
"Kau belum tidur? " Tanya Aisha tiba tiba yang mengejutkan suaminya.
"Apa kau pura pura tidur tadi? " Selidik Arthur dengan sedikit mendesak. Bisa malu dia kalau sampai istrinya tahu apa yang ia lakukan.
"Aku baru saja bangun.. " Ujar Aisha seraya menguap.
"Tidurlah lagi, ini sudah malam. " Perintah Arthur seraya menarik selimutnya. Sudah mengambil ancang ancang untuk tidur, namun suara Aisha kembali membuatnya membuka kelopak mata.
"Arthur, aku ingin bertanya padamu. " Seru Aisha sambil beranjak duduk. Ia menghadap kearah suaminya yang juga beranjak duduk sepertinya.
"Apa? Cepatlah, aku sudah mengantuk! " Balasnya.
"Apa yang terjadi hari ini? Kenapa ada orang yang menelfonku kalau kau ada dalam bahaya? Dan kenapa kau dan Reynard ada disana? Sedang apa kalian? " Cecaran pertanyaan Aisha membuat Arthur terdiam. Otaknya sedang berpikir keras menggali jawaban. Kalau dia jujur, pasti nantinya Aisha akan marah dan kecewa padanya.
"Mungkin saja, yang menelponmu adalah musuhku. Mereka pasti ingin menjebakku lewat dirimu. " Jawab Arthur.
"Benar juga, ya, mungkin saja itu alasannya." Ujar Aisha yang tak sejalan dengan pikirannya. Bagaimanapun juga, ia masih penasaran apabila tidak menyelidiki sendiri siapa dalang dibalik semua ini.
"Sudah tidurlah! " Ucap Arthur lalu kembali merebahkan tubuhnya. Menarik selimut hingga ke pinggang.
"Tapi Arthur, kalau itu memang benar maka --"
Cup. Ucapan Aisha terpotong oleh kecupan kilat yang dilakukan suaminya. Gadis itu berwajah pias dan membulatkan mata. Sedangkan Arthur menahan tawanya lalu memejamkan mata. Ia sangat tahu bagaimana caranya membuat gadis itu diam.
Aisha lalu memiringkan tubuhnya agar memunggungi suaminya. Ia menarik selimut dan memejamkan mata meskipun tidak bisa.
***
Hari dengan cuaca dingin seperti biasa. Hari ini adalah hari libur bagi semua orang. Aisha yang baru saja selesai mandi, mengayunkan kakinya keluar kamar. Diliriknya kearah ranjang dan sofa, namun suaminya sudah tidak ada disana. Ia menapaki anak tangga menuju dapur.
"Selamat pagi nona. " Sapa Lia yang sedang memasak bersama beberapa pelayan lainnya.
"Pagi, Lia apa kau sudah membeli apa yang aku suruh kemarin? " Tanya Aisha.
"Sudah nona, saya sudah membeli bahan bahan yang nona sebutkan kemarin. Biar saya saja yang memasaknya nona. " Tawar Lia.
"Tidak, aku yang akan melakukannya. Kalian masak yang lain saja ya. " Kata Aisha lalu mulai mengambil bahan bahannya. " Oh ya, tambah porsi sarapan pagi ini, karena temanku akan datang. " Gadis itu teringat bahwa ia sudah mengundang Myara kemarin. Tujuannya sebenarnya hanya satu, mendekatkan Myara dengan Rey.
"Baik nona. " Ujar para pelayan tanpa banyak bertanya. Mereka mulai bertempur dengan peralatan masak dan mengubahnya menjadi hidangan yang enak.
Myara yang baru saja keluar dari mobilnya, mengayunkan kakinya memasuki mansion. Matanya berpendar menelusuri sekeliling. Lalu ia masuk kedalam dengan bimbingan pelayan.
Sedangkan di dalam meja makan, Arthur, Aisha dan Reynard sudah duduk diam menikmati makanan. Aisha mengambilkan pesanan Arthur kemarin padanya.
"Ini makanlah, ini daun yang kau maksudkan?" Aisha menyodorkan piring yang sudah ia isi dengan nasi dan tumis kangkung yang diinginkan Arthur.
__ADS_1
Arthur pun mulai mencicipinya. Rasanya enak, sangat enak malah, kadang ia merasa tangan istrinya mengandung keajaiban. Apapun yang ia buat pasti rasanya enak.
"Bagaimana? " Tanya Aisha dengan senyum merekah.
Arthur berpura pura menimbang pendapat sejenak, " Biasa saja, tidak enak. " Ujarnya yang sontak membuat Aisha merengut kesal. Gadis itu merebut kembali piring di depan Arthur.
"Kalau begitu tidak usah dimakan! Aku sudah bersusah payah membuatnya, jadi biar aku dan Rey saja yang makan. " Ujar Aisha.
"Kembalikan itu! Aku hanya bercanda, rasanya enak. Enakk sekaliii. " Seru Arthur lalu merebut kembali piringnya. Mulai mengambil sendok dan memasukan daun itu dalam mulutnya.
"Rey, kau mau juga? " Tawar Aisha pada Rey. Rey yang sedang meneguk jus menghentikan kegiatannya. Menatap Aisha lalu tercengir kuda.
"Hehe, tidak usah Sha. Biar Arthur saja yang makan, aku tidak ingin mengacaukan adegan romantis kalian. " Reynard menatap Arthur. Bangga karena sepertinya ucapan Rey tempo lalu berangsur menjadi kenyataan. Arthur pasti akan mendapat pasangan dan jatuh cinta padanya.
"Apa lihat lihat! " Cebik Arthur masih dengan melanjutkan makannya. Obrolan ringan mereka terputus kala pelayan datang dan dibelakangnya terdapat Myara.
"Myara kemarilah, ayo sarapan bersama kami."Ajak Aisha senang. Gadis itu langsung menarik lengan temannya dan mendudukannya di samping Reynard.
"Biar aku ambilkan. " Ujar Aisha.
"Tidak perlu, aku akan ambil sendiri. " Myara menatap makanan di depannya.
"Tidak apa apa, oh ya Arthur, Rey, Myara akan sarapan disini bersama kita. Kalian tidak keberatan kan? " Ujar Aisha sembari mengambilkan makanan kepada sahabat nya. Kedua pria itu menggeleng bersamaan.
"Hemm, ini. " Rey menaruh sebuah sandwich pada piring Myara. Ia kembali melanjutkan makannya tanpa berniat menyapa atau bahkan menatap gadis itu. Membuat Myara menjadi semakin pesimis untuk mendapatkan hati Reynard. Aisha yang paham, menepuk punggung nya dan tersenyum meyakinkan.
Aku akan lakukan apapun agar Rey mau membuka hatinya untukmu Myara. Kau gadis baik baik, Rey butuh orang sepertimu. Begitulah arti sorot mata Aisha yang dapat diterjemahkan Mya. Perempuan itu kembali duduk disamping suaminya. Sarapan pagi kembali berjalan dengan baik tanpa kendala. Obrolan ringan diselipkan Aisha untuk memecah suasana dingin yang tercipta. Ia banyak bercerita tentang Myara, yang sebenarnya itu ditujukan pada Rey.
***
Hari yang mulai bergulir menjadi siang. Aisha dan Myara mengendap endap dibalik dinding. Mengawasi Reynard yang tampak asik menyaksikan film action favoritnya dalam ruang tengah. Tadinya pria itu ingin pergi, namun Aisha melarangnya. Dan karena masih merasa bersalah atas kejadian kemarin, maka ia terpaksa diam di mansion.
"Ayo pergilah sana! " Ujar Aisha pada Myara. Myara memandang Aisha dengan ragu. Namun matanya tanpa sengaja menatap hal lain.
"Kenapa dengan pelipismu? Kenapa di plester? " Tanya Mya khawatir. Karena terlalu canggung pada Rey tadi, dia sampai tidak memerhatikan dengan benar penampilan sahabatnya.
"Ini bukan apa apa, aku hanya terbentur lemari kemarin. Ayo, cepatlah hampiri Rey, bicara dengannya dan jangan lupa tersenyum. Nanti keburu dia pergi loh. " Tukas Aisha. Myara masih terdiam dengan wajah yang bingung. Ia rupanya masih mempersiapkan bekal mental saat berada disamping Rey. Karena jujur saja, berada dengan radius yang dekat dengan lelaki tampan itu sangat tidak baik untuk kondisi jantung Myara.
"Aku takut Sha, bagaimana kalau dia nanti mengacuhkanku? Diakan selalu begitu, setiap bertemu bahkan ia enggan memandang wajahku. Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan pada auah. Setiap hari dia selalu bertanya kapan aku akan menikah dengan tuan Rey, padahal aku tahu itu mustahil terjadi. " Aisha mendengarkan uneg uneg Myara dengan rasa bersalah. Sepertinya ia keterlaluan karena terlanjur berkata pada Holmes bahwa Myara adalah kekasih Reynard. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang yang mampu ia lakukan adalah mengikis jarak antara Myara dan Rey.
Lalu menikahkan mereka, sepertinya itu rencana yang fantastis.
"Kau tenanglah, kau hanya perlu mendekati Rey secara perlahan lahan. Ingatlah perkataanku Myara, Rey akan dingin dan. ketus pada orang baru. Namun lama kelamaan dia akan terbiasa dan menganggapmu ada. " Tutur Aisha seraya memegang bahu Myara.
"Kau yakin? "
__ADS_1
"Ya, sangat yakin. " Ujar Aisha.
Perlahan Myara mendekati Reynard. Ia melangkahkan kakinya dengan hati yang masih bimbang. Seperti saran Aisha, dalam benak Myara ia sudah menyetok topik yang akan ia perbincangkan dengan Rey. Ya, walaupun semuanya adalah topik konyol yang sekedar basa basi saja.
"Tuan Rey, kau sedang apa disini? " Myara duduk di sofa dengan jarak satu meter dari pria itu. Rey melirik sekilas, lalu kembali menyambung kegiatan yang menurutnya lebih mengasikan.
"Kau bisa melihat sendiri aku sedang apa. " Ketus Rey.
"Emm, tuan tinggal dimana? " Tanya Myara membuka topik pembicaraan. Memperbaiki posisi duduknya agar leluasa menatap wajah tampan Rey.
"Kau tidak lihat aku sedang dimana! " Ketus Rey menjawab. Membuat Aisha yang berdiri tak jauh dari mereka menggelengkan kepalanya heran.
"Ya Tuhan, saat dia seperti itu bahkan dia lebih ketus dan dingin daripada Arthur. " Gumam Aisha.
"Kenapa menyebut namaku! "Arthur yang tiba tiba datang di belakang Aisha membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Yaampun, kau mengagetkanku! " Aisha mengelus dadanya. Tiba tiba muncul sebuah ide dalam benaknya. "Arthur, ayo kita jodohkan Rey dan Myara. " Aisha yakin, jika Arthur turut andil dalam misi ini, maka presentase kemungkinan berhasilnya pasti akan lebih besar.
"Kau gila ya! " Arthur menyentil kening Aisha.
"Kau tidak tahu siapa Reynard, dia tidak mau menikah dengan wanita. " Ujar Arthur.
Aisha tersentak kaget, "Ya Tuhan, apa dia g*y?"
"Sembarangan! Reynard bukan g*y, tapi pria cerewet itu malas menjalin hubungan dengan perempuan. Sebenarnya aku juga malas, tapi apa dayaku. " Menggedikan bahunya acuh.
Aisha merengut kesal, " Lalu, apa alasanmu menikahiku? Kenapa kau mau berhubungan dengan perempuan kalau kau malas? " Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Tidak ada jawaban. "
"Yasudah! " Aisha hendak berbalik namun Arthur mencekal tangannya.
"Aku akan membantumu. " Ujar Arthur yang langsung membuat mood Aisha yang tadinya buruk seketika menjadi baik.
"Benarkah? Kalau begitu, dengarkan aku." Ia mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu. Membisikan sesuatu yang membuat Arthur sedikit heran.
"Apa itu akan berhasil? " Aisha mengangguk.
"Strategi buatanku tidak pernah gagal Arthur." Aisha tersenyum puas.
Jika mereka tidak segera menikah, maka Myara pasti akan dijodohkan. Sedangkan Reynard, dia akan jadi bujangan abadi nanti.
Batin Aisha dalam hati.
"Kita lihat saja nanti. " Ujar Arthur.
__ADS_1