
"Kau sudah bangun?" Aisha tersenyum manis seperti biasa. Dengan tangan yang masih sibuk mengoles selai diatas roti yang sudah ia siapkan. Pagi ini mereka hanya berdua di dalam rumah. Myara dan Rey ada di rumah ayah Myara. Sedangkan Rania dan anaknya sedang pulang sejenak ke mansion mereka. Jadilah mereka hanya berdua.
Harum semerbak dari sabun mandi yang digunakan suaminya entah mengapa membuat Aisha merasa senang. Ia tersenyum saat Arthur menuruni tangga dan mendekat kearahnya. Entah ada angin apa hari ini, tapi bau tubuh suaminya terasa membuatnya damai.
Namun senyum itu luntur ketika Arthur malah lurus tanpa berbelok ke meja makan. Jelas jelas ada banyak makanan diatasnya.
"Arthur, kenapa kau tidak sarapan dulu? aku sudah masak banyak sekali?"
Aisha setengah berlari mengejar suaminya yang sudah hampir ada di ambang pintu. Tangan putih kecilnya menahan lengan Arthur yang kekar. Membut pria itu menghentikan langkahnya namun enggan menoleh.
"Ada apa?" Tanya Aisha lagi. Hari ini Arthur sungguh berbeda. Raut wajahnya menunjukan suatu perasaan yang sulit dijelaskan. Yang jelas itu bukanlah tatapan cinta yang biasanya ia terima.
"Aku ada meeting penting pagi ini." Balas lelaki itu singkat lalu melangkah menjauh dari Aisha.
Kening wanita itu terlipat, memikirkan apa yang terjadi dengan suaminya. Tak biasanya Arthur bersikap begini, ia terasa sangat dingin. Ingin rasanya Aisha memeluknya seperti biasa. Namun melihat pria itu terburu buru membuat Aisha mengalah, ia pun beralih ke meja makan dan menyantap masakannya.
Kenapa aku merasa sangat lelah..
Entahlah, ia merasa fisik nya tidak bisa diajak kompromi dengan situasi yang sedang terjadi. Banyak sekali beban pikiran yang menggantung dan harus diselesaikan. Ada masalah diluar sana yang membuat Aisha memilih bungkam karena tak ingin membebani suaminya. Tapi kenapa Arthur malah mendiamkannya seperti ini.
***
Hari yang cukup padat seperti biasa. Para karyawan nampak hilir mudik kesana kemari. Membawa berkas dan pulpen yang menjadi alat utama pekerjaan mereka. Saat jam istirahat inilah karyawan perempuan ataupun laki laki baru bisa meregangkan otot sejenak. Para manusia berganti berlalu lalang menuju kantin kantor yang mulai padat. Laki laki atau perempuan tua atau muda, semuanya campur menjadi satu.
Dan disinilah Arthur sekarang, disaat karyawannya sibuk mengisi perut dan bercengkerama dengan sesama teman, pria itu memilih menunda makan siang dan fokus pada pekerjaan. Hanya ada laptop mahal yang setia menemaninya. Benda persegi panjang yang dapat memuat banyak data.
"Helloww.. sudah sejam aku disini menunggumu bos! " Rey mulai jengah. Niatnya untuk mengajak Arthur makan diluar agar sekaligus melepas penat dan beban pikiran. Tapi apa yang ia dapat justru berbeda.
" Aku sedang tidak nafsu makan, kau pergi saja sendiri!" Ketus Arthur bicara sembari menandatangani seberkas dokumen diatas meja kebanggaannya.
"Fine, semoga saja kau terkena asam lambung dan memohon padaku agar mengantar kerumah sakit!" Kesal, Rey meninggalkan ruangan itu dengan rasa dongkol di dada. Sungguh hari ini adalah hari paling menjengkelkan dalam hidupnya. Sudah pagi pagi dimarahi mertua, siangnya harus menghadapi bos galak dengan tatapan mautnya itu.
Ceklek
Gagang pintu yang terbuka membuat Arthur mendesah sebal, ia tahu siapa yang datang.
"Mau apa kau kesini?" Ujarnya. Aisha mengerutkan kening heran, memangnya ada yang salah dengan kedatangannya? Ini adalah kantor Arthur yang notabenenya adalah suaminya sendiri. Lalu kenapa pria itu bertanya.
"Mau apa? Apa aku perlu alasan untuk pergi kesini? Aku membawakan makanan untukmu Artur." Perlahan Aisha meletakan makanan diatas meja. "Makanlah."
"Hemm."
Jengah dengan sikap suaminya Aisha tanpa sadar sedikit menggebrak meja. Ditengah suasana hati dan pikirannya yang kosong dia berusaha tetap mengantarkan makanan, tapi sikap ini yang menjadi balasan.
"Sebenarnya ada apa denganmu ini! Arthur, kalau ada masalah maka ceritakan baik baik."
Aisha berusaha menguasai emosinya, wanita itu menarik napas dalam memerhatikan wajah suaminya yang merah padam.
"Ada apa? Apa ada masalah pekerjaan?.Kenapa kau malah mendiamkanku?"
Mood Aisha sedang tak menentu, ia ingin diperhatikan.
Namun melihat aura mencekam yang tiba tiba membuat bulu kuduknya terangkat. Perasaannya tidak enak bersamaan dengan berdirinya pria itu.
"Kau mau tahu ada apa?". Senyum iblis yang sinis itu kembali muncul. Senyum yang tak pernah Aisha lihat kecuali jika ada kobaran amarah dalam hati prianya.
"Ya,"
Arthur melangkah mendekat, tanpa sadar wanita itu ikut memundurkan langkahnya menjauh. Takut. Ini bukan ketakutan menghadap musuh, Aisha tak mengenal itu. Lebih tepatnya ketakutan seorang istri yang akan merasakan larva kemurkaan sang suami.
"Kau berani menginjakan kaki di tempatku dengan diantar pria lain! Apa itu perbuatan yang benar?" Aisha tertegun, menyaksikan kilatan kemarahan dan kekecewaan yang menjadi satu. Oh tidak Arthur! kau tidak tahu yang sebenarnya.
__ADS_1
"Kau salah paham, aku bisa jelaskan " Balasnya.
"Baiklah, jelaskan!" Arthur terdiam menanti jawanan. Jarak mereka yang sangat dekat membuat jantung Aisha berdetak kuat.
"Aku terpaksa menerima ajakan Billy."
"Apa kendaraan di negara ini sudah punah?" Telak menancap, perkataan Arthur membuat Aisha sangat merasa bersalah.
"Jawab!"
Beberapa menit mereka bertukar pandang.
Namun tak ada jawaban, kebungkaman adalah kebiasaan Aisha ketika pikiran dan hatinya tak berjalan beriringan.
"Kau tidak bisa jawabkan, kemarin kau juga pulang malam! Kau pikir aku tidak tahu, bahkan kau menerima cincin dari bajin*an itu!" Arthur berteriak menggebu menyalurkan rasa kecewanya. Rasanya sakit saat tahu ada satu lagi cincin yang tersemat diantara jari istrinya. Apalagi cincin pemberian manusia laknat yang amat ia benci saat ini.
Aisha terpaku ditempat, ternyata ini siasat busuk Billy. Pria licik itu adalah salah satu diantara orang yang berhasil menjebaknya hingga ia hanya bisa bungkam. Ada nyawa yang harus ia selamatkan.
"Arthur bukan begitu, aku bisa mengatakan semuanya. Tapi tidak sekarang. Percayalah padaku. " Merengkuh lengan Arthur dalam dekapannya saat pria itu muak dan hendak pergi. Arthur lebih banyak diam saat marah, bagaimanapun juga ia tak mau lepas kendali dan menyakiti orang yang sudah ia cintai.
"Lepaskan tanganku!"
"Tidak sebelum kau percaya padaku." Aisha berlinang air mata. Ia bingung harus berbuat apa agar meyakinkan suaminya.
"Lepas!" Arthur mengayunkan tangannya hingga wanita itu terhuyung ke belakang.
Aaww, pria itu berbalik dan tak tega melihat istrinya yang terjatuh di karpet miliknya. Tapi ia kembali berbalik badan. Rasa kecewa dan marah mendorongnya pergi darisana. Dalam sekejap tubuh kekar itu telah lenyap dari pandangan.
"Arthur!." Aisha bangkit, masih berlinang air mata. Perutnya terasa sedikit nyeri saat membentur lantai tadi.
Flashback...
Pukulan yang ia terima cukup keras tapi sayangnya hanya mengenai punggung Aisha. Namun demi mengetahui apa yang direncanakan penculik Myara membuat nya bersandiwara. Pura pura pingsan sampai ia merasakan beberapa orang menggotongnya dengan hati hati ke sebuah ruangan.
Tidak ada kekerasan fisik yang mereka lakukan.
Hingga mereka pergi.
Sebuah suara hentakan sepatu mahal terdengar di telinga.
"Kau semakin cantik saat pingsan." Aisha tersentak mendengar suara yang tak asing di telinganya. Namun ia masih bertahan, ingin tahu apa yang akan pria itu perbuat.
Dan disaat terpaan napas hangat mulai mendekat wanita itu bangun dan menendang perut Billy dengan sangat keras.
"Aaww!!" Billy mengaduh sakit sambil memegang perutnya. Tendangan Aisha yang kuat dan hampir mengenai juniornya membuatnya nyeri.
Kesempatan itu digunakan Aisha merebut sebuah pistol yang terselip diantara saku jas Billy.
"Ternyata kau!"
Para anak buah Billi berdatangan, menatap heran kepada bos mereka yang kesakitan memegang perutnya.
Namun sesaat kemudian Billy malah tersenyum." Kemampuan mu masih sama seperti dulu."
"Apa maumu? Dan dimana Myara!" Gertak Aisha.
Billy berdiri dan melangkah mendekat, "Kau pikir kau ini paling pintarkan?. Tapi kau salah, aku yang lebih pintar disini Sha!" Bentak Billy. Baru kali ini Aisha melihat pria itu berani berkata kasar padanya.
"Lihat ini!" Wanita itu pikir Billy akan menunjukan foto Myara yang sedang ia sekap, tapi dugaannya meleset. Pria itu menampakan seorang gadis cantik berperawakan Eropa yang diikat dan dikelilingi banyak pria. Entah siapa dia, Aisha belum pernah melihatnya sekalipun.
"Siapa dia dan apa urusannya denganku?" Tanyanya langsung pada inti.
__ADS_1
Billy tertawa, tangannya bergerak keatas mengisyaratkan para anak buahnya agar meninggalkan mereka berdua.
"Namanya Maria, aku menawannya dan bisa saja bertindak sangat kejam padanya. Kecuali kau mau menurutiku. "
Aisha mengangkat sebelah alisnya, siapa Maria?.
"Oh baiklah, kukira aku harus memberitahumu. Dia adalah gadis yang berhasil merebut hati kakakmu. Dan asal kau tahu, kini kakak kesayanganmu itu sedang kesana kemari mencari wanita ini." Billy menggeser ponselnya hingga menampakan foto kebersamaan Yudhi dan Maria.
Raut wajah Aisha menunjukan keterkejutan yang dapat dilihat dengan jelas. Yang benar saja, ternyata manusia berhati es itu telah menemukan tambatan hatinya. Bahkan ia pun tak tahu. Aisha menepis pikirannya. Pria itu adalah salah satu figur paling berjasa dalam hidupnya, demi kebahagiaan kakaknya, apapun akan ia lakukan.
"Sekarang dia ada dalam genggamanku. Aku bisa saja menyuruh anak buahku menghabisinya. Oh tidak! Tentunya akan lebih seru kalau kita bermain main dulu, mungkin menyenangkan jika mencekiknya, mencambuk atau.. "
"Diam!"
Billy malah tergelak keras, ia terlihat mirip psikopat dalam film action yang Aisha tonton.
"Dan bukan hanya itu saja, hal yang serupa juga akan terjadi pada temanmu itu."
Gertak Billy.
Aisha mengeratkan rahangnya, ingin rasanya saat ini ia mencekik Billy dan membuangnya ke sungai.
"Lepaskan dia atau.."
"Jangan coba gunakan senjataku atau kau akan menyesal seumur hidupmu!" Aisha kembali menurunkan tangannya saat pria itu lebih dulu membaca gerakannya. Oh tidak, sejak kapan ia jadi lemot dan susah memikirkan solusi seperti ini.
***
Billy masih memiliki sedikit rasa simpati, ia memberi waktu wanita yang pernah menolak cintanya mentah mentah itu untuk berpikir.
"Apa yang kau mau?" Aisha mengalah setelah beberapa saat termenung. Hatinya tersayat saat Billy menunjukan foto kakaknya yang sedang galau berat dari ponselnya.
"Saham yang kau miliki di perusahaan ayahmu." Ujar Billy dengan sekali tarikan napas.
Memang dia mempunyai dua tujuan mengancam Aisha. Satu, adalah kepentingan ayahnya yang menyuruhnya agar berhasil merebut saham perusahaan Johanes Fernandez dengan cara apapun. Dan yang kedua, tentunya balas dendam atas penghinaan yang ia terima. Menghancurkan rumah tangga Aisha.
"Aku tidak bisa. " Jika saham perusahaan yang menjadi bagian nya jatuh ketangan si licik ini, maka boleh jadi di suatu hari nanti hal ini akan mengancam perusahaan ayahnya sendiri. Walaupun saham yang ia miliki tak seberapa banyak.
"Baiklah, bersiap melihat tiga orang mati karena ulahmu." Billy berujar dengan entengnya. Aisha bimbang, baiklah kali ini ia mengalah. Nyawa dua orang dan juga kesehatan psikis kakaknya lebih penting daripada apapun.
"Baiklah, akan aku urus." Putusnya kemudian.
"Satu lagi, kau harus menerima cintaku."
"Jangan mimpi!!" Aisha menggebrak meja, bisa bisanya si gila ini meminta hal yang mustahil ia lakukan.
"Oke, kalau begitu terima cincinku dan kau harus mau berteman denganku. Tidak boleh pergi saat aku menyapamu di kampus dan tidak boleh menolak saat aku ingin mengantarmu. Kau juga tidak boleh menceritakan hal ini pada siapapun. Termasuk suamimu yang payah itu." Billy yang berucap.
Aisha merasa muak dan jijik, tapi pada hari itu dengan sangat terpaksa ia menerima sebuah cincin berlian mahal dan membiarkan nya tersemat pada jarinya bersamaan dengan cincin pemberian suaminya. Billy mengatur makan malam mewah sebagai salah satu syarat yang ia minta.
Dan besoknya, saat di kampus terpaksa Aisha berperilaku sebagai teman.
Myara dibebaskan dan ikut pulang bersamanya juga dengan syarat tidak boleh menceritakan kejadian hari ini pada siapapun.
Dan sekarang Aisha harus tersiksa dengan kebungkaman setidaknya sampai ia berhasil menemukan gadis bernama Maria.
Bersambung...
*
*
__ADS_1
*
Plis jangan komentar "Aku lupa alurnyağŸ˜"