
Willy melerai pelukannya, lalu mengelus lembut kepala putranya" Belajarlah dengan rajin, mami akan melakukan apapun untuk masa depanmu."
Devan mengangguk patuh, tanpa disuruh pun ia sudah mengerti apa yang seharusnya ia lakukan. Meskipun masih kecil, Devan tahu ibunya sudah bekerja sangat keras untuk menghidupi dia dan adiknya. Oleh sebab itu Dev bertekad untuk belajar dengan sangat giat agar kelak saat ia besar, ia akan menjadi orang yang sukses dan kaya sehingga ibunya tak perlu membanting tulang seperti saat ini. "Aku akan keluar sebentar mami." Ucapnya menghadiahkan sebuah ciuman di pipi Willy.
Lalu anak itu melenggang pergi darisana entah pergi kemana.
Kedua mata perempuan itu tak lepas memandang Devan hingga punggung putranya menghilang dibalik pintu. Ia bangkit, mengusap pipi basahnya yang teraliri air mata.
Willy melangkah mendekati laci meja dan mengambil sebuah barang disana.
Manik matanya yang berwarna biru melihat dengan intens sebuah foto pernikahan seorang laki laki tampan dan perempuan cantik.
Entah apa yang ada di dalam benak wanita itu saat ini.
"Andai saja aku tidak berbuat kesalahan saat itu, pasti aku sudah hidup bahagia sekarang bersama anak - anakku. Bukan menderita seperti ini." Tanpa terasa lelehan air mata kembali menggenangi sudut matanya menggambarkan luka yang selama ini ia pendam sendirian.
Aisha tidak tahu bahwa aku adalah mantan kekasih Arthur. Dan sekarang sepertinya mereka sedang ada masalah. Aku tahu, Arthur memang tidak akan pernah bisa melupakan masa lalunya denganku.
Willy merasa ini tidak adil bagi anak - anaknya, yang harus merasakan susahnya kehidupan karena dirinya yang kini hanya berprofesi sebagai pelayan.
Ia merasa Tuhan tidak pernah mengasihaninya sama sekali. Dari dulu pernikahannya dengan suaminya sampai kini, hanya penderitaan yang ia dapatkan, tidak ada kebahagian sama sekali. Hingga rasanya Willy atau Wilhelmina ingin memutar waktu agar ia dapat kembali ke masa lalu.
Jika ditanya apakah ia menyesal telah melakukan semua ini. Jawabannya adalah Ya, Wilhelmina menyesal karena kesalahannya di masa lalu yang berimbas pada kehidupan anak - anaknya saat ini.
Keputusan nya yang salah dan kebodohannya yang telah membawanya pada jurang kehancuran.
Dan kini ia bertekad akan melakukan segalanya agar bisa memperbaiki hidupnya yang kacau.
***
Aisha meregangkan otot punggungnya yang terasa kaku akibat tidur seharian. Wanita itu kini berdiri di ujung balkon memperhatikan pemandangan sore hari yang menampilkan matahari yang hampir tenggelam di peraduannya.
Pikirannya berkelana entah kemana, ia bingung harus melakukan apa setelah ini.
Rasa sakit yang diberikan Arthur membuat Aisha berpikir mungkin saja pernikahan ini memang sebuah kesalahan. Jika menengok ke masa lalu, ia tidak pernah berpikir akan membina rumah tangga dengan orang asing yang bahkan tidak ia kenal, yang memiliki sifat menyebalkan dan bertolak belakang dengan tipe pria yang dia inginkan.
Hingga kini tanpa sadar karena terbiasa, hatinya mulai menaruh rasa dan mencintainya.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
Menghubungi keluarganya yang ada di belahan dunia yang berbeda jauh rasanya tidak mungkin, ia tak ingin merepotkan siapapaun untuk saat ini.
Hening, Aisha beradu dengan pikirannya sendiri hingga suara ketukan pintu terdengar. Tak berselang lama kemudian suara langkah kaki mendekat padanya.
"Nona." Panggil wanita itu dengan perlahan sambil menepuk kedua bahu Aisha hingga membuat perempuan itu menoleh.
"Apa kau perlu sesuatu? Aku akan membawakannya untukmu." Tanya Willy dengan ragu.
"Tidak." Aisha sudah bisa mengendalikan emosinya dan menampilkan senyum di hadapan pelayan itu. Pelayan yang sejak ia datang ke rumah ini bersikap sangat lembut dan baik padanya daripada sikap pelayan lain yang biasa saja.
__ADS_1
"Boleh aku bertanya sesuatu nona?" Tanya Willy pelan.
"Tentu saja, tanyakan." Balas Aisha dengan nada yang lemah lalu duduk di kursi dekat balkon karena sejujurnya ia masih sangat lemas. Mungkin efek dari stress yang ia rasakan akhir - akhir ini karena permasalahannya dengan Arthur, hingga sampai sampai ia melupakan pola makan dan istirahatnya yang saat ini berakibat pada kesehatan janin yang ada dalam kandungan nya.
"Kenapa nona bisa datang kesini dalam keadaan pingsan malam itu? " Kening Aisha berkerut mendengar pertanyaan perempuan yang kini tengah berdiri di hadapannya.
Apa yang harus ia katakan, tidak mungkin ia menceritakan apa yang terjadi padanya selama ini mengingat Willy adalah orang asing yang baru ia kenal beberapa saat.
"Maaf jika aku lancang dan membuatnya tidak nyaman nona, aku tidak bermaksud." Kebisuan Aisha yang menciptakan keheningan sesaat membuat wanita itu sadar telah membuat tamu tuannya menjadi tidak nyaman. Dan jika ia ketahuan, dia pasti akan terkena masalah.
"Tidak, kau tidak salah bertanya seperti itu. Sebenarnya saat itu aku sedang tidak enak badan hingga pingsan di jalan, belum lagi udara saat itu cukup dingin. Jadi Rithik menolongku dan membawaku kesini. " Jawab Aisha.
"Dan suamimu tidak mencarimu sama sekali?" Entah karena ia terlalu sensitif atau memang pertanyaan Willy yang terkesan menyindir, namun wanita itu merasa sedikit tersinggung dengan ucapan wanita yang baru ia kenal itu.
"Emm, mungkin dia sedang ada urusan pekerjaan. Lagipula kami sedang ada sedikit masalah akhir akhir ini--"
"Masalah apa?" Belum selesai Aisha memberikan balasan jawabannya, Willy sudah terlebih dahulu memotong ucapan wanita itu hingga membuat Aisha yang sebelumnya menatap langit sore menoleh padanya.
Rasanya perempuan ini begitu ingin tahu tentang apa yang terjadi padanya atau mungkin memang wataknya yang selalu ingin tahu dan cerewet, pikir Aisha.
"Ehm.." Aisha berdehem pelan mencairkan suasana, rasanya ia enggan sekali menyahut.
"Maaf Willy, aku kira itu adalah masalah pribadiku. Dan aku tidak suka privasiku diketahui orang lain."
Jawab Aisha dengan tidak enak hati.
Perempuan itu menunduk lemah dan meminta maaf karena telah lancang bertanya pada Aisha. "Maaf nona, saya lancang. Maaf jika sifat ingin tahuku ini membuatmu tidak nyaman." Ujarnya.
Aisha tidak menjawab permintaan maaf wanita itu karena ia tengah tenggelam dalam pikirannya yang saat ini sedang berkecamuk.
"Tapi meskipun kau tidak mau bercerita aku tahu kau sedang ada masalah nona, kumohon jagalah kesehatan mu dan jangan lupa minum obatmu. Sepuluh menit lagi aku akan membawakan makanan untukmu. Sebelum itu minumlah vitaminmu agar kau lemas pulih."
Kedua tangan Willy menggeser nampan berisi vitamin dan air putih mendekat pada Aisha.
Ia diam - diam mencuri pandang saat wajahnya bertatapan langsung dengan wanita itu.
Tak dapat dipungkiri, ia juga mengakui wanita di hadapannya ini sangat cantik, nyaris tidak ada kekurangan jika hanya dilihat dari fisik.
"Nona " Panggilan pelan.
"Eh, iya, maaf tadi aku melamun. Terimakasih sudah sangat perhatian padaku." Tersenyum canggung sambil membuka salah satu tablet vitamin yang ia terima.
"Sama sama"
"Kau tahu? Dari sekian banyak pelayan disini hanya kau satu satunya yang perhatian padaku sejak aku datang. Kenapa kau melakukan itu?"
Aisha menatap Willy lekat, mencoba menggali lebih dalam karakter wanita di hadapannya.
Namun entah mengapa raut wajah Willy menunjukan ketulusan hingga membuat ia percaya dan nyaman pada orang yang baru dikenalnya tersebut.
__ADS_1
"Mungkin itu hanya perasaanmu, kau adalah tamu disini jadi mana mungkin aku tidak memperlakukanmu dengan baik. Terlebih aku juga pernah hamil, jadi aku tahu betul rasanya jika jauh dari suami saat masa masa kehamilan seperti ini. Rasanya sangat menyakitkan."
Tutur Willy.
Mungkin hati Aisha yang sangat sensitif tapi entah mengapa penuturan Willy membuat hatinya mencelus sakit. Namun ia tak menampik bahwa perkataannya memang benar, meskipun saat ini ia marah semarah marahnya pada Arthur suaminya, tapi dalam hati kecilnya dan janin yang ada dalam perutnya sangat merindukan pria itu.
Rasanya ia sangat merindukan dekapan hangat pria itu saat ini.
"Kau benar sekali Willy."
"Seharusnya memang seperti itu, tidak baik dalam kondisi kehamilan jauh dari suami.
Apalagi awal kehamilan itu adalah masa yang sangat rentan--"
"Emm.. bisa kau bantu aku ke ranjang? Aku ingin istirahat, rasanya tubuhnya masih sangat lemas." Aisha memotong perkataan wanita itu sebelum ia menuntaskan kalimatnya. Rasanya ia enggan jika harus melanjutkan percakapan yang nantinya hanya akan membuatnya terus kepikiran dan takutnya membuat dampak buruk bagi calon anaknya.
Dan lagi, Aisha tak suka pada sikap Willy yang terkesan terlalu banyak ikut campur dan penasaran dengan apa yang terjadi padanya.
Bercerita pada keluarganya saja dia enggan, apalagi pada orang baru sepertinya.
Willy tersenyum ramah dan membantu memapah wanita itu keatas ranjang. Tak lupa ia membantu melepaskan alas kakinya dan menyelimutinya dengan selimut bulu angsa yang membuat Aisha sangat nyaman.
"Terimakasih"
"Tidak masalah, aku permisi dulu nona. Aku akan segera kembali membawakan makanan karena ini sudah waktunya minum obat."
Ucapnya sesaat sebelum ia berlalu darisana.
Kedua mata Aisha masih mengikuti tubuh Willy hingga punggung wanita itu lenyap dibalik daun pintu.
"Bagaimana bisa ada orang sebaik dan seperhatian itu disaat orang yang aku cintai malah mengabaikanku?"
****
Arthur melampiaskan kekesalannya pada anak buah Regdator yang sebagian besar saat ini terkapar karena pukulan darinya.
Setengah jam yang lalu, saat ia tiba di markas dan sedang memberikan perintah tiba tiba salah satu diantara mereka melakukan kesalahan hingga menyulut emosinya.
Hingga kini mereka semua baik yang bersalah maupun tidak turut terkena imbas atas suasana hati buruk bos mereka.
Arthur masih setia menebarkan tatapan tajam pada kumpulan laki laki yang saling menunduk tanpa berani mengangkat kepalanya itu.
Tangan pria itu terkepal erat seiring dengan napasnya yang naik turun dengan cepat. Kekesalannya semakin memuncak saat para bawahannya yang ia perintahkan untuk mencari jejak Aisha bekerja dengan sangat lambat.
"Apa kalian masih ingin lanjut?! " Tanya laki laki dengan tegas namun sangat mematikan hingga membuat siapa saja yang mendengar nya bergidik ngeri. Kerumunan lelaki itu hanya saling tatap tanpa berani mengucapkan sepatah katapun.
Emosi Arthur yang tadinya meluap teralihkan oleh panggilan salah satu orang suruhannya yang berjalan kearahnya.
"Tuan, aku sudah menemukan dimana keberadaan nona Aisha."
__ADS_1