja tidak kendala yang menimpa rumah tangganya.
Setelah cukup lama berbincang dalam ruang keluarga. Aunty Rania juga telah puas meluapkan emosinya. Kini saatnya makan malam, mereka duduk di meja makan.
Hanya makan dalam diam tanpa banyak bersuara. Aisha juga hanya fokus menyantap makanannya. Arthur makan sambil bermain ponsel sementara Aunty Rania memerhatikan keduanya. Tampaknya hubungan mereka tidak terlalu erat.
Selepas makan malam, Aisha beranjak dari duduknya. Naik duluan keatas daripada terjebak dalam situasi yang tidak baik, pikirnya.
"Aunty, aku naik ke kamar dulu ya " Ujar gadis itu seraya menatap aunty Rania. Wanita itu hanya tersenyum, mengangguk memberi ijin. Lalu dia menapaki anak tangga menuju kamarnya.
__ADS_1
Arthur juga ingin pergi ke kamar dan merebahkan tubuh disana. Rasanya letih dan penat setelah seharian mendedikasikan diri di perusahaan. Apalagi ditambah omelan aunty nya tadi. Lelahnya bertambah berkali lipat.
"Aku juga naik ya. " Sudah beranjak dari duduk. Wanita itu lagi - lagi mengiyakan lewat anggukan kepala. Ia masih terlena dalam sedapnya masakan menantunya. Tak rela rasanya jika harus dibuang sia - sia.
Setelahnya pria itu menapaki anak tangga menuju kamarnya. Wanita itu sejenak mendongak keatas, ia mengernyitkan dahinya kala Arthur dan Aisha berjalan pada arah yang berbeda. Aisha ke kanan dan Arthur ke kiri. Seperti tinggal dalam kamar masing - masing.
"Tunggu! "Suara keras aunty menjeda gerakan memutar handle pintu yang dilakukan Arthur. Sedangkan Aisha yang sudah masuk kedalam kamar tidak kunjung keluar.
"Ada apa aunty? " Tanya Arthur dari atas tangga. Menyatukan alisnya karena melihat reaksi bibinya.
Aisha yang mendengar dari dalam pun keluar kamar. Menatap heran pada Arthur dan aunty Rania.
"Ada apa? Kenapa ribut ribut? " Tanya gadis itu. Lalu menuruni tangga. Menghampiri wanita yang tengah berkacak pinggang dengan mata memincing disana. Seperti menyelidiki sesuatu. "Ada apa aunty, apa ada masalah? "
Wanita itu tidak menyahut, hanya menggerakan tangannya ke udara. Menginstruksi agar keponakannya mendekat. Arthur beranjak dari tempatnya berdiri, menuruni anak tangga menghampiri kedua wanita disana.
"Ada apa aunty? Aku sudah lelah sekali, ingin lekas tidur " Menguap, menutup mulutnya dengan telapak tangan. Lalu duduk lagi di meja makan.
"Apa kalian tidak tidur sekamar? " Pertanyaan yang ingin ia lontarkan daritadi. Masih berdiri dengan galaknya disana. Enggan memalingkan wajah dari Arthur dan Aisha. Kedua insan yang telah terikat tali pernikahan itu hanya diam membisu. Aisha menunduk dengan meremas tangan dibawah. Bibirnya kelu tak bisa berkata - kata.
Sedangkan Arthur hanya menatap jengah, seperti bukan hal besar yang pantas dipermasalahkan. Apalagi dia telah amat mengantuk seperti sekarang.
"Iya " Arthur yang menjawab. "Sudah ya, aku ingin tidur sekarang " Sudah beranjak dari duduk. Menguap lagi dan beringsut pergi.
"Enak saja, diam disini! " Mencekal tangan Arthur yang hendak pergi. "Dengarkan aku ya, mulai saat ini kalian akan tinggal dalam kamar yang sama! " Ultimatum dadakan yang sontak membuat keduanya menggebrak meja.
"Apa! " Arthur dan Aisha terperangah kaget. Tidak setuju, tidak mau dan tidak sudi begitu arti sorot mata penolakan mereka.
"Apa? Tidak ada pembantahan! Kalau perlu aunty akan menjual ranjang dan sofa di seluruh ruangan selain kamar kalian dan kamarku. " Haha, dia menyeringai dalam hati. Membayangkan wajah wajah masam mereka saat disuruh tidur seranjang saja sudah membuat aunty Rania geram ingin terpingkal.
"Aunty... " Aisha bangkit, bergelayut manja di lengan wanita itu. Merengek lewat sorot matanya.
"Apa? Sudah ya, sekarang masuk ke kamar Arthur. Pokoknya aunty akan menjual ranjang dan sofa di seluruh kamar. Sofa ruang tengah dan ruang tamu juga akan disegel. Suami istri macam apa ini? Kalian pokoknya harus sekamar. " Keputusan final sudah mirip hukuman pidana saja bagi Aisha. Gadis itu tidak terbiasa tidur dengan orang lain sebelumnya. Membayangkan saja sudah membuat bulu kudu nya meremang.
Aaaa, aku tidak mau. Tidak!
Sedangkan Arthur hanya terdiam dengan wajah datarnya. Sudah tidak tahu semasam apa wajahnya saat ini, mungkin semasam jeruk nipis yang masih tahap pertumbuhan.
Ahh, sial! Aku tidak pernah bisa melawan aunty kalau begini. Teringat akan jasa - jasa mulia bibinya, membuat Arthur selalu tak tega menolak apapun keinginan nya. Dari yang sepele hingga yang serius, lelaki itu selalu mengangguk patuh tanpa banyak mengajukan protesnya.
Perdebatan panjang di meja makan telah usai, keduanya berada dalam kamar yang sama. Aunty Rania dengan girangnya menutup pintu. Meninggalkan mereka berdua disana. Lalu dengan gerakan perlahan, ia mengunci pintu dari luar. Tindakan jahil yang tidak disadari Arthur maupun Aisha.
__ADS_1
Hahaha. Gelak tawa mendominasi kebahagiaan aunty Rania.
Sedangkan di dalam kamar, mereka sudah saling melempar tatapan mematikan. Aunty Rania benar - benar memindahkan sofa yang sebelumnya tertata apik dalam ruangan. Aisha hanya mendengus sebal, meraih bantal dan guling di tengah tengah mereka. Sebagai pembatas menjaga jarak aman dari jangkauan harimau di sampingnya.
"Awas ya, kalau kau melanggar batasan ini, aku akan melemparmu dengan lemari! " Ancam gadis itu mengintimidasi. Berbaring di kasur, menarik selimut hingga membalut sampai lehernya. Berusaha memejamkan mata walaupun tidak bisa.
"Heh, gadis tengil! Siapa juga yang mau mendekatimu, lagipula tangan kecil tidak bertenaga seperti itu mana kuat mengangkat lemari! " Hardik Arthur lalu turut merebah di ranjang. Aisha yang mendengar hanya acuh tak peduli. Gadis itu memilih mengatupkan kelopak mata. Enggan menanggapi perkataan suaminya yang hanya akan memberatkan kerja pita suara. Ia pun tenggelam dalam buaian mimpi indahnya.
Arthur tidur menghadap sisi samping. Seperti seorang kekasih yang sedang berselisih. Dia hanya gumam - gumam kesal dengan mulut yang komat - kamit entah berucap apa. Senyap, deru napas istrinya sudah terdengar teratur.
Berbalik sebentar, melirik gadis cantik disampingnya.
Ahh, sial!
Lalu pria itu mengayunkan kaki mendekati pintu. Jegrek, jegrek, pintu terkunci dari luar.
Membuat Arthur semakin frustasi, tadinya ia berniat kabur diam diam membawa mobil. Dan pada akhirnya, dengan hati yang tersiksa dia kembali merebahkan diri ke ranjang.
***
Jam 02.00
Keadaan aman sentosa sebelumnya, namun mulai berangsur berbahaya saat mendekati sepertiga malam.
Mata Arthur masih terbuka lebar, bergumam - gumam kesal dalam hati mengusir gelisah. Bagaimanapun juga dia adalah seorang pria dewasa normal yang sudah pernah tidur dengan banyak wanita. Gairah bangkit seketika saat berada dalam radius kurang dari lima sentimeter dari Aisha.
Siapa tadi yang berkata awas ya, kalau kau melanggar batasan ini aku akan melemparmu dengan lemari. Siapa yang melanggar sekarang, jelas bukan Arthur.
Aisha yang sedari kecil selalu terbiasa terlelap sendiri. Tidak biasa berbagi ranjang dengan orang lain, apalagi ini laki - laki.
Bantal guling yang tadinya berperan sebagai pembatas antara kedua anak manusia ini sudah melayang entah kemana.
Kini gadis itu tengah melingkarkan tangan dan kakinya erat pada tubuh suaminya. Mendekap erat. Menjadikan lengan Arthur sebagai bantalan kepala. Seolah menganggapnya sebagai guling yang biasa dipeluknya sepanjang malam.
Sial, sial. Aunty kali ini kau benar benar tega menyiksa keponakanmu ini. Lebih baik cambuk saja aku dengan sapumu itu.
Tidak ada hukuman seberat ini, begitu pikiran Arthur berkeliaran menembus dinginnya malam. Dia hanya berusaha mengatupkan kelopak mata, mengerjab lagi, terpejam lagi dan begitu seterusnya. Dan lihatlah, istri menyebalkannya itu. Dia terlelap nyenyak dengan wajah tanpa dosa sedikitpun.
Nasib, nasib.
Bersambung...
__ADS_1