
"Dengar Kicak, aku memilih mundur dari musi ini karena aku pikir ini tidak ada gunanya buat ku. Aku sudah lelah dengan ini semua, aku ingin hidup tenang. Lagipula kau sudah menguasai tanah yang ada di Cenai, kenapa kau mau menguasai itu juga?." Jawaban Rithik membuat kicak bergumam kesal.
Ambisinya menguasai tanah yang saat ini ia incar adalah untuk memperluas kekuasaannya. Supaya pemerintah semakin kesulitan melawan. Dengan begitu tidak ada yang perlu dia khawatirkan.
Begitulah manusia, terkadang kekuasan dan harta membuat mata mereka buta dan menghalalkan segala cara agar mencapai tujuan nya.
Jika orang diluar sana berpikir Rithik adalahafia kejam, ya mungkin itu benar. Tapi darah ibunya yang mengandung unsur kebaikan masih mengalir hingga membuatnya tak sejahat sang ayah yang rela menelantarka keluarga demi hasrat dan dendam semata.
"Rithik, kali ini saja. Setelah ini kau bisa berbuat apapun yang kau suka, aku tidak akan mencegahmu." Ujar Kicak yang masih kekeh memohon. Karena dalam misi ini bantuan Rithik lumayan berpengaruh baginya.
"Aku sudah membuat keputusan, aku tidak bisa merubahnya." Seru Rithik.
Kejadian selanjutnya di ruangan itu hanyalah perdebatan dan ketegangan antara dua orang yang berbeda pendapat.
***
"Bagaimana keadaannya dok?" Myara yang kelewat cemas, bahkan sampai menarik jas putih milik sang dokter wanita yang tengah memeriksa Aisha.
Tadinya gadis itu ingin mengunjungi sahabatnya untuk mengatakan sesuatu yang penting, tapi alangkah terkejutnya ia ketika melihat Aisha yang berjongkok memegang kepala dengan wajah pucat pasi.
Tanpa bertanya Myara segera menghubungi dokter langganannya.
__ADS_1
"Myara hentikan, aku tidak papa. Pasti karena aku kurang darah, ini biasa terjadi." Ucap gadis itu sambil bangkit dan bersender pada kepala ranjang nya.
"Nyonya benar, tapi ada yang lain." Dokter wanita itu tersenyum lembut yang membuat kedua gadis di depannya heran.
"Yang lain apa?" Tanya Myara.
Sambil mengemasi barangnya dokter itu menyahut. "Harap jangan stres dan memikirkan banyak hal setelah ini nona. Selamat ya, anda sedang mengandung sekarang. " Ujar sang dokter dengan gembira.
"Saya sudah resepkan obat dan vitamin. Harap diminum teratur dan jangan terlalu banyak pikiran agar janinnya kuat. Juga ada obat tambah darah disana. Saya sarankan periksa ke dokter kandungan atau gunakan test pack untk hasil lebih akurat nona."
Aisha menganga. Ia tergagap sesaat sembari memperhatikan langkah kaki sang dokter yang perlahan hilang dari hadapannya.
Ada malaikat kecil disana.
Disini benar benar ada kehidupan?. Air mata Aisha menetes tanpa bisa ia cegah.
Memiliki ekspresi yang hampir sama, Myara bahkan kehilangan kata kata, bedanya gadis itu langsung berteriak heboh hingga membuatnya Aisha mendelik padanya.
"Aaaa!! Aku tidak menyangka, aku akan punya keponakan." Menggenggam kedua tangan Aisha dengan tawa bahagia. Sungguh tidak menyangka, sebentar lagi tangis dan tawa bayi yang begitu Myara sukai akan terdengar di rumah ini.
Ya meskipun bukan anaknya, tapi Myara bahagia.
__ADS_1
"Aisha, aku akan memberitahu Aunty Rania dan Eylina juga." Myara sudah akan beranjak dengan girang, namun calon ibu itu mencekal tangannya.
"Myara, jangan beritahu siapapun dulu. Aku nanti yang akan memberitahu mereka." Lontar Aisha tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku akan tebus obatmu dulu." Myara bergegas pergi darisana.
Belaian lembut ia daratkan pada permukaan perutnya. Oh pantas saja, wanita itu merasa ada yang aneh pada dirinya. Mood yang tak stabil. Ingin yang aneh aneh, pusing, terkadang nyeri pada perutnya dan susah berpikir layaknya dulu.
"Anakku, kau benar benar ada di dalam sini? Sehat terus ya, lalu aku akan membuatmu menjadi anak paling bahagia di dunia ini." Aisha meletakan tangan pada bibirnya lalu ia turunkan pada perutnya sebagai tanda ciuman pada anak pertamanya. Buah cintanya dan Arthur.
Kling.
Aisha menoleh. Ponselnya yang berdering tanda pesan masuk. Tangannya menjulur meraih benda pipih itu dan membuka sebuah pesan yang masuk. Dari orang kepercayaannya yang selalu bisa ia andalkan.
"Tuan Arthur tidak sedang dalam perjalanan bisnis. Saya melihatnya di sebuah club di kota lain."
Mata Aisha membola setelah membuka foto yang terkirim. Arthur dan kawan kawannya disertai nuansa club' yang pastinya....
Ar-Arthur? Padahal aku begitu percaya padamu?
Kalau tadi adalah air mata bahagia karena ada manusia mungil yang mulai tumbuh dalam rahimnya. Kali ini mungkin adalah lelehan air mata istri yang kecewa karena kebohongan suaminya.
__ADS_1